"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Rian Berdarah Dingin, (Revisi)
Kantin siang itu terasa seperti panggung teater yang hening.
Meskipun Ziva memesan siomay dengan santai, dia tahu hampir semua mata di barisan meja pojok sedang melirik ke arah mereka.
Rian, di sisi lain, benar-benar fokus menghabiskan baksonya seolah tidak baru saja meledakkan bom reputasi di koridor XII A.
"Lo keren juga tadi," celetuk Ziva, menopang dagu dengan kedua tangannya. Matanya yang bulat menatap Rian tanpa kedip. "Gue pikir lo bakal tipe-tipe cowok protagonis yang main aman dan bilang, ‘Udah, Ziv, biarin aja mereka dapat balesannya sendiri.’ Ew, najis banget kalau lo se-lembek itu."
Rian menelan makanannya, lalu menatap Ziva datar. "Gue gak suka ribet. Kalau bisa selesai sekali tebas, ngapain nunggu takdir?"
Ziva tertawa renyah. Tipe tawa yang blak-blakan dan tidak dibuat-buat. "Bagus. Gue benci cowok menye-menye. Tapi lo tahu kan, Marvel gak bakal diem aja? Sepupunya keseret, harga dirinya sebagai bos angkatan juga barusan lo injak-injak."
"Biarin." Rian meneguk es teh manisnya sampai tandas. "Dia cuma cowok manja yang kebetulan punya geng."
Ziva tersenyum miring, ada binar kepuasan yang tidak disembunyikannya. Rian yang sekarang sudah berubah jauh dari Rian beberapa bulan lalu—Rian yang selalu diam saat disenggol, yang memilih mengalah demi 'kedamaian' sekolah. Sekarang, singa tidurnya sudah bangun, dan Ziva suka setengah mati melihat pemandangan ini.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sampai bel pulang berbunyi.
Aroma aspal yang terbakar matahari menyambut mereka di area parkir belakang. Area ini adalah wilayah kekuasaan anak-anak motor, tempat di mana Marvel dan kelompoknya biasa nongkrong sebelum keluar gerbang.
Ziva sedang memakai helmnya saat menyadari suasana parkiran mendadak sepi. Anak-anak lain yang biasanya ribut menyalakan mesin, mendadak menuntun motor mereka menjauh dengan terburu-buru.
Di depan motor matic milik Rian, Marvel sudah berdiri sendirian.
Tanpa gerombolannya. Seragamnya sudah dikeluarkan, tasnya disampirkan di satu bahu, dan tatapan matanya mengunci Rian dengan amarah yang tertahan sejak jam pelajaran pertama.
"Ziv, lo balik duluan. Naik ojol," kata Rian pelan, suaranya rendah tapi tidak bisa dibantah. Dia meletakkan tasnya di atas jok motor.
"Hah? Ogah," sahut Ziva cepat. Sifat keras kepalanya langsung keluar. "Gue mau nonton. Lagian ini kan gara-gara gue."
"Ziva. Balik." Rian menoleh, menatap Ziva dengan intensitas yang membuat cewek itu mendecak sebal, namun akhirnya melangkah mundur beberapa meter. Ziva cewek yang nekat, tapi dia tidak bodoh. Dia tahu kapan harus memberi ruang bagi dua cowok yang egonya sedang berbenturan.
Marvel maju dua langkah. Jaraknya dengan Rian sekarang tidak sampai satu meter.
"Lo ngerasa hebat barusan di kelas?" Marvel membuka suara, nadanya penuh cemoohan. "Lo bikin Gaby nangis, lo seret nama Keysha depan semua orang. Lo pikir lo siapa, Yan? Baru berani numpang tenar lewat cewek ini?" Marvel melirik Ziva dengan tatapan merendahkan.
Rian sama sekali tidak terpancing. Wajahnya sedatar papan tulis. "Gue gak butuh tenar. Gue cuma minta pertanggungjawaban. Kalau sepupu lo atau temen-temen lo ngerasa terganggu, suruh mereka dateng ke gue langsung. Gak usah main belakang pake akun bot."
"Halah, bacot!"
Marvel kehilangan kesabaran. Baginya, Rian hanyalah parasit yang tiba-tiba berani menggigit. Harga diri Marvel sebagai pelindung sirkelnya tercoreng telak. Dia tidak bisa membiarkan dominasinya runtuh begitu saja di tangan cowok yang selama ini dianggapnya tidak ada apa-apanya.
Wush!
Tanpa aba-aba, tanpa peringatan verbal apa pun, Marvel melayangkan pukulan tangan kanan yang sangat cepat ke arah rahang kiri Rian.
Pukulan itu mentah, penuh emosi, tapi memiliki kekuatan yang cukup untuk membuat seseorang pingsan jika kena telak.
Beberapa anak yang menonton dari jauh spontan menahan napas. Ziva bahkan hampir berteriak.
Namun, suara hantaman daging yang mereka bayangkan tidak pernah terdengar.
Plak!
Gerakan Marvel terhenti di udara. Hanya beberapa sentimeter sebelum menabrak kulit wajah Rian.
Mata Marvel membelalak.
Rian sama sekali tidak menghindar. Dia bahkan tidak berkedip. Dengan kecepatan refleks yang tidak masuk akal untuk ukuran cowok yang jarang ikut tawuran, tangan kiri Rian sudah bergerak naik, mencengkeram pergelangan tangan Marvel dengan sangat kuat.
Suasana parkiran mendadak membeku. Hanya ada suara deru angin siang dan napas Marvel yang memburu frustrasi.
Marvel mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Rian seperti borgol besi.
Benar-benar tidak bergeser satu senti pun. Di sinilah letak kekeliruan Marvel selama ini: dia mengira Rian lemah hanya karena Rian memilih untuk diam. Dia tidak kalau Rian sudah di didik oleh geng motor abang nya Ziva yan terkenal bringas.
Rian menatap Marvel perlahan. Sepasang matanya sedingin es, menatap lurus ke dalam manik mata Marvel yang mulai menyiratkan keterkejutan dan setitik rasa panik yang disembunyikan.
"Cuma segini?" bisik Rian, suaranya sangat rendah, hampir menyerupai geraman.
Ziva, yang menonton dari jarak aman, menahan napasnya dengan senyum yang perlahan terukir di sudut bibirnya. Ini dia. Ini momen yang dia tunggu-tunggu. Rian tidak lagi bersembunyi di balik topeng 'anak baik-baik'.
Rian memiringkan kepalanya sedikit, cengkeramannya pada pergelangan tangan Marvel semakin mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Marvel meringis kecil, menahan sakit yang mulai menjalar dari pergelangan tangan hingga ke bahunya.
"Gue udah bilang, Vel," Rian berkata dengan nada yang begitu tenang namun mematikan. "Cara main lo kuno. Kalau lo mau main fisik... pastikan lo bisa numbangin gue dalam satu kali pukul. Karena kalau enggak..."
Rian perlahan menurunkan tangan kanan Marvel yang masih dicengkeramnya, memaksa cowok populer itu untuk sedikit membungkuk menyamakan tinggi mereka.
"...Gue yang bakal pastiin lo gak bisa megang kemudi mobil lo besok pagi."
......................
...***************...
Tbc,