"Bukan aku pelakunya!"
Demi biaya berobat ibunya, Aeris Calythea mengantar ratusan kue ke sebuah rumah mewah. Namun, bukannya uang, ia justru menemukan istri pria kaya tergeletak berlumuran darah. Niat tulus Aeris menolong justru menjebaknya. Sidik jarinya tertinggal, menjadikannya tersangka utama.
Dunia Aeris runtuh saat ibunya meninggal akibat terlambat ditangani. Hilang arah, Aeris bersimpuh pasrah.
"Bunuh aku sekarang! Tujuanku tetap hidup sudah tiada!"
Namun Kaizel Vardan, suami korban yang dibakar dendam, menolak. "Mati terlalu mudah untukmu. Kau harus menggantikan posisi istriku dan menjadi ibu untuk anak kembarku! Tebus dosamu, Aeris!"
Bagaimana nasib Aeris? Di tuduh dan terpaksa menjadi istri serta ibu tiri dari 2 anak kembar? Terlebih dia baru tahu, jika 2 anak kembar Vardan bahkan disiksa di rumah ayahnya sendiri.
"Jangan pukul, kami nda nakal hiks ...,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Kaizel
Gerbang besi tempa Kediaman Vardan yang megah dan menjulang tinggi perlahan terbuka lebar. Sebuah mobil sedan hitam berdesain elegan melaju pelan melintasi halaman depan yang luas, membelah keheningan sore. Sorot lampu mobil memantul pada pilar-pilar batu megah yang kokoh berdiri.
Mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan anak tangga utama. Ravelys, sang asisten pribadi, lekas turun dari pintu depan dan membukakan pintu penumpang belakang dengan sikap penuh hormat.
Kaizel Vardan melangkah keluar. Jas hitam mewahnya terpasang sempurna di tubuhnya yang tegap, memancarkan aura dominan dan dingin yang mencekam. Wajah tampannya kaku bak pahatan batu, menyimpan bara dendam yang siap meledak kapan saja.
Namun, saat kakinya baru melangkah dua pijakan menuju pintu utama, pandangannya terhenti. Di atas ubin porselen teras yang biasa bersih mengkilap, tampak beberapa mainan bongkar-pasang plastik bertebaran. Kening Kaizel berkerut dalam. Ia menatap tumpukan mainan itu dengan heran dan bingung.
"Berantakan banget,"
Ketika tangannya terulur hendak mengambil salah satu susunan mainan berbentuk menara tinggi di dekat kakinya, sebuah teriakan nyaring mendadak melengking dari balik pilar.
"JANGAAAAN DICENTUUUUH! DILOMBAK-LOMBAK LAGIII NANTI OTAK CITU YANG MILA LOMBAAAAK!"
BRUK!
Sebuah dorongan kuat menghantam paha Kaizel dari bawah. Pria tinggi tegap itu tersentak dan hampir kehilangan keseimbangan, beruntung Ravelys dengan cepat menahan lengan sang majikan dari samping.
"Huh ... hampil caja! Nda tahu apa, cucah kali buat menala meltua ini!" gerutu bocah kecil itu bersungut-sungut. Ia berjongkok cepat di lantai, mengelus dan memastikan menara plastik merahnya tidak roboh.
Kaizel membatu. Ia menyipitkan mata, menatap bingung ke arah anak kecil bertubuh gembul, berpipi tembem merah muda, dan mengenakan gaun cantik yang kini sibuk memperbaiki mainannya.
"Mira?" bisik Kaizel ragu.
"Apaaaa! Nda ucah panggil panggil dili ini, lagi cenci," sahut Ezmira nyaring tanpa sudi mendongak, masih sibuk menata balok plastiknya.
Kaizel menoleh heran ke arah asistennya. "Benar dia Mira, kan?"
"Iya Tuan, tapi ... badannya agak gendut ya?" bisik Ravelys polos.
Telinga Ezmira rupanya sangat tajam. Mendengar kata 'gendut', balita itu seketika berhenti menata balok. Kepalanya mendongak cepat, matanya yang bulat menyipit tajam menatap dua pria dewasa berjas rapi di hadapannya.
"Ciapa tadi yang bilang Mila gemblot?!" seru Ezmira menantang dengan alis bertaut.
