**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berteman
Setelah menghampiri sosok lelaki itu, Hikari mencoba menyapanya terlebih dahulu. Pasalnya, Keiran terlihat begitu larut dalam lamunannya hingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang kini berdiri tidak jauh darinya.
Hikari meletakkan sepedanya di dekat sebuah pohon, kemudian melangkah mendekati bangku taman tempat Keiran duduk seorang diri.
"Keiran."
Mendengar suara yang memanggil namanya, Keiran sontak mengangkat kepala.
Namun, sesuatu yang tidak terduga membuat langkah Hikari terhenti sejenak.
Untuk pertama kalinya, Hikari melihat ekspresi yang begitu berbeda dari wajah lelaki itu.
Sepasang mata Keiran membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyuman tulus, sementara tatapannya memperlihatkan sesuatu yang sulit Hikari artikan.
Ada kebahagiaan di sana.
Kebahagiaan yang begitu jelas, seolah seseorang yang telah lama dinantikannya akhirnya datang menghampiri.
Hikari bahkan sempat tertegun melihatnya.
Namun, ekspresi itu tidak bertahan lama.
Begitu Keiran menyadari bahwa orang yang berdiri di hadapannya adalah Hikari, senyuman di wajahnya perlahan menghilang.
Cahaya yang sempat terlihat di kedua matanya seakan meredup, berganti dengan tatapan kecewa yang tidak sempat ia sembunyikan.
"Kenapa lo bisa ada di sini?" ucap Keiran dengan nada ketus. Namun, sorot matanya masih memperlihatkan kekecewaan yang belum sepenuhnya menghilang.
Hikari yang mendengar pertanyaan itu tidak langsung menjawab. Ia masih sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi Keiran yang begitu cepat. Senyuman tulus yang sempat terlihat di wajah lelaki itu kini telah menghilang, berganti dengan ekspresi dingin yang sudah cukup dikenal.
Padahal, beberapa saat lalu Keiran terlihat begitu bahagia, seolah seseorang yang sangat ingin ditemuinya akhirnya datang.
"Aku habis membeli beberapa makanan. Kebetulan lewat sini" Jawab Hikari dengan tenang.
Keiran hanya meliriknya sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ia sama sekali tidak terlihat tertarik dengan penjelasan Hikari. Bahkan, kehadiran gadis itu tampaknya justru membuat suasana hatinya semakin buruk.
Sementara itu, Hikari masih berdiri di dekat bangku taman tersebut.
Sebenarnya, ia bisa saja langsung melanjutkan perjalanan pulangnya setelah memastikan bahwa lelaki yang dilihatnya memang benar Keiran. Namun, Hikari justru memiliki keinginan lain.
Sejak pertama kali bertemu dengan Keiran di sekolah barunya, Hikari merasa lelaki itu cukup menarik perhatiannya. Bukan karena sesuatu yang istimewa, melainkan karena sikapnya yang agak mirip dengan orang yang dikenalinya.
Saat ini adalah kesempatannua itu mencoba berteman dengan keiran meskipun dia seperti tidak senang dengan keberadaannya, tapi hikari tidak terlalu memperdulikan nya.
Terlebih lagi, mereka bersekolah di tempat yang sama. Menurut Hikari, tidak ada salahnya mencoba menjalin hubungan baik dengan keiran.
Setelah mempertimbangkannya sejenak, Hikari akhirnya melangkah mendekati ujung bangku yang masih kosong.
"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya.
Keiran menoleh dengan tatapan tidak senang. Lalu menjawab singkat "terserah"
Mendapat jawaban tersebut, Hikari segera duduk di ujung bangku, menyisakan jarak yang cukup jauh di antara mereka.
Keiran sempat memperhatikannya dengan sudut mata. Ia tidak menyangka gadis itu benar-benar akan duduk di sana.
Awalnya, Keiran mengira Hikari akan segera pergi dari taman dengan menunjukkan ekpresi tidak senang ketika dia datang ke tempat ini.
Keiran menghembuskan napas pelan.
Keiran memerhatikan hikari dengan sudut matanya. bagaimana dia duduk santai sembari memakai sebuah eskrim yang daritadi dia makan sepanjang jalan.
Merasa di perhatian hikari melihat ke arah kei lalu menawarkan eskrim setengah mau habis di tangan nya "mau ini"
Kei menatap cukup lama eskrim itu, lalu mengalihkan pandangan nya kembali, sembari berkata "gak, makasih"
Hikari mengangguk pelan lalu kembali menikmati eskrim itu sampai habis. Tidak ada percakapan di anatara keduanya, mereka hanya menikmati suasana malam dengan hembusan angin.
Sebenarnya kei tidak menduga bakalan ada orang lain yang datang ketempat ini di jam 21.40 karna tidak biasanya ada orang yang datang ketaman ini di jam itu.
Keiran yang ingin menikmati kesendirian tanpa ada gangguan namun, sekarang seseorang yang bahkan tidak saling kenal dengannya justru duduk di bangku yang sama.
Meski begitu, Keiran tidak bisa berbuat banyak.
Bagaimanapun juga, taman tersebut merupakan tempat umum. Siapa pun berhak berada di sana, termasuk Hikari.
Suasana yang sempat hening itu masih terus berlanjut. Tidak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif membuka percakapan. Hanya terdengar suara gesekan dedaunan yang tertiup angin malam, sesekali diselingi suara kendaraan yang melintas di jalan tidak jauh dari taman tersebut.
Hikari yang telah menghabiskan es krimnya kini menyandarkan punggung pada bangku taman. Pandangannya tertuju pada beberapa lampu jalan yang menerangi area sekitar.
