Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
" AAARRRGGGGHHHH... NGGAK USAH PEGANG-PEGANG JANA!! " mata Santana melototi posisi Welly yang nampak sedang memeluk Senjana dari belakang.
" Dih... Mantan lo, Sen.. Udah di tolong kagak tahu makasih banget. " gumam Welly di belakang telinga Senjana.
Sebenarnya biasa aja sih, orang terlalu dekat sampai meluk juga enggak. Cuma memang tangan keduanya dekat, paling cuma seinci aja yang nempel. Emang dasarnya si paling posesif, kambuh deh.
" Kalau nggak gini, kamu nggak bisa keluar dari sana lho, San.. " protes Senjana antara gemas, dan cemas, " nggak pegangan ini. "
" Nggak.. Pokoknya nggak boleh. " kekeh tak mau dibantah.
" Jana minggir!! Biar Welly aja yang bantu naik, orang dia juga yang nge..... "
" Mulutnya!!! " sentak Welly dengan kedua mata melotot ke arah Santana.
Kalau tidak dicegah, itu mulut ember bisa mengungkap upaya yang tengah Welly usahakan agar Senjana tidak menghindari Santana.
" Welly kenapa, San? " bu Mi angkat bicara.
" Nggak apa bu. " jawab Santana agak kikuk, " Cepet Wel, sakit ini kaki ku... Aduuhhhh.. " Santana mengerang menahan sakit ( tentu aja bohongan ya).
" Makanya mulut mingkem!! Komplain mulu daritadi! "
" Tak jambak mulut mu, Welll!!! "
" Bodyguardnya ngamuk.. Hiiii takut.. "
Meski mulutnya asyik adu mulut dengan Senjana, tapi kedua tangan Welly aktif menarik tali tambang untung mengeluarkan saudaranya dari blumbangan. Emang dasar mulut julid ketemu mulut nyablak, rame bener. Pasar aja kalah ramai kalau berdua ini udah ketemu.
Bu Mi yang awalnya bingung berlanjut terkekeh saat melihat aksi anaknya dengan Senjana. Ternyata ada yang bisa menandingi julidnya mulut Welly. Senjana orangnya.
" Jana.. Sakit ini. " entah kapan tepatnya, tahu-tahu Santana sudah berdiri di samping Senjana dan memamerkan beberapa lecet dan memar di tangannya.
Tahu bakalan dicemplungin ke blumbangan sama saudara lucknut ya itu, Santana tadi dengerin omongan bu Mi untuk memakai kemeja lengan panjang. Ya gimana, negara ini panas bener sampai rasanya didalam ruangan berAC aja masih kayak di oven.
" Ya ampun.. Segini banyaknya.... " komen Senjana terkejut.
" Bentar ya. Duduk sini aja dulu, aku ambil kotak obat di kantornya si Sekar. Dia punya kok.. " Santana mengangguk patuh.
Bu Mi dan Welly terkesiap akan paruhnya Santana yang mirip anak kecil itu. Meskipun Welly sudah berkali-kali melihatnya sampai kentang pas SMA. Masih saja membuatnya terkesiap, saat kembali melihat dua sejoli ini di usia yang menginjak 30an.
Abadi bener interaksi keduanya. Bikin mata siapa saja iri saat melihatnya. Sungguh sialan masa lalu yang membuat dua orang ini harus terpisah cukup lama.
PLAK!!!
" Ma.. Kok aku dipukul? " protes anak nakal yang kini mengusap lengannya. Pukulan bu Mi selalu panas dan pedih.
" Sembarangan kamu dorong San, sampai jatuh!! Kasian tahu, untuk cuma lecet kalau sampai patah tulang gimana? " sembur bu Mi yang menahan semua ini sejak tadi karena mengikuti rencana gembleng sang putra.
" Yang penting hasil akhirnya, ma.. Ini tadi kalau keduanya ketemu jebres tanpa adanya insiden, aku yakin si Senja bakalan menghindar lagi, ma. Trus kapan ini kelarnya jodoh San, aku kