NovelToon NovelToon
The Legend Of Hu Jin

The Legend Of Hu Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Wuxia / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.

​Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!

​Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Intrik Petinggi dan Tawa di Gang Sempit

​Tiga hari berlalu cepat di Kota Besar Teratai Hitam.

​Matahari pagi menyiramkan cahaya keemasan di atas Aula Pertemuan Agung yang berdiri megah di pusat kota. Hari ini adalah konsolidasi resmi dan penyambutan bagi seluruh petinggi sekte besar, sekte cabang, serta perwakilan murid jenius yang akan bertanding di Ujian Tiga Sekte.

​Di dalam aula raksasa berlantai pualam tersebut, atmosfer terasa amat tegang dan sarat tekanan energi. Ratusan tetua klan dan pimpinan sekte cabang duduk melingkar di podium bawah, sementara tiga tribun utama di bagian atas ditempati oleh jajaran pimpinan Tiga Sekte Besar Benua Timur.

​Gesekan politik dan aksi saling menjatuhkan tak terelakkan. Kata-kata sindiran pedas dan keangkuhan terlontar di udara, diiringi benturan Qi tak terlihat yang membuat para murid perwakilan berkeringat dingin.

​Di tribun kanan, rombongan Sekte Pedang Langit duduk dengan postur tegap dan gaya sangat arogan. Di samping tetua mereka, berdiri pemuda jenius pemegang Tubuh Pedang Sembilan Nirwana yang memancarkan aura Inti Jiwa Tahap Awal. Tatapan matanya tajam dan meremehkan.

​Di tribun kiri, Sekte Awan berdiri anggun. Di garda depan murid mereka, Su Qing'er tampak seperti bidadari dalam balutan jubah putih-keemasan. Di balik keanggunannya, aura Inti Jiwa Tahap Awal miliknya bergetar halus, membuat banyak tetua sekte cabang berbisik takjub.

​Sementara di tribun tengah, rombongan Sekte Teratai hadir dengan ketegangan yang menyelimuti raut wajah para tetuanya. Sekte Teratai hanya membawa beberapa murid inti terbaik. Meskipun yang terkuat di internal sekte, tingkat kultivasi mereka yang baru mencapai Pembentukan Qi Puncak berada tepat satu tingkat di bawah dua jenius utama dari Sekte Pedang Langit dan Sekte Awan.

​Namun, perhatian sebagian besar tetua di dalam aula tidak tertuju pada para murid tersebut, melainkan pada sosok wanita anggun yang berdiri di barisan depan Sekte Teratai—Qian Renxue.

​Qian Renxue berdiri dingin bagai patung es abadi. Jubah putih bersulam teratai perak yang dikenakannya mengembang pelan. Dari tubuh cantiknya, memancar gelombang aura Ranah Inti Jiwa Tahap Menengah (Mid-Stage Soul Core) yang begitu padat dan murni!

​Di dunia kultivasi Benua Timur, menerobos Ranah Inti Jiwa adalah batas yang teramat sulit. Banyak tetua agung yang telah bertahun-tahun stagnan dan tertahan di Ranah Inti Jiwa Tahap Akhir tanpa mampu melangkah ke Ranah Nascent Soul. Keberadaan Qian Renxue yang telah mencapai Inti Jiwa Menengah di usia yang terbilang muda membuat banyak tetua senior memandangnya dengan kombinasi rasa kagum sekaligus kewaspadaan tinggi.

​"Hmph! Sekte Teratai rupanya masih berani membusungkan dada hanya karena memiliki seorang Tetua Puncak Es!" cemooh Tetua Agung Sekte Pedang Langit, suaranya menggelegar menekan aula. "Namun di panggung generasi muda nanti, tanpa adanya murid jenius tingkat mitologi, Sekte Teratai hanya akan menjadi pecundang! Qian Renxue, aliansi pernikahan faksimu dengan klan kami adalah satu-satunya jalan agar sektemu tidak runtuh!"

​Tetua Sekte Awan pun ikut menyindir dari sisinya, tak mau kalah mengikis pengaruh Sekte Teratai. "Benar sekali. Keseimbangan Tiga Sekte telah bergeser. Sekte Teratai harus sadar diri!"

​Suasana di dalam aula mendadak panas membara! Tekanan Qi dari belasan tetua Ranah Inti Jiwa meluas, menggetarkan pilar-pilar batu aula hingga meretakkan lantai pualam. Para murid perwakilan mulai terbatuk-batuk, tak sanggup menahan gesekan aura para pakar.

​BUMMM

​Sebuah dentang lonceng perunggu raksasa bergema keras menghantam udara, meredakan benturan energi secara paksa!

​Dari arah podium tertinggi, melangkah maju Pemimpin Kota Teratai Hitam bersama jajaran pengawal utamanya. Pria paruh baya berzirah ungu itu memancarkan tekanan aura Inti Jiwa Puncak (Peak Soul Core) yang sangat kuat, menyapu bersih gesekan energi dari ketiga sekte.

