Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Seminggu setelah surat panggilan sidang perceraian tiba, Bu Farah akhirnya mendatangi rumah sakit tempat Jingga bekerja. Kedatangannya bukan untuk meminta maaf, melainkan memastikan Jingga tidak benar-benar menghancurkan rumah tangga keluarga Cendana.
Jingga baru saja keluar dari ruang perawat ketika melihat perempuan paruh baya itu berdiri di dekat lorong, dengan wajah tegang dan tatapan yang sejak dulu selalu membuatnya merasa bersalah.
“Jingga, kita perlu bicara.”
Jingga berhenti melangkah. “Kalau tentang perceraian, saya tidak punya hal lain untuk dibicarakan, Tante."
Bu Farah tertegun ketika Jingga menyapanya dengan panggilan Tante, bukan lagi Mama seperti biasanya.
“Jangan bicara seolah-olah kamu sudah menjadi orang asing dalam keluarga ini!” bentak Bu Farah, menahan suaranya agar tidak menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. “Kamu masih istri Rangga. Apa kamu tidak malu membawa masalah rumah tangga sendiri sampai ke pengadilan?”
Jingga menarik napas panjang. Ia sudah menduga Bu Farah tidak akan tinggal diam setelah mengetahui surat panggilan sidang benar-benar dikirimkan kepada putranya.
“Saya tidak membawa masalah ini ke pengadilan untuk mempermalukan siapa pun. Saya hanya ingin mengakhiri pernikahan yang sudah tidak sehat.”
“Tidak sehat?” Bu Farah tertawa pendek tanpa sedikit pun kehangatan. “Kamu pikir menjadi istri Rangga itu mudah? Dia punya tanggung jawab besar, sementara kamu selalu menuntut perhatian. Seharusnya kamu bersyukur masih dipertahankan selama ini.”
Jingga mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, tetapi memilih diam. Ia tidak ingin bertengkar di tempat kerja, apalagi dengan seseorang yang selalu memutarbalikkan keadaan demi membenarkan putranya.
Namun, Bu Farah belum selesai.
“Kalau kamu merasa hidupmu hancur, jangan jadikan Rangga sebagai kambing hitam. Coba bercermin dulu pada dirimu sendiri.”
Jingga menatap ibu mertuanya, ia mulai kehilangan kesabaran. “Apa maksud Tante?”
Wajah Bu Farah berubah dingin. Ia melangkah mendekat, kemudian melontarkan kalimat yang membuat dada Jingga seolah dihantam benda keras.
“Anakmu meninggal karena kamu sendiri tidak becus mengurusnya!”
Jingga membeku. “Tan—”
“Kamu seorang perawat, Jingga! Setiap hari kamu mengurus pasien, memahami gejala penyakit, dan tahu apa yang harus dilakukan saat seseorang dalam keadaan darurat. Tapi ketika anakmu sendiri sakit, kamu tetap tidak mampu menyelamatkannya.” Suara Bu Farah meninggi, sementara matanya menatap Jingga tanpa belas kasihan. “Kalau kamu memang ibu yang baik, seharusnya kamu bisa melakukan sesuatu!”
Dunia Jingga mendadak terasa sunyi. Bayangan malam di rumah sakit kembali menyerbunya. Tubuh mungil putranya yang kejang, suara monitor yang memekakkan telinga, tangan kecil yang pernah digenggamnya, serta detik-detik ketika ia memohon agar anaknya tetap bertahan.
Napas Jingga mulai memburu. Telapak tangannya berkeringat, sementara dadanya terasa semakin sesak.
Ia sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa kehilangan itu bukan sepenuhnya kesalahannya. Namun, jauh di dalam hatinya, rasa bersalah tersebut masih hidup, menunggu seseorang mengucapkan kalimat yang tepat untuk menghancurkan pertahanannya.
Dan Bu Farah baru saja melakukannya.
“Cukup...” bisik Jingga dengan suara bergetar.
“Kenapa? Tidak suka mendengarnya?” desak Bu Farah. “Kamu boleh menyalahkan Rangga sesukamu, tetapi jangan pernah berpura-pura menjadi korban. Kamu bahkan gagal menjalankan tanggung jawab paling mendasar sebagai seorang ibu!”
