Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Gedung tempat Pras bekerja masih terlihat sibuk ketika Mikha.tiba.
Beberapa karyawan baru saja keluar dari pintu utama, sementara sebagian lainnya masih bertahan di dalam. Lampu-lampu di lantai atas menyala terang, memantul pada dinding kaca gedung yang menjulang tinggi.
Mikha turun dari mobil sambil membawa tas berisi hadiah dan kue tart.
Ia sudah beberapa kali datang ke kantor itu. Bahkan, sebagian besar staf mengenalnya sebagai istri direktur mereka yang ramah dan tidak pernah bersikap angkuh.
Seorang petugas keamanan menyambutnya dengan senyum.
"Selamat sore, Bu Mikha."
"Sore. Pak Pras masih di atas, kan?"
"Sepertinya masih, Bu. Saya lihat mobil beliau masih di parkiran."
Mikha mengangguk lega.
"Terima kasih, Pak."
Ia melangkah menuju lift dengan hati ringan. Dalam bayangannya, Pras mungkin sedang duduk di balik meja, memijat pelipis karena kelelahan menghadapi tumpukan pekerjaan.
Ia akan datang, meletakkan kue di hadapan suaminya, lalu memarahinya dengan manja karena sudah berjanji pulang cepat tetapi justru lembur.
Setelah itu, ia akan memberikan hadiah mungilnya.
Mikha bahkan sudah menyiapkan kalimat yang ingin diucapkannya.
Selamat ulang tahun, Mas. Tahun depan, semoga ada tiga orang yang merayakan ulang tahun Mas.
Ia tersenyum sendiri.
Pintu lift terbuka.
Mikha berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja Pras. Langkahnya ringan, hampir seperti seseorang yang sedang berjalan menuju sebuah perayaan.
Namun, ketika mendekati pintu ruangan yang tidak tertutup sempurna itu, langkahnya mendadak terhenti.
Ada suara perempuan dari dalam.
Awalnya, Mikha tidak berniat mendengarkan. Ia pikir mungkin salah seorang karyawan sedang membicarakan pekerjaan bersama suaminya.
Namun, suara itu kembali terdengar.
Kali ini cukup jelas untuk membuat Mikha mengenalinya sebagai suara seorang perempuan yang sedang berbicara dengan nada manja.
"Pras, kapan kau ceraikan dia? Aku sudah capek menunggu."
Tubuh Mikha seketika menegang.
Tangannya yang memegang tali tas mengerat.
Ia mengenal nama yang disebut perempuan itu.
Pras.
Hanya orang-orang terdekat yang memanggil suaminya dengan nama itu.
Mikha menatap pintu di hadapannya, mencoba mencari alasan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia salah dengar.
Namun, sebelum sempat melangkah pergi, suara Pras.terdengar.
"Aku akan segera menceraikan dia. Tunggu waktu yang tepat dulu."
Mikha membeku.
Suara itu tidak mungkin salah.
Itu suara suaminya.
Lelaki yang pagi tadi berjanji akan pulang cepat. Lelaki yang tadi malam masih memeluknya sebelum tidur. Lelaki yang setiap kali melihatnya selalu memanggilnya dengan sebutan sayang.
Sekarang, lelaki itu sedang membicarakan perceraian mereka.
"Apalagi Mama sekarang sedang sakit," lanjut Pras. "Kamu tahu, kan, Mama sayang sekali sama dia. Aku nggak mau kondisi Mama memburuk hanya karena masalah ini."
Mikha merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.
Mama.
Ibu mertuanya.
Perempuan yang selama ini menyayanginya seperti anak sendiri. Perempuan yang selalu membelanya setiap kali keluarga besar mempertanyakan mengapa mereka belum mempunyai keturunan.
Ternyata, bahkan alasan itu pun menjadi bagian dari rencana suaminya untuk meninggalkannya.
"Pras, aku lama sekali menunggu, sampai kapan kamu akan mempertahankan pernikahan seperti ini?"
Perempuan itu terdengar mulai kesal. "Wanita pilihan Mama kamu itu mandul. Sudah bertahun-tahun menikah, kalian tetap nggak punya anak. Kalau kamu menikah denganku, kamu pasti bisa segera punya keturunan."
Mandul.
Satu kata itu menghantam Mikha lebih keras daripada tamparan.
Napasnya tercekat.
Ia spontan menutup mulut dengan telapak tangan, menahan suara yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Bukan hanya karena perempuan itu menghina dirinya.
