Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Siang hari keluarga Romano datang menjenguk Lorenzo. Valentina—ibunya Lorenzo— datang paling dulu, kemudian di belakangnya ada Isabella—neneknya Lorenzo.
Begitu melihat Lorenzo, Valentina langsung mempercepat langkah. Dia memeluk putranya dengan hati-hati.
“Lorenzo! Bagaimana keadaanmu?”
“Sudah lebih baik, Mama.”
Valentina mengusap rambutnya. “Syukurlah.”
Isabella berdiri di samping tempat tidur. Nenek Lorenzo itu menatap cucunya lama. “Jangan membuat keluarga ketakutan seperti ini lagi.”
Lorenzo mengangguk. “Maaf, Nenek.”
Kemudian pandangan Isabella beralih kepada Alina. “Alina.”
Alina langsung berdiri. “Iya, Nenek.”
“Kamu sudah mengurus Lorenzo dengan baik?”
Alina tersenyum. “Sudah, Nenek.”
“Obatnya?”
“Sudah.”
“Makanannya?”
“Sudah.”
Isabella mengangguk. “Bagus.”
Namun Valentina ikut menyela. “Kamu harus lebih hati-hati menjaga Lorenzo.”
Alina terdiam.
“Jangan sampai dia kelelahan. Dia memang keras kepala, tetapi kamu sebagai istri seharusnya bisa mengingatkannya.”
Alina menundukkan kepala. “Iya, Mama.”
“Aaaah. Mulai lagi. Kalau suamiku jatuh dari lantai dua, aku harus menangkapnya. Kalau dia jatuh dari gedung sepuluh lantai, mungkin aku harus terbang. Lalu, sekarang dia kecelakaan karena menyetir seperti orang kesurupan, aku juga yang harus bertanggung jawab.”
Lorenzo menatap ibunya. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa nyaman mendengar percakapan itu.
Valentina masih berbicara. “Kamu istrinya. Kamu harus tahu apa yang Lorenzo butuhkan.”
Alina mengangguk. “Iya, Ma.”
“Lucu sekali! Semua orang tahu aku istrinya. Tapi, tidak ada yang pernah bertanya apakah aku baik-baik saja menjadi istrinya.”
Lorenzo terdiam.
Isabella mengerutkan kening. “Kamu kenapa diam?”
Alina tersenyum. “Tidak apa-apa, Nek.”
“Karena kalau aku bicara jujur, nanti satu keluarga menangis histeris. Dan aku malas membersihkan tisu bekas air mata dan ingus kalian.”
Lorenzo menundukkan pandangan. Ada sesuatu yang perlahan berubah dalam dirinya. Selama tiga tahun menikah, dia tidak pernah sekalipun bertanya kepada Alina apakah dia bahagia. Dia hanya melihat istrinya yang selalu diam. Selalu menurut. Selalu tersenyum. Dan dia menganggap semuanya baik-baik saja.
Ternyata diamnya Alina bukan berarti dia tidak terluka. Mungkin dia hanya tidak punya tempat untuk mengeluh.
Valentina kembali menatap Alina. “Selama ini Lorenzo memang sibuk. Tapi kamu harus mengerti.”
Alina mengangguk. “Aku mengerti, Mama.”
“Iya. Aku mengerti, Mama mertua. Sangat mengerti! Tiga tahun bersamanya aku sudah hafal.”
“Suami sibuk. Suami lelah. Suami punya urusan. Suami tidak bisa diganggu. Suami tidak suka ditanya. Suami tidak suka dituntut. Suami tidak suka ini. Suami tidak suka itu. Lalu aku?”
Lorenzo perlahan mengangkat wajah. “Alina ...."
Pikiran istrinya terdengar semakin pelan.
“Aku juga manusia. Aku juga bisa capek. Aku juga ingin didengar. Bukan cuma disuruh mengerti.”
Lorenzo menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Sekarang dia sadar, tidak pernah memberi Alina kesempatan untuk mengeluh.
Isabella akhirnya duduk. “Kamu harus bersabar, Alina.”
Alina tersenyum. “Iya, Nenek.”
“Kalau sabar ku ini bisa ditukar uang, aku sudah jadi wanita super kaya raya. Sayangnya sabar ku cuma bisa membuat rambutku rontok.”
Lorenzo hampir tersenyum. Namun, senyum itu segera hilang.
Di balik keluhan kecil itu, dia bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Alina merasa lelah, tetapi selama tiga tahun, wanita itu tetap menjalankan perannya. Menjaga nama baik keluarga. Menerima semua tuntutan. Bahkan ketika suaminya sendiri tidak mencintainya.
Dan kemarin, ketika Lorenzo mengatakan ingin bercerai, Alina justru menerima keputusan itu tanpa memohon sedikit pun. Tidak menangis, tidak berteriak, bahkan tidak bertanya kenapa. Seolah-olah dia memang sudah lama menunggu kebebasan itu.
Lorenzo menatap wajah istrinya. Alina sedang menuangkan air untuk Valentina. Senyumnya tetap lembut. Gerakannya sopan. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa hatinya sedang berantakan.
Lorenzo tiba-tiba merasa malu. Dia selama ini sibuk merasa dirinya korban pernikahan yang tidak dia inginkan. Padahal mungkin, Alina juga korban dari pernikahan yang sama. Bedanya, Alina tidak pernah mengeluh.
