NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 08

Part 08

Sekarang, Tina sedang makan siang di kantin kantor seperti biasa, namun Alfan justru berada di kursinya sedari tadi, memikirkan banyak cara agar Tina bisa menyukainya, meski pada akhirnya yang terjadi Alfan tidak pernah bisa bersikap baik, ia selalu berperilaku buruk pada asistennya itu.

"Mulai sekarang aku harus bersikap lebih baik ke Tina, ternyata dia sangat tidak menyukaiku." Alfan menghela nafas panjangnya, ternyata caranya selama ini terlalu menjengkelkan untuk Tina yang tidak tahu perasaannya.

"Tina pasti sedang makan siang sekarang, aku harus mengajaknya makan bersama." Alfan mendirikan tubuhnya, merasa yakin dengan apa yang akan dilakukannya meski rasanya itu terlalu aneh untuk kebiasaannya. Namun setidaknya ia harus berusaha, mendapatkan cinta Tina memang tidak mudah.

***

Tina menghela nafas panjangnya, saat dirinya mendapatkan picingan mata dari Viona dan Ria, teman sekantornya. Mereka seperti sedang menunggu penjelasan, ya Tina tahu maksud mereka tanpa harus dulu bertanya. Kedua temannya itu pasti merasa penasaran, kenapa ia bisa dekat dengan bos mereka, karena setahu mereka, ia tidak pernah menyukai sikap dan kepribadian bosnya, Alfan.

"Kalian kenapa sih?" tanya Tina berusaha bersikap seperti biasa dan bahkan terkesan tak ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

"Jangan pura-pura enggak ngerti ya, kita itu butuh penjelasan, kenapa kamu bisa jadi calon istrinya Pak Alfan? Bukannya kamu enggak suka ya sama dia?" Viona bertanya penasaran, sorot matanya bahkan hampir tidak berkedip saat menatap Tina yang tampak salah tingkah.

"Iya, kenapa kamu bisa jadi calon istri bos kita yang laknat itu? Kamu jadi asistennya aja enggak kuat, kok mau-maunya kamu jadi istrinya?" Kini Ria yang bertanya, membuat Tina merasa resah harus menjawab apa.

"Sebenarnya Pak Alfan enggak seburuk itu kok," jawab Tina sembari menggeleng pelan, bibirnya tersenyum ke arah mereka yang tampak tak percaya.

"Enggak seburuk itu? Kamu mengeluh tentang Pak Alfan itu hampir setiap hari, mana mungkin kamu bisa jadi calon istri dia, kita aja sampai enggak curiga kamu dekat dengan Pak Alfan." Viona menjawab tak percaya, sedangkan Tina hanya tersenyum mendengarnya, ia sendiri juga tidak percaya bila hidupnya akan berurusan dengan bosnya sampai sejauh sekarang.

"Iya, Na. Mana mungkin? Rasanya mustahil, orang kantor aja banyak yang enggak percaya kamu bisa suka sama Pak Alfan apalagi kalian sampai mau menikah. Pak Alfan kan ...." Ria menghentikan ucapannya setelah mendengar suara lelaki yang berdiri di belakangnya.

"Kenapa dengan saya?" tanya Alfan dingin, matanya menyorot tajam ke arah tiga wanita yang terkejut melihat keberadaannya.

"Pak Alfan?" gumam mereka bersamaan dengan ekspresi ketakutan.

"Berani-beraninya kalian membicarakan saya di belakang? Kalian mau saya pecat ya?" Alfan menatap tak suka ke arah dua wanita yang sedari tadi membicarakannya dengan buruk di depan Tina.

"Jangan, Pak. Saya minta maaf." Ria menjawab takut, yang langsung diikuti Viona.

"Saya juga minta maaf, Pak," sahut Viona tertunduk, merasa waswas dengan apa yang akan Alfan lakukan atas kelancangannya.

