NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 32

Jam 2.10 siang hari.Hujan masih deras.

Bukan gerimis lagi, tapi hujan Jakarta yang kalau sudah turun di Bekasi itu seperti air ditumpahkan dari ember langit. Atap seng ruko cat putih yang baru kami ukur 4x12 meter tadi pagi bunyinya krotok-krotok-krotok tidak berhenti. Air selokan depan ruko yang jam 1 siang masih 10 cm, sekarang jam 2.10 sudah naik jadi 15 cm. Aku lihat dari jendela kaca ruko, motor hitam Arpan yang parkir di depan sudah kerendam setengah knalpot.

Di dalam ruko, kami masih duduk dengan jarak 1 meter. Di antara kami karung mukena  putih 20 pcs yang tadi pagi kami lipat segi tiga masih jadi pembatas. Karung itu sekarang ada bekas bulat kecil air mataku. Jatuh pas aku bilang, "Iya mau coba kenal Kak Arpan lebih serius."

Aku sudah berhenti nangis. Tapi mukaku masih panas. Kerudung coklat susu ku agak miring karena tadi keburu-buru lap air mata pakai ujung kerudung.

Arpan tidak lihat aku lagi. Dia lihat hujan di luar. Dia sengaja tidak lihat aku karena dia tau aku malu. Kemeja putihnya agak basah di bahu karena tadi dia lari mindahin motor.

"Laila, kamu nangis kenapa?" tanya Arpan pelan. Suaranya balik lagi jadi suara manager yang rapi, bukan suara laki-laki yang matanya berkaca-kaca tadi.

"Aku bukan nangis sedih Kak," jawabku. Suaraku kecil, hampir kalah sama suara hujan di atap seng. "Aku nangis lega. Karena untuk pertama kalinya setelah 20 hari kerja di HIJAB BAROKAH, aku berani ngomong aku maunya yang halal. Bukan maunya dijemput jam 7.30 terus, bukan maunya diajak makan di warteg berdua terus."

Arpan angguk. Dia ambil map denah Bekasi yang ada di tas ransel hitamku. Ujungnya masih basah seperti pagi tadi. Dia ambil tisu dari saku celana hitamnya, dia lap pelan-pelan ujung map itu.

"Map kamu basah lagi Laila, nanti denahnya luntur. Padahal ini denah penting, ini denah rezeki kamu Senin depan," katanya. Dia ganti topik. Dia pinter ganti topik kalau aku sudah mulai melow.

Aku lihat jam dinding ruko Bekasi yang sudah berdebu. Jam 2.15.

"Kak, motor Kakak kerendam," kataku panik. Tadi aku baru sadar.

Arpan langsung berdiri. "Astaghfirullah."

Dia lari keluar hujan-hujanan tanpa pakai helm. Kemeja putihnya langsung basah kuyup. Celana hitamnya langsung basah. Dia dorong motor hitamnya yang berat itu naik ke dalam ruko. Ban motornya licin karena lumpur selokan. Aku mau bantu dorong, tapi dia larang.

"Laila jangan keluar! Lantai licin!" teriaknya dari hujan.

Akhirnya motor berhasil masuk ke dalam ruko. Sekarang di dalam ruko bau apek campur bau hujan campur bau bensin motor. Air netes-netes dari motor ke lantai putih ruko.

Kami berdua ngos-ngosan. Arpan peras ujung kemeja putihnya. Air netes.

"Gak bisa pulang jam segini Laila, kita tunggu reda. Jakarta pasti lebih macet. Sekalian saya telepon atasan," kata Arpan. Dia ambil hp. Dia telepon Pak Atasan pakai loudspeaker, biar aku dengar. Dia tidak pernah telepon diam-diam kalau ada aku.

"Pak, hujan deras Bekasi Pak, ruko depan banjir 15 cm. Saya sama Laila masih di ruko, belum bisa balik. Motor gak bisa lewat, Kuningan pasti banjir juga," kata Arpan.

Suara Pak Atasan di seberang, "Ya udah menginap saja dulu di kos hijau depan ruko itu. Kos itu kan kosong, kunci ada saya titip di warung  depan. Jangan pulang malam, bahaya. Besok pagi baru balik Jakarta. Bilang ke Laila, sekalian bersih-bersih kos hijau itu, kan Senin dia mau pindah. Kamu kan kepala admin Bekasi juga, Arpan, harus tau kondisi kos."

