Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Istri Seutuhnya
Hujan sore sudah reda. Tanah pondok masih wangi.
Di dalam Ndalem, lampu ruang tamu dimatikan, diganti lampu tidur kuning temaram. Karpet ijo botol sudah digelar, di atas meja kecil jati ada kitab baru yang tadi dibeli di Toko Al-Hikmah. Sampul coklat elegan, masih wangi kertas baru. Di sampingnya ada dua gelas susu anget yang dibuat Ning Sopiah, dan toples kurma.
Ning Sopiah sudah ganti gamis, pakai gamis putih bersih yang baru, kerudung coklat muda yang tadi pagi. Wajahnya habis wudhu, seger banget. Dia duduk bersila, agak grogi, tangannya mainin ujung kitab.
Gus Azam keluar dari kamar dengan peci putih, sarung masih yang tadi, tapi sudah pakai baju koko putih yang lebih santai. Rambutnya masih agak basah habis wudhu.
"MasyaAllah, Ning nya sudah siap," kata Gus Azam pelan, duduk di depan Sopiah, jaraknya dekat, tapi tetap ada meja kecil di antara mereka sebagai adab.
Sopiah nunduk, "Nggih Gus... kita mulai ya?"
Gus Azam mengangguk, buka kitab Qurrotul Uyun cetakan baru itu pelan-pelan. Halaman pertama, ada bab tentang niat.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Gus Azam membacanya pelan, suaranya malam itu beda, lebih dalam, lebih tenang. Bukan seperti guru di kelas, tapi seperti suami yang sedang membacakan doa untuk istrinya.
"Ning, di halaman awal kitab ini, pengarangnya, Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Itsimi menjelaskan, semua adab dalam rumah tangga itu kuncinya satu: _muqaddimah_. Tahu artinya muqaddimah, Ning?"
Sopiah menggeleng kecil, "Apa Gus?"
"Muqaddimah itu pembuka. Pengantar yang indah. Kata beliau, jangan pernah terburu-buru. Semua yang indah itu harus dibuka dengan kata yang baik, dengan doa, dengan senyuman. Seperti tadi sore, waktu Gus menyuapi wedang ronde, itu muqaddimah."
Sopiah langsung merah ingat warung wedang ronde.
Gus Azam lanjut, tangannya menunjuk tulisan arab kecil di bawahnya.
"Di sini dijelaskan, Rasulullah itu kalau mau masuk ke kamar istrinya, beliau selalu mulai dengan siwak, pakai wangi-wangian, dan mengucapkan salam dengan lembut. Tujuannya apa? Biar istrinya merasa dihargai, merasa aman, merasa dicintai dulu sebelum apa-apa. Bukan langsung menuntut."
Sopiah mendengarkan dengan serius, matanya berkaca. Selama ini dia kira kitab Qurrotul Uyun isinya hanya soal kewajiban yang berat, ternyata isinya tentang cara memuliakan.
"Jadi..." Sopiah bertanya pelan, "Jadi suami itu wajib membuat istrinya nyaman dulu ya Gus?"
"Betul sekali, Ning. Dan istri pun sama, wajib menyambut suaminya dengan wajah yang senang, bukan dengan cemberut. Itu yang bikin rumah tangga jadi ibadah, bukan beban. Seperti kita malam ini, kita ngaji dulu, minum susu anget dulu, cerita dulu. Ini semua muqaddimah."
Gus Azam menutup kitabnya sebentar, menatap Sopiah dalam.
"Ning, boleh Gus tanya sesuatu?"
"Nggih Gus..."
"Tadi sore, waktu di vespa, waktu Ning pertama kali meluk pinggang Gus... apa yang Ning rasain?"
Sopiah kaget, gak nyangka ditanya begitu. Dia menunduk dalam, tangannya meremas ujung kerudung.
"Deg-degan Gus... takut... tapi... tapi setelah itu rasanya... pulang. Seperti yang Gus bilang tadi pagi, Litaskunuu... pulang."
Jawaban itu bikin Gus Azam terdiam. Matanya berkaca lagi.
"Gus juga sama, Ning. Waktu tangan Ning melingkar, Gus ngerasa... ya Allah, akhirnya istri Gus percaya sama Gus sepenuhnya. Itu hadiah paling besar buat suami."
Suasana jadi hening, tapi hening yang penuh.
Gus Azam lalu membuka kitab lagi, halaman selanjutnya. Bab tentang _Al-Mulahafah_ - tentang kelembutan.