Dan sekarang, Lorenzo berharap kemampuan aneh ini tidak pernah hilang. Bukan karena dia ingin mendengar ocehan Alina. Bukan pula karena dia ingin mengetahui rahasia istrinya. Tetapi karena dia ingin tahu berapa banyak luka yang selama ini disembunyikan wanita itu di balik senyumnya.
Alina kembali duduk di samping tempat tidur. “Masih sakit?”
Lorenzo menatapnya. “Sedikit.”
Alina merapikan bantal di belakang kepalanya. “Kalau begitu istirahat.”
Tangan Alina berhenti sebentar di atas selimut. “Jangan memaksakan diri.”
Lorenzo menatap tangan itu. Kemudian menatap wajah Alina.
“Alina.”
Wanita itu mengangkat wajah. “Iya?”
Lorenzo hampir mengatakan sesuatu. Namun, dia mengurungkan niatnya. Dia belum bisa memberitahu bahwa dia mendengar isi pikirannya.
“Terima kasih.”
Alina tersenyum. “Sama-sama.”
“Dia berterima kasih? Apa kecelakaan itu membuat otaknya bergeser sedikit, ya?”
Selama ini Lorenzo tidak pernah mengucapkan kata-kata itu kepada Alina. Makanya dia merasa heran.
Alina duduk di samping ranjang. Dia menarik napas perlahan dan mengembuskan lewat mulut.
“Aku capek.” Suara itu terdengar lebih pelan dari sebelumnya. “Aku benar-benar capek.”
Lorenzo menoleh. Alina sedang tersenyum kepada anggota keluarga mereka. Tidak ada setetes air mata pun di wajahnya. Namun, Lorenzo bisa merasakan kesedihan yang tersembunyi di balik pikirannya.
“Aku tidak pernah meminta banyak. Aku cuma ingin mereka berhenti menganggap aku sebagai istri yang harus selalu sempurna.”
Lorenzo terdiam. Rasa bersalah kembali menghantam dadanya. Selama tiga tahun pernikahan mereka, dia tidak pernah tahu, tidak pernah bertanya, bahkan tidak pernah mencoba memahami istrinya. Dia dengan mudah mengatakan bahwa Alina adalah wanita yang membosankan.
Kali ini ada sesuatu yang lain di rasakan oleh Lorenzo. Keinginan untuk membatalkan satu keputusan yang kemarin begitu dia yakini.
Perceraian itu mungkin tidak boleh terjadi. Karena sekarang Lorenzo ingin mengenal istrinya sendiri. Bukan Alina yang selama ini dilihat semua orang, tetapi Alina yang sebenarnya.
maka nya sebelum kamu benar2 menyalahkan seseorang atas kematian kaka mu..sebaik nya kamu telusuri dulu kebenaran nya sampai sedetail detail nya, jangan hanya meliat sepotong video yg g lengkap kamu langsung menyalahkan orang tanpa tau kebenaran yg sebenar benar nya....
setelah smua nya terbuka, sekarang kamu tanggung konsekuensi dendam mu Ed..karena akibat dendam mu kamu mencelakai Lorenzo yg notabene telah berusaha menyelamatkan kaka kamuu...
jadiiii siap2 hukum yg akan mengambil alih masalah kamu, Ed....
cepet sehat dn pulih lg y ka Santi,,biar Alina dn Lorenzo nya g kesepian 🤭
sehat selalu kakaaaa...!!!!
maka nya klo mo ngomong kebenaran itu d pikirin dulu baik buruk nya,,jangan hanya demi menyelamatkan diri sendiri kalian mengorbankan orang lain...lagian udh jelas2 4 kluarga udh berbicara tentang kejadian itu dn udh saling menerima dn memahami nya..kenapa kalian tiba2 seolah olah g tau apa2??? 😡
siap siaaaap kalian menerima erupsi nya seorang Robertoo!!!! ha ha haaaa
bikin emosi aj s Pabio ama s Darius inii..😤
hati2 atas pernyataan kalian, orang yg kalian fitnah bukan orang sembarangan..kalian seolah olah menuduh Lorenzo 100% bersalah, kalian menuduh Lorenzo menjadikan Xavier tameng bagi diri nya..padahal kalian tidak tau d balik tubuh Xavier yg tidak secara langsung membentengi tembakan bagi Lorenzo...kalian hanya berasumsi sendiri, ato mungkin kalian hanya berlindung dr kemarahan Edgar?
tp kalian menyepelekan kemarahan nya Alina dn papa Alessandro klo terbukti pernyataan kalian membuat Lorenzo menderita dn terluka!!!
semoga lekas sembuh kak, sehat²...
tau gitu dulu jgn ditolong
Pabio dn Darius kalian layak nya anjing yg lg kejepit d tolongin, tp ngebalas gigit orang yg nolongin kalian ckckck....
seandai nya dulu kalian g d tolongin Lorenzo, aq yakin kalian g akan hidup kaya sekarang..kalian benar2 teman durjanaa, g mikir apa ketika Lorenzo mati matian nolongin kalian..sampe2 Lorenzo mempertaruhkan nyawa nya jg??? 😡
sekarang malah kalian memutarbalikkan fakta..ingaaat hukum tabur tuai Pabio, Dariuuus!!!! 😤
Semangat thor semoga lekas sehat ya
dn kebenaran biar cepat terungkap ,, meski semua terdengar sulit ,,