NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.7k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 - Mobil Putih Di Depan Rumah Santoso

Mobil putih itu baru bisa dibawa pulang tiga hari setelah pameran.

Ada dokumen yang harus diselesaikan, pajak hadiah yang harus dijelaskan, dan tanda tangan yang membuat Safira pusing. Ia membaca semua berkas satu per satu sampai petugas sponsor hampir tertawa.

"Mbak sangat teliti."

"Saya takut ada biaya tersembunyi."

"Tidak ada, Mbak. Semua resmi."

Arga berdiri di sampingnya, tampak terlalu tenang.

Safira menatapnya setiap kali petugas menyebut kata sponsor. Arga selalu membalas dengan wajah datar yang menyebalkan.

Begitu kunci diserahkan, Safira memegangnya seperti benda rapuh.

"Aku benar-benar punya mobil kerja."

"Iya."

"Kalau ini mimpi, jangan bangunkan aku dulu."

"Kalau mimpi, kamu tidak perlu bayar bensin."

Safira langsung sadar. "Benar juga. Bensin."

Arga tertawa pelan. "Saya bercanda."

"Jangan bercanda dengan biaya operasional."

Mereka membawa mobil itu ke ruko lebih dulu. Bu Maya datang hanya untuk menaburkan sedikit beras kuning di depan ban, katanya tradisi ibunya supaya usaha lancar. Dinda membawa gantungan kunci bentuk pita. Bima menempelkan stiker kecil `Safa Atelier` di kaca belakang, lalu dimarahi karena tulisannya miring.

Hari itu seharusnya bahagia.

Sampai Ratna menelepon.

"Kakek ingin lihat ruko barumu," kata Ratna. "Sekalian kamu bawa obat yang kemarin tertinggal."

Safira tahu ada nada lain di balik kalimat itu. Ratna pasti sudah mendengar soal mobil dari seseorang. Mungkin Bu Maya mengunggah foto. Mungkin tetangga melihat. Di Bandung, kabar bergerak lebih cepat daripada kurir instan.

"Aku ke rumah sore," jawab Safira.

"Pakai mobil barumu?"

Nah.

Safira menatap Arga.

"Iya, Ma."

Ratna tidak langsung menjawab. "Jangan terlalu mencolok. Tetangga nanti banyak tanya."

"Mobilnya putih polos, Ma. Bukan mobil pengantin."

"Kamu sekarang kalau bicara selalu menjawab."

"Aku belajar dari hidup."

Safira menutup telepon sebelum Ratna mulai ceramah.

Sore itu, ia mengemudikan mobil putih ke rumah Santoso. Arga duduk di sampingnya, lebih tegang daripada saat ia menghadapi rapat direksi.

"Kamu kenapa?"

"Kamu baru beberapa hari pegang mobil ini."

"Aku punya SIM."

"Saya tidak bilang tidak."

"Wajahmu bilang siap mengambil alih setir."

"Wajah saya..."

"Terbatas. Aku tahu."

Arga diam.

Safira tertawa.

Saat mobil masuk halaman rumah Santoso, Kevin keluar lebih dulu. Matanya langsung membesar.

"Kak Safa! Ini mobil siapa?"

"Mobil kerja atelier."

"Serius? Kamu beli?"

"Menang undian."

Kevin tertawa. "Enak banget! Kak, pinjam dong nanti buat ke kampus."

"Tidak."

"Aku belum selesai ngomong."

"Jawabanku sudah."

Kevin cemberut. "Pelit."

Ratna muncul di teras. Wajahnya sulit dibaca. Di belakangnya, Rania berdiri dengan ponsel di tangan.

"Jadi benar kamu dapat mobil," kata Ratna.

"Iya."

Rania mendekat, memeriksa logo dan interior dari luar. "Undian pameran?"

"Iya."

"Kebetulan sekali."

Safira membuka bagasi, mengambil obat Kakek. "Aku juga merasa begitu."

Rania menatap Arga. "Mas Arga pasti ikut senang."

Arga menjawab pendek, "Tentu."

"Atau ikut mengatur?"

Safira menutup bagasi. "Kak, kalau ada bukti, bicara. Kalau hanya iri, simpan."

Wajah Rania memerah.

Ratna langsung menegur, "Safa, jangan kasar."

"Aku menjawab pertanyaan kasar dengan kalimat jelas."

Bambang muncul dari dalam, menyelamatkan situasi. "Sudah, Kakek menunggu."

Kakek Hadi duduk di kursi roda dekat ruang keluarga. Wajahnya lebih segar daripada saat di rumah sakit, meski tubuhnya masih lemah. Begitu melihat Safira, senyumnya muncul.

"Safa datang?"

"Iya, Kek. Aku bawa obat."

"Katanya punya mobil?"

Safira berlutut di depannya. "Mobil kerja, Kek. Buat antar kain dan pesanan."

"Kakek mau lihat."

Ratna menyela, "Pak, nanti saja. Bapak baru istirahat."

Kakek menggeleng. "Mau lihat."

Safira menatap Arga. Arga langsung mendorong kursi roda dengan hati-hati ke teras. Ratna ingin protes, tetapi Kakek sudah terlalu bersemangat.

Di halaman, Kakek menatap mobil putih itu lama.

"Bagus," katanya.

"Masih kecil, Kek."

"Cukup untuk mimpi besar?"

Safira terdiam.

Kakek tersenyum. "Kalau cukup, bagus."

Arga berdiri di belakang kursi roda. Kakek menoleh kepadanya.

"Arga."

"Iya, Kek."

"Kamu bantu?"

Udara halaman mendadak berhenti.