"Di sini dikatakan, kelembutan itu adalah sedekah. Suami yang lembut ke istrinya, setiap sentuhannya jadi sedekah. Istri yang lembut ke suaminya, setiap senyumnya jadi sedekah."
Gus Azam lalu dengan sangat pelan, dengan adab yang sangat terjaga, meraih tangan Sopiah yang ada di atas meja. Bukan menarik, hanya meletakkan tangannya di atas tangan Sopiah, mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya.
"Ning, boleh Gus praktekin satu adab dari kitab ini malam ini? Adab yang paling ringan."
Sopiah menatap tangan mereka yang bertumpuk, jantungnya berdebar, tapi dia mengangguk kecil, "Boleh Gus..."
Gus Azam mengusap tangan Sopiah dengan lembut, "Di kitab ini, adab pertama yang diajarkan adalah _menatap dengan kasih_. Bukan menatap dengan syahwat, tapi menatap dengan doa. Seperti ini..."
Gus Azam menatap mata Sopiah dalam, lama, tapi tatapannya penuh doa dan penghargaan, bukan tatapan yang menuntut.
"Sopiah, kamu cantik malam ini. Cantik karena habis wudhu, cantik karena mau belajar. Gus bangga sama kamu."
Air mata Sopiah yang dari tadi ditahan, jatuh lagi. Tapi kali ini bukan karena malu, tapi karena merasa sangat dihargai.
"Terima kasih Gus... Ning juga mau praktekin satu adab..."
"Apa Ning?"
Sopiah dengan memberanikan diri, membalas genggaman tangan Gus Azam, menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Adab menyambut suami dengan senyuman dan perkataan yang baik... seperti yang tadi Gus ajarkan..."
Sopiah lalu tersenyum, senyum paling lebar dan tulus malam itu, "Selamat datang di rumah kita, Gus. Terima kasih sudah mengajak Ning beli kitab hari ini, sudah menyuapi wedang ronde, sudah sabar nunggu hujan reda. Ning bahagia banget hari ini."
Itu, kalimat sederhana itu, tapi diucapkan dengan ikhlas dan mata yang berbinar, membuat Gus Azam yang biasanya tegar, sampai menunduk menahan haru.
"Ya Allah, Ning..." Gus Azam menarik napas panjang, "Kalau begini, Gus gak butuh halaman selanjutnya malam ini. Halaman malam ini sudah khatam dengan sempurna."
Mereka berdua tertawa kecil, haru.
Gus Azam lalu mengambil selimut tipis yang ada di samping karpet, menyampirkan pelan ke bahu Sopiah, karena malam mulai dingin.
"Adab selanjutnya di kitab ini adalah menjaga agar istri tetap hangat, tidak kedinginan, tidak kehujanan lagi seperti sore tadi. Boleh?"
Sopiah mengangguk, membiarkan selimut itu melingkar di bahunya, dan tanpa sadar, dia bersandar pelan ke samping, bahunya hampir menyentuh bahu Gus Azam. Bukan sandaran yang berlebihan, hanya sandaran yang menandakan: aku percaya, aku nyaman, aku pulang.
Gus Azam tidak menariknya, tidak berlebihan. Dia hanya membiarkan, sambil melanjutkan baca doa penutup dari kitab itu.
"Allahumma allif baina qulubina... Ya Allah, satukanlah hati kami..."
"Amiiin..." Sopiah mengaminkan sambil memejamkan mata, masih menggenggam tangan Gus Azam di atas meja, di bawah cahaya lampu kuning temaram.
Di luar, terdengar suara jangkrik malam dan suara santriwati yang masih murojaah di masjid. Di dalam Ndalem, dua orang santri yang sudah jadi suami istri itu, baru saja mengkhatamkan bab paling penting dari Qurrotul Uyun: bab tentang bagaimana cinta yang halal itu dimulai bukan dengan terburu-buru, tapi dengan tatapan yang didoakan, tangan yang digenggam dengan adab, dan kata-kata yang saling memuliakan.
Kitab baru itu masih terbuka di halaman 3. Masih banyak halaman lain yang menunggu besok malam, lusa malam, dan malam-malam selanjutnya. Pelan-pelan, seperti janji mereka subuh tadi.
Dan malam itu, susu angetnya habis, tapi hati mereka berdua penuh, hangat melebihi wedang ronde di warung pinggir sawah tadi sore.
--- Bersambung ---