-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
****
Gedung penthouse mewah bernuansa serba hitam dan abu-abu di pusat kota itu berdiri sunyi. Pintu unit utama berakses sensor sidik jari terbuka pelan, menyambut kehadiran pemiliknya. Ivandra melangkah masuk ke dalam apartemennya yang luas. Suasana di dalam ruangan itu gelap gulita, dingin, dan sepi—persis seperti karakter pria yang menghuninya.
Tanpa berniat menyalakan lampu utama, Ivandra hanya membiarkan pendar cahaya dari balik jendela kaca raksasa menuntun langkah kakinya menuju kamar tidur. Ia melempar kunci mobil Porsche dan jas klinisnya sembarangan ke atas sofa kulit. Pria bertubuh jangkung itu melepas satu per satu kancing kemeja hitamnya, lalu melangkah lurus menuju kamar mandi utama.
Gemericik air shower hangat yang membasahi tubuh tegapnya perlahan meluruhkan kelelahan usai operasi darurat berjam-jam. Namun, air hangat itu sama sekali tidak sanggup memadamkan pendar gairah asing yang membakar benaknya—bayangan tawa lepas Aini di bawah lampu temaram warung Lamongan tadi terus terngiang, berputar-putar di dalam kepalanya tanpa izin.
Ia begitu fokus menghentikan bayangan itu hingga tidak menyadari ponsel mahal yang tergeletak di atas meja rias di luar kamar mandi telah bergetar berulang kali. Puluhan panggilan tak terjawab terus menumpuk di layarnya.
Dua puluh menit kemudian, Ivandra keluar dengan handuk putih melilit pinggangnya. Rambut hitamnya yang basah meneteskan sisa-sisa air ke atas bahunya yang kokoh. Pria itu meraih ponselnya yang masih menyala.
Mata elangnya mendapati delapan belas panggilan tak terjawab, seluruhnya berasal dari kontak bertuliskan "Mama".
Ivandra mendesah pelan. Sudah biasa. Dengan jemari panjangnya, ia menggeser layar dan memanggil kembali nomor sang Nyonya Besar Wigunadi.
Hanya butuh dua detik sebelum panggilan itu terhubung.
"Ivandra Arya Wigunadi! Kamu ini ke mana saja jam segini baru angkat telepon Mama?!" Suara melengking dan penuh tuntutan dari seberang telepon seketika memenuhi ruangan yang sunyi.
Ivandra memindahkan ponselnya sedikit menjauh dari telinga, melangkah santai menuju lemari pakaian sembari menghela napas panjang yang teramat berat. Ia sudah terbiasa dengan drama malam dari ibundanya.
"Ivan baru selesai mandi, Ma," jawab Ivandra datar tanpa beban. "Ada apa? Tumben Mama menelepon berkali-kali malam begini?"
"Tumben kamu bilang?! Kamu itu sudah seminggu tidak ada kabar, tidak pernah mampir pulang ke rumah, dan selalu beralasan sibuk di rumah sakit!" omel Mamanya tanpa henti. "Mama ini kepikiran kamu, Ivan!"
Ivandra mengenakan kemeja santainya dengan gerakan tenang. "Ivan sibuk di ruang operasi, Ma. Pasien Bedah Saraf tidak bisa ditunda cuma buat acara kumpul-kumpul."
"Alasan terus! Kamu itu ya..." Suara di seberang sana tertahan sejenak, berganti menjadi intonasi penuh kejengkelan yang paling sering Ivandra dengar sepanjang hidupnya. "Coba dipikir, Ivan. Umurmu itu sudah tiga puluh lima tahun! Kamu dokter spesialis lulusan terbaik luar negeri, tampan, kaya raya, punya rumah sakit sendiri... tapi kenapa sampai detik ini belum ada tanda-tanda kamu mau menikah, hah?!"
Ivandra menyisir rambut basahnya ke belakang menggunakan jemari tangan. "Ivan belum berminat, Ma."
"Belum berminat sampai kapan?! Teman-teman sebaya kamu anak-anaknya sudah pada masuk SD!" lanjut Mamanya makin menggebu-gebu. "Mama bingung sama kamu. Apa sih yang kurang dari kamu? Nggak ada yang salah kan dari kamu?"
Ivandra menatap pantulan dirinya di cermin besar. Bibirnya yang tipis menyunggingkan senyum sinis yang tipis.
"Nggak ada yang salah, Ma," sahut Ivandra santai, nada suaranya terdengar sangat provokatif.
"Terus kenapa nggak ada wanita yang mau bersamamu?"
"Mungkin mereka takut," balas Ivandra dingin namun penuh sindiran halus. "Mereka takut karena tahu bakalan punya ibu mertua yang cerewet seperti Mama."
Keheningan singkat terjadi di seberang telepon, seolah kata-kata Ivandra baru saja menyentuh saraf sensitif sang ibu.