Melainkan karena ia baru saja datang membawa kabar bahwa dirinya sedang mengandung.
Ada bayi di dalam rahimnya.
Anak yang selama ini mereka tunggu.
Anak yang ingin ia jadikan hadiah terindah bagi suaminya.
Namun, sebelum sempat mengucapkan kabar bahagia itu, ia justru mendengar suaminya merencanakan kehidupan bersama perempuan lain.
"Jangan bicara begitu tentang Mikha." ujar Pras.
Untuk sesaat, jantung Mikha seperti mendapatkan sedikit ruang untuk bernapas.
Mungkin suaminya akan membela dirinya.
Mungkin Pras akan mengatakan bahwa ia tidak akan pernah menceraikannya.
Mungkin semua ini hanya kesalahpahaman yang bisa dijelaskan.
Namun, harapan itu mati sebelum sempat tumbuh.
"Aku akan tetap menceraikannya," lanjut Pras. "Kamu sabar sedikit lagi, ya, Sayang. Tidak lama lagi kamu akan menjadi istriku."
Mikha tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana.
Dunia di sekelilingnya seperti kehilangan suara. Lampu-lampu lorong tampak kabur, sementara telinganya berdenging hebat.
Ia menatap pintu itu dengan mata membelalak.
Sayang.
Pras memanggil perempuan itu dengan sebutan yang selama ini hanya ia dengar ditujukan kepadanya.
Dan lelaki itu baru saja berjanji akan menjadikan perempuan tersebut istrinya.
Lantas, selama ini Mikha siapa?
Perempuan yang setiap malam menyiapkan makan malam untuknya?
Perempuan yang selalu menunggu kepulangannya?
Istri yang memercayainya tanpa syarat?
Atau hanya seseorang yang dipertahankan karena ibunya sedang sakit?
Air mata pertama jatuh di pipi Mikha.
Kemudian disusul air mata berikutnya.
Ia ingin membuka pintu itu. Ingin masuk dan menuntut penjelasan. Ingin menatap mata Pras sambil bertanya apakah semua yang mereka jalani selama ini hanyalah kebohongan.
Namun, tangannya tidak bergerak.
Tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan apa pun.
Di dalam tasnya, ada hadiah kecil yang sudah di bungkusnya sejak pagi.
Sebuah kejutan yang seharusnya membuat suaminya bahagia.
Mikha menunduk, menatap tas itu dengan pandangan kosong.
Bagaimana mungkin ia memberikan hadiah kepada seseorang yang bahkan sudah merencanakan hidup tanpa dirinya?
Bagaimana mungkin ia mengumumkan kehamilannya kepada seorang lelaki yang ingin menceraikannya karena menganggap dirinya tidak mampu memberikan keturunan?
Dan yang paling menyakitkan, bagaimana mungkin ia masih mencintai seseorang yang tega menghancurkannya seperti ini?
"Pras..." bisiknya nyaris tanpa suara.
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Nama lelaki yang masih dicintainya, bahkan ketika lelaki itu sedang mengkhianatinya.
Dari dalam ruangan, terdengar suara tawa kecil perempuan tersebut.
Mikha tersentak.
Ia mundur satu langkah, kemudian satu langkah lagi.
Ia tidak sanggup mendengarkan lebih banyak.
Tidak sanggup mengetahui seberapa jauh hubungan mereka telah berjalan. Tidak sanggup mendengar janji-janji lain yang mungkin pernah diucapkan Pras kepada perempuan itu.
Karena setiap kalimat baru hanya akan menjadi luka tambahan.
Mikha berbalik.
Ia berjalan menjauhi pintu dengan langkah yang tidak lagi teratur. Pandangannya kabur oleh air mata, sementara dadanya terasa begitu sesak hingga ia harus beberapa kali berhenti untuk menarik napas.
Hadiah kecil di dalam tasnya terasa semakin berat.
Bukan karena ukurannya.
Melainkan karena seluruh harapan yang ia letakkan di dalamnya.
Begitu tiba di dalam mobil, Mikha menutup pintu dan langsung terisak.
Ia berusaha menahan tangisnya, tetapi semakin keras ia mencoba diam, semakin sulit pula ia mengendalikan dirinya.
Tangannya gemetar ketika membuka tas.
Kotak mungil itu masih berada di tempatnya.
Kertas pembungkus putih. Pita biru muda. Lipatan yang ia rapikan berkali-kali sejak pagi.
