Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Faris
"Ayo,Del ikut saya sebentar. Ada tempat tenang yang ingin saya tunjukkan," ujar Faris lembut seraya membukakan pintu mobilnya di tepi kawasan taman kota yang dipenuhi lampu-lampu gantung temaram dan Kunang Kunang yang indah.
Adelia menoleh ragu sejenak, namun sorot mata hangat pria di hadapannya meluluhkan keraguan itu. Ia mengangguk pelan dan melangkah turun.
Malam itu, Faris membawa Adelia ke taman bunga mawar putih di sudut kota yang sepi dari hiruk-pikuk kendaraan. Di bawah pendar cahaya lampu taman yang lembut, Faris menghentikan langkahnya di dekat bangku kayu panjang, lalu menoleh menatap wanita di sampingnya dengan napas tertahan.
"Adelia," panggil Faris dengan suara berat yang terdengar begitu tulus dan rapuh.
Adelia menoleh, mendapati manik mata pria itu menyiratkan kejujuran mutlak yang membuat dadanya berdegup kencang. "Iya, Pak Faris... ada apa?"
"Jangan panggil saya Pak Faris lagi, setidaknya untuk malam ini," ucap Faris pelan, tersenyum tipis. Pria itu menarik napas panjang sebelum mengungkapkan perasaannya secara jujur.
"Sejak pertama kali saya melihatmu berdiri tegak di tengah kehancuran hidupmu, ada sesuatu di dalam diri saya yang terpanggil. Saya jatuh hati pada ketegaranmu, pada caramu melindungi anak-anakmu, dan pada caramu bangkit tanpa mengeluh."
Adelia terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak tercekat. Ia tidak menyangka pria mapan dan berwibawa seperti Faris menyimpan perasaan sedalam itu kepadanya.
"Tapi... saya hanya seorang wanita janda dengan dua anak yang membawa banyak luka masa lalu,Pak," bisik Adelia lirih, menundukkan pandangannya karena merasa tidak pantas.
Faris menggeleng tegas. Pria itu maju satu langkah, meraih jemari Adelia yang dingin dengan kehangatan telapak tangannya. Faris menyatakan tidak peduli dengan status janda Adelia dan ingin menjaganya selamanya.
"Saya tidak peduli dengan statusmu atau masa lalumu, Adelia," kata Faris sungguh-sungguh, manik matanya menatap lurus penuh keyakinan. "Bagi saya, kamu adalah perempuan paling berharga yang pernah saya temui. Saya ingin ada di sampingmu, membersamai langkahmu, dan menjaga kamu serta anak-anakmu selamanya."
Mendengar janji tulus itu, pertahanan diri Adelia yang selama bertahun-tahun dibangun dari rasa sakit seketika runtuh.
Air mata hangat menetes perlahan di pipinya, bukan karena sedih, melainkan karena ia akhirnya menemukan seseorang yang menghargai keberadaannya secara utuh.
Namun, bayangan luka pengkhianatan masa lalu dari Arkananta masih menyisakan ketakutan mendalam di relung hatinya. Adelia menarik napas gemetar, perlahan menarik tangannya dari genggaman Rayhan.
"Faris.. terima kasih banyak atas semua ketulusan dan perasaan yang kamu berikan," ucap Adelia dengan suara bergetar halus menahan sesak di dadanya.
"Tapi... biarkan aku meminta waktu. Trauma masa lalu itu masih menyisa di relung hatiku. Aku takut salah melangkah lagi, aku takut jatuh di lubang yang sama."
Faris tidak marah atau mendesak. Pria itu justru tersenyum penuh pemahaman, sebuah senyuman sabar yang menenangkan jiwa Adelia yang sedang gelisah.
"Aku mengerti, Adelia," jawab Faris lembut, mengangkat tangannya untuk menghapus sisa air mata di pipi wanita itu dengan sangat hati-hati.
"Aku nggak akan menuntut jawaban sekarang. Aku berjanji akan menunggu sampai hati mu benar-benar siap dan terbuka untukku."
Adelia mendongak, menatap pria di hadapannya dengan rasa syukur yang teramat sangat. Di tengah badai hidup yang melelahkan, kehadiran Faris adalah dermaga tenang yang ia butuhkan.
Sejak malam itu, hubungan mereka makin dekat dan dipenuhi rasa saling menghormati satu sama lain.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel