NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Terancam Putus Sekolah

Hari Jumat yang ditakutkan itu akhirnya tiba.

Sinar matahari pagi menusuk lorong sekolah, tapi langkah Valeska terasa bagai menuju ruang eksekusi. Dengan kaki yang masih terbalut perban tipis di dalam sepatu sempitnya, Valeska berdiri di hadapan meja besar ruang TU. Di depannya, Pak Bambang menatap lembaran kertas tagihan sekolah dengan raut wajah berat.

"Valeska..." Pak Bambang menghela napas panjang, merapikan kacamata yang bertengger di hidungnya. "Sesuai kesepakatan minggu lalu, hari ini adalah batas akhir pelunasan SPP kamu yang menunggak tiga bulan. Bagaimana?"

Valeska merogoh saku seragamnya dengan tangan gemetaran. Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat kusam berisi tumpukan lembaran uang lima puluh ribuan—hasil keringatnya mencuci piring selama seminggu ini, minus potongan tiga hari dari Mas Bayu.

Dengan bibir bergetar, Valeska meletakkan amplop tipis itu di atas meja Pak Bambang.

"Ini... ini uang yang berhasil saya kumpulkan, Pak," cicit Valeska pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Memang belum cukup jutaan... tapi ini hasil kerja keras saya seminggu ini, Pak."

Pak Bambang mengambil amplop itu, menghitung isinya sekilas, lalu menatap Valeska dengan pandangan prihatin yang amat dalam.

"Valeska, nominal ini bahkan tidak cukup untuk membayar setengah dari tunggakan satu bulan," ujar Pak Bambang pelan. "Sekolah ini punya aturan yayasan yang ketat. Bapak tidak punya wewenang untuk menahan surat skorsing atau pemindahan kamu lagi."

Air mata yang sedari tadi ditahan Valeska akhirnya menetes, jatuh membasahi lantai granit ruang TU. Valeska menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon dengan suara tercekik.

"Pak... tolong, Pak... jangan keluarkan saya dari sekolah ini," histeris Valeska pelan, matanya merah memohon. "Saya janji bakal kerja lebih keras lagi! Saya bakal cuci piring dari sore sampai malam! Tolong kasih saya waktu sedikit lagi, Pak... Saya cuma punya sekolah ini buat masa depan saya..."

"Bukan Bapak tidak mau bantu, Nduk," pangkas Pak Bambang mengusap dadanya kasihan. "Tapi pihak yayasan sudah mengeluarkan keputusan. Jika sampai nanti siang belum ada pelunasan dari pihak keluarga atau wali, surat pengunduran diri kamu resmi diproses."

Dunia Valeska serasa runtuh. Dengan dada yang sesak luar biasa, Valeska mengangguk pasrah. Dia menarik kembali amplop tipisnya, berbalik, dan menyapu air matanya kasar sebelum melangkah keluar dari ruangan itu.

Klek.

Begitu pintu ruang TU terbuka, Valeska tersentak. Di depan pintu, Jena, Giselle, dan Clarissa berdiri membeku. Rupanya sedari tadi mereka bertiga menempelkan telinga di daun pintu, menguping seluruh percakapan di dalam.

Valeska mendongak kencang, menghapus sisa air mata di pipinya secara kasar dengan punggung tangannya, lalu memasang tatapan paling tajam dan ketus yang dia miliki.

"Ngapain lo bertiga di sini?! Nguping?!" bentak Valeska galak, menyamarkan rasa hancurnya di balik benteng keangkuhan.

Giselle dan Clarissa saling pandang dengan raut wajah yang tak biasa. Tidak ada tawa ejekan seperti biasanya. Untuk pertama kalinya, mereka melihat Valeska yang biasanya memegang kekuasaan tertinggi di sekolah beneran mengemis dan menangis demi uang beberapa ratus ribu.

Jena hanya diam mematung di sebelah Giselle. Dalam hatinya, dada Jena berdenyut aneh. Selama ini, dia kira Valeska cuma pura-pura miskin atau sekadar cari perhatian demi drama keluarga. Dia tidak pernah menyangka kalau Valeska benar-benar jatuh ke titik paling bawah dalam hidupnya—terancam putus sekolah karena tak punya uang sama sekali.

"Val..." suara Clarissa terdengar ragu dan jauh lebih pelan dari biasanya. "Lo... lo beneran kagak ada uang buat bayar SPP?"

"Bukan urusan lo!" semprot Valeska ketus, hendak menerobos berdiri di antara mereka.

Giselle menahan lengan seragam Valeska pelan—bukan untuk mendorong, melainkan menahannya. "Val, tunggu dulu. Kita... kita mantan temen lo. Kalau emang nominalnya cuma segitu, gue sama Clarissa bisa kok bantuin patungan. Tabungan kita masih cukup buat talangin SPP lo bulan ini."

