Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
Langit Jawa Timur bercahaya terang, lampu-lampu menggantung di sepanjang tenda besar. Sepanduk bertuliskan Haflah Khotmil Qur’an dan Wisuda Huffazh terbentang megah.
Seluruh santri duduk rapi. Suara lantunan Ayat mengalun merdu, membuat suasana terasa khitmat.
Di barisan depan, tampak Ibu Nyai Laila duduk anggun bersama para sesepuh. Di sampingnya, para pengurus pondok.
Tak lama, Kiai Arsyad berdiri di podium.
Suasana mendadak hening.
Beliau membuka dengan bismillah, lalu suara beliau mengalun tenang.
“Anak-anakku… mencintai Al-Qur’an bukan sekadar mampu melafalkan huruf-hurufnya.”
Beliau berhenti sejenak. Pandangannya menyapu seluruh santri dan para tamu undangan.
“Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal. Ia untuk dihidupkan.”
Angin malam berembus pelan, membuat suara beliau semakin terasa dalam.
“Kalau engkau merasa dekat dengan Al-Qur’an, maka lihatlah akhlakmu. Karena Al-Qur’an tidak hanya turun untuk dibaca, tapi untuk membentuk.”
Kiai Arsyad mengangkat mushaf di tangannya.
“Al-Qur’an itu cemburu. Ia tidak akan tinggal di hati yang dipenuhi kebencian. Ia tidak akan menetap di dada yang penuh iri.”
Beberapa santri menunduk.
“Kalau kamu mencintai Al-Qur’an, maka kamu harus siap disucikan. Siap dipatahkan egomu. Siap diubah jalannya. Karena Al-Qur’an akan menuntunmu… bahkan ketika itu tidak sesuai dengan keinginanmu.”
Suasana terasa syahdu malam itu.
“Dan ingat… orang yang mencintai Al-Qur’an tidak akan pernah sendirian. Karena di setiap ayat yang ia baca, Allah sedang berbicara langsung kepadanya.”
Tepuk tangan bergema pelan. Banyak yang meneteskan air mata, kalimat demi kalimat merasuk ke dalam hati mereka.
Acara disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Ponpes Darul huda.
Kamera bergerak perlahan menyorot para tamu undangan.
Lalu, tanpa sengaja, lensa berhenti pada dua sosok yang berdiri di depan tenda samping panggung.
Gus Hafiz.
Dan Ustadzah Afifah.
Mereka tampak berbincang serius. Tidak tertawa. Tidak berlebihan. Wajah keduanya sama-sama tenang.
Gus Hafiz sedikit menunduk mendengarkan. Ustadzah Afifah berbicara dengan ekspresi fokus.
Entah apa yang sedang mereka bahas.
Tapi beberapa detik kemudian, Gus Hafiz tersenyum tipis.
Senyum yang jarang terlihat.
Kamera menyorot cukup lama sebelum akhirnya berpindah.
Di kamar ndalem yang tenang, Anisa duduk di depan layar ponselnya.
Ia menonton siaran langsung itu sendirian.
Sejak awal ia mengikuti dengan tenang. Bahkan sempat tersenyum mendengar sambutan Kiai Arsyad. Tak lain ayah mertuanya.
Tapi ketika kamera menyorot dua sosok itu,
Tangannya menegang.
Dadanya bergemuruh.
Gus Hafiz.
Dan Ustadzah Afifah.
Ia memperhatikan tanpa berkedip.
Serius. layar sampai ia dekatkan.
Dan… senyum itu.
Senyum yang jarang sekali ia lihat.
Ada sesuatu yang runtuh pelan di dalam dadanya. Itu terasa sangat jelas.
Mungkin memang di sana tempat yang seharusnya ia berdiri, bukan dirinya.
Jari Anisa bergerak cepat, Ia menutup siaran itu, dengan satu kali tekan.
Layar ponselnya menjadi gelap.