Air mata Jingga jatuh tanpa bisa ditahan. Ia mencoba mengatur napas, tetapi setiap tarikan justru terasa semakin menyakitkan.
“Berhenti!” serunya akhirnya.
Beberapa orang di ujung lorong menoleh. Jingga tidak peduli lagi.
“Tante tidak tahu apa yang saya lakukan malam itu! Tante tidak tahu bagaimana saya berusaha menyelamatkan anak saya...” Suara Jingga pecah. “Saya memohon kepada Tuhan. Saya melakukan semua yang saya bisa. Saya bahkan tidak sempat memikirkan diri sendiri karena yang saya inginkan hanya anak saya tetap hidup."
Bu Farah terdiam sesaat, tetapi bukannya melunak, ia malah menyilangkan tangan di depan dada. “Kalau begitu, mengapa dia tetap meninggal?”
Pertanyaan itu menjadi pukulan terakhir.
Jingga menutup mulutnya, menahan isak yang semakin sulit dibendung. Selama ini ia berusaha menjaga harga dirinya, berusaha tidak lagi membiarkan keluarga Cendana menginjak luka yang sama. Namun, di hadapan perempuan yang terus menyalahkannya atas kematian putranya, semua pertahanan itu runtuh.
“Karena malam itu, putramu tak ada di sisi kami!” Jingga akhirnya berteriak. “Ketika anakku mengalami kejang dan aku berjuang menyelamatkannya, putramu dan juga kalian semua justru merayakan ulang tahun Varel!”
Mata Bu Farah membelalak.
Jingga mengusap airmatanya. "Dan ternyata, meninggalkanku sendirian bukan satu-satunya pengkhianatan yang dilakukan putramu itu!”
“Apa maksudmu?” Bu Farah mengerutkan keningnya.
Jingga menatap ibu mertuanya dengan mata memerah. Ia tahu seharusnya persoalan itu disampaikan dengan hati-hati, mungkin melalui pengacara atau setelah sidang. Akan tetapi, tekanan yang terus ditimpakan kepadanya membuat ia tidak sanggup lagi melindungi kebohongan putra perempuan itu.
“Rangga berselingkuh dengan Dira.”
Lorong itu terasa semakin sunyi.
“Tidak mungkin,” jawab Bu Farah cepat, seolah menolak memberi ruang bagi kalimat tersebut untuk menjadi kenyataan. “Dira adalah istri almarhum Tara, dia nggak mungkin melakukan hal tak bermoral seperti itu. Dan Rangga tidak mungkin mengkhianati pernikahannya sendiri.”
“Kalau Tante tidak percaya, lihat sendiri.”
Jingga mengambil ponselnya. Jarinya masih gemetar ketika membuka rekaman yang sudah disimpannya sebagai bukti. Ia sempat ragu, bukan karena ingin melindungi Rangga, melainkan karena tahu video itu akan menghancurkan sesuatu yang selama ini begitu dijaga Bu Farah... kehormatan keluarga Cendana.
Namun, wanita paruh baya itu terus menatapnya penuh kecurigaan. Akhirnya, Jingga memutar video tersebut.
Di layar terlihat Rangga dan Dira berdiri berdekatan. Wajah mereka tampak jelas. Dira mengangkat wajah, Rangga mendekat, dan beberapa detik kemudian bibir mereka bertemu dalam ciuman yang sama sekali tidak terlihat seperti kesalahpahaman.
Bu Farah tidak bergerak.
Jingga menghentikan video, tetapi ponselnya masih berada di antara mereka.
“Ini bukan rekayasa, saya melihatnya sendiri.”
“Matikan,” ucap Bu Farah lirih.
Jingga menatapnya. “Tante...”
“Matikan video itu!”
Jingga segera menghentikannya. Ia belum pernah melihat Bu Farah kehilangan kata-kata seperti itu. Perempuan yang biasanya selalu punya pembelaan untuk Rangga kini berdiri kaku, memandangi layar ponsel seolah berharap gambar yang baru dilihatnya akan lenyap jika ia cukup lama menyangkalnya.
