**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marni
Beranda itu hening cukup lama sampai terdengar tetesan embun jatuh dari talang seng.
Kardi tidak bergerak dari tempatnya. Tangannya terulur setengah, gemetar, lalu turun lagi seperti tak yakin ia boleh menyentuh apa pun. Di depannya berdiri perempuan enam puluhan yang selama tiga puluh dua tahun mencuci piring, menyetrika seragam sekolah, dan menyeduh teh pagi di rumah keluarga Hartono, dan yang kini baru saja menyebut nama aslinya.
"Empat puluh tahun," kata Kardi. Suaranya patah-patah, seperti kayu tua. "Kamu hilang waktu aku keluar dari penjara. Rumahmu kosong. Tetangga bilang kamu pindah, tidak ada yang tahu ke mana."
"Aku sengaja, Mas."
"Kenapa?"
"Karena aku yang menghilangkan Bagas."
Haryo, yang berdiri dua langkah dari mereka, menegang. Nama itu baru ia dengar satu hari yang lalu, dan masih terasa seperti pakaian milik orang lain. Ia tidak menyela.
---
Marni menolak duduk. Ia berdiri di kaki tangga dengan kedua tangan terkatup di depan perut, persis seperti ketika ia menunggu perintah Ibu di dapur, dan bercerita dengan mata terpaku ke tanah.
"Mas dihukum enam tahun. Aku baru dua puluh tiga, belum menikah, tinggal sendiri di rumah bapak. Bayi itu datang dibawa tetangga, dibungkus kain jarik, menangis seharian. Aku tidak tahu cara menenangkannya." Ia menarik napas. "Dua minggu aku coba. Susu bubuk habis, uangku habis, dan bayi itu demam."
"Kamu bisa minta bantuan," kata Dimas pelan.
"Minta ke siapa, Nak? Orang sekampung tahu bayi itu anak dari perempuan yang dibeli. Tidak ada yang mau menyentuhnya." Marni tersenyum pahit. "Aku bawa dia ke panti di Wonosobo. Aku bilang cuma sementara, sampai Mas keluar. Aku tinggalkan nama, alamat, dan tanda lahir bulan sabit di punggungnya supaya gampang dikenali."
Haryo menelan ludah. Tangannya yang melengkung mengepal di sisi tubuh.
"Tapi dua tahun kemudian pantinya kebakaran," lanjut Marni. "Semua arsip hangus. Anak-anak dipindahkan ke tiga panti lain, tanpa catatan. Aku datang menjenguk, dan pengurusnya bilang tidak ada anak bernama Bagas. Tidak ada yang tahu ke mana dia dibawa."
"Kenapa tidak cerita ke Mas?" tanya Kardi.
"Karena aku malu." Suaranya naik, serak. "Karena kamu keluar dari penjara dengan harapan satu-satunya adalah menemukan anakmu, dan aku yang menghilangkannya. Aku tidak sanggup bilang."
Ia berhenti. Air matanya jatuh satu-satu ke papan beranda.
"Jadi aku pergi. Aku ganti nama jadi Rasmi, cari kerja jauh dari Wonosobo. Dapat kerja di rumah Hartono waktu dia baru menikah dengan Wulan. Aku pikir kalau aku mengabdi pada keluarga baik, dosaku bisa sedikit terbayar."
---
"Hartono tahu siapa kamu?" tanya Ratih.
"Dua puluh tahun dia tidak tahu." Marni menggeleng. "Dua tahun lalu, waktu dokter bilang umurnya tinggal sebelas bulan, dia memanggilku ke kamar. Dia bilang dia mau melunasi satu utang sebelum mati. Dia sudah menemukan Kardi, dan Kardi sedang mencari anaknya."
"Dan Bapak tahu kamu kakak Kardi?"
"Dia sudah menyelidiki sejak lama, Bu Inspektur. Dia tahu dari foto lama di dompetku, dari cara aku menyebut nama Wonosobo waktu mengigau sakit." Marni mengusap pipinya. "Dia tidak marah. Dia cuma bilang, 'Mbok, aku butuh kamu cerita semua yang kamu ingat tentang panti itu. Satu-satu. Sekecil apa pun.'"
Haryo bergerak setengah langkah. "Jadi Bapak ... Pak Hartono menemukan saya lewat cerita Ibu?"
Marni terdiam. Matanya naik perlahan, bertemu wajah Haryo untuk pertama kalinya sejak ia tiba. Mata perempuan itu membesar, mulutnya terbuka, dan dari tenggorokannya keluar bunyi kecil, bunyi orang yang baru saja diberi sesuatu yang sudah ia anggap hilang selamanya.
"Kamu ..." bisiknya. "Kamu sudah sebesar ini."
"Saya empat puluh satu tahun."
"Iya." Marni tertawa dan menangis bersamaan. "Iya, empat puluh satu. Aku lupa menghitung."
Ia melangkah maju, tertahan, mundur lagi. "Aku tidak berhak menyentuhmu."
