DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2- ISAKKAN
Kirana tampak begitu ceria, sangat berbeda dengan sifat keras kepalanya sekarang.
"sudah kenyang...?"
Kirana mengangguk, sambil menepuk perutnya.
Mbah Sarwo hanya tersenyum sambil mengelus kepala anak itu.
"kalok ikut Mbah gimana....?"
"Mbah...?" bingung Kirana.
"Mbah itu sebutan untuk kakek dari orang orang, mulai sekarang kamu bisa manggil kakek Mbah juga. Jadi mau ikut apa enggak."
Kirana menunduk, lalu menggeleng.
"kenapa tidak mau, di sana ada banyak makanan Lo."
namun Kirana tetap menggeleng.
"memangnya ada apa, coba cerita ke Mbah."
"kata orang, Rana pembawa sial. Semua yang di Deket Rana pasti akan mati. Rana takut omongan orang orang itu bener, soalnya ibu angkat Rana juga sudah gak ada."
Mbah Sarwo terdiam, ia menatap gadis malang di depannya.
Tanpa bertanya lagi, ia langsung mengangkat tubuh kecil Kirana.
"gak usah percaya yang kayak gitu, Rana bukan anak kayak gitu. ayah, ibu, dan ibu angkat Rana pasti sedih kalo Rana mikir kayak gitu. Dulu pasti mereka sayang sama Rana kan.".
Kirana mengangguk, namun tak ada wajah ceria yang tadi.
"Rana juga sayang mereka, tapi mereka sudah gak ada."
Mbah Sarwo memeluk tubuh kecil gadis itu.
"kalo mau nangis gak papa." ungkap Mbah Sarwo uang sempat melihat mata Kirana memerah.
Namun ia merasa gelengan tipis.
"kata ibu, Rana harus kuat. Gak boleh nangis."
Mbah Sarwo tak menjawab, ia hanya mengelus lembut punggung Rana.
Lama kelamaan isakan tipis terdengar, namun Mbah Sarwo hanya diam.
Bahkan setelah naik ke kereta kuda ia tak melepaskan pelukannya.
Setelah isakan benar benar tak terdengar, baru Mbah Sarwo melepaskan pelukan gadis itu.
Saat di lepas, Kirana sudah tertidur.
Dengan hati hati, Mbah Sarwo menaruh Kirana di tempat tidur yang ada di kereta kuda itu.
Mbah Sarwo turun dari kereta, kebetulan salah satu pelayan yang ia suruh membeli perlengkapan Kirana sudah datang.
"apa dapat..?"
pelayan itu menunduk.
"hanya dapat beberapa setel pakaian mbah, ini termasuk kota kecil. Jadi baju anak anak seusianya jarang ada yang bagus, apa lagi tubuhnya begitu kurus."
"tak masalah, untuk baju lainnya bisa menyusul saat kita berkunjung ke kerajaan"
pikiran Mbah Sarwo kembali memutar ke 2 tahun setelahnya, saat itu ia tengah pergi ke kerajaan karena mendengar putra mahkota beserta anak dan istrinya di serang bandit hingga tewas.
setelah pulang, kereta mereka tiba tiba berhenti atas komando kereta penjaga yang ada di depan.
Salah satu penjaga langsung mendatangi kereta kuda Mbah Sarwo.
"ada apa..?" tanya Mbah Sarwo.
"ada anak kecil pingsan dengan berlumur darah Mbah.." jawab penjaga.
Mbah Sarwo yang memang suka anak anak langsung turun, saat mendatangi tempat.
Ia melihat anak sudah terbaring dengan berlumuran darah.
Buru buru Mbah Sarwo mengecek nadi.
"masih hidup, cepat bawa ke kereta medis."
salah satu penjaga langsung membopong anak itu, tak sengaja Mbah Sarwo melihat ada sepucuk surat yang terjatuh.
"surat...?" ungkapnya sambil mengambil surat.
*untuk orang yang menemukan anakku, tolong rawat dia. Kami dari keluarga miskin jadi tak bisa merawatnya lagi, walau kami memutuskan untuk mengakhiri hidup karena keadaan. Tapi kami tak tega dengan buah hati kami, jadi untuk siapapun yang menemukannya tolong bantu rawat dia, namanya Raka* isi surat.
Membaca surat itu, Mbah Sarwo menatap ke arah kereta medis.
"ada lagi..." batinnya.
Sebenarnya hati Mbah Sarwo serasa teriris saat membaca surat, dia memikirkan kenapa tega kedua orang tua anak itu sampai meninggalkan anak yang masih sekecil ini sendirian.
Beruntung hari ini dia melewati tempat ini. jika tidak, mungkin anak ini bisa di makan binatang buas.
Dia yang sudah puluhan tahun ingin memiliki anak, tapi tak terkabul. tentu tak mampu melihat anak yang semenderita ini.
"Mbah, ada apa. Kenapa anda melamun..." tanya pelayan yang melihat Mbah Sarwo terdiam sedari tadi.
Mbah Sarwo yang mendengar ini, ingatan tadi kembali buyar.
"tidak, aku tidak apa apa."
"jadi gimana Mbah, apa aku harus meminta mereka di pisah. Dan masing masing di kawal oleh penjaga."
Mbah Sarwo menggeleng...
"tak perlu, aku mengenal mereka. Walau sesering apapun mereka berkelahi, tapi mereka tak akan melukai satu sama lain dengan fatal.".
Baru selesai berkata seperti itu, pintu langsung terbuka.
Terlihat Raka yang langsung berlari ke belakang Mbah Sarwo, di belakangnya Masih ada Kirana yang mengejar.
"jangan bersembunyi, kalok laki keluar. Apa kamu takut cuma ngadepin cewek hah..." ucap Kirana.
"Mbah, lihat Rana. Dia mau membunuhku, ada Mbah di sini saja dia berani ngomong kayak gitu. Apa lagi kalok kamu pergi berburu berdua."
"Raka, jangan mengadu. Ini urusan kita."
"sudah sudah, kalian sudah besar. Jangan membuat Mbah pusing, sekarang saja kalian begini. Apa lagi kalok Mbah tiada" ungkap Mbah Sarwo.
Mendengar hal ini, perkelahian langsung berhenti.
Mereka langsung menatap ke arah Mbah Sarwo.
"mbah ngmong apa, Mbah akan selalu ada." ungkap keduanya serentak.
"udah, Mbah cuma ngasih perumpamaan." saut Mbah Sarwo.
"enggak, Mbah gak boleh ngumpamain hal kayak gitu"
"bener kata Rana Mbah, hal kayak gini gak lucu."
"udah, kalian duduk dulu. Lagi pula Mbah memang udah tua, suatu saat itu pasti akan terjadi."
"enggak, Mbah akan tetep bareng kita. Kami janji kalok gak akan berantem lagi asal Mbah gak pergi"
keduanya memeluk Mbah Sarwo dengan erat sembari terisak.
kedua tangan Mbah Sarwo menjulur, mengelus kepala keduanya.
"udah... Kalian udah 18 tahun, masak masih nangis kayak anak kecil si."
bukannya mereda, tangisan itu malah makin menjadi.
Dua orang yang selalu berkelahi hanya karena hal sepele kini benar benar hanya mampu terisak di pelukan pria yang sudah mereka anggap kakek sendiri itu.