Dengan gerakan secepat kilat dan raut wajah tanpa dosa, Ravelys menunjuk lurus ke arah Kaizel. "Dia yang bilang, Dek," celetuk Ravelys langsung melempar tumbal.
Mata Kaizel membelalak. Ia menoleh tajam pada asistennya. "Asisten kurang ajar ...," desis Kaizel menahan geram.
"Kau!" Ezmira berdiri tegak, mengacungkan tongkat sihir mainannya tepat ke arah wajah Kaizel dengan pandangan judes.
Namun, hanya dalam hitungan detik, pasang mata jernih itu membulat. Ezmira mencerna garis wajah tegap dan kemeja putih pria di hadapannya. Kesadarannya terkumpul sepenuhnya.
"Daddy?!" jerit Ezmira riang. Tongkat sihirnya dijatuhkan begitu saja. Tanpa ragu, anak kecil berbadannya yang kian berisi itu melompat dan memeluk erat kaki Kaizel.
"KAKAAAAAK! KAKAAAAAK! DADDY PULANG! DADDY PULAAAANG!" teriak Ezmira girang, suaranya menggema hebat menembus lorong-lorong mansion.
Sementara itu, di dalam dapur yang sepi, perdebatan sengit antara Aeris dan Orlena terhenti seketika oleh gema teriakan nyaring Ezmira yang menembus lorong.
“DADDY PULANG!”
Orlena dan Aeris tersentak kaget. Keduanya saling pandang dengan riak emosi yang bertolak belakang. Seketika, Orlena mengepalkan kedua tangannya yang keriput, mengulas senyum culas penuh kemenangan.
"Bagus! Kaizel sudah pulang!" seru Orlena dengan nada memaki. "Aku akan mengadukan semua kelakuan kurang ajarmu ini pada Kaizel detik ini juga! Kau akan diusir seperti sampah!"
Aeris yang bersedekap dada tidak mundur sedikit pun. Ia menatap Orlena dengan seringai dingin yang menantang. "Adukan saja! Aku juga akan mengadukan kejahatan kalian yang selama ini menyiksa kedua anak kandungnya!"
"Kau—!"
"Bundaaaaa!"
Langkah kaki kecil yang cepat terdengar mendekati area dapur. Aeris menoleh ke arah pintu. Matanya seketika menangkap sosok Ezmira yang kini berada dalam gendongan seorang pria tinggi berjas hitam tak lain dan tak bukan adalah Kaizel Vardan.
Mata pria itu menghujam lurus ke arah Aeris. Sorot matanya begitu dingin, tajam, dan pekat oleh aura dendam yang meremukkan udara di sekitar mereka. Tubuh Aeris tersentak kecil merasakan getaran intimidasi yang begitu kuat dari sosok pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya Bunda, Mira?" tanya Kaizel dengan suara berat nan parau, menatap putrinya di dalam dekapan.
Ezmira mengerutkan keningnya heran, menatap wajah ayahnya dari dekat. "Emang perlu ijin? Kayak belaaaak aja. Tulunkan Mila! Ciapa Citu culuh-culuh Milaaaaa!" pekik Ezmira berontak, memukul-mukul dada Kaizel dengan tangan mungilnya.
Kaizel syok mendapati perlawanan keras dan kata-kata liar yang keluar dari bibir putri kecilnya yang dulu sangat pendiam dan penakut.
Melihat celah itu, Orlena bergegas melangkah maju dengan raut wajah yang dibuat-buat sedih bercampur murka.
"Lihat Kaizel! Lihat putri kecilmu!" teriak Orlena dramatis, menunjuk penuh tuduhan ke arah Aeris yang berdiri mematung. "Ezmira jadi anak pembangkang dan tidak punya sopan santun begini karena terpengaruh oleh wanita ular ini! Dia meracuni pikiran anak-anakmu sejak hari pertama masuk ke rumah ini!"
Arah pandangan Kaizel makin membeku. Dengan rahang mengeras dan mata memerah menahan lahar amarah yang siap meletus, pria itu melangkah satu tapak mendekati Aeris, menurunkan Ezmira perlahan ke lantai.
"Kamu ... memang pembuat onar," desis Kaizel, suaranya penuh ancaman mematikan.
susah2 namanya thor🤭😄
suka salah sebut
di lampir...