Telepon mati. 

Aku kaget. Jantungku yang tadi sudah tenang habis nangis lega, sekarang deg-degan lagi. Deg-degan model ketiga hari ini. Pagi deg-degan karena Mbak Sari sindir, sekarang deg-degan karena kata menginap.

Menginap? Aku sama Arpan? Di Bekasi? Di kos hijau yang catnya hijau pudar itu?

Otakku langsung muter ke hidupku sendiri. Tuhan, Izinkan Aku Berdosa. Apakah ini dosa yang aku minta izin itu? Tuhan, apakah ini termasuk dosa? Aku berdua dengan laki-laki bukan mahram di ruko kosong pas hujan deras, sekarang disuruh menginap di kos yang sama?

Arpan langsung baca mukaku. Dia sudah 20 hari jadi managerku, dia hafal muka ku kalau lagi mikir dosa.

"Laila, jangan mikir macam-macam," kata Arpan cepat. Dia angkat kedua tangannya, seperti orang mau menyerah. "Kos hijau itu ada 2 kamar. Kamar 1 dan kamar 2. Pintu beda, kunci beda. Saya tidur di kamar 1, kamu di kamar 2. Saya tunggu di warung depan sampai kamu masuk dan kunci dari dalam. Kita tidak satu atap tanpa batas. Saya janji, saya jaga syarat halal yang kamu kasih tadi di ruko pas hujan deras. Saya tidak akan ketuk pintu kamu malam ini."

Aku masih diam. Aku lihat karung mukena  yang jadi pembatas kami. Putih bersih.

"Atau kalau Laila gak mau, Laila tidur di ruko ini, saya yang tidur di kos itu. Biar saya yang jaga motor di warung. Ruko ini kunci dari dalam, aman," lanjut Arpan. Dia kasih pilihan kedua.

Di luar hujan makin keras. Angin kencang. Aku dengar suara seng tetangga terbang.

Kalau sekarang aku menginap di kos yang sama walaupun beda kamar, apakah itu melanggar syarat halal ku sendiri? Apakah orang tuaku di kampung akan marah kalau tau?

Tapi kalau aku maksa pulang naik angkot malam-malam pas banjir 15 cm, itu lebih bahaya. Lebih dosa karena membahayakan diri sendiri.

Akhirnya aku tarik napas panjang. 

"Kak, kita ambil kunci kos hijau itu," jawabku tegas. Suaraku agak gemetar, tapi tegas. "Tapi ada 3 syarat tambahan dari Laila."

Arpan angguk, "Sebut Laila, berapa pun syaratnya saya sanggup."

"Satu, Laila tidur di kamar 2 kunci dari dalam. Kakak di kamar 1 kunci dari dalam. Tidak ada ketuk-ketukan pintu setelah jam 9 malam," kataku sambil hitung pakai jari.

"Dua, malam ini kita gak ngobrol. Kita diam di kamar masing-masing. Besok pagi jam 5 subuh kita langsung pulang Jakarta.

 

"Tiga, sampai di Jakarta,  jangan mampir ke ruko lama. Langsung pulang. Biar Mbak Sari tidak lihat kita pulang bareng lagi dan sindir Laila lagi seperti pagi tadi."

Arpan kaget dengar syaratku yang panjang. Lalu dia senyum. Senyum lega, bukan senyum bahagia seperti semalam pas aku ketiduran di motor.

"Siap, Kepala Admin Bekasi gaji 5 juta. Tegas sekali. Saya sanggup semua," katanya. Dia hormat seperti tentara. Bikin aku yang tadinya tegang jadi ketawa kecil.

Jam 3.30 sore, hujan reda sedikit. Jadi gerimis kecil. Air selokan masih 15 cm tapi sudah tidak naik.

Kami kunci ruko Bekasi. Gembok besar. Kami jalan kaki 20 langkah ke kos hijau depan ruko.

Bu Haji kasih 2 kunci. Kunci karatan.

"Ini Nak Arpan, ini Nak Laila. Kamar sudah dibersihkan . Ada kasur lipat tipis, ada mukena  kalau mau sholat. Listrik sudah nyala,"..

