Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Sebelum berangkat.
Setelah melewati satu hari yang panjang, akhirnya Pitta sudah di ijinkan pulang. Ajudan setianya sudah selesai mengurus packing barang milik Letnan Oscar, tapi Mama Dilan pun sudah siap dengan barang menantunya.
"Hati-hati disana ya, Oscar.. Jaga istrimu baik-baik. Puncak bukan tempat yang mudah untuk di takluk kan. Fasilitas kesehatan juga tidak seberapa baik, sekarang musim hujan, jangan sampai Pitta masuk angin, perbanyak konsumsi ramuan herbal..!!" Nasihat Mama Dilan seperti kebanyakan para ibu lainnya.
"Iya Ma, pahaaam." Jawab Bang Oscar sambil meneliti semua barang yang ada.
"Ijin, Dan. Semua sudah beres." Laporan Prada Syafi'i.
"Oke. Terima kasih." Bang Oscar melirik sekilas, melihat barang bawaannya yang sudah berada di atas truk.
Terdengar langkah kaki dari dalam kamar menuju tempat mereka.
"Oscar.. Jangan lupa jaketmu." Seorang wanita menghampiri Bang Oscar, tapi kemudian beliau memakaikan sweater hangat pada Pitta. "Sehat disana ya, Nak..!!" Imbuhnya. Beliau adalah Mama Bian, istri pertama sang Papa.
Sulit untuk di ceritakan dengan akal, pikiran dan perasaan tentang pernikahan orang tuanya itu.
Bang Oscar menghela nafas panjang dan membiarkan Mama 'pertamanya' bersama dengan Pitta. Jika sudah seperti ini, Mama Dilan akan memberi jarak yang aman agar Pak Dante bisa lebih dekat dengan Mama Bian.
Sepanjang yang ia tau, Mama Dilan selalu mengalah, selalu memberikan ruang untuk suaminya terus berada dekat Mama Bian.
"Iya, Ma." Jawab Pitta lembut.
:
Masih ada beberapa saat sebelum Bang Oscar terbang bersama Pitta menuju tempat dinas yang baru. Bang Oscar mengesampingkan bahwa ia akan bertugas bersama adik bungsunya, Satria.
Rasa penasaran Bang Oscar membuat ia tidak bisa menahan banyaknya pertanyaan di dalam kepala.
"Paa.. Selama ini dalam pandangan mataku, Papa bisa bersama Mama Dilan dan Mama Bian tanpa perselisihan. Sebenarnya, siapa yang paling Papa cintai??" Tanya Bang Oscar tiba-tiba. "Aku ini sudah paham soal rasa. Cinta itu.. Perkara hati, tidak mungkin dua-duanya mengisi hati Papa."
"Kau ini lancang betul." Bang Satria mencolek bahu Abangnya. "Siapa Pa?? Aku juga penasaran." Imbuhnya.
Pak Dante menatap kedua istrinya. Mama Dilan duduk menjauh sambil menikmati kopi susu, sedangkan Mama Bian terus mengusap perut Pitta yang semakin membesar.
"Mama Bian akan tetap menjadi istri Papa sesuai permintaan Mama kalian. Tapi kalau kalian tanya siapa yang paling Papa cintai............"
"Mama Dilan. Istri Papa hanya Mama Dilan seorang." Sambar Bang Yudhis dengan senyumnya.
Pak Dante tersenyum tipis melihat putra pertamanya.
"Setelah Mama Bian menghilang kurang lebih dua tahun, semua berubah. Status istri masih tetap ada, tapi sejak kembali itu pula.. Tidak ada lagi 'kontak fisik' Papa untuk Mama. Papa hanya menjalankan sisa tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang menghormati seorang wanita yang telah melahirkan saya, putra pertamanya." Jawab Bang Yudhistira.
Pak Dante menghela napas pelan, menatap ketiga putranya dengan pandangan yang tenang namun penuh makna.
