Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Brak!
Pintu aula tertutup keras di belakang Kila. Suara Pak Rhaegar yang masih berusaha melanjutkan seminar dengan suara tenang terdengar samar dari dalam, tapi Kila sudah tidak peduli.
Ponselnya masih di atas meja moderator. Tertinggal. Layarnya masih menyala dengan chat Kak Elvar.
Kila tidak kuat sampai ke toilet. Tepat di sebelah dispenser air minum di koridor lantai 2 yang sepi dan dingin, kakinya lemas. Dia terduduk di lantai keramik, bersandar di tembok, memeluk lututnya yang masih pakai rok hitam dan sepatu pantofel pinjaman yang tumitnya bikin perih. Blazer kebesaran pinjaman Elvano terlihat sangat besar di tubuhnya yang kecil dan gemetar.
Air matanya pecah. Bukan nangis cantik. Nangis sesenggukan, bahu naik turun hebat, ditahan biar tidak bersuara.
Di dalam aula, Elvano panik. Begitu Kila lari menyerahkan mikrofon dengan tangan gemetar dan mata merah, Elvano langsung lempar rundown ke panitia lain.
"Eh tolong gantiin Aku dulu! Penting banget!" bisiknya, lalu lari keluar aula tanpa peduli Dekan sedang menatapnya.
"Kil! KILA!" Elvano menemukannya dalam 10 detik, langsung jongkok di depannya. "Ya Tuhan, Kil! Kamu kenapa? Sumpah jangan bikin Aku panik! Tadi di panggung Kamu pucat banget! Sakit?"
Kila hanya menggeleng, menangis, tidak bisa bicara.
Elvano selama ini memang tidak pernah tahu masalah keluarga Kila. Kila selalu tertutup kalau soal itu. Kila tidak ingin dikasihani.
Elvano tahu ada yang disembunyikan, tapi dia tidak pernah maksa.
Sampai hari ini.
"Kil, ngomong sama Aku, please. Kamu jangan pendem sendiri. Aku di sini," kata Elvano pelan, suaranya lembut, tidak memaksa, hanya duduk di lantai sebelah Kila, ikut bersandar di tembok, memberi ruang.
Kila menarik napas panjang, sesak, lalu akhirnya... jebol. Pertahanan yang dia bangun 2 tahun itu jebol.
"Mama... Mama sama Papa Aku... mau cerai, Van..." bisik Kila dengan suara hancur, air matanya mengalir deras. "Sidang perdananya besok... Kak Elvar baru ngabarin..."
Elvano terdiam. Matanya membulat kaget.
"Ha? Mau cerai? Serius?"
Kila mengangguk sambil menangis. "Aku... Aku selalu bohong sama kamu, Van... Aku selalu bilang keluarga Aku baik-baik aja... Padahal dari SMA rumah aku tuh nggak pernah berasa rumah... Aku tinggal di sini tuh sebagai pelarian, Van... bukan karena Aku mandiri..."
Itu pertama kalinya Kila cerita. Suaranya pecah, jujur, semua keluar.
"Aku capek, Van... Aku capek berpura-pura... Aku capek pura-pura baik-baik aja padahal aku selalu kesepian... Rumah ku selalu sepi, mereka selalu sibuk kerja, nggak ada waktu buat aku. Tapi pas denger kabar mama mutusin cerai... rasanya..." Kila tak mampu lagi meneruskan kalimatnya. Isaknya makin keras.
Elvano tidak menyela. Dia hanya mendengarkan dengan mata berkaca-kaca, lalu langsung memeluk Kila erat, sangat erat, menepuk punggungnya.
"Ya Tuhan, Kil... Kenapa kamu nggak cerita dari dulu? Sumpah Aku nggak tau..." kata Elvano dengan suara serak, ikut mau nangis. "Udah, gapapa, nangis aja... Kamu nggak sendiri, ada Aku..."
Untuk pertama kalinya, Kila merasa lega karena rahasianya yang paling dalam akhirnya ada yang tahu. Tidak dipendam sendiri lagi.
Saat itulah, dari ujung koridor, pintu aula terbuka pelan.
