NovelToon NovelToon
Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: rini sya

Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.

Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.

Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.

Hati Jihan hancur.

Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.

Jihan hanya terdiam.

Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.

Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemukan Barang Berharga

Hansen meletakkan semua barang yang ditemukannya di atas meja makan. Ada beberapa buku bersampul gambar panda, dua celengan kaleng, sebuah map plastik, dan sejumlah dokumen yang masih tersusun rapi.

Ia duduk, lalu mengambil salah satu buku bersampul panda.

Ketika membukanya, Hansen menemukan catatan keuangan milik Jihan. Ada tanggal, jumlah uang, serta keterangan mengenai keperluan yang ingin dipenuhi perempuan itu.

Hansen membalik halaman demi halaman.

Ada catatan tabungan untuk kebutuhan pribadi, dana darurat, kebutuhan Raka, hingga sejumlah uang yang sengaja disisihkan untuk bersedekah.

"Rajin sekali kamu mencatat semuanya," gumam Hansen.

Ia kemudian mengambil celengan kaleng bergambar panda. Setelah menemukan bagian bawahnya yang bisa dibuka, Hansen mengeluarkan sejumlah uang dari dalamnya.

Ada banyak uang pecahan kecil dan beberapa lembar uang besar.

Hansen menggeleng pelan.

"Ini pasti hasil tabunganmu selama bertahun-tahun."

Ia meletakkan uang tersebut kembali, kemudian mengambil celengan satunya yang bertuliskan Sedekah Subuh.

Hansen semakin penasaran.

Selama ini, ia tidak pernah mengetahui kebiasaan Jihan menabung maupun menyisihkan uang untuk bersedekah. Ia juga tidak pernah bertanya bagaimana perempuan itu mengatur keuangannya.

Bukan karena Hansen melarang Jihan menggunakan uang. Hanya saja, selama sepuluh tahun pernikahan mereka, ia memang tidak pernah benar-benar memikirkan hal-hal pribadi yang menyangkut istrinya.

Hansen hanya memberikan uang bulanan.

Setiap bulan, sejumlah uang ditransfer ke rekening Jihan. Setelah itu, ia tidak pernah memikirkan apakah uang tersebut cukup, bagaimana Jihan menggunakannya, apa yang ingin dibelinya, atau apakah ada kebutuhan pribadi yang belum terpenuhi.

Baginya, memberikan uang bulanan sudah cukup untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.

Namun, hari ini ia justru menemukan banyak hal yang selama ini tidak pernah diketahuinya.

Hansen mengambil map plastik berwarna merah muda yang tadi terselip di antara buku-buku.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen dan sebuah buku tabungan.

Ia mengeluarkannya dengan santai, kemudian membuka halaman pertama.

"Ini juga tabungan?"

Hansen memperhatikan beberapa transaksi yang tercatat di sana. Awalnya ia tidak terlalu tertarik. Namun, ketika melihat saldo terakhir, tangannya mendadak berhenti.

Ia mengerutkan kening.

"Sebentar..."

Hansen mendekatkan buku tersebut ke wajahnya.

Matanya membesar ketika membaca nominal yang tertera.

Hampir satu miliar rupiah!

"Astaga!"

Ia spontan berdiri.

Hansen kembali duduk, memastikan bahwa dirinya tidak salah membaca angka. Ia bahkan menghitung jumlah nol yang tertera di belakang nominal tersebut.

Benar.

Jumlahnya hampir satu miliar rupiah.

"Bagaimana bisa sebanyak ini?"

Ia mulai memeriksa riwayat transaksi. Ada beberapa setoran yang dilakukan secara berkala. Setelah memperhatikan tanggal dan catatan transaksi, Hansen mulai menyadari bahwa uang tersebut merupakan akumulasi dari pemberian bulanannya selama sepuluh tahun menjadi suami Jihan.

Hansen terdiam.

Selama ini, ia hanya memberikan uang bulanan kepada perempuan itu. Ia tidak pernah bertanya bagaimana Jihan menggunakannya. Ia juga tidak pernah merasa perlu mengetahui apakah istrinya memiliki keinginan pribadi yang ingin diwujudkan.

Namun, ternyata Jihan justru menyimpan sebagian besar uang tersebut.

"Jadi, selama ini kamu menabung uang pemberianku?"

Hansen menggeleng tidak percaya.

Ia kembali memeriksa buku tabungan itu, berharap menemukan penjelasan lain.

Namun, catatan transaksi tersebut semakin menguatkan dugaannya.

Hampir sepuluh tahun.

Selama itu pula Jihan menerima uang bulanan darinya, tetapi tidak menghabiskannya untuk kepentingan pribadi secara berlebihan.

Hansen mengembuskan napas panjang.

"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau punya tabungan sebanyak ini?"

