NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Putusan dan Pintu yang Terbuka

Enam bulan berlalu, dan musim hujan kembali ke kota.

Pengadilan Negeri memutus perkara Bramantyo Prasetiya pada hari Selasa yang mendung. Ruang sidang penuh sesak oleh wartawan, karyawan perusahaan, dan orang-orang yang hanya ingin menyaksikan jatuhnya seorang yang dulu dianggap paling berwibawa di keluarga itu.

Andien duduk di bangku pengunjung baris ketiga, mengenakan kebaya biru tua yang dijahit Bu Rukmini, rambutnya disanggul sederhana. Di sampingnya, Bu Rukmini duduk tegak dengan tas kecil di pangkuan, tampak jauh lebih sehat dari setahun lalu, pipinya berisi dan batuknya nyaris hilang. Di sisi lain Andien, Laras duduk diam, blus krem dan rambut tersanggul rendah, ketenangannya kini bukan lagi topeng melainkan sesuatu yang telah ia peroleh dengan harga mahal.

Carlo duduk di barisan depan, sendirian. Lengannya sudah bebas dari kain gendong, tetapi ia menyentuh bahu kirinya sesekali, kebiasaan yang belum hilang.

"Dengan ini," hakim ketua membacakan, suaranya datar dan berat, "majelis menyatakan terdakwa Bramantyo Prasetiya terbukti bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan, perencanaan pembunuhan berencana, penculikan, dan pembiaran yang mengakibatkan kematian. Menjatuhkan pidana penjara selama dua puluh tahun."

Gumam panjang memenuhi ruangan. Di kursi terdakwa, Bram menunduk. Ia tampak jauh lebih kecil dari pria berbatik yang dulu duduk di sofa keluarga Prameswari dengan tawa menggelegar. Rambutnya sepenuhnya putih sekarang, dan tangannya yang terborgol bergetar halus di pangkuan.

Ketika dua petugas menuntunnya keluar, ia berhenti sejenak di depan barisan pertama. Matanya bertemu mata Carlo.

Tak ada kata. Hanya anggukan kecil dari Carlo, nyaris tak terlihat, seperti pengakuan antara dua orang yang telah kehilangan hal yang sama dengan cara yang berbeda.

Bram menunduk dan melangkah pergi.

---

Hasil sidang lainnya telah dibacakan dalam beberapa pekan sebelumnya. Hendra Subroto divonis dua belas tahun, dipotong karena kerja samanya dengan penyidik dan kesaksiannya yang membuka jaringan Bram. Pak Darto menerima empat tahun. Hakim, setelah mendengar kesaksian tentang ancaman terhadap putranya, menyatakan bahwa ia bertindak di bawah paksaan, tetapi tetap bersalah atas penikaman itu. Anak Pak Darto, Rizal, kini bekerja di bengkel kecil dan menjenguk ayahnya setiap Minggu.

Raka Pradipta mendapat hukuman percobaan tiga tahun. Carlo hadir sebagai saksi meringankan, dan kesaksiannya, singkat dan tanpa hiasan, membuat ruang sidang terdiam. "Dia menyimpan semuanya," kata Carlo di hadapan hakim. "Saat tak ada yang menyuruhnya, dia menyimpan semuanya, karena tahu suatu hari seseorang akan membutuhkannya. Itu bukan tindakan orang jahat."

Setelah sidang, Raka menunggu di tangga pengadilan dengan map kosong di tangan. Carlo menghampirinya, tanpa jas, tanpa pengawal.

"Aku belum menawarkan pekerjaan," katanya.

"Aku tahu, Pak."

"Tapi ada lowongan di bagian audit internal. Posisi baru. Tidak ada yang mengawasimu di sana kecuali dirimu sendiri." Carlo menatapnya. "Kamu tahu cara membaca angka yang disembunyikan orang."

Raka tak bisa bicara. Ia hanya mengangguk, dan Carlo menepuk bahunya sekali, singkat, sebelum berjalan pergi.

---

Perceraian Laras dan Carlo diputus dua minggu sebelum vonis Bram, tanpa sidang berlarut-larut.

Mereka duduk berdampingan di ruang mediasi yang dingin, masing-masing didampingi pengacara. Tak ada pertengkaran harta, tak ada saling menyalahkan. Carlo menandatangani setiap berkas yang diajukan Laras tanpa membaca ulang. Ketika hakim menanyakan apakah masih ada kemungkinan rujuk, Laras menatap ke depan, lama, dan menjawab dengan suara tenang.