Kamar terasa semakin sunyi.
Ia menarik napas dalam, lalu berdiri.
“Ngapain sih aku nonton…” gumamnya lirih.
Ia keluar kamar dan meletakkan ponselnya diatas rak penyimpanan, dan ikut bergabung dengan santriwati lain, yang tengah mengikuti kajian Ustadz Zakir di aula kecil.
Ustadz Zakir sedang menjelaskan tafsir tentang keikhlasan menerima takdir.
“Kita sering meminta yang kita mau,” ujar beliau. “Tapi lupa bahwa Allah memberi yang kita butuhkan.”
Kalimat itu seharusnya masuk dalam kepalanya. Seharusnya menyentuh.
Tapi bagi Anisa…
Otaknya terasa buntu.
Suara ustadz terdengar jauh. Seperti gema yang tidak benar-benar ia tangkap di telinganya.
Pikirannya kembali pada siaran live.
Senyum itu, benar-benar mengusi isi kepalanya.
Anisa mencoba fokus. Membuka mushafnya.
Huruf-huruf di depannya terasa kabur.
Untuk pertama kalinya sejak pindah ke Jawa Tengah, hafalannya terasa berat.
Dan ia sadar satu hal, mungkin Al-Qur’an memang cemburu.
Karena hatinya malam ini… tidak sedang penuh oleh ayat, melainkan oleh seseorang yang tidak pernah benar-benar ia lepaskan.
***
Hari-hari berlalu.
Di Pondok Pesantren Jawa Timur, aktivitas kembali seperti biasa.
Pagi itu, kelas Nabila mendadak lebih rapi dari biasanya. Santri-santri duduk tegak. Meja bersih. Buku sudah terbuka.
Karena yang mengajar adalah Gus Hafiz.
Pintu kelas terbuka pelan.
Gus Hafiz masuk dengan langkah tenang. Kemeja warna navy dipadu kain sarung terpasang rapi, sorot matanya tajam namun teduh. Tidak banyak bicara saat masuk, hanya mengucap salam yang langsung dijawab serempak.
Ia meletakkan kitab di meja. Pandangannya menyapu seluruh kelas.
“Hari ini kita lanjut bab tentang menjaga lisan,” ujarnya tenang.
Suasana langsung hening.
“Tiga penyakit yang sering dianggap ringan, padahal berat di sisi Allah, hasad, ghibah, dan namimah.”
Ia menulis tiga kata itu di papan tulis.
Hasad.
Ghibah.
Namimah.
Tulisannya tegas.
“Hasad,” ia menoleh ke arah santri, “adalah tidak suka melihat nikmat Allah ada pada orang lain.”
Nabila yang duduk di barisan tengah menelan ludah pelan.
“Kalau hatimu terasa sempit melihat orang lain bahagia, hati-hati. Itu bukan karena mereka salah. Bisa jadi hatimu yang belum lapang."
Kelas semakin sunyi.
Gus Hafiz kembali melanjutkan penjelasannya.
“Dan yang paling sering kita lakukan tanpa sadar adalah ghibah.”
Beberapa santri saling lirik.
Ia membuka mushaf kecil di tangannya.
Suara Gus Hafiz berubah lebih dalam ketika membaca ayat.
"Yā ayyuhalladzīna āmanū ijtanibū katsīram minazh-zhann… wa lā yaghtab ba‘dhukum ba‘dhā. A yuḥibbu aḥadukum ay ya’kula laḥma akhīhi maytan fakarihtumūh…"
Lantunan itu jelas. Fasih. Tegas.
Beliau menutup mushafnya pelan.
“Allah mengibaratkan orang yang berghibah seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.”
Kalimat itu jatuh berat di ruangan.
“Bangkai,” ulangnya perlahan. “Bukan daging segar. Bangkai busuk.”
Tak ada yang berani bersuara.
