Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA PENYERAPAN QI DARAH
Sinar fajar yang dingin dan temaram perlahan menerobos celah-celah papan kayu Barak Unit 9. Uap napas membeku di udara ruangan, tetapi perapian kecil di tengah barak masih menyisakan bara merah yang memancarkan kehangatan sedang.
Shi Tou melangkah masuk melewati pintu kayu, membawa rantang kayu berisi empat mangkuk bubur gandum kasar dan beberapa potong daging kering yang mengeras seperti kayu. Wajah pria bertato itu tampak jauh lebih segar meski lengannya dipenuhi bebat kain baru.
"Makanan pembuka hari ini sedikit lebih tajam baunya," Kata Shi Tou seraya meletakkan rantang ke atas meja kayu dengan cengkeraman tangannya yang kuat. "Tapi prajurit logistik bilang, ini jatah khusus untuk unit yang berhasil membawa pulang Inti Monster kelas tiga."
Lu Chen, yang sedang membersihkan bilah belatinya dengan minyak pinus di atas dipan, mendongak sambil terkekeh pelan. "Katakan pada bagian logistik, jika mereka memberi kita bubur gandum berisi batu kerikil lagi besok, aku sendiri yang akan mengiris kancing celana mereka saat mereka tidur."
Ah Xiu duduk di sudut perapian, mengencangkan tali pelindung dadanya dengan gerakan cekatan. Matanya yang gelap sesekali melirik ke arah pintu barak yang agak terbuka. Di luar sana, di atas bidang tanah beku yang menghadap langsung ke dinding batu raksasa Benteng Tembok Besi, Lin Yuan berdiri sendirian di bawah buaian angin pagi.
Di luar barak, Lin Yuan duduk bersila di atas bongkahan batu es yang keras. Di dalam genggaman tangan kanannya, Inti Monster milik Ratu Laba-Laba Bayangan—kristal hijau pekat seukuran kepalan tangan—memancarkan pendaran hangat yang redup.
Selama satu jam terakhir, Lin Yuan mencoba menyerap energi spiritual di dalam inti tersebut menggunakan teknik meditasi dasar yang pernah diajarkan oleh para instruktur Klan Lin. Namun, alih-alih mengalir lancar ke dalam tubuhnya, energi dari inti tersebut terasa tersumbat dan enggan berpindah. *Qi* di dalam kristal mati itu terlalu keras dan liar untuk diserap menggunakan metode olah napas pasif.
"Mengapa lambat sekali?" Bisik Lin Yuan seraya mengerutkan keningnya, menatap kristal hijau di tangannya.
Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh kesadarannya turun ke dalam lautan jiwa. Di sana, siluet Kera Putih raksasa bermata emas duduk tenang di atas pusaran air perak yang jernih. Roh purba itu tampak tidak berminat sedikit pun pada Inti Monster di genggaman tangan Lin Yuan. Roh Kera Putih seolah menganggap kristal mati itu sebagai sisa makanan yang tidak memiliki kehangatan kehidupan.
Lin Yuan lantas mengingat kembali pertempuran brutal semalam di dalam Hutan Bayangan Kematian.
Saat tinjunya meremukkan cangkang Ratu Laba-Laba dan mencabut nyawa monster itu secara langsung, ada arus hangat tak kasat mata—sebuah gelombang energi vital membara yang bercampur dengan bau darah segar—yang tersedot paksa masuk melalui pori-pori kulitnya. Pada momen itulah Kera Putih di lautan jiwanya mengaum kegirangan, melahap energi tersebut hingga membuat garis-garis meridiannya menembus batas baru.
Lin Yuan membuka matanya seketika. Sebuah pemahaman yang jernih dan mengejutkan menyergap pikirannya.
"Bukan energi spiritual alam biasa... melainkan *Qi* Darah," Gumam Lin Yuan seraya menatap telapak tangannya sendiri yang menyerap sisa uap hangat.
Selama tiga tahun hidup di Klan Lin, Lin Yuan dianggap sebagai sampah cacat karena meridiannya sama sekali tidak bisa menampung *qi* alam yang diserap melalui meditasi tenang atau konsumsi ramuan herbal mahal. Para penatua klan mengira meridiannya tersumbat total dan tidak memiliki masa depan.
Namun kenyataan sebenarnya jauh lebih brutal dan berdarah dari dugaan mereka.
Roh Kera Putih di dalam tubuhnya adalah warisan dari sekte purba yang dibangkitkan oleh pertumpahan darah dan insting pemangsa. Roh itu tidak membutuhkan *qi* alam yang pasif dan halus. Kera Putih hanya bisa tumbuh dan memberi nutrisi pada meridian Lin Yuan jika disuapi oleh *Qi* Darah—energi vital murni yang meledak dan melepaskan diri dari makhluk hidup atau monster pada detik-detik kematian mereka di tangan Lin Yuan secara langsung.
Semakin kuat dan ganas monster yang dibunuhnya, semakin besar *Qi* Darah yang terserap, dan semakin cepat pula peningkatan kultivasi fisiknya.
Tanpa ragu lagi, Lin Yuan menggepalkan tangannya rapat-rapat. Ia sengaja mengalirkan sedikit aura perak Kera Putih ke jemarinya, lalu menekan Inti Monster di genggamannya hingga retak.
KRAK!
Kristal hijau itu hancur berkeping-keping di dalam cengkeramannya. Alih-alih membiarkan energinya menguap sia-sia ke udara, Lin Yuan menyuntikkan niat membunuh yang tajam ke dalam serpihan tersebut, mensimulasikan kembali momen pembantaian semalam.