"Mama Bian adalah masa lalu yang Papa hormati dan Papa jaga seumur hidup, karena beliau ibu yang melahirkan Abang kalian, Yudhis." Ucap Pak Dante tenang. "Tapi Mama Dilan... Mama Dilan adalah rumah tempat hati Papa pulang."
Beliau menoleh ke arah Mama Dilan yang duduk agak jauh, tersenyum tipis melihat beberapa orang anak kecil yang sedang bermain dan berlarian di dalam mini playground bandara sambil meneguk kopi susunya.
"Pernah Papa pikir, cinta hanya datang sekali dalam hidup. Tapi Papa salah. Kadang Tuhan mengirim seseorang, bukan untuk menggantikan, tapi untuk menyempurnakan. Mama Bian adalah bagian sejarah yang tak akan Papa lupakan, tapi Mama Dilan adalah pilihan hati yang Papa jalani setiap hari dengan bahagia. Mama Dilan adalah perempuan paling sabar yang pernah Papa kenal."
Bang Oscar terdiam, hatinya terasa lebih tenang seketika. Seperti ada beban yang terangkat dari pundaknya.
"Terima kasih sudah jujur, Pa." ucapnya pelan.
"Tapi.. Untuk semua ini Papa ingatkan. Papa hanya punya tiga anak laki-laki dan tidak punya anak perempuan. Tolong, jangan pernah kalian menduakan wanita dalam hidup kalian nantinya. Percayalah, tangis kesedihan wanitamu adalah goresan luka yang paling menyakitkan dalam hidupmu. Dunia serasa hancur lebur karena air matanya." Pesan Pak Dante untuk ketiga putranya.
Para Letnan mengangguk paham. Putra seorang Wiradante pantang untuk menyakiti hati wanita.
~
"Nah, sudah. Perpisahan belum tentu perpisahan. Kalian bisa pulang kapan saja, Papa juga pasti akan menjenguk kalian disana. Yang penting jaga kesehatan istrimu juga, ya." Pak Dante menepuk bahu kedua putranya.
Mama Bian menghampiri mereka, menyelipkan amplop kecil ke tangan Pitta. "Ini buat jaga-jaga, Nak. Jangan ditolak. Anggap saja doa dari Mama. Semoga anak kalian lahir sehat dan kuat." Mama Bian kemudian menoleh pada Mama Dilan lalu kembali menatap Pitta. "Ayo, pamit sama tante mu..!! Mama Dilan mu pasti rindu kamu nantinya."
Pitta menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Mama. Pitta janji akan jaga diri dan si adek." Katanya. Pitta kemudian beralih pada Mama mertuanya. Mertua yang selama ini sangat sabar dan begitu menyayanginya. "Pitta berangkat ya, Ma. Terima kasih sudah jagain Pitta selama ini, nurutin ngidamnya Pitta."
"Sama-sama sayangku. Pitta sehat-sehat ya disana, sudah ada Bang Oscar jagain Pitta." Bisik Mama Dilan menahan tangisnya. "Nanti kalau anak kalian lahir, Mama pasti datang kesana."
Belum sampai mereka melangkah, tiba-tiba saja Bang Oscar terhuyung. Sejenak pandangannya kabur dan nyaris pingsan.
Bang Satria yang ada di sampingnya langsung menahan tubuh Abangnya. "Eeehhh.. Mabok lu?? Kenapa tiba-tiba oleng????"
"Mual, Sat. Punya permen asem???" Tanya Bang Oscar.
"Permen asem??? Biasanya suka yang mint." Kata Bang Satria.
Pak Dante tersenyum geli. "Kasih permen mu buat Oscar, dek. Nanti Abang belikan lagi. Anaknya lagi ngajak Papanya main tuh, lama nggak di tengokin Papanya." Celetuk Pak Dante membuat pipi Bang Oscar memerah.
Mama Dilan langsung mengambilkan permen asem dari dalam tasnya. Bang Satria pun mengambilnya lalu menyuapkannya dua butir di mulut Abangnya.
"Macam permen nya, Sat. Asem bener wajahmu." Tegur Bang Yudhis melihat ada yang berbeda dari adik bungsunya.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