Tentu saja, pertanyaan itu sebenarnya tidak adil.

Sebab, selama ini Hansen juga tidak pernah bertanya.

Ia tidak pernah menanyakan apakah Jihan ingin membeli pakaian baru, mengganti tas, membeli perhiasan, atau sekadar menikmati liburan. Ia bahkan tidak tahu apa saja barang kesukaan istrinya selain beberapa benda bergambar panda yang sering dilihatnya.

Hansen selama ini hanya menjalani pernikahan mereka sebatas status.

Jihan tinggal di rumah itu, tetapi mereka tidak pernah berbagi kamar. Hansen tidak menginginkan kehadiran perempuan itu di kamarnya. Ia hanya datang ke kamar Jihan ketika ingin melampiaskan hasratnya, kemudian kembali pergi tanpa memikirkan perasaan perempuan tersebut.

Tidak ada perhatian kecil. Tidak ada percakapan hangat. Bahkan, untuk urusan kebutuhan pribadi Jihan, Hansen hampir tidak pernah peduli.

Kini, ketika melihat buku tabungan tersebut, Hansen justru merasa semakin bersalah.

"Selama sepuluh tahun, apa saja yang sebenarnya sudah kamu lakukan sendirian, Jihan?"

Ia kembali duduk dan membuka buku catatan kecil bersampul panda.

Catatan tersebut berisi tentang untuk apa saja yang itu digunakan, tapi anehnya Hansen tak menemukan satu pun uang itu dibelanjakan untuk kebutuhan pribadi Jihan. Hampir semua uny kebutuhan rumah tangga mereka.

Di setiap lembar, pasti ada kata-kata yang di selipkan oleh Jihan. Entah itu kata-kata mutiara, yang jelas kata-kata itu mengandung doa dan A harapan wanita itu.

Hansen membaca tulisan itu berulang kali.

Ia tidak tahu kapan Jihan menuliskannya. Namun, kalimat sederhana tersebut membuat dadanya terasa berat.

Selama ini, ia mengira sudah memberikan kehidupan yang cukup kepada istrinya hanya dengan mentransfer uang setiap bulan.

Padahal, kebutuhan seseorang bukan hanya tentang uang.

Ada perhatian, kepedulian, dan perasaan ingin dihargai.

Hal-hal yang justru tidak pernah Hansen berikan kepada Jihan.

"Jadi, kamu mengumpulkan uang ini untuk masa depanmu?"

Hansen menatap buku tabungan itu cukup lama.

Ia kemudian teringat keputusan Jihan meninggalkan rumah. Perempuan itu pergi tanpa membawa banyak barang. Bahkan, tabungan hampir satu miliar rupiah yang merupakan hasil pemberian bulanannya pun tertinggal di sana.

Hansen tidak tahu apakah Jihan sengaja meninggalkannya atau memang lupa.

Namun, ia tidak berniat menyentuh satu rupiah pun.

Uang itu milik Jihan.

"Juan!"

Hansen segera mengambil ponselnya dan menghubungi sang asisten.

"Ya, Pak?"

"Besok tolong siapkan tempat penyimpanan yang aman. Aku menemukan beberapa barang dan dokumen penting milik Jihan."

"Baik, Pak. Apakah ada yang perlu saya urus?"

"Ada buku tabungan. Saldo di dalamnya hampir satu miliar. Aku ingin semuanya disimpan dengan aman. Jangan sampai ada yang hilang."

Juan terdiam sesaat.

"Hampir satu miliar, Pak?"

"Iya."

"Baik, Pak. Saya akan mengurusnya."

"Dan jangan pernah menggunakan atau memindahkan uang itu. Semuanya milik Jihan. Kalau suatu hari dia pulang, aku ingin menyerahkannya sendiri."

"Baik, Pak."

Setelah mengakhiri panggilan, Hansen kembali memandang benda-benda di atas meja.

Ia mengambil cangkir keramik bergambar panda milik Jihan yang tadi dibawanya dari dapur.

Jari-jarinya mengusap gambar panda tersebut.

"Kamu suka sekali panda, ya?"

Hansen tersenyum tipis.

Ia sebenarnya tahu Jihan menyukai binatang itu. Namun, selama sepuluh tahun, ia tidak pernah terpikir untuk membelikan sesuatu bergambar panda sebagai hadiah. Ia bahkan tidak tahu dari mana perempuan itu mendapatkan cangkir tersebut.

Hansen meletakkan cangkir itu kembali.

Kemudian, pandangannya tertuju pada buku tabungan yang masih terbuka.

"Jihan, ternyata selama ini aku bahkan nggak mengenal istriku sendiri."

Suaranya terdengar lirih.

"Aku cuma memberikan uang setiap bulan, lalu merasa sudah menjalankan kewajibanku. Aku nggak pernah bertanya apa yang kamu butuhkan. Aku nggak pernah bertanya apa yang kamu inginkan."

