Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 3
Tn.Smith & Ny.Smith
Tok...tok...tok...
Emma mengetuk pintu unit apartemen nomor Empat dilantai dua. Ia ingin menjemput adik-adiknya. Tidak lama kemudian pintu terbuka.
Seorang perempuan tua berdiri di depannya. Namanya Nyonya Smith. "Emma ? Ayo masuk," ucapnya ramah.
"Tidak usahlah nyonya, saya hanya ingin menjemput Luna dan Ryan," jawab Emma.
"Masuklah dulu, Emma. Aku tahu kamu pasti lelah setelah seharian bekerja. Istirahatlah disini sebentar."
Emma tak bergeming. Ia takut kedatangannya mengganggu waktu malam Nyonya Smith dan suaminya. "Lain kali saja Nyonya, sekarang sudah terlalu malam untuk bertamu," ucapnya.
"Siapa itu sayang ?" tanya seorang pria dari dalam. Pria itu Tuan Smith. Ia melangkah mendekat ke istrinya. "Emma ? Ayo masuk dulu, istirahat sebentar disini," ucapnya.
"Tidak usah lah Tuan Smith, ini sudah terlalu malam," jawab Emma.
"Masuklah dulu Emma, ada yang ingin aku bicarakan." Tuan Smith tampak serius. "Ini soal ayahmu," lanjutnya.
Mendengar ucapan Tuan Smith, Emma mulai penasaran. Akhirnya Ia masuk kedalam apartemen milik sepasang orang tua itu.
Didekat ruang tamu, Emma melihat kedua adiknya sedang asik bermain menata balok huruf. Sesekali ada teriakan bahagia saat mereka berhasil menyusun satu kata. Melihat keceriaan kedua adiknya, ia tersenyum.
"Mereka sangat senang bermain itu," ucap Nyonya Smith disampingnya. "Kamu harus selalu membuat mereka tetap bahagia," ucapnya lagi. Perempuan tua itu lalu duduk didekat kedua adiknya.
"Emma, duduklah sebentar," kata Tuan Smith. Emma pun duduk di sofa ruang tamu.
"Apa yang ingin Tuan Smith bicarakan soal ayah saya ?" tanya Emma.
"Saya pikir, kamu harus mulai bisa berdamai dengan masa lalu. Maafkanlah ayahmu dan terima dia kembali. Saya tahu pasti sulit menerima orang tua yang tega mengorbankan kebahagiaan keluarga hanya untuk kesenangan sementara. Tapi, semakin lama kamu memendamnya, kesehatan mental dan fisikmu akan semakin kelelahan. Cobalah memikirkannya kembali. Ini juga demi kebahagiaan adikmu. Suatu saat nanti pasti mereka akan menanyakan dimana keberadaan ayahnya. Disaat itu tidak mungkin kamu bisa mengatakan yang sebenarnya," ucap Tuan Smith.
Emma terdiam dan menyimak semua penjelasan pria tua itu. Sesaat ia juga menatap kedua adiknya saat Tuan Smith membahas mereka.
Bagi Emma kebahagiaan kedua adiknya adalah harta berharganya. Ia tak mau melihat mereka sedetik pun bersedih.
Jika harus menerima ayahnya kembali, rasanya masih berat hati bagi Emma untuk melakukannya. Kesengsaraan dan kesedihan yang disebabkan olah ayahnya dimasa lalu masih membekas dibenaknya. Rasanya mustahil untuk memaafkan ayahnya.
Emma menghela napas. "Terima kasih Tuan Smith mau mengerti keadaan keluarga saya saat ini. Tapi rasanya sulit bagi saya memaafkan ayah saya," ucapnya.
"Baiklah Emma, saya tidak memaksa. Tapi kamu harus ingat. Jaga kesehatan kamu. Saya yakin kamu kuat," kata Tuan Smith dengan tersenyum.
"Itu pasti Tuan Smith," jawab Emma.
"Luna, Ryan," panggil Tuan Smith cukup keras untuk membelah sorak sorai gembira kedua adik Emma. "Waktunya pulang. Kakak kalian sudah menjemput," lanjutnya.
Seketika ada raut kekecewaan di kedua adik Emma karena mereka masih belum puas bermain. Nyonya Smith memberi sedikit pengertian. Mereka berdua akhirnya paham kondisinya.
Pelukan hangat perpisahan langsung dilakukan oleh Luna dan Ryan ke Nyonya Smith dan Tuan Smith. Setelah itu mereka berjalan mendekati kakaknya.
"Terima kasih. Hari ini sudah menjaga adik saya," ujar Emma sambil bangkit berdiri.