Pak Rhaegar keluar. Seminar sudah dia serahkan ke Dekan untuk sesi tanya jawab. Langkahnya cepat, tidak santai seperti biasanya. Di tangan kanannya ada ponsel hitam milik Kila yang tertinggal di meja moderator. Layarnya sudah mati, tapi dia tahu isinya penting.
Niatnya jelas: mengembalikan ponsel dan memastikan Kila tidak apa-apa.
Tapi langkahnya berhenti mendadak 3 meter dari Kila.
Dia melihat Kila sudah ada di pelukan Elvano, menangis tersedu-sedu, menceritakan sesuatu yang tidak bisa dia dengar dari jarak itu. Elvano memeluk dan menenangkannya dengan tulus.
Pemandangan itu membuat Pak Rhaegar terdiam. Tangannya yang memegang ponsel Kila mengencang sampai buku-buku jarinya putih.
Untuk pertama kalinya, tatapan Pak Rhaegar bukan dingin, bukan tegas, tapi... kalah. Kalah langkah. Kalah posisi. Di koridor ini, dia hanyalah dosen. Sementara Elvano adalah sahabat yang akhirnya dipercaya Kila untuk tahu rahasia terdalamnya.
Pak Rhaegar hanya bisa menarik napas pelan, menelan rasa khawatirnya.
Dia berjalan pelan, mendekat, lalu jongkok perlahan di sebelah tas Kila, tidak mengganggu pelukan mereka. Dia meletakkan ponsel Kila dengan sangat hati-hati di lantai, di sebelah tas ransel Kila.
"Nih... HP kamu ketinggalan di dalam tadi," kata Pak Rhaegar dengan suara pelan, hampir berbisik, serak.
Kila mendongak dengan mata sembab. "Pak..."
Pak Rhaegar hanya mengangguk singkat, tatapannya dalam dan khawatir menatap mata Kila yang bengkak, lalu menatap Elvano sekilas.
Elvano yang baru sadar Pak Rhaegar ada di situ, mengangguk hormat.
Tanpa kata lain lagi, Pak Rhaegar berdiri. Punggungnya tegap, tapi langkahnya kembali ke aula terasa sangat berat. Dia berlalu begitu saja, meninggalkan Kila dalam pelukan Elvano, hanya bisa menatap kalah dari belakang. Tidak bisa memeluk, tidak bisa menjadi tempat cerita pertama.
Elvano menatap punggung Pak Rhaegar yang menjauh, lalu kembali ke Kila, mengelus kepalanya.
10 menit kemudian, isak Kila mereda. Dia sudah lega karena sudah cerita ke Elvano. Bebannya berkurang setengah.
Elvano membantu Kila berdiri, merapikan blazernya yang lecek.
"Aku harus pulang, Van. Kak Elvar udah di bawah, mau jemput Aku," kata Kila dengan suara serak.
Dan benar saja, begitu Kila turun ke parkiran belakang kampus yang sepi, sebuah mobil MPV putih sudah menunggu. Kak Elvar turun dengan wajah yang sama sembabnya, mata bengkak habis nangis juga. Tanpa banyak bicara, Kak Elvar langsung memeluk Kila.
"Makasih ya, udah jagain adik saya," kata Kak Elvar ke Elvano.
Elvano mengangguk. "Hati-hati di jalan ya, Kak."
Mobil itu melaju meninggalkan kampus.
Di lantai 2, dari balik jendela kaca ruang dosen yang gelap, Pak Rhaegar berdiri dengan tangan di saku celana, menatap mobil MPV putih itu sampai hilang di tikungan. Di tangannya ada gelas kopi hitam yang sudah dingin.
Pak Rhaegar merasa tidak asing dengan orang yang menjemput Kila. Namun hal itu tidak terlalu dia pikirkan sekarang. Pikirannya masih penuh dengan Kila yang ternyata menyimpan luka yang dalam sendirian.
Tatapannya kosong, kalah, dan khawatir. Dan hari ini dia belajar satu hal: Kila tidak seceroboh yang dia kira, Kila hanya terlalu lama menyimpan semuanya sendiri.
ayok ada dibaca🤭