"Boleh," kata Haryo. Suaranya kaku, canggung, tetapi jelas. "Tante ... Bude ... saya tidak tahu harus panggil apa."
"Panggil aku Mbok saja. Itu yang paling kuingat."
Haryo mengangguk, lalu membuka kedua tangannya dengan cara yang amat kikuk, seperti orang yang tak pernah tahu cara memeluk. Marni masuk ke dalamnya tanpa suara, kepalanya sampai ke dada Haryo, bahunya berguncang. Haryo membiarkannya, kedua lengannya akhirnya menutup pelan di punggung perempuan itu.
Kardi memalingkan wajah, menutup mata dengan telapak tangan lebar yang gemetar.
---
Mereka duduk di beranda setengah jam kemudian, mengitari teko seng yang sudah dingin. Darmawan telah dibawa dua penyidik ke mobil Ratih, tanpa borgol, hanya dengan satu anggukan. Ia tidak melawan. Dokter Pramono pulang dengan wajah kosong, dan Sri duduk di anak tangga paling bawah, memeluk tas jinjingnya, memandangi kabut yang naik perlahan dari lembah.
Ibu duduk di kursi bambu yang tadi ditempati Darmawan, berdampingan dengan Marni, dua perempuan yang tiga puluh dua tahun berbagi dapur tanpa pernah tahu masing-masing menyimpan separuh hidup yang lain.
"Kamu bisa saja cerita," kata Ibu.
"Dan Ibu akan memecatku?"
"Aku akan memelukmu."
Marni menutup mulutnya, dan Ibu menggenggam tangannya yang keriput, tidak melepaskan.
"Bapak berpesan satu hal," lanjut Marni setelah beberapa saat, merogoh tas kain lusuhnya. "Dia minta aku menyerahkan ini kalau Ibu sudah tahu semuanya. Aku baru berani sekarang."
Ia mengeluarkan amplop putih tipis, tanpa lak, tanpa segel. Hanya satu kata di depannya, huruf-huruf yang kini Laras kenali di mana pun: *Wulan.*
Ibu menerimanya. Jari-jarinya tidak gemetar. Ia membuka lipatannya perlahan, dan Laras, yang duduk di sampingnya, melihat tiga baris saja.
*Wul. Sudah. Yang kupinta cuma satu: jangan biarkan Surya menyimpan semuanya sendirian. Dia terlalu setia untuk dirinya sendiri.*
Ibu mengerutkan kening. "Surya?"
"Bapak bilang begitu, Bu," kata Marni. "Di hari terakhir. Dia bilang Pak Surya orang yang paling dipercayanya, tapi juga yang paling berbahaya kalau dibiarkan sendirian dengan rahasia."
"Berbahaya kenapa?"
"Aku tidak tahu."
Ponsel Dimas bergetar di atas meja, dan satu layar menyala. Ia membacanya cepat, dan wajahnya berubah.
"Dari Sekar," katanya. "Pak Surya sadar. Sekitar sepuluh menit lalu."
Ibu langsung berdiri. "Dia bicara?"
"Satu kalimat saja, kata Sekar. Dia minta dicatat." Dimas menelan ludah dan membaca dari layar, suaranya tegang. "*Tanyakan pada Marni siapa yang mengantar botol kedua.*"
Marni membeku.
Seluruh warna meninggalkan wajahnya, perlahan, seperti air surut dari pantai. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Ibu terlepas begitu saja.
"Botol kedua?" bisiknya. "Bapak hanya menyuruhku satu."
"Satu?" Dewi menegakkan badan.
"Satu botol, Bu Inspektur. Aku ambil dari rak dapur, seperti yang Bapak bilang. Aku tidak pernah membawa botol kedua. Aku bahkan tidak tahu ada botol kedua." Marni menoleh ke Ibu, matanya liar. "Bu, aku bersumpah demi Bagas."
Tak seorang pun bicara. Dewi menatap Sri, dan Sri membalas tatapan itu dengan wajah yang pelan-pelan memucat. Mereka berdua baru sadar satu hal pada saat yang sama.
"Digoksin yang kutemukan di botol," kata Sri lirih. "Dosisnya terlalu tinggi untuk satu malam. Satu botol dari Marni, kalau Bapak minta, cukup untuk menenangkannya." Ia menelan ludah. "Tapi bukan untuk menghentikan jantungnya dalam satu jam."
"Maksudmu?" tanya Ratih.
"Maksudku Hartono mungkin tidak meninggal karena dosis yang dia minta." Sri menatap Marni. "Seseorang menambahkan dosis kedua setelah Marni pergi."
Angin dingin menyapu beranda. Teko seng bergetar sedikit di atas meja, entah oleh apa. Dan di kejauhan, di mobil Ratih, lelaki enam puluhan yang selama ini duduk diam di kursi belakang tiba-tiba mengangkat wajah, seperti baru mendengar namanya dipanggil.