"Tidak, Yang Mulia. Tapi saya ingin tercatat bahwa kami berpisah dengan hormat."

Di luar gedung pengadilan agama, Carlo mengulurkan tangan. Kali ini Laras menyambutnya.

"Terima kasih," kata Carlo. "Untuk dua tahun."

"Dan untuk bagian yang buruk?"

"Untuk itu juga. Karena dari situlah aku belajar."

Laras tersenyum, sedih dan lega sekaligus. "Aku akan merindukan sup ayam itu."

"Aku belum pernah memakannya dengan benar. Aku terlalu curiga."

Mereka tertawa, pelan dan getir, lalu berpisah ke dua arah berbeda tanpa menoleh ke belakang. Dan itu, Laras tahu, adalah akhir yang paling jujur yang bisa mereka miliki.

---

Rumah di Menteng itu dibuka pada hari Sabtu ketiga bulan April.

Pohon beringin di halamannya dipangkas, pagar besinya dicat ulang putih, dan di gerbang tergantung papan kayu sederhana dengan huruf-huruf cokelat tua yang dilukis tangan.

**RUMAH PULANG**

*Singgah untuk keluarga yang menemani.*

Di halaman, tiga puluh kursi plastik berderet di bawah tenda, diisi keluarga pasien dari berbagai desa, ibu-ibu berkerudung, bapak-bapak bercaping, anak-anak kecil yang berlari-lari di antara kaki kursi. Seorang dokter muda dari rumah sakit Laras berdiri di dekat pintu, menjawab pertanyaan seorang nenek tentang obat tekanan darah. Dari dapur besar di bagian belakang, aroma sambal terasi dan ikan bakar menyebar ke seluruh rumah.

Andien berdiri di tengah dapur itu dengan celemek putih dan rambut diikat tinggi. Tangannya cekatan memotong bawang, matanya menyapu lima kompor yang menyala, tiga relawan yang mondar-mandir, dan seorang ibu tua dari desa jauh yang mengintip malu-malu dari balik pintu.

"Bu, masuk saja," katanya ramah. "Duduk di sini. Sudah makan?"

"Belum, Nduk," jawab perempuan itu, ragu.

"Kalau begitu duduk. Ini nasi hangat. Ibu pilih mau lauk apa, nanti Dien ambilkan."

Perempuan itu duduk di bangku kayu kecil di sudut dapur, dan Andien meletakkan piring di tangannya tanpa banyak bicara. Hanya itu. Tetapi mata ibu tua itu berkaca-kaca, seperti seseorang yang sudah lama tak diperlakukan sebagai tamu.

"Nduk," bisiknya, "ini rumah siapa?"

Andien tersenyum. "Rumah semua orang yang butuh pulang, Bu."

Ia kembali ke talenan dengan perasaan hangat yang belum pernah ia kenal, bukan karena dipuji, bukan karena dibutuhkan, tetapi karena ia sedang berada di tempat yang ia pilih sendiri, melakukan hal yang ia inginkan.

Di ambang pintu dapur, Laras berdiri bersandar pada kusen, mengenakan jas dokter di atas gaun sederhana, tersenyum memperhatikan.

"Kamu sudah lupa kalau ini hari peresmian," katanya. "Wartawan menunggu di halaman. Ayahku juga sudah datang membawa karangan bunga yang menurutnya terlalu besar."

"Sebentar, Bu. Sambal ini belum jadi."

"Andien." Laras berjalan masuk dan mengambil pisau dari tangannya dengan lembut. "Ada orang yang bisa mengurus sambal. Hari ini kamu yang membuka pintunya."

Andien menatapnya, bingung. "Saya?"

"Namamu di papan pendiri. Bukan di bawah, bukan di pojok. Di samping namaku." Laras menunjuk papan kecil di dekat pintu depan yang belum sempat Andien lihat. "Andien Suparman, Kepala Dapur dan Pendiri Bersama."

Andien tak bisa bicara. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, dan air matanya, yang sudah lama menjadi sahabat dalam sunyi, jatuh lagi, tetapi kali ini dengan rasa yang berbeda.

"Bu Laras..."

"Jangan menangis, nanti sambalnya keasinan." Laras tersenyum, matanya sendiri basah. "Kamu menolongku lebih dari yang kamu kira, Andien. Waktu semuanya hancur, kamu satu-satunya yang membuatku yakin bahwa kebaikan masih punya tempat di dunia ini."

