Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Salah Tingkah dan Belanja di Warung Kelontong
Keheningan canggung yang terjadi di bawah langit senja itu akhirnya pecah ketika Arkan berdehem keras. Pria kota itu buru-buru memalingkan wajah tampannya ke arah jalan setapak di depannya, menolak untuk terlihat seperti orang bodoh yang tertangkap basah sedang mengintip anak gadis orang berkumpul. Dengan langkah kaki yang dipercepat dan sedikit salah tingkah, Arkan berjalan cepat meninggalkan area pagar halaman rumah Siti, lurus menuju ke arah persimpangan jalan desa.
Di atas teras lantai semen, Siti langsung menyenggol lengan Tika dengan heboh begitu punggung jangkung Arkan sudah menjauh. "Gusti... Tika! Nayla! Itu pria kotanya, kan? Aslinya beneran ganteng banget ya! Biarpun cuma pakai kaus oblong biasa, tapi auranya itu loh, kelihatan mahal sekali!"
Tika ikut berdiri sambil menepuk-nepuk jinsnya yang terkena debu. "Eh, tunggu dulu. Jalur jalan kaki dia itu kan lurus mengarah ke persimpangan pasar bawah. Itu artinya dia mau pergi berbelanja ke warung kelontong milik bapakku!" Tika menoleh ke arah Nayla dengan kerlingan mata yang penuh rencana jahil. "Nayla, ayo ikut aku pulang sekarang. Ibu sedang menjaga warung sendirian di jam sibuk begini, kamu temani aku ya sekalian biar bisa melihat bagaimana kelakuan Tuan Muda Jakartamu itu kalau sedang membeli sabun cuci baju."
Nayla yang wajah manisnya masih merona merah jambu akibat tatapan mata Arkan tadi langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Ah, tidak mau! Kenapa harus aku yang ikut? Kamu saja sana yang pulang sendiri menjaga warungmu, Tika."
"Aduh, jangan begitu dong, Nay. Ayo bantu aku, sekalian kita jalan bersama karena rumah kita kan searah melewati persimpangan warung," rengek Tika sambil menarik paksa lengan katun tunik Nayla. Wulan dan Siti hanya bisa tertawa cekikikan melihat Nayla yang akhirnya terpaksa pasrah berdiri, merapikan sandal jepitnya, lalu berpamitan pada Siti untuk berjalan pulang bersama Tika.
Sementara itu, Arkan sudah tiba di depan sebuah warung kelontong sederhana yang beratap seng. Di bagian depan warung, berjejer karung-karung berisi beras, tumpukan telur ayam di dalam wadah mika, serta berbagai macam rentengan saset kopi dan sabun yang digantung di langit-langit bambu. Arkan berdiri terpaku di depan etalase kaca dengan dahi berkerut dalam. Ia kebingungan melihat begitu banyaknya barang harian yang bertumpuk tanpa adanya label harga yang jelas seperti di supermarket elit Jakarta yang biasa ia kunjungi.
"Permisi... ada orang?" panggil Arkan dengan suara baritonnya yang berat, matanya melirik sekeliling warung yang sepi.
Tepat pada saat itu, Tika dan Nayla melangkah masuk dari pintu samping warung yang terhubung langsung dengan rumah utama keluarga Tika. Begitu melihat sosok Arkan yang sedang berdiri mematung memegang selembar uang seratus ribu rupiah kertas di tangan kirinya yang sehat, Tika langsung menyenggol pinggang Nayla dengan sikunya, memberikan kode jahil.
"Eh, nyari apa, Mas Tampan? Mau belanja keperluan dapur ya?" sapa Tika dengan nada suara lantangnya yang sedikit tomboi, langsung mengambil posisi di balik meja kasir kayu tua.
Arkan sempat terkejut melihat kehadiran Tika, namun matanya seketika terkunci pada sosok Nayla yang berdiri di belakang gadis tomboi itu. Sore ini Nayla terlihat sangat manis dan berbeda. Ia mengenakan tunik katun longgar berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga kecil putih yang dipadukan dengan celana panjang kain putih. Pakaian itu membuat kulitnya yang putih bersih alami tampak bersinar dan memancarkan aura anggun yang menyejukkan. Nayla tampak bersedekap dada sambil menatap Arkan dengan senyuman tipis menantang, membuat Arkan kembali merasa gengsi kotanya terusik. Pria itu buru-buru berdehem, mencoba mengembalikan wibawa dinginnya.
"Saya mau beli sabun cuci baju batangan, bumbu dapur instan, dan kopi saset," ucap Arkan ketus, membaca catatan kecil yang diberikan Bude Lastri di kertas lecek.
Tika menyengir lebar, tangannya bergerak gesit mengambil beberapa barang dari rak belakang.
"Sabun batangan mau merek apa, Mas? Mau yang wangi bunga atau yang biasa untuk menghilangkan noda lumpur sawah kemarin?" goda Tika sengaja memancing tawa, membuat Nayla di belakangnya terpaksa menutup mulut demi menahan tawa yang hampir meledak.
Arkan menggeram pelan, wajah tampannya sedikit memerah menahan dongkol karena tahu dirinya sedang diledek. "Terserah kamu saja. Yang penting bisa dipakai untuk mencuci," potong Arkan ketus.