SROOOT!
Sisa-sisa energi vital yang terikat di dalam inti monster itu merespons niat membunuhnya seketika! Uap hijau pekat tersedot deras melintasi kulit telapak tangannya, mengalir bagai lahar panas menelusuri lengan kanan hingga menyiram lautan jiwanya.
ROAAAAAAR!
Di dalam kesadarannya, Kera Putih membuka matanya yang bercahaya emas terang, meminum habis energi vital tersebut dalam satu regukan serakah. Suhu tubuh Lin Yuan meningkat drastis, uap putih tebal mendesis keluar dari pori-pori kulit dada dan punggungnya. Garis-garis meridian di sepanjang lengannya mengembang, memancarkan pendaran perak tipis yang jauh lebih padat daripada semalam.
"Metode kultivasi yang sangat aneh," Suara jernih Ah Xiu terdengar dari arah belakang.
Lin Yuan membuka matanya, menghentikan aliran energi. Pendaran perak di tangannya memudar seketika, menyisakan debu halus dari Inti Monster yang telah kosong di atas batu beku.
Ah Xiu melangkah mendekat, berdiri dua jangkah di samping Lin Yuan. Gadis pemanah itu memegang sebotol air hangat, menatap debu kristal di tanah dengan pandangan takjub yang tak tertutup.
"Prajurit biasa butuh waktu satu minggu meditasi bersama bantuan tabib untuk menyerap setengah dari energi Inti Monster kelas tiga," Ucap Ah Xiu seraya menyodorkan botol air itu pada Lin Yuan. "Tapi kau menelannya habis dalam hitungan puluhan napas."
Lin Yuan menerima botol air itu, meminumnya perlahan untuk mendinginkan kerongkongannya yang terasa kering. "Aku tidak menyerapnya dengan cara biasa, Ah Xiu. Kultivasiku tidak bekerja di atas sajadah meditasi yang tenang."
"Aku bisa melihatnya," Sahut Ah Xiu pelan, matanya menatap lurus ke arah dinding batu Tembok Besi yang membentang gagah membelah perbatasan. "Cara bertarungmu semalam... kau tidak bertindak seperti kultivator yang sibuk menjaga kesucian energi. Kau bertarung seperti pemangsa murni yang kelaparan."
Ah Xiu menyandarkan busur tulangnya di bahu, bibirnya yang tak terluka terangkat membentuk senyum tipis. "Tapi di tempat seperti Benteng Tembok Besi ini, metode berdarahmu adalah sebuah berkah. Di sini, darah monster melimpah setiap hari."
"Dan di sini pula tempat terbaik bagiku untuk bertambah kuat," Balas Lin Yuan dengan suara membumi dan mantap.
Lu Chen dan Shi Tou melangkah keluar dari barak, menyusul mereka berdua ke lapangan tanah. Lu Chen melemparkan sepotong daging kering ke arah Lin Yuan, yang ditangkap oleh pemuda itu dengan sigap.
"Pagi yang indah untuk para pahlawan baru Unit Sembilan," Ucap Lu Chen seraya bersandar pada tiang kayu barak, mengamati Lin Yuan dari atas ke bawah. "Pakaianmu sudah koyak tak berbentuk, Kapten. Tapi auramu pagi ini terasa seperti orang yang baru saja menyantap satu pasukan monster."
Shi Tou mengunyah daging keringnya dengan suara berisik. "Baguslah kalau Kapten makin kuat! Tadi waktu aku mengambil jatah makanan di dapur umum, orang-orang dari Unit Satu menatapku dengan mata sinis. Mereka kaget setengah mati melihat kita pulang lengkap dari Hutan Bayangan Kematian."
"Unit Satu?" Tanya Lin Yuan seraya menggigit daging keringnya yang asin dan keras.
"Regu elit kesayangan para perwira tinggi," Jawab Lu Chen dengan nada suara yang mengejek. "Pemimpin mereka, Zhang Bao, adalah anak bangsawan kelas tiga yang merasa paling berkuasa di perbatasan ini. Mereka biasanya merebut wilayah berburu terbaik dan membiarkan unit buangan seperti kita mendapat sisaan terburuk."
Ah Xiu memicingkan matanya tajam. "Kudengar besok akan ada pembagian ulang zona perburuan di Ngarai Gagak. Zhang Bao pasti akan mencoba menekan unit kita lagi seperti biasanya."
Lin Yuan menatap ketiga rekannya satu per satu. Tidak ada lagi rasa minder atau ketakutan di mata Shi Tou, Lu Chen, maupun Ah Xiu. Keberadaan Lin Yuan dan rahasia kekuatan berdarah yang dimilikinya telah menjadi pilar kepercayaan diri yang baru bagi seluruh anggota Unit 9.
Lin Yuan melangkah maju, menepuk bahu Shi Tou dan Lu Chen pelan.
"Biarkan mereka menatap sinis," Ucap Lin Yuan datar, namun tatapan matanya begitu tajam dan dingin. "Jika mereka mencoba merebut wilayah kita, kita akan menunjukkan pada mereka bagaimana cara Unit Sembilan berburu di tanah perbatasan."
Ketiganya tersenyum—sebuah senyuman tipis dan keras yang lahir dari tempat paling mematikan di kekaisaran. Di bawah naungan bayangan Tembok Besi, Lin Yuan tahu bahwa setiap tetes darah monster yang jatuh besok akan menjadi batu pijakan baginya untuk bangkit jauh lebih tinggi.