"Saya enggak mau tahu, pokoknya kalian harus mendapatkan hukuman. Supaya ke depannya kalian bisa menjaga omongan kalian sendiri, apalagi masalah tentang saya." Alfan menunjuk ke arah Ria dan Viona, mereka tampak takut dan merasa bersalah, membuat Tina tidak bisa tinggal diam, terlebih lagi membiarkan semua itu terjadi begitu saja.

"Pak, tolong jangan hukum mereka. Saya yang salah dalam masalah ini, mereka tidak tahu apa-apa." Tina mendirikan tubuhnya, berharap bosnya itu bisa mengerti dan memaafkan teman-temannya.

"Tidak mengerti bagaimana? Jelas-jelas mereka menjelek-jelekkan saya." Alfan menunjuk ke arah Ria dan Viona kembali, yang kali ini langsung ditahan oleh Tina dengan tangannya.

"Mereka tidak berniat seperti itu, Pak. Tolong jangan emosi dulu, ini cuma salah paham." Tina menatap penuh harap ke arah Alfan yang sempat tertegun dengan matanya.

"Oke, tapi cuma untuk kali ini saja ya, kalau sampai lain kali saya dengar mereka menggunjing saya lagi, mereka saya pecat." Alfan menjawab tegas, berusaha terlihat tenang meski jantungnya berdebar tak karuan.

"Terima kasih, Pak." Tina menyunggingkan senyumnya, yang hanya Alfan angguki dengan ekspresi tenangnya. Sedangkan Ria dan Viona menghela nafas panjangnya, merasa lega bisa keluar dari ancaman bosnya.

"Iya. Tapi, kamu harus ikut saya sekarang!" Alfan menarik tangan Tina, namun langsung ditahan oleh empunya.

"Ke mana, Pak?"

"Ikut saja, jangan banyak tanya!"

"Tapi saya sudah pesan makan siang, Pak. Saya juga belum makan, pesanannya belum datang." Tina tampak memelas, namun Alfan justru menghela nafas lalu mengambil uang di dompet dan meletakkannya pada meja.

"Ini uang buat bayar pesanan kamu. Sekarang kamu ikut saya makan siang di sana, jangan makan di sini." Alfan menunjuk ke arah depan kantor, yang memang di sana banyak restoran mahal berjajaran.

"Tidak usah, Pak. Saya makan di sini saja." Tina masih kekeh dengan keinginannya, namun Alfan justru menatap tajam seolah perintahnya tidak bisa ditolak terlebih lagi ditawar.

"Ini bukan masalah kamu mau makan di mana, tapi masalahnya kamu itu harus menemani saya makan. Ayo cepat ikut saya!" Alfan menarik tangan Tina yang tampak tak rela meski pada akhirnya pasrah bisa dilihat dari caranya menatap melas ke arah Ria dan Viona. Sedangkan mereka hanya mengangguk, berusaha menyemangati Tina dengan kepalan tangan. Membuat Tina cemberut melihat teman-temannya makan dengan enak dan tenang sedangkan dirinya harus menemani makan lelaki aneh seperti bosnya.

"Untung ada Tina yang bela kita," ujar Viona sembari menghela nafas leganya, yang diangguki setuju oleh Ria.

"Iya, untung ada Tina. Tapi tadi Pak Alfan lucu juga ya? Dia kaya sok jaim gitu." Ria terkekeh kecil, merasa tidak pernah melihat bosnya bersikap selucu itu.

"Iya, tadi aku juga sempat merasa aneh dengan Pak Alfan yang langsung nurut sama Tina. Apa mereka benar-benar akan menikah ya?" tanya Viona penasaran meski bibirnya tersenyum bila memang benar itu yang terjadi. Sahabatnya itu pasti sangat beruntung, bisa menjadi istri dari lelaki kaya dan tampan seperti Pak Alfan.

"Mungkin, tapi aku harap sih begitu. Kali aja Tina bisa bahagia sama Pak Alfan, secara kan dia masih belum move on dari Satria." Ria menjawab tulus, yang diangguki setuju oleh Viona.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!