Kejadian lucu pun dimulai ketika Tika meletakkan barang-barang tersebut di atas meja kasir, ditambah dengan beberapa bumbu dapur pesanan Bude Lastri. Arkan dengan tangan kirinya yang sehat mencoba meraih plastik belanjaan, namun ia tidak sengaja menyenggol sebuah rentengan saset sampo cair yang digantung rendah di dekat kepalanya yang tinggi.
Sret! Pluk! Pluk!
Karena tubuh jangkung Arkan yang terlalu tinggi untuk ukuran warung pedesaan yang pendek, kepalanya menghantam gantungan saset tersebut hingga jepitan bambunya lepas. Dalam sekejap, tiga renteng saset sampo jatuh menimpa rambut depan Arkan yang basah, bahkan satu saset mendarat tepat di atas hidung mancungnya sebelum akhirnya jatuh ke lantai semen.
Arkan mematung di tempatnya dengan mata melotot lebar. Sosok Tuan Muda metropolitan yang biasanya selalu tampil sempurna, klimis, dan berwibawa di dalam ruang rapat Dewangga Group Jakarta, kini harus mengalami nasib sial bin konyol tertimpa rentengan sampo murah di sebuah warung kelontong desa terpencil.
Bwahaha!
Tawa Tika seketika meledak tanpa bisa ditahan lagi melihat ekspresi wajah horor dari Arkan. Bahkan Nayla yang biasanya selalu berusaha menjaga jarak emosional, kini ikut tertawa lepas hingga bahu mungilnya terguncang hebat. Suara tawa jernih Nayla yang begitu renyah kembali terdengar memenuhi ruangan warung sederhana itu, membuat atmosfer canggung di antara mereka mendadak mencair begitu saja.
"Jangan tertawa! Ini... langit-langit warungmu ini saja yang terlalu pendek!" protes Arkan dengan suara tinggi yang salah tingkah, wajah tampannya kini benar-benar memerah padam sampai ke leher karena malu yang luar biasa luar biasa. Ia buru-buru memungut rentengan sampo yang jatuh di lantai menggunakan tangan kirinya dengan gerakan yang sangat kikuk.
Nayla melangkah maju, mengambil rentengan sampo dari tangan kiri Arkan dengan sela tawa kecilnya yang mulai mereda. "Sudahlah, Pria Kota, jangan menyalahkan bangunan warung orang lain. Kamunya saja yang tubuhnya terlalu bongsor seperti tiang listrik Jakarta." Nayla membantu merapikan kembali gantungan saset tersebut ke tempat semula dengan cekatan, sementara jarak tubuh mereka yang begitu dekat membuat Arkan bisa mencium kembali aroma wangi bedak dingin bayi dan sabun mandi yang menenangkan dari tubuh gadis itu.
Arkan tertegun, amarahnya yang semula meledak-ledak mendadak merosot turun begitu saja saat melihat bagaimana wajah manis Nayla tampak begitu cantik dengan pakaian tunik birunya dan kulit putih bersihnya saat sedang tertawa lepas tanpa ada beban seperti tadi. Getaran aneh yang sempat muncul di bawah pohon beringin kemarin sore kini kembali berdesir dengan ritme yang lebih kuat di dalam dada sang Tuan Muda.
"Semuanya jadi berapa?" tanya Arkan dengan nada suara yang melembut, menyodorkan uang seratus ribu rupiah terakhirnya kepada Tika demi menutupi detak jantungnya yang mendadak berpacu sedikit lebih cepat.
Tika menghitung cepat menggunakan sempoa kayu tuanya. "Totalnya jadi tiga puluh lima ribu rupiah, Mas Arkan. Ini kembaliannya enam puluh lima ribu," ucap Tika sambil menyerahkan uang kembalian dan plastik belanjaan.
Arkan menerima uang kembalian itu, lalu memasukkannya ke dalam saku celana kain longgarnya. Sebelum ia membalikkan badan untuk pergi, sepasang matanya sempat melirik ke arah Nayla sekilas.
"Saya pulang duluan," pamit Arkan dengan nada suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan, namun ada nada ketulusan yang terselip di sana tanpa ada lagi keangkuhan kaku yang menyebalkan seperti hari-hari sebelumnya.
Nayla menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis yang manis. "Iya. Jalan kaki yang hati-hati, jangan sampai salah belok masuk ke kubangan kerbau lagi sore-sore begini," canda Nayla, mengingatkan kembali kejadian konyol kemarin pagi.
Arkan hanya mendengus samar, namun sebuah lengkungan senyuman tipis yang sangat langka akhirnya terukir di bibir tipis sang Tuan Muda saat ia membalikkan badannya dan melangkah keluar dari warung kelontong. Perjalanan pulang menuju rumah Mbah Harjo di bawah sisa cahaya senja itu terasa sangat berbeda bagi Arkan. Kejadian konyol tertimpa sampo saset tadi memang memalukan, namun tawa lepas dari Nayla dan penampilan barunya yang anggun seolah menjadi obat terbaik yang perlahan mulai menyembuhkan sifat keras kepala dan kesepian batin dalam diri sang Tuan Muda di fase hukuman Desa Sukmawarna ini.