Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA SHEN MUNCHEN
Setiap bulan sekali, bagian logistik istana memberangkatkan armada pengiriman bahan makanan—khususnya gandum dan biji-bijian—menuju pulau pengasingan.
Jumlahnya tak pernah banyak. Bukan karena kasihan, melainkan karena rute laut menuju tujuan terkenal ganas, ditambah risiko muatan berlebih yang bisa membuat kapal karam dalam sekejap.
Jika petaka itu terjadi, bukan hanya pasokan yang lenyap, tetapi nyawa para awak kapal pun akan berada di ujung tanduk, membuat pengiriman sekecil apa pun menjadi pertaruhan hidup dan mati.
Di tengah kesibukan pelabuhan, Shen Munchen berdiri mengawasi dalam diam. Ia menyelidiki jenis kapal yang akan bertolak ke pulau pengasingan itu, sekaligus mencermati jadwal keberangkatannya secara saksama.
Tujuannya hanya satu: mendahului kapal pengiriman dan tiba di pulau itu lebih dulu demi memastikan keselamatan keluarganya. Urusan lainnya akan ia pikirkan kemudian.
Sebelum melangkah lebih jauh, Shen Munchen sempat menghubungi orang kepercayaannya untuk mengonfirmasi kebenaran berita yang ia dengar dari anak buah Jenderal Zhou—orang yang telah ia habisi nyawanya. Namun, kenyataan yang tersingkap jauh lebih menyakitkan daripada bayangannya.
Selama ini, ia telah mempertaruhkan nyawa demi kerajaan, sementara keluarganya mengabdikan kesetiaan turun-temurun. Ironisnya, pihak istana justru bersekongkol secara diam-diam dengan Jenderal Zhou untuk menghancurkan marga Shen.
Ia telah berjuang membendung invasi kerajaan Barat hingga berdarah-darah, bahkan nyaris tewas akibat racun mematikan Bunga Jiwa Kelabu. Nyawanya memang berhasil selamat kali ini, tetapi pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan yang memuakkan.
Lebih pilu lagi, orang-orang terpercayanya kini banyak yang raib. Sebagian besar telah diseret dan diasingkan bersama sisa keluarga Shen ke pulau pembuangan tersebut.
Tekadnya sudah bulat. Dengan penyamaran yang sempurna, Shen Munchen menyusup sebagai buruh kasar di antara para kuli awak kapal. Di balik pakaian kusam dan tubuh yang memikul karung berat, tak seorang pun menyadari bahwa buruh rendahan itu adalah seorang jenderal besar yang namanya pernah ditakuti musuh.
Tiga hari tiga malam pelayaran membentang dari pelabuhan utama menuju pulau pengasingan. Selama perjalanan yang melelahkan itu, ia membagi waktu antara menunaikan tugas kasarnya sebagai kuli dan mengorek informasi dari sesama awak kapal mengenai seluk-beluk pulau tujuan.
Dari serpihan informasi yang berhasil ia kumpulkan, pulau pengasingan itu ternyata cukup luas. Para buangan disebar di beberapa titik pemukiman yang mengelilingi pesisir; rumah-rumah mereka berdiri tidak terlalu dekat dengan bibir pantai, namun juga tak cukup jauh untuk merasa aman dari hantaman badai.
Sementara itu, bagian tengah pulau didominasi oleh hutan lebat dan perbukitan terjal yang menyimpan misteri. Konon, bahkan para petugas jaga istana pun tak pernah benar-benar bernyali untuk menjelajahi jantung hutan terdalam pulau tersebut.
Keluarga Shen tidak pernah menyangka bahwa penantian yang mendebarkan ini akan segera berakhir—sebentar lagi, mereka akhirnya bisa bertemu langsung dengan Shen Munchen.
Di bawah terik matahari pulau pengasingan yang menyengat, kerja sama antara Keluarga Shen dan Keluarga Xin akhirnya membuahkan hasil.
Pagar pembatas yang kokoh kini telah mengelilingi pekarangan rumah, membentang rapi hingga mengitari sumur tua—titik misterius tempat Xiao Luo pertama kali berpindah dimensi.
Namun, sudah beberapa hari ini sosok Xiao Luo belum juga menampakkan diri, persis seperti yang telah ia sampaikan sebelumnya.
Hari-hari gadis itu di dunianya disibukkan dengan rutinitas yang padat; berangkat bekerja di pagi hari yang dingin dan pulang menjelang sore dengan tubuh yang lelah.
Meski sibuk, Xiao Luo tidak menyia-nyiakan waktu. Ia telah merombak total rumahnya menjadi lebih bersih dan layak huni.
Bangunan di sisi kanan ia biarkan kosong untuk sementara, sementara barang-barang yang sudah rusak dan tidak berguna dibakar bersih. Adapun barang-barang yang masih layak pakai ia amankan, dipindahkan dengan cermat ke rumah utama dan bangunan di sisi kiri.
Akhirnya, akhir pekan yang dinanti tiba. Di tengah hari liburnya, Xiao Luo menyeberang kembali ke pulau pengasingan. Tidak dengan tangan kosong, ia membawa barang-barang bawaan yang cukup banyak—sebuah bentuk terima kasih sekaligus oleh-oleh spesial untuk Keluarga Shen dan Keluarga Xin yang telah membantunya.