Aku masuk kamar 2. Kamar kosong ukuran 3x3 meter. Bau cat baru. Ada kasur lipat tipis, ada bantal satu, ada mukena putih masih plastik . Ada jendela kecil menghadap ke ruko Bekasi. Dari jendela aku bisa lihat motor hitam Arpan yang masih di dalam ruko.

Arpan masuk kamar 1. Dinding kami cuma triplek tipis. Aku bisa dengar dia batuk.

"Laila, saya sudah kunci dari dalam!" teriaknya dari kamar sebelah.

Aku kunci pintu kamar 2 dari dalam. Kunci ku putar dua kali. Ceklek. Ceklek.

"Laila juga sudah kunci dari dalam Kak!" teriakku balik.

Kami tertawa dari balik dinding triplek tipis. Pertama kalinya tertawa habis nangis habis hujan deras. Suara tawa kami kalahkan suara gerimis.

Jam 4 sore aku buka tas ransel hitamku. Al-Quran kecil masih aman, tidak basah. Buku harian masih aman. Map denah Bekasi ujungnya sudah agak kering karena dilap Arpan tadi pakai tisu.

Aku sholat Ashar di kamar 2 pakai mukena putih baru dari kos. Mukenanya masih wangi toko.

Habis sholat, aku buka buku harian. Aku tulis dengan tangan gemetar.

 Aku tutup buku harian. Di kamar sebelah, Arpan batuk pelan lagi.

Jam 5 sore, ada ketukan pelan di dinding triplek. Bukan ketukan pintu, ketukan dinding.

"Laila, kamu sudah sholat?" tanya Arpan dari balik dinding.

"Sudah Kak," jawabku.

" tadi titip gorengan tempe 2 bungkus di depan pintu kamar kita masing-masing. Ambil ya, jangan sampai basi. Ambil cepat, ," katanya.

Aku buka pintu kamar  sedikit. Ada gorengan tempe hangat dibungkus kertas minyak di depan pintu. Aku ambil.

Aku makan gorengan tempe sambil duduk di kasur lipat tipis. Enak. Gurih.

Jam 7 malam, hujan turun lagi. Deras lagi. Atap kos hijau yang seng juga bunyinya krotok-krotok seperti atap ruko tadi siang.

Aku buka hp. Ada chat masuk dari Mbak Sari di grup RUKO HIJAB BAROKAH.

Mbak Sari Info ya, Laila sama Pak Manager belum balik dari Bekasi sampai jam 7 malam ini. Hujan deras Bekasi. Semoga selamat.

Aku tidak balas. Arpan juga tidak balas di grup.

Aku chat bapak di kampung. Pak, Laila di Bekasi hari ini survei ruko, hujan deras, jadi menginap di kos, besok pagi pulang. Jangan khawatir.

Bapak balas cepat Ya Allah laila, jaga diri. Jangan dekat-dekat laki-laki. Ingat pesan bapak.

Aku nangis lagi. Pelan.

Di balik dinding triplek, Arpan mungkin juga tidak tidur. Aku dengar dia bolak-balik.

Jam 9 malam, hujan reda total. Listrik kos  kedip-kedip.

Aku teriak pelan, "Kak, Laila mau tidur. Matikan lampu ya."

Arpan jawab, "Iya Laila, tidur. Saya juga matikan lampu. Besok jam 5 kita bangun, sholat Subuh, langsung  ke Jakarta. 

Aku matikan lampu kamar 2. Gelap. Hanya cahaya hp.

Besok Senin resmi pindah Bekasi. Gaji 5 juta. Kepala admin.

Dan minggu depan, laki-laki kemeja putih yang kemejanya basah kuyup demi dorong motor hitam itu mau ke kampung, minta izin ke orang tuaku.

Apakah Mbak Sari di ruko lama akan terima dia jadi ketua admin? Apakah bapak di kampung akan terima cerita anaknya menginap beda kamar tapi satu kos dengan managernya pas hujan deras?

Di luar hujan sudah reda. Di dalam kos hijau, janji halal masih dijaga dengan 2 kunci yang berbeda dan dinding triplek tipis.

Aku peluk Al-Quran kecilku dan tertidur.

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!