Mikha mengeluarkannya perlahan.
Ia menatap hadiah itu lama sekali, seolah sedang menatap seluruh kebahagiaan yang baru saja direnggut darinya.
"Kenapa, Mas?" bisiknya.
Air matanya jatuh membasahi kertas pembungkus.
"K-kamu tega melakukan ini sama aku?"
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan yang terasa semakin menyakitkan.
Mikhaila membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat alat tes kehamilan yang sudah ia siapkan dengan hati-hati, disertai sebuah kartu kecil yang bertuliskan kalimat sederhana.
Selamat ulang tahun, Mas. Tahun ini, doa kita akhirnya dikabulkan. Kamu akan menjadi seorang Papa.
Ia membaca kalimat itu berulang kali.
Kemudian tubuhnya membungkuk.
Tangisnya pecah semakin keras.
Selama ini, ia membayangkan bagaimana wajah Pras ketika membaca kartu tersebut. Ia membayangkan lelaki itu akan memeluknya, mencium keningnya, lalu meletakkan telapak tangan di perutnya dengan penuh rasa tak percaya.
Namun, semua bayangan itu kini terasa seperti lelucon kejam.
Pras tidak membutuhkan kabar kehamilannya untuk membatalkan perceraian.
Lelaki itu sudah membuat keputusan.
Ia ingin perempuan lain.
Dan Mikhaila, dengan seluruh cinta serta kesetiaannya, tidak lagi menjadi bagian dari masa depan yang diinginkannya.
"Anakku..." Mikhaila menyentuh perutnya. "Maafkan Mama."
Kalimat itu membuat tangisnya kembali pecah.
Ia merasa bersalah kepada bayi yang bahkan belum sempat mengenal dunia.
Bayi yang tidak pernah meminta dilahirkan dalam pernikahan yang sedang berada di ambang kehancuran.
Bayi yang seharusnya disambut dengan sukacita, bukan air mata.
"Maaf, Nak. Mama kira Papa akan bahagia."
Ia memeluk kotak itu ke dadanya, menangis sampai napasnya tersengal-sengal.
Beberapa menit kemudian, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Matanya berhenti pada tulisan di kartu kecil itu.
Doa kita akhirnya dikabulkan.
Bukan.
Ternyata hanya doanya.
Hanya dirinya yang selama ini berharap mereka akan menjadi keluarga yang utuh.
Hanya dirinya yang berjuang mempertahankan rumah tangga itu, sementara suaminya diam-diam membangun kehidupan bersama perempuan lain.
Mikha memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa begitu sendirian meskipun masih memiliki seorang suami.
Perlahan, ia memasukkan kembali alat tes kehamilan itu ke dalam kotak.
Ia mengambil kartu kecil tersebut, meremasnya sampai kusut, kemudian melemparkannya ke tempat sampah di dekat kursi penumpang.
Setelah itu, ia menatap kotak mungil di tangannya.
Hadiah ulang tahun untuk Pras.
Hadiah yang sejak pagi membuatnya tersenyum.
Kini, benda itu terasa seperti sesuatu yang ingin segera ia singkirkan dari hidupnya.
Mikhaila membuka pintu mobil, melangkah keluar, lalu berjalan menuju tempat sampah besar di dekat gedung.
Ia melemparkan kotak itu ke dalamnya.
Bersama kado tersebut, ia merasa telah membuang sepotong kebahagiaan yang tadi pagi masih begitu ia banggakan.
Namun, ia tidak bisa membuang bayi di dalam rahimnya.
Tidak bisa membuang cinta yang telanjur tumbuh.
Dan tidak bisa begitu saja melupakan bahwa lelaki yang baru saja menghancurkannya adalah orang yang masih akan ia temui ketika malam tiba.
Orang yang akan memeluknya seolah tidak terjadi apa-apa.
Orang yang mungkin masih akan mengecup keningnya sambil mengucapkan terima kasih karena telah menjadi istrinya.
Mikha menutup wajah dengan kedua tangan.
"Bagaimana aku harus pulang, Tuhan?"
Ia tidak tahu bagaimana caranya memasuki rumah itu tanpa menangis.
Tidak tahu bagaimana caranya berdiri di hadapan Pras setelah mengetahui semuanya.
Namun, lebih dari itu, ia tidak tahu bagaimana caranya berhenti mencintai lelaki yang telah memilih untuk meninggalkannya.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