Setibanya di sana, Xiao Luo mendapati suasana yang hangat. Keluarga Xin tengah berkumpul di kediaman Keluarga Shen, menikmati kebersamaan di dekat area sumur yang baru saja selesai dipagari.
"Akhirnya pembuatan pagar ini selesai juga," ujar kepala Keluarga Xin sambil menyeka keringat di dahinya. Ia menoleh kepada yang lain dengan senyum puas. "Kira-kira, apakah Nona Xiao akan puas dengan hasil kerja kita?"
Seorang anggota keluarga Xin mengangguk pelan, mengamati sekeliling. "Menurutku ini sudah lumayan rapi. Mengingat keterbatasan material, hanya bambu-bambu inilah yang bisa kita andalkan untuk saat ini."
Suasana kembali cair ketika seseorang mengusulkan ide baru. "Nanti, tepat di samping sumur itu, bagaimana kalau kita mulai menanam berbagai jenis sayuran?"
Mendengar usul itu, alis Nyonya Shen berkerut ragu. Ia menatap hamparan tanah di sekitarnya.
"Memangnya, apa sayuran bisa tumbuh subur di atas tanah berpasir seperti ini?" tidak ada satupun orang yang menyahut. Diantara mereka semua hanya pelayan Ma yang sudah pernah bertani, namun biasanya ia bertani di tanah yang gembur. Untuk tanah berpasir ia tidak memiliki pengalaman sama sekali.
Tiba-tiba Xiao Luo yang sedari tadi berdiri di tangga sumur mengeluarkan suara. Tangga itu sengaja dibuat agar Xiao Luo bisa naik dengan mudah dari dalam sumur.
"Tentu saja bisa," suara Xiao Luo memecah keheningan, memicu kepala-kepala menoleh serempak ke arahnya.
Melihat kehadiran gadis itu, wajah-wajah yang tadinya lelah langsung berbinar cerah. Tuan Xin bergegas menyongsong, sementara beberapa anggota Keluarga Shen melangkah mendekat dengan senyuman lebar.
"Nona Xiao! Anda akhirnya datang," seru Tuan Xin, mengambil alih beberapa kantong dari tangan Xiao Luo yang terasa cukup berat.
"Lihatlah, kami baru saja membahas pagar ini, dan juga rencana untuk memanfaatkan lahan kosong di sekitar sumur."
Xiao Luo meletakkan sisa bawaannya di atas meja kayu sederhana di teras, lalu menyapu pandangannya ke sekeliling. Pagar bambu itu berdiri kokoh, rapi, dan memberikan batas aman yang jelas untuk rumah mereka. Hatinya menghangat.
"Hasil kerja kalian luar biasa. Jauh lebih baik dari yang kubayangkan," puji Xiao Luo tulus, membuat orang-orang yang mendengarnya tersenyum bangga. Ia lalu melangkah mendekati bibir sumur tua tempat ia biasa menyeberang, menunjuk ke arah tanah berpasir di sisinya.
"Mengenai tanah berpasir ini... kalian tidak perlu khawatir. Memang benar nutrisinya tidak sebaik tanah humus biasa, tapi kita bisa menyiasatinya," lanjut Xiao Luo.
Di tengah obrolan yang mencair dan dipenuhi antusiasme, suasana hangat itu mendadak terusik oleh suara renyah yang memecah keheningan—tangisan nyaring yang melengking dari pelukan Shen Tingting.
Shen Yu Jin, bayi mungil itu, meronta-ronta kecil dalam gendongan bibinya. Mata bulatnya yang basah oleh air mata menatap lurus ke arah Xiao Luo, seolah mengenali sosok akrab yang pernah singgah di dunianya.
Tangannya yang mungil terulur ke udara, merajuk dan meminta agar gadis itu yang mengambil alih serta menggendongnya.
Shen Tingting tampak sedikit kewalahan sekaligus tersenyum canggung, berusaha menenangkan keponakannya. "Eh, cup, cup... Yu Jin sayang, jangan menangis, ya. Eh, lihat siapa ini..." bujuknya lembut sambil menepuk-nepuk punggung kecil sang bayi.
Mendengar tangisan itu, Xiao Luo langsung menghentikan kalimatnya. Senyum lembut seketika terkembang di wajahnya. Tanpa menunggu ragu, ia melangkah mendekat, mengusap pelan jemari mungil Shen Yu Jin yang masih menggapai-gapai ke arahnya.
"Wah, rupanya jagoan kecil ini sedang merindukanku, ya?" bisik Xiao Luo dengan nada gemas. Ia merentangkan kedua tangannya, mengambil alih sang bayi dari gendongan Shen Tingting dengan penuh kehati-hatian.
Ajaibnya, begitu berpindah ke pelukan Xiao Luo, tangisan Shen Yu Jin langsung mereda. Bayi itu mengeluarkan suara pelan beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan kepala kecilnya di bahu Xiao Luo, jarinya mencengkeram erat ujung baju gadis itu seolah tidak ingin lepas lagi.
Kejadian sederhana itu sukses mencairkan sisa-sisa kecanggungan yang ada. Tawa kecil pun mengalun di antara Keluarga Shen dan Keluarga Xin, menghadirkan kehangatan yang merasuk hingga ke lubuk hati, membuat pulau pengasingan yang dulunya sunyi kini terasa seperti sebuah rumah yang sesungguhnya