​"Harap para Tetua sekalian menahan diri!" tegur Pemimpin Kota dengan suara berat dan berwibawa. "Aula ini adalah tempat persaudaraan, bukan gelanggang pertumpahan darah sebelum ujian dimulai!"

​Setelah suasana mereda dan para tetua kembali duduk di tempat masing-masing, Pemimpin Kota berdeham pelan, melanjutkan khotbah pembukaannya.

​"Ada satu hal lagi yang perlu disampaikan," lanjut Pemimpin Kota, matanya menyapu seluruh aula. "Pihak Kerajaan Timur telah memberikan konfirmasi resmi bahwa jajaran istana dan utusan kerajaan tidak dapat hadir dalam perhelatan akbar tahun ini. Namun, sebagai bentuk kompensasi atas ketidakhadiran mereka, Kerajaan Timur telah mengirimkan hadiah berupa puluhan ribu batu roh tingkat menengah dan ribuan keping emas untuk mendukung kelancaran acara!"

​Mendengar hal itu, para tetua sekte dan pimpinan klan hanya mendengus pelan atau tersenyum sinis. Meskipun seluruh faksi di Benua Timur tahu betul bahwa Kerajaan Timur saat ini dikuasai oleh orang-orang tamak dan pejabat korup di bawah naungan Zhao Feng, mereka sama sekali tidak peduli. Bagi ketiga sekte besar, selama hadiah kompensasi yang diberikan cukup setimpal dan tidak mengganggu jalannya Ujian Tiga Sekte, urusan internal Kerajaan Timur bukanlah hal yang perlu mereka pusingkan.

​Di saat para petinggi sekte sibuk berdebat soal gengsi dan politik kekuasaan di dalam Aula Pertemuan yang mewah, pemandangan yang sama sekali berbeda terjadi di sebuah gang sempit di sudut utara Kota Teratai Hitam.

​Matahari siang memancar hangat. Di atas tanah berdebu di balik dinding kedai tua, Hu Jin sedang duduk bersila tanpa alas. Topi jeraminya tergeletak di sampingnya, dan jubah abu-abu sederhananya agak kotor oleh debu jalanan.

​Di sekelilingnya, duduk empat orang gelandangan tua berpakaian lusuh dengan wajah penuh kerutan. Di tengah-tengah mereka, terhampar beberapa lembar daun pisang yang dialasi belasan mangkuk nasi hangat dan daging panggang murah yang dibeli Hu Jin dari pasar bawah.

​"Gumpalan daging ini sungguh nikmat, Pendekar Muda!" celoteh seorang gelandangan tua yang kehilangan satu giginya, tertawa renyah sambil mengunyah daging.

​"Hahaha! Makanlah yang banyak, Paman. Hari ini aku yang bayar," balas Hu Jin dengan suara sangat hangat dan lepas. Tawa riangnya bergema di dalam gang sempit itu, tanpa ada sedikit pun rasa canggung atau jarak di antara mereka.

​Di dekat mereka, lima anak kecil jalanan berpakaian compang-camping sedang berlari-lari gembira. Hu Jin menggerakkan dua jarinya secara halus, memunculkan burung-burung es kecil yang terbang melayang tipis di udara. Anak-anak kecil itu berteriak riang, mengejar burung es yang melipat dan menghilang menjadi kristal-kristal berkilau di udara siang.

​Beberapa hari menjelang dimulainya babak pertama di Arena Utama, saat seluruh peserta ujian sibuk mengurung diri melatih jurus mematikan dan para tetua sibuk menyusun intrik politik, Hu Jin justru lebih memilih menyibukkan dirinya dengan berbaur di antara rakyat bawah, para gelandangan, dan anak-anak terbuang.

​Bagi Hu Jin, berada di antara orang-orang kecil ini memberikan ketenangan jiwa yang luar biasa. Di sini, tidak ada kepalsuan, tidak ada keserakahan kekuasaan, dan tidak ada keangkuhan gelar. Tawa tulus dari para gelandangan dan kepolosan anak-anak jalanan adalah obat terbaik yang menjaga keaslian jiwanya di tengah kejamnya dunia persilatan.

​Hu Jin menyesap teh murah dari cangkir tanah liatnya, menatap ke arah pusat kota—ke arah tempat di mana gurunya, Qian Renxue, dan para tetua sekte berada.

​Tatapan mata hitamnya yang jernih memancarkan kilatan emas yang sangat dalam di balik ketenangannya.

​Tiga hari lagi... batin Hu Jin, mengusap kepala seorang anak jalanan yang duduk di sampingnya sambil tersenyum tipis. Kalian boleh bersilat lidah dan memamerkan keangkuhan hari ini. Tapi di atas panggung arena nanti... pangeran ini yang akan menentukan siapa yang pantas berdiri di puncak Benua Timur.

1
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!