"Iya, Val," timpal Clarissa mengangguk cepat. "Gue bisa minta uang lebih sama nyokap gue. Lo gak usah keluar dari sekolah..."

Jena masih tetap membisu di tempatnya, menatap Valeska dengan sorot mata campur aduk—antara gengsi sebagai rival dan rasa iba yang mendadak muncul.

Valeska menepis tangan Giselle dengan gerakan kasar dan penuh keangkuhan. Dia menyunggingkan senyum sinisnya yang paling dingin, menatap ketiga cewek di depannya dengan kepala tegak.

"Bantuan?" cibir Valeska dengan nada suara meremehkan. "Lo pikir gue sudi terima uang kasihan dari kalian?"

Clarissa mengernyit bingung. "Val! Kita beneran mau bantu! Lo mau dikeluarkan dari sekolah cuma gara-gara gengsi lo?!"

"Gue emang miskin sekarang, tapi gue kagak semurah itu buat nampung rasa kasihan dari pengkhianat kayak kalian!" tembak Valeska penuh keangkuhan, matanya menatap Jena lurus-lurus.

"Simpan uang sok peduli kalian itu buat beli otak baru!" lanjut Valeska pedas. "Mau gue dikeluarkan dari sekolah ini atau kagak, gue tetep Valeska. Dan gue kagak sudi utang budi sama sampah!"

Tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk membalas, Valeska menghentakkan kakinya dan melangkah lebar meninggalkan koridor ruang TU, berjalan dengan kepala tegak tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

***

DUARRRR!

Suara petir membelah langit sore yang mendung pekat. Kilatan cahaya putih menyambar kilat, disusul gemuruh dahsyat yang membuat dada siapa pun bergetar. Hujan yang tadinya hanya gerimis tipis mendadak tumpah dari langit seperti dicurahkan, menyapu jalanan kota dengan air dingin yang menusuk tulang.

Valeska terus berjalan menembus derasnya hujan. Dia tidak berlari berteduh, tidak juga mempercepat langkahnya. Seragam sekolahnya basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya yang kian kurus. Air hujan mengalir deras melewati wajahnya, menyatu dengan air mata hangat yang tak berhenti menetes dari kelopak matanya yang membengkak.

DUARR!

Petir kembali menyambar di atas sana. Langkah Valeska akhirnya terhenti di pinggir trotoar yang sepi, di bawah deretan pohon tua yang bergoyang dihantam angin kencang. Tumit kakinya yang berdarah di dalam sepatu basah tak mampu lagi menopang berat badannya. Valeska ambruk, berlutut di atas trotoar yang dingin dan tergenang air.

Dia meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa, memukul-mukul ulu hatinya yang serasa dihantam palu besar.

"Kenapa, Tuhan?!" jerit Valeska histeris, suaranya pecah bersaing dengan deru hujan dan dentuman petir. "Kenapa harus gue?! Kenapa dunia gue harus hancur secepat ini?!"

Valeska mendongak ke arah langit yang kelam, membiarkan tumpahan air hujan membilas wajahnya yang pucat pasi.

"Apa salah gue?!" tumpah seluruh rasa frustrasi dan keputusasaan yang dipendamnya selama ini. "Iya, gue tahu dulu gue sombong! Gue tahu gue jahat! Tapi apa harus dibalas sekejam ini?! Apa harus semuanya diambil dalam sekejap?!"

DUARRR!

Kilatan petir kembali menerangi wajah Valeska yang berantakan. Isak tangisnya makin menjadi-jadi, dadanya naik turun dengan napas tersengal-sengal.

"Papa ditangkap... Mama pergi tinggalin gue... Rumah gue disita... Temen-temen gue ngebuang gue..." oceh Valeska dengan suara gemetar hebat, meremas jemarinya yang dingin dan memerah di atas genangan air. "Gue cuma mau sekolah! Gue cuma mau bertahan hidup! Tapi kenapa uang lima puluh ribu aja susah banget?! Kenapa buat makan nasi sama tempe aja gue harus berdarah-darah?!"

Valeska menunduk dalam-dalam, menyandarkan dahi basahnya ke atas lututnya sendiri. Tubuhnya menggigil hebat, bukan cuma karena dinginnya air hujan, tapi karena rasa sepi dan hampa yang membakar jiwanya dari dalam.

"Gue capek..." bisik Valeska parau, suaranya tercekik di tengah gemuruh angin malam. "Gue capek pura-pura kuat di depan semua orang... Gue kangen hidup gue yang dulu... Gue kangen Papa... Gue kangen dipeluk Mama..."

DUARRR!

Petir menyambar lagi, memancarkan bayangan kelam di sekelilingnya. Valeska mengepalkan tangannya di atas lantai trotoar yang basah, menangis sesenggukan tanpa ada satu orang pun yang merangkulnya.

"Kenapa enggak ada satu orang pun yang tersisa buat gue...?" tangis Valeska pilu, suaranya tenggelam di antara deru hujan yang makin lebat.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!