Hansen menundukkan kepala.

"Maafkan aku."

Air matanya mulai menggenang.

Kini ia mengerti, selama sepuluh tahun Jihan bukan hanya hidup tanpa perhatian seorang suami. Perempuan itu juga harus mengurus segala kebutuhan dan keinginannya sendiri tanpa pernah merasa perlu melibatkan Hansen.

Bahkan, ketika masih tinggal di rumah itu, Jihan sudah terbiasa mengandalkan dirinya sendiri.

Hansen menggenggam buku tabungan tersebut.

"Kalau nanti kamu pulang, aku ingin tahu banyak hal tentangmu. Aku ingin tahu apa makanan kesukaanmu, pakaian seperti apa yang kamu suka, apa yang ingin kamu beli, dan ke mana kamu ingin pergi."

Ia menarik napas panjang.

"Aku tahu aku terlambat. Tapi kali ini aku ingin belajar menjadi suami yang benar-benar memperhatikan istrinya."

Hansen memandang kursi kosong di seberang meja makan.

Dahulu, ia tidak pernah peduli apakah Jihan duduk sendirian di sana atau tidak. Sekarang, justru kursi kosong itulah yang membuatnya merasa begitu kehilangan.

"Jangan terlalu lama menghindar dariku, Jihan."

Namun, Hansen tahu, ia tidak berhak meminta Jihan kembali begitu saja.

Sebab, selama sepuluh tahun perempuan itu sudah terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak pernah ia berikan.

Dan sekarang, Hansen harus belajar menerima kenyataan bahwa untuk mendapatkan kembali kepercayaan Jihan, mungkin dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada sepuluh tahun yang telah mereka lalui.

1
sunaryati jarum
Betapa menderitanya Jihan berumah tangga sepuluh tahun kokk kamarnya sendiri,sungguh Hanzen suami tidak punya perasaan,untung tidak selingkuh,jika itu terjadi betapa hancurnya hatinya.
Setyowati Setyowati
🙏🙏🙏 rajin up ..makin rajin krm hadiah tonton iklannya 🥰🥰🥰
Setyowati Setyowati
nahhh menyesalkannnn ..makanya punya istri di sayangi di hargai seperti kamu menghargai dirimu sendiri...sekarang baru tau rasa kamu Hansen setelah Jihan pergi ..dan inilah awal perjuangan mu
Setyowati Setyowati
pengharum ruangan dong thor masak penghargaan ruangan
Rini Sya: oke oke😍
total 3 replies
Halimah
Dasar laki" munafik
Halimah
Betul Ji.... Mending km resign n pergi sejauh mungkin biar km ga bs ketemu lg sm Hansen
Rini Sya
bantu beri ulasan ya kakak2😍
Ai nurjanah
ayo up lagi dong thor🙏
sunaryati jarum
Masyaallah Jihan,kau punya tabungan begitu banyak tidak dibawa,kan bisa bila rumah sederhana dan buka apotek.
sunaryati jarum
Kehidupan Jihan semakin baik ,mungkin itu uang sisa nafkah darimu, setelah pergi baru divari
sunaryati jarum
Semoga kesempatan itu memiliki Apotek
sunaryati jarum
Harus semangat dan happy selalu agar dua baby sehat pertumbuhan dan perkembangannya normal.Kamu.juga rezeki lancar hingga sebelum baby lahir kamu sudah punya apotek yang kau impikan jadi bisa merawat dua baby sambil menjaga apotek.
sunaryati jarum
Jika kalian.brrjodoh mudah- mudahan bertemu dan Jihan memberi maaf serta memberi kesempatan
Setyowati Setyowati
bukan lupa Hansen..tp mungkin itu uang belanja dari kamu , makanya Jihan GK mau bawa
Setyowati Setyowati
semangat Jihan ..kamu wanita kuat, dan berjuang untuk si kembar
Setyowati Setyowati: siap...hadiahnya rajin up yaa🤭🤭
total 2 replies
Setyowati Setyowati
seperti biasa ...masih merasa kurang 🥰🥰
Rini Sya
Terima kasih buat teman-teman semua atas dukungannya. Sekali lagi jangan lupa like komen dan beri ulasan ya gaes.... makasih banyak😍😍😍
Halimah
Kenapa Hansen ga jujur sekalian kalo penyebab Jihan pincang karena dia yg udah menabraknya
Halimah
Ini anak kecil kok mulutnya udah pedes bgt gitu ya
sunaryati jarum
Selamat Jihan, semoga kamu dan bayimu sehat.Kamu tetap bisa beraktifitas tidak terganggu dengan kehamilan itu.Dan Hanzen tahu dia mengalihkan kehamilan simpatik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!