"Iya sama-sama, Emma. Kami bahagia ada mereka disini," ucap Nyonya Smith dengan tersenyum.
Emma dan kedua adiknya lalu berjalan menuju pintu.
...----------------...
Berbagai hidangan telah tertata rapi di meja makan. Makan malam bersama siap dilaksanakan.
Pak Thomas berjalan menuju ruang makan yang cukup luas. Lampu kristal tergantung di plafon dan menerangi ruangan. Meja makan terbuat dari kayu jati berkualitas terbaik.
Pak Thomas duduk di kursi yang berada di ujung meja. Istrinya dengan sigap mengambilkan hidangan makan malam ke piring di depan pria itu.
"Dave mana ?" tanya Pak Thomas.
"Masih dikamar," jawab istrinya.
"Panggil dia dan ajak makan bersama," kata Pak Thomas. Setelah selesai memberikan perhatian padanya, Istrinya langsung memanggil Dave. Suaranya yang cukup keras ditanggapi anaknya dari kamar.
Tidak lama kemudian, Dave turun dari lantai dua. Ia berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sudah mulai makan.
Sambil menikmati makan malam, Dave menyimak obrolan kedua orang tuanya. Mereka membahas perjalanan bisnis keluar kota yang telah dilalui. Entah kenapa pembahasan itu tak menarik baginya. Mungkin karena ia masih kecewa pada ayahnya yang telah memberhentikannya dari jabatan sebagai CEO.
Ting...tong...
Bel berbunyi menandakan ada seorang tamu yang datang. Ibunya Dave meninggalkan sejenak makan malam dan bergegas berjalan menuju pintu depan.
Inilah kesempatan bagi Dave untuk berbicara berdua dengan ayahnya. Ia akan menegosiasikan soal konflik dikantor tadi pagi. Ia berharap ayahnya mau mengembalikan posisi jabatannya.
"Ayah, gimana masakan ibu, enak ?" Dave basa basi terlebih dahulu.
"Enak, ayah sangat rindu masakan ibu kamu," jawab Pak Thomas sambil mengunyah makanan dimulutnya.
"Eeeh...soal kejadian tadi pagi. Tolong dipikirkan kembali. Aku masih butuh jabatan itu." kata Dave.
Pak Thomas berhenti makan. Ia lalu minum seteguk air putih. "Kamu tahu apa salahmu ?" ucapnya.
"Memangnya apa salahku ? Aku bekerja sesuai wewenang jabatanku dan tidak melanggar aturan."
"Itulah jawaban pemimpin yang tidak tahu diri. Kamu tidak bisa menyadari dan mengakui semua tindakan salahmu. Kamu hanya melihat seakan apa yang kamu lakukan benar."
"Tapi memang kenyataannya aku benar, ayah. Semua aku lakukan demi kemajuan perusahaan."
"Kamu pikir dengan memecat karyawan satu persatu, perusahaan akan maju ?. Pemikiran apa yang selama ini kamu terapkan ?. Seandainya ayah tidak tahu semua tindakanmu, pasti kamu akan jadi pemimpin yang sangat arogan. Ayah tetap akan mengambil alih pimpinan perusahaan dan keputusan tidak akan ayah pikirkan kembali."
"Tapi ayahhh..."
"Cukup Dave."
Obrolan berakhir tepat saat ibunya Dave kembali ke meja makan.
"Ada Hudson datang. Katanya, kamu memintanya kesini," ucap ibunya Dave ke ayahnya.
Pak Thomas bangkit berdiri. "Persiapkan dirimu Dave. Ayah sudah persiapkan pekerjaan yang cocok untukmu. Semoga pekerjaan ini bisa membuatmu sadar akan semua tindakanmu. Ingat Dave, jangan pernah hancurkan sebuah harapan tulang punggung keluarga," ucapnya tegas.
"Tapi ayah..." Dave membalas. Ia seketika berdiri.
"Cukup Dave, ayah tidak mau menanggapi lagi," ucap Pak Thomas. Ia lalu berjalan meninggalkan meja makan untuk menuju ruang tamu.
Dave hanya bisa pasrah. Ia menyadari kalau telah gagal merubah keputusan ayahnya. Apapun setelah ini, mau tidak mau ia harus tetap menerimanya dan menjalankannya.
"Tolong bantu aku, bu. Supaya ayah mau mengembalikan jabatanku sebagai CEO," kata Dave.
"Maaf Dave. Ketika ayah mu sudah membuat keputusan, siapapun tidak ada yang bisa merubahnya. Termasuk ibu," ucap ibunya Dave sambil memulai kembali makannya.
Sekali lagi Dave hanya bisa pasrah menerima keputusan.