Sementara itu, Keiran masih duduk dengan posisi yang sama. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, sedangkan pandangannya terus mengarah ke depan.
Sesekali, lelaki itu melirik Hikari melalui sudut matanya.
Ia benar-benar tidak mengerti dengan gadis yang duduk di sampingnya itu.
Biasanya, orang-orang akan memilih menjauh setelah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan darinya. Namun, Hikari justru terlihat begitu santai, seolah sikap ketus yang diperlihatkannya sejak tadi sama sekali tidak menjadi masalah.
"Lo nggak pulang?" tanya Keiran akhirnya, memecah keheningan di antara mereka.
Hikari menoleh mendengar pertanyaan tersebut.
"Sebentar lagi," jawabnya singkat.
Keiran mengangguk kecil, kemudian kembali memandang ke depan.
"Udah malem."
"Iya, aku tahu."
"Terus kenapa masih di sini?"
Hikari terdiam sesaat sebelum menoleh ke arah Keiran dengan ekspresi tenang.
"Memangnya kamu sendiri kenapa masih di sini?"
Mendengar pertanyaan yang justru berbalik kepadanya, Keiran langsung menoleh. Alisnya sedikit berkerut.
"Gue nanya duluan."
"Aku juga sudah jawab."
Keiran menatap Hikari selama beberapa detik. Entah mengapa, jawaban gadis itu membuatnya sedikit kesal.
Namun, bukannya memperpanjang percakapan, Keiran justru kembali mengalihkan pandangan.
"Terserah lo," gumamnya.
Hikari hanya tersenyum tipis melihat reaksinya.
Beberapa saat kemudian, Hikari kembali membuka percakapan.
"Kamu sering datang ke taman ini?"
Keiran tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah sedang mempertimbangkan apakah pertanyaan tersebut perlu dijawab atau tidak.
"Bukan urusan lo."
Hikari mengangguk pelan. "Oh, oke"
Hikari kembali bertanya dengan penuh penasaran "kenapa kamu disini sendirian, maksud aku kayak malem-malem cowo di taman sendirian ngapain"
Keiran langsung menoleh setelah mendengarkan pertanyaan tersebut "kenapa lo pengen tau banget urusan orang lain" Jawab keiran ketus
"Aku gak bermaksud, tapi cuman sekedar nanya" Ucap hikari memelankan suaranya karna sedikit canggung.
Keiran mengembuskan napas panjang.
"Gue nggak ngerti sama lo."
Hikari menoleh.
"Kenapa?"
"Lo emang selalu ngajak ngobrol orang yang nggak lo kenal?"
Pertanyaan itu membuat Hikari terdiam sejenak.
Ia kemudian menggeleng kecil.
"Nggak juga."
"Terus kenapa ngajak gue ngobrol?"
Hikari memperhatikan wajah Keiran beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Karena aku pengen temenan sama kamu"
Keiran langsung menoleh.
Tatapannya memperlihatkan sedikit keheranan, seolah jawaban tersebut merupakan sesuatu yang sama sekali tidak ia perkirakan.
"Apa?"
"Aku pengen temenan sama kamu" ulang Hikari dengan nada yang tetap tenang.
Keiran mengernyitkan dahi.
"Buat apa?"
Hikari berpikir sejenak.
"Karena kita satu sekolah. Lagi pula, menurutku nggak ada salahnya berteman dengan seseorang."
Keiran terdiam.
Untuk sesaat, ia hanya memandangi Hikari dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Kemudian, lelaki itu mengeluarkan tawa pendek yang terdengar sedikit mengejek.
"Lo aneh, dari banyak nya orang di sekolah lo mau berteman sama cowo?" Ucap keiran dengan nada yang sedikit meledek
Hikari mengangkat kedua alisnya. "Memangnya kenapa?, cewe sama cowo gak salah kok berteman" ucap hikari menjelaskan.
Keiran hanya menjawab singkat "oke terserah"
Hikari tersenyum sembari melihat ke arah keiran "kalo gitu kita temenan sekarang"
"Nggak. mending lo pergi dari sini" ucap keiran dengan nada ketus nya itu, hikari beranjak berdiri menghadap ke arah keiran
"Kenapa enggak, aku cuman minta temenan gak lebih" ucap hikari sedikit kesal dengan jawaban keiran
"Gue gak tertarik temenan sama cewe, paham" Jelas keiran
Hikari tidak terlalu kecewa dengan jawaban nya karna dia sudah menggira akan dapat tolakan, meskipun hanya ingin berteman.
"Ya udah, kita tetep temanan. Aku Tsukasa hikari salam kenal ya" Ucap hikari dengan senyuman nya. Keiran hanya menatap dengan kesal lalu beranjak berdiri setelah itu keiran pun berjalan pergi dari taman.
"Terserah, kalo lo gak mau pergi gue yang pergi" ucap keiran sembari berjalan meninggalkan taman itu.
Hikari tercengang, lalu segera mengikuti keiran untuk pergi dari taman itu, tapi hikari tidak lupa dengan sepedanya dia pun membawa sepedanya yang tadi disimpan.
Karna jalanya keiran sangat cepat hikari tidak sempat melihat keiran pergi ke arah mana.
Hikari menghela napas panjang
"Sudahlah, lagian dia bilang terserah jadi kita udah temenan mulai sekarang"
Hikari segera menaikan sepeda nya untuk kembali pulang karna ini sudah lumayan larut malam mungkin bi sumi akan khawatir jadi hikari bergegas pulang ke rumah dengan suasana hati senang dan ada sedikit kekesalan.