Ratna dan Rania langsung menatap Arga.

Safira juga.

Arga tidak panik. Ia menjawab dengan tenang, "Saya mendukung Safa."

Kakek tertawa kecil. "Jawaban pintar."

Safira merasa ada sesuatu dalam tawa Kakek. Orang tua itu mungkin sering lupa nama, tetapi kadang ia melihat lebih jelas daripada semua orang.

Mereka kembali masuk. Ratna menyajikan teh dengan wajah kaku. Rania duduk di seberang Safira, masih menatap cincin dan tasnya seolah mencari bukti kemewahan tersembunyi.

"Safa," kata Bambang, "usaha kamu mulai bagus?"

"Pelan-pelan, Pa."

"Kalau butuh kerja sama dengan butik keluarga..."

Safira menatap papanya.

Bambang berhenti.

Rania cepat berkata, "Maksud Papa, kita bisa saling bantu. Kamu punya klien baru, butik punya produksi. Daripada kamu pusing sendiri."

"Terima kasih. Tapi untuk sekarang aku ingin bangun sistem sendiri."

Ratna mencibir halus. "Jangan terlalu percaya diri. Usaha itu berat."

"Aku tahu. Karena itu aku belajar."

Kevin duduk di lengan sofa. "Kak, kalau mobilnya buat kerja, aku bisa bantu jadi sopir kadang-kadang. Tapi dibayar, ya."

Safira menatapnya. "Kamu punya SIM?"

"Belum."

"Berarti tidak."

"Aku bisa belajar."

"Belajar dulu, baru bicara."

Kevin mendengus.

Di tengah percakapan, Kakek tiba-tiba berkata, "Bambang, panggil notaris."

Semua orang menoleh.

Bambang mengerutkan kening. "Notaris untuk apa, Pak?"

"Surat. Saham. Rumah. Toko." Kakek berbicara pelan, tetapi jelas. "Kakek mau bagi sebelum lupa lagi."

Ratna langsung pucat. "Pak, jangan bicara begitu. Bapak masih sehat."

"Kakek tidak sehat. Kakek masih sadar."

Safira memegang tangan Kakek. "Kek, pelan-pelan."

Kakek menatapnya. "Safa harus dapat bagian."

Ruangan membeku.

Rania meletakkan ponsel.

Kevin berhenti mengunyah keripik.

Ratna tersenyum kaku. "Tentu, Pak. Tapi nanti dibicarakan baik-baik. Safa kan sudah menikah."

Kakek menoleh, matanya tiba-tiba tajam.

"Menikah bukan berarti hilang."

Safira menggenggam tangan Kakek lebih erat.

Arga melihat wajah Ratna, Rania, dan Bambang satu per satu.

Mobil putih di halaman tadi sudah membuat mereka gelisah.

Namun kalimat Kakek barusan jelas akan membuat rumah ini benar-benar panas.

Malam itu, setelah Safira pulang, ruang keluarga Santoso tidak langsung tenang.

Ratna mondar-mandir di depan sofa. "Pak Hadi terlalu dipengaruhi Safa."

Bambang melepas kacamata. "Safa bahkan tidak bicara apa-apa."

"Justru itu. Dia sekarang pintar membuat orang lain bicara untuknya."

Rania duduk diam, tetapi pikirannya bergerak cepat. Kalau Safira mendapat bagian saham, posisi di butik keluarga bisa berubah. Selama ini ia terbiasa menjadi wajah utama, putri yang dibanggakan, orang yang semua idenya dianggap lebih layak. Safira dulu hanya tangan di belakang layar.

Tangan itu sekarang mulai punya nama.

"Ma," kata Rania, "kita harus lihat dulu apa yang Kakek mau bagi. Jangan sampai Safa nanti memakai hak itu untuk masuk ke urusan butik."

Kevin mengangkat wajah. "Kalau aku dapat saham, aku bisa jual?"

Tiga orang menatapnya.

"Apa?" Kevin membela diri. "Aku cuma tanya."

Ratna memijit pelipis. "Tidak ada yang jual apa pun."

Bambang berkata pelan, "Mungkin memang sudah waktunya semua jelas."

Ratna menatap suaminya tajam. "Kamu sekarang memihak Safa?"

Bambang tidak menjawab.

Di luar, suara mobil putih Safira sudah lama menghilang. Tetapi jejaknya tertinggal di halaman, seperti tanda bahwa anak yang dulu selalu pulang dengan tangan penuh belanjaan dapur kini bisa pergi membawa miliknya sendiri.

Di kamarnya, Rania membuka media sosial. Foto Safira di pameran muncul di story Bu Maya: Safira berdiri di depan mobil putih, tersenyum malu, dengan tulisan `Rezeki desainer pekerja keras`.

Rania menatap foto itu terlalu lama.

Dulu, setiap orang memuji pakaian dari butik Santoso, ia menerima pujian itu dengan mudah. Safira berada di belakang, menjahit, membetulkan, merapikan. Tidak ada yang bertanya siapa yang begadang.

Sekarang nama Safira berdiri sendiri.

Rania meletakkan ponsel dengan kesal.

"Lihat saja," gumamnya.

Ia belum tahu caranya, tetapi ia tidak suka melihat Safira terlalu cepat naik.

Di layar ponselnya, Dimas mengirim pesan:

`Kamu lihat story itu? Safa benar-benar berubah.`

Rania mengetik lama, lalu menghapus. Ia tidak ingin terlihat terganggu, tetapi memang terganggu.

Akhirnya ia hanya membalas:

`Dia tidak akan selalu seberuntung itu.`

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!