Gus Hafiz melanjutkan dengan hadis,
“Ketika Rasulullah ditanya apa itu ghibah, beliau menjawab, ‘Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.’”
Ia menatap satu per satu santrinya.
“Kalau itu benar, tetap ghibah. Kalau itu tidak benar, itu fitnah. Dua-duanya dosa.”
Nabila menunduk.
Entah kenapa wajah Ustadzah Afifah dan gosip-gosip pondok sempat terlintas di kepalanya.
“Lisan itu kecil,” lanjut Gus Hafiz, “tapi bisa menghancurkan kehormatan seseorang. Dan kehormatan seorang muslim lebih berat di sisi Allah daripada runtuhnya Ka’bah.”
Kalimat itu membuat beberapa santri tercekat.
Ia melipat tangan di belakang punggungnya, berjalan pelan di depan kelas.
“Jangan mudah mempercayai kabar. Jangan mudah menyebarkan cerita, apa lagi di zaman digitalisasi seperti saat ini. Tidak semua yang kita dengar harus kita teruskan.”
Nada suaranya tetap tenang. Tidak meninggi.
Tapi terasa menekan hati.
“Kadang satu kalimat yang kita anggap ringan… bisa melukai orang yang bahkan tidak pernah kita lihat air matanya.”
Kelas hening total.
Tak ada yang tahu, di tempat lain, seseorang mungkin sedang menahan air mata karena kabar yang sama.
Gus Hafiz berhenti melangkah.
“Jaga hati kalian. Karena hasad melahirkan ghibah. Dan ghibah melahirkan namimah. Dari lisan… lahir dosa yang tidak kita sadari.”
ujarnya tegas, dan beliau kembali ke meja.
“Orang yang kuat bukan yang mampu menjatuhkan orang lain dengan kata-kata. Tapi yang mampu menahan lisannya meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.”
Nabila menelan ludah.
Entah kenapa, pelajaran hari ini terasa berbeda. Ia merasa tersindir secara tidak langsung, karena diam-diam dirinya dan santri lain, serin menghibah tentang kedekatan Gus Hafiz dan Ustadzah Afifah.
Pelajaran hari ini seolah bukan hanya materi.
Seolah ada pesan yang lebih dalam dari sekadar teori.
Dan Gus Hafiz tetap berdiri di depan kelas dengan wibawanya, dingin, tenang, tapi setiap kalimatnya seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran.
***
Sabtu siang itu, selepas mengajar, Gus Hafiz berdiri di serambi ndalem. Angin membawa suara santri yang tengah murojaah dari kejauhan.
Ia membuka ponselnya.
Nama itu masih tersimpan di daftar panggilan terakhirnya, itu nomor Anisa.
Sudah beberapa hari ia menimbang-nimbang untuk menghubungi. Bukan untuk berbasa-basi. Hanya ingin menyampaikan kabar, bahwa pekan ini ia tak bisa sambang ke Jawa Tengah karena ada undangan mengisi dauroh di luar kota.
Ia menekan tombol panggil.
Nada sambung.
Sekali.
Dua kali.
Lalu suara operator.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Keningnya berkerut tipis.
Mungkin sinyal, batinnya.
Ia coba lagi.
Hasilnya sama.
Gus Hafiz terdiam beberapa detik, memandangi layar ponsel yang kini kembali gelap.
Angin menyibakkan kain sarungnya,
Ia tidak terbiasa menghubungi dua kali. Apalagi sampai tiga kali.
Tapi siang itu ia melakukannya.
Dan tetap tak tersambung.
“Aneh…” gumamnya pelan.
Biasanya Anisa tidak pernah mematikan ponsel. Kalaupun tidak diangkat, setidaknya masih aktif.
Batinnya.
Ia menahan diri untuk tidak berprasangka.
Mungkin sibuk.
Mungkin sedang ada kegiatan.
Mungkin hanya kebetulan.
Namun hingga malam turun, nomor itu tetap tak aktif.