“Sejak kapan?” tanyanya akhirnya.
“Saya tidak tahu sejak kapan hubungan mereka dimulai. Saya hanya tahu mereka sudah melakukannya, dan Rangga bahkan mengancam saya agar tidak menceritakannya kepada siapa pun.”
Bu Farah menggeleng berkali-kali. “Tidak. Ini pasti karena kamu ingin membalas dendam. Kamu sengaja membuat video itu agar Rangga terlihat buruk di persidangan!”
“Kalau saya ingin membalas dendam, saya bisa menyebarkannya ke mana-mana. Tapi saya tidak melakukannya. Saya menyimpan bukti ini untuk melindungi diri saya sendiri.”
“Diam!”
“Kenapa? Tante bisa menyebut saya ibu yang gagal, bisa menyalahkan saya atas kematian anak saya, tetapi ketika saya menunjukkan apa yang dilakukan putramu itu... Tante justru menuduh saya berbohong?”
Bu Farah membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
“Selama ini saya terus disalahkan. Saya kehilangan anak, kehilangan rumah tangga, dan harus mengumpulkan keberanian untuk meninggalkan laki-laki yang menyakiti saya. Sekarang Tante datang ke tempat kerja saya hanya untuk mengingatkan bahwa saya tidak pantas menjadi seorang ibu.” Jingga menarik napas gemetar. “Apa Tante pernah berpikir bahwa saya juga seorang manusia yang sedang berusaha bertahan?”
“Jingga, aku—”
“Tidak, Tante. Kali ini Tante harus melihat semuanya dengan mata sendiri. Rangga bukan laki-laki yang selama ini Tante bela mati-matian.”
Wajah Bu Farah mendadak pucat. Ia mengangkat satu tangan ke dada, tepat di sisi kiri, lalu mengerutkan wajah seolah menahan rasa sakit yang datang tiba-tiba. Ponsel Jingga hampir terlepas ketika melihat tubuh perempuan itu mulai limbung.
“Tante?”
Bu Farah mencoba menjawab, tetapi bibirnya hanya bergerak tanpa suara. Napasnya menjadi pendek-pendek. Tangannya mencengkeram bagian depan bajunya, sementara keringat dingin muncul di pelipis.
Jingga segera menangkap lengannya sebelum tubuhnya jatuh ke lantai. “Tante dengar saya?”
Wanita itu tidak mampu menjawab. Wajahnya semakin pucat, dan tubuhnya melemah dalam pegangan Jingga.
“Tolong! Panggil dokter! Pasien mengalami nyeri dada!” teriak Jingga ke arah lorong.
Seorang perawat bergegas menghampiri, disusul petugas lain yang segera meminta bantuan tim medis. Jingga membantu membaringkan Bu Farah dengan hati-hati, sementara seorang staf menghubungi unit gawat darurat dan meminta tandu.
“Tante, tetaplah sadar. Bantuan sedang datang.”
Jingga berusaha menjaga suaranya tetap tenang, meskipun dadanya sendiri terasa sesak. Ia memeriksa respons Bu Farah dan mengikuti arahan petugas medis yang tiba, menyadari bahwa kondisi perempuan itu jauh lebih serius daripada sekadar pingsan.
Tak lama kemudian, tim medis membawa Bu Farah menuju ruang gawat darurat. Pemeriksaan awal mengarah pada dugaan serangan jantung, sehingga dokter segera mengambil alih penanganan dan melakukan pemeriksaan lanjutan.
Jingga berdiri di depan pintu ruang tindakan dengan kedua tangan gemetar. Beberapa waktu lalu, perempuan itu masih menghujaninya dengan tuduhan yang paling menyakitkan.
Kini, Jingga hanya bisa berharap nyawa Bu Farah tidak berada dalam bahaya. Ia tidak pernah menginginkan kejadian ini. Namun ketika pintu ruang tindakan tertutup, satu kenyataan tak bisa lagi dihindari. Rahasia yang selama ini disembunyikan Rangga telah sampai ke telinga ibunya, dan kebenaran itu mungkin akan mengubah segalanya.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu