NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-20 Rasa Kagum

Sore hari, pukul 16.00

Damian melangkah masuk ke kafe, aroma kopi menyambutnya. Ia sengaja ke sana, meski tidak mengakui pada dirinya sendiri bahwa alasannya bukan cuma untuk kopi.

Matanya langsung menangkap Amora yang sedang sibuk membersihkan meja. Di sudut ruangan, duduk seorang remaja laki-laki berseragam SMP, tubuhnya agak kaku, cara duduknya tegak dan teratur. Di pangkuannya, terbuka sebuah buku gambar yang mulai dipenuhi sketsa interior kafe—detailnya mencengangkan.

Azka...

Damian hanya menghela napas pelan. Beberapa hari lalu, ia tahu semuanya, lebih tepatnya mencari tahu. Diam-diam ia mengikuti Amora, menyaksikan dari kejauhan. Dan sejak saat itu, nama Azka terpatri jelas di kepalanya—adik Amora. Azka bukan sekedar anak penjual tisu, tapi remaja dengan kondisi cerebral palsy yang luar biasa dalam banyak hal. Ia memiliki kelebihan luar biasa dibalik kekurangannya, menggambar seperti arsitek profesional, dan menghafal detail layaknya kamera.

Damian memilih duduk tidak jauh dari Azka, cukup dekat untuk mengamati tapi tidak menimbulkan curiga. Ia menyeruput kopi yang baru datang, pandangannya sesekali jatuh ke arah Azka yang tengah sibuk dengan pensil warna. Tiba-tiba, Azka menoleh padanya, mata mereka bertemu. Tidak ada senyum. Hanya sorot tajam seorang anak yang sudah kenyang melihat tatapan orang-orang aneh di sekelilingnya.

Damian mengangguk sopan.

Azka kembali ke bukunya. Tapi satu hal yang Damian sadari—ia merasa terpantau. Seolah anak itu tahu siapa dia, seolah anak itu… menghafalnya.

Amora baru keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman pelanggan. Saat melewati area tengah kafe, langkahnya terhenti seketika. Matanya langsung membulat saat melihat sosok yang duduk di pojok, mengenakan kemeja putih lengan tergulung dan celana bahan gelap. Damian.

"Lho, Dokter?" desis Amora nyaris tak terdengar. Tangannya sedikit gemetar memegang nampan, tapi ia cepat menguasai diri dan berjalan ke arah meja pelanggan.

Dalam kepalanya, pertanyaan berloncatan. Ngapain dia di sini? Apa sengaja? Atau cuma mampir karena kafe ini sebelahan sama rumah sakit?

Setelah selesai mengantar minuman, Amora melirik Damian lagi. Tepat saat itu, mata mereka bertemu. Damian hanya mengangguk santai, seolah kehadirannya di sana bukan hal yang luar biasa.

Namun, kejutan tak berhenti di situ. Azka yang duduk di meja pojok dekat jendela, sambil menggambar, tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya. Tatapannya mengarah lurus ke Damian.

"Kak Amora..." bisik Azka pelan, "Itu... dia? Orang baik, yang waktu itu borong semua tisu aku..."

Amora menoleh cepat ke Azka, lalu kembali melirik ke arah Damian dengan kaget yang tak bisa disembunyikan. "Kamu yakin?"

Azka mengangguk mantap. "Aku inget banget wajahnya. Sama banget. Aku nggak salah."

Deg. Perasaan di dada Amora seperti tersedot. Ia melangkah pelan mendekati meja Azka, lalu ikut menatap Damian yang sedang menikmati kopinya dengan tenang.

Damian, perlahan menoleh dan menatap Azka. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum. Azka lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri meja Damian. Amora mengikuti langkah kaki adiknya.

“Om baik, masih ingat aku?” tanya Azka.

“Iya. Aku masih ingat. Kamu yang menjual tisu waktu itu kan?”

Azka tersenyum lebar sambil melihat ke arah Amora yang berdiri di sampingnya. “Iya, Om. Namaku Azka.” Azka mengulurkan tangannya. Damian menyambut uluran tangan Azka.

“Damian.”

“Om Damian. Terima kasih atas kebaikan Om waktu itu.”

Damian hanya menjawab singkat, "Sama-sama. Kamu anak hebat."

Amora terpaku di tempat. Kali ini, rasa terkejutnya jauh lebih dalam. Tidak hanya karena Damian berada di kafe, tapi juga karena diam-diam, pria itu ternyata sudah pernah membantu Azka… dan ia tidak pernah tahu.

“Jadi, Dokter pernah membantu adikku? Dia adikku, Dok,” sahut Amora.

“Iya. Tidak sengaja dan kebetulan,” jawab Damian singkat.

“Oh, jadi Om Damian dokter? Dan Om Damian sudah kenal dengan Kak Amora,” mata Azka membulat terkejut bangga.

“Iya, Azka. Aku kebetulan juga kerja dirumah sakit sebelah. Jadi, sering bertemu dengan kakakmu.”

“Ya sudah, kalian lanjut ngobrol saja. Aku kerja dulu.” Sela Amora diantara obrolan yang semakin serius antara dua pria yang yang berbeda usia itu. Azka mengangguk dengan senyum lebar ke arah kakaknya. Amora melanjutkan lagi pekerjaannya.

“Wah, Om Damian hebat. Aku juga sangat ingin menjadi dokter supaya aku bisa menolong orang banyak. Tapi, tubuhku tidak mendukung untuk itu,” ucapnya dengan tetap tersenyum riang dibalik kekurangannya.

Damian menatap dalam remaja itu. “Menolong orang tidak harus menjadi dokter, Azka. Kamu bisa melakukan banyak hal untuk menolong orang.”

“Iya, Om. Oh ya, apa aku boleh menggambar Om Damian?”

“Kamu bisa menggambar?” tanya Damian seolah penasaran dan ada rasa tidak percaya juga. Bukan bermaksud meremehkan tapi suatu keajaiban, penderita cerebral palsy seperti Azka memiliki kelebihan yang luar biasa.

“Bisa, Om. Ayo ke mejaku,” ajak Azka bersemangat. Damian mengangguk. Ia membawa kopinya menuju meja Azka.

Begitu duduk, Azka menunjukkan buku gambarnya pada Damian. Damian dibuat terpukau dengan banyaknya sketsa yang ada dalam buku gambar Azka. Mulai dari sketsa pemandangan, sketsa rumah, gedung bahkan sketsa beberapa wajah tokoh pahlawan Indonesia.

Damian menatap bangga penuh Azka. Ia lalu mengelus kepala Azka. “Baiklah, buat sketsa wajahku dengan secangkir kopiku. Nanti, aku akan membayarnya.”

“Tidak usah, Om. Aku membuatnya ikhlas hadiah atas kebaikan Om Damian. Uang yang Om berikan juga masih banyak.”

“Hei, tidak boleh begitu. Ini karya yang luar biasa. Sekarang cepat buat! Karena aku tidak punya waktu lama,” kata Damian beralasan.

“Baiklah, Om,” jawab Azka dengan bersemangat. Damian mulai mengambil posisi ke mejanya yang semula. Karena itu angle yang pas untuk menggambar sketsa wajah Damian dengan kopinya, apalagi tepat di dekat jendela.

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!