"IVANDRA!"
Pekikan menggelegar dari Mamanya meluncur dahsyat melalui pengeras suara ponsel, begitu keras hingga Ivandra bisa mendengar suara benturan cangkir di seberang sana—tanda bahwa Ayahnya yang duduk di samping Mamanya ikut terkejut setengah mati sampai tersedak minumannya.
Ivandra terkekeh sangat pelan, sebuah kekehan langka yang tak pernah diperlihatkannya pada siapa pun di rumah sakit.
"Kamu ini bener-bener ya! Kurang ajar sekali sama Mama sendiri!" omel Mamanya dengan napas memburu. "Awas kamu ya, pokoknya besok malam kamu HARUS pulang ke rumah utama! Nggak ada alasan operasi atau pasien! Mama dan Papamu sudah menyiapkan acara makan malam sangat penting. Kalau kamu nggak datang, Mama bakal sita seluruh sahammu di rumah sakit!"
TUT!
Panggilan diputus secara sepihak oleh sang Nyonya Besar. Ivandra menurunkan ponsel dari telinganya, menggelengkan kepala pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya di tepi ranjang king size-nya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya melayang pada ancaman ibundanya—makan malam penting yang terasa seperti firasat buruk.
**
Sementara itu, di sudut kota lainnya, sebuah kamar kos sederhana bernuansa serba putih dan merah muda tampak temaram.
Aini baru saja melangkah masuk usai menempuh perjalanan singkat dari warung Lamongan. Tubuhnya rasanya remuk redam setelah seharian beraktivitas di rumah sakit. Setelah melepaskan sepatu pantofelnya dan membersihkan diri singkat, Aini langsung merebahkan tubuh mungilnya di atas kasur empuk.
Aini menghembuskan napas panjang yang lega, memeluk guling kesayangannya. Di saat matanya mulai berat menahan kantuk, ponsel di samping bantalnya berdering nyaring, menampilkan nama "Bunda Tersayang".
Aini menyunggingkan senyum manis yang tulus. Rasa lelahnya seolah menguap begitu saja. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Assalamualaikum, Bunda..." sapa Aini dengan suara lembutnya yang khas, penuh kehangatan.
"Waalaikumsalam, Aini sayang..." Suara lembut dan penuh kasih sayang dari Bundanya menyapa balik dari seberang sana. "Anak Bunda baru pulang ya? Suaranya terdengar capek banget, Nak."
Aini terkekeh pelan, mengubah posisinya menjadi miring. "Iya, Bunda. Aini baru aja selesai sif malam dan makan malam sama teman-teman koas di luar. Tapi Aini baik-baik aja kok, Bunda."
"Alhamdulillah kalau begitu," tutur Bundanya lembut. "Gimana stase kamu di rumah sakit, Nak? Lancar? Dokter pembimbing kamu baik kan?"
Mendengar pertanyaan itu, bayangan wajah tampan namun sedingin es milik dr. Ivandra mendadak melintas jelas di benak Aini. Aini mengerucutkan bibirnya gemas di kegelapan kamar.
Baik dari mananya? Galak dan menyebalkan begitu! batin Aini merintih.
Namun, Aini menahan diri agar tidak membuat ibundanya khawatir. "Lancar kok, Bunda. Dokter pembimbing Aini... ya, sangat tegas dan disiplin. Aini belajar banyak hal di sini."
"Syukurlah kalau begitu, sayang. Ingat ya, selalu jaga kesehatan, jangan sampai lupa makan. Bunda nggak mau dengar kamu sakit lagi."
"Iya, Bunda. Aini selalu ingat pesan Bunda," sahut Aini manja.
Keheningan lembut sempat terjalin sejenak di antara ibu dan anak itu, sebelum suara Bundanya kembali mengalun dengan nada yang sedikit berubah—terdengar lebih serius dan penuh keraguan.
"Terima kasih ya, anak cantik Bunda. Sekarang kamu istirahat ya, kasihan tubuhmu sudah capek. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Bunda..."
Panggilan pun terputus. Aini meletakkan ponselnya di atas meja kecil, menatap langit-langit kamar kosnya dengan seribu pertanyaan di dalam kepala. Roda takdir kini telah berputar kencang tanpa bisa dihentikan. Baik Aini maupun Ivandra sama sekali tidak menyadari bahwa acara "makan malam penting" yang disiapkan oleh keluarga masing-masing besok malam adalah titik temu tempat takdir mereka dipertemukan secara resmi dalam ikatan perjodohan.
Bersambung....
jangan gantung rasa penasaran saya... saya masih ngebayangin gimana cerita si Aini sama dokter 2 pintu itu di rumah sakit selama masa kehamilannya Aini 🥺🥺🥺
mampir ya ke novel ku