Mereka berpelukan di tengah dapur yang riuh, dua perempuan yang secara hukum tak pernah ditakdirkan menjadi apa pun bagi satu sama lain, namun entah bagaimana menjadi sesuatu yang tak punya nama, lebih dari sahabat, lebih dari saudara, sesuatu yang lahir dari kehilangan yang sama dan keberanian yang sama.

---

Menjelang siang, upacara peresmian dimulai di halaman depan. Hartono Prameswari memberikan sambutan singkat dan kaku, memuji putrinya dengan cara yang membuat Laras memerah. Seorang pejabat dinas kesehatan menggunting pita. Anak-anak bertepuk tangan tanpa tahu persis untuk apa.

Andien berdiri di barisan belakang bersama Bu Rukmini, tersenyum kecil melihat semuanya.

"Nduk," bisik Bu Rukmini, menyikut lengannya. "Lihat ke pagar."

Andien menoleh.

Di luar pagar besi yang dicat putih, di bawah naungan beringin, berdiri sosok pria dengan kemeja putih sederhana, lengan digulung sampai siku, tanpa jas dan tanpa sopir. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana dengan tangan di saku, menonton dari kejauhan seperti seseorang yang tahu bahwa ia belum diundang.

Carlo.

Mata mereka bertemu. Ia tidak melambai, tidak tersenyum berlebihan. Hanya mengangguk, kecil dan hormat, lalu menunduk dan mulai berbalik pergi.

"Mas!"

Suaranya keluar sebelum ia sempat berpikir. Beberapa kepala menoleh, tetapi Andien tak peduli. Ia melepas celemek, menyerahkannya ke tangan Bu Rukmini, Lalu berjalan menembus kerumunan menuju gerbang.

Carlo berhenti. Ia berbalik perlahan.

"Mas bilang tidak akan datang kecuali diundang," kata Andien, berhenti satu rentang tangan di depannya, tepat seperti dulu.

"Aku tidak diundang."

"Berdiri di luar pagar sejak pagi juga bukan kesopanan, Mas."

"Aku tidak tahu harus bagaimana." Carlo tersenyum kikuk, seperti anak sekolah yang tertangkap mengintip. "Kamu bilang rumah ini dikelola oleh yang punya dapur. Aku hanya donatur yang tidak berhak ikut campur."

"Donatur boleh datang ke acara peresmian."

"Aku tidak mau mengganggu hari pentingmu."

"Mas." Andien menatapnya lurus. "Enam bulan ini, Mas tidak pernah sekali pun mengetuk pintu kecuali saya yang mengundang. Mas menepati semuanya. Menunggu, tidak menelepon sembarangan, hanya mengirim surat sebulan sekali dan menanyakan kabar Ibu."

"Itu yang kamu minta."

"Itu yang Mas lakukan tanpa mengeluh." Andien menarik napas, dan suaranya sedikit bergetar. "Itu tanda yang Mas butuhkan untuk membuktikan, bukan?"

Carlo terdiam. Angin siang menggoyang daun beringin di atas kepala mereka.

"Dien..."

"Masuk, Mas."

Carlo menatapnya, tak percaya. "Aku boleh?"

"Ada kursi kosong di barisan belakang, di samping Ibu." Andien tersenyum, hangat dan sedikit nakal. "Dan sambal ikan bakar yang Mas belum pernah coba. Resep baru. Menurut Mas, kalau sambalnya dua kali lebih pedas dari yang dulu, tetap enak atau tidak?"

Carlo tertawa, tawa pertama yang benar-benar lepas sejak ia keluar dari ruang pemeriksaan itu. "Aku akan memakannya sampai habis, walau lidahku terbakar."

"Bagus." Andien mengulurkan tangan, bukan untuk menggenggam, hanya menunjuk jalan. "Silakan, Mas."

Carlo melangkah masuk melewati gerbang putih itu, di bawah papan kayu bertuliskan *Rumah Pulang*, sambil menatap nama-nama yang tertera di samping pintu. Di antara dua nama pendiri, ia berhenti sejenak, lalu tersenyum sendirian.

Di belakang mereka, dari barisan terakhir kursi plastik, Bu Rukmini menyeka mata dengan ujung kain dan berbisik pada diri sendiri, cukup pelan agar tak seorang pun mendengar, kecuali mungkin angin.

"Satu rentang tangan," gumamnya. "Tapi tinggal sejengkal lagi."

---

*Bersambung ke Bab 24...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!