NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

****

Dua bulan berlalu tanpa banyak perubahan berarti di balik dinding penthouse mewah milik Ivandra. Kehidupan pernikahan rahasia mereka berjalan bak dua garis sejajar yang enggan bersinggungan—dingin, kaku, dan penuh jarak. Di rumah sakit, Aini telah berpindah ke stase terbarunya di Departemen Kesehatan Anak, sementara Ivandra tetap memimpin Bedah Saraf dengan kedisiplinan tanpa kompromi.

Malam itu, di kediaman utama keluarga Wigunadi, suasana makan malam berlangsung teramat hangat. Pendar piring porselen dan aroma hidangan mewah memenuhi ruang makan besar tersebut.

Aini duduk anggun berbalut terusan dusty violet dengan hijab segiempat bermotif lembut. Di sampingnya, Ivandra duduk tegak dalam balutan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan dokter muda yang serasi, padahal jemari Aini di bawah meja meremas gaunnya erat-erat untuk menutupi rasa canggung.

"Aini sayang, gimana stase baru kamu di Poli Anak?" tanya Nyonya Rosalia hangat, menyodorkan piring berisi potongan daging panggang ke dekat Aini. "Capek banget pasti ya, Nak? Anak-anak kecil kan biasanya lebih rewel."

Aini menyunggingkan senyum tulusnya yang manis, menunduk santun. "Alhamdulillah lancar, Mama. Anak-anak memang kadang menangis kalau mau diperiksa, tapi justru itu gemasnya. Beda banget sama stase Bedah Saraf kemarin yang tegang terus."

Nyonya Rosalia terkekeh pelan, melirik putranya yang sedang mengunyah makanan dengan wajah datar. "Ya jelas beda! Di Bedah Saraf kan pembimbingnya si Ivan ini. Ivan itu dari kecil memang kaku banget, Aini. Kamu tahu nggak, waktu dia umur tujuh tahun, Mama pernah beliin dia boneka beruang besar, eh malah dia simpan di bawah kasur gara-gara katanya matanya ngeliatin dia terus!"

Aini refleks menoleh pelan ke arah Ivandra, matanya sedikit membelalak tak percaya. Dokter Iblis yang paling ditakuti satu rumah sakit pernah takut pada mata boneka beruang?

"Mama, tolong. Cerita tidak bermutu itu tidak perlu dibahas di meja makan," sela Ivandra dengan suara berbariton beratnya yang amat dingin, memotong ucapan sang ibu tanpa ekspresi.

"Lho, Mama kan cuma cerita! Biar istri kamu ini tahu kalau suaminya yang sok keren ini dulu juga pernah lucu," sahut Nyonya Rosalia tak mau kalah, memegang tangan Aini penuh kasih sayang. "Aini itu menantu idaman Mama sama Papa. Santun, pinter, sabar menghadapi manusia es kayak kamu. Kamu harus bersyukur dapat Aini, Ivan!"

Tuan Arya Wigunadi yang duduk di ujung meja terkekeh pelan menyetujui ucapan istrinya, lalu meletakkan sendoknya. Suasana hangat itu mendadak mengendap ketika Tuan Wigunadi mengubah intonasi suaranya menjadi lebih serius.

"Bicara soal masa depan..." Tuan Wigunadi menatap Ivandra dan Aini bergantian. "Kalian kan sudah dua bulan menikah. Pekerjaan kalian memang padat, tapi Papa dan Mama sudah makin sepuh. Kapan kalian merencanakan momongan untuk meramaikan rumah ini?"

Deg.

Udara di ruang makan itu serasa membeku seketika.

Aini yang baru saja hendak menyendok nasinya mendadak menghentikan gerakannya. Wajah ayunya berubah pucat pasi. Dada Aini bergemuruh hebat diliputi tekanan luar biasa. Bagaimana bisa memikirkan momongan, sedangkan tidur satu kamar saja mereka tidak pernah? Aini hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah, meremas jemarinya yang mendadak dingin di atas pangkuan.

Ivandra meletakkan garpunya dengan bunyi klang halus, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Manik mata elangnya menatap sang Papa tanpa riak emosi.

"Aini masih dalam masa koas, Pa," jawab Ivandra dengan nada dinginnya yang khas, terlampau lugas. "Jadwal stasenya sangat padat, dan fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan dokter. Masalah anak bukan prioritas kami sekarang."

"Ivan, pendidikan dokter itu bisa berjalan berdampingan!" potong Nyonya Rosalia gemas. "Mama dulu juga mendampingi Papa kamu saat masih spesialis. Kenapa harus ditunda-tunda?"

"Kami yang menjalani rumah tangga ini, Ma. Tolong beri kami ruang," sahut Ivandra tegas, menyiratkan perintah mutlak yang tak bisa dibantah lagi.

Tuan Wigunadi menghela napas panjang melihat keteguhan putranya, lalu mengangguk pelan. Aini yang menyimak perdebatan itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya rapat-rahat, merasa makin terhimpit di tengah kebaikan keluarga Wigunadi dan kenyataan pahit pernikahan kontrak mereka.

**

Sementara itu, di kamar utama rumah keluarga Wigunadi usai makan malam, Nyonya Rosalia berjalan bolak-balik di dekat jendela dengan raut muka yang sangat gelisah.

"Pa, Mama nggak bisa diam saja," ujar Nyonya Rosalia sembari meremas tangannya. "Kamu lihat nggak tadi cara Ivan sama Aini duduk? Berdekatan tapi kayak ada tembok raksasa di antara mereka! Ivan itu dingin banget sama Aini. Mama khawatir mereka cuma pura-pura harmonis di depan kita."

Tuan Wigunadi yang sedang membaca buku di tepi ranjang mendongak, keningnya berkerut halus. "Rosalia, mereka baru dua bulan menikah. Ivan itu memang wataknya dingin dari dulu, kamu kan tahu sendiri."

"Tapi sama istri sendiri masa begitu?!" cerce Nyonya Rosalia gemas. "Mama punya ide. Gimana kalau waktu mereka libur sif minggu depan, Mama aturkan liburan berdua ke resort kita di Bali? Kita kunci mereka di sana supaya—"

"Rosalia," potong Tuan Wigunadi dengan suara berat dan penuh penekanan. Pria tua itu melepas kacamatanya, menatap istrinya tajam. "Jangan bertindak gegabah. Mereka berdua sudah dewasa dan sama-sama dokter. Biarkan mereka menyelesaikan dinamika rumah tangga mereka sendiri. Jangan ikut campur atau kamu malah bikin Ivan makin menutup diri."

Nyonya Rosalia mendengus kesal, namun tidak berani membantah ketegasan suaminya. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar benteng es di hati putranya segera luluh oleh kelembutan Aini.

**

Kecanggungan tingkat tinggi seketika merebak begitu Ivandra dan Aini melangkah masuk ke dalam kamar tidur lama milik Ivandra di rumah utama tersebut. Kamar yang sangat luas bernuansa kayu jati dan abu-abu gelap itu terasa begitu asing bagi Aini. Ini adalah pertama kalinya sejak mereka menikah dua bulan lalu, Ivandra dan Aini berada di dalam satu kamar yang sama untuk melewatkan malam.

Aini berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi, memegangi ujung piyama panjang pinjaman dari Mama mertuanya dengan jemari gemetaran. Matanya tak berani menatap ranjang king size berukir yang mendominasi tengah ruangan.

Ivandra yang baru selesai mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil berjalan mendekati area ranjang. Pria itu hanya mengenakan celana kaus santai dan kaus abu-abu polos. Pria jangkung itu melirik Aini dari samping.

"Pernyataan Mama di meja makan tadi tidak perlu kamu masukkan ke dalam hati," ujar Ivandra mendadak, memecah keheningan dengan suaranya yang mengalun berbariton rendah.

Aini menoleh pelan, menatap profil samping wajah suaminya. "Saya paham, Mas Ivan. Saya tahu posisi kita."

"Bagus kalau kamu paham," sahut Ivandra datar, matanya menatap lurus ke arah jendela luar. "Kontrak kita tetap berlaku. Tidak akan ada perubahan apa pun hanya karena desakan orang tua saya."

Aini menyunggingkan senyum tipis yang getir. "Saya tidak pernah meminta perubahan apa pun, Mas. Anda tidak perlu khawatir saya akan memanfaatkan situasi ini."

Ivandra mengalihkan pandangannya, menatap ke arah ranjang lalu ke arah sofa kulit di sudut kamar.

"Kamu tidur di ranjang," perintah Ivandra pendek dan tegas.

Aini terperanjat pelan. "L-lalu... Mas Ivan tidur di mana?"

"Saya di sofa," jawab Ivandra tanpa ragu. Pria itu meraih sebuah bantal dan selimut tebal dari lemari, melangkah menuju sofa kulit panjang yang terletak di dekat jendela.

Aini menggigit bibirnya, merasa sangat tidak enak hati melihat anak pemilik rumah ini justru mengalah di kamarnya sendiri. "Mas Ivan... sofa itu terlalu pendek untuk badan Mas. Biar saya saja yang tidur di sofa—"

"Dokter Aini," potong Ivandra cepat, berbalik dan menatap Aini dengan manik mata elangnya yang sangat dingin dan mengintimidasi. "Jangan membantah. Saya tidak biasa membiarkan wanita tidur di tempat yang kurang layak sementara saya di ranjang empuk. Tidur sekarang, besok kamu ada jadwal Poli pagi."

Aini terdiam membeku. Panggilan "Dokter Aini" yang dilontarkan Ivandra seolah menjadi garis batas tebal yang menegaskan kembali jarak di antara mereka.

Aini menundukkan kepalanya pasrah. "Baik... Terima kasih, Mas Ivan."

Aini melangkah pelan menuju ranjang besar itu, merebahkan tubuh mungilnya di bawah selimut tebal. Aroma khas kayu cendana milik Ivandra yang menempel kuat di tempat itu seketika menyeruak, membuat jantung Aini berdegup kencang tak beraturan di kegelapan malam.

Dari atas sofa, Ivandra berbarining miring menatap punggung mungil istrinya yang membelakanginya dari kejauhan. Suara gemericik hujan di luar jendela menjadi satu-satunya musik malam yang menemani keheningan di antara dua manusia yang terikat ikatan suci, namun terpisahkan oleh dinginnya benteng yang mereka bangun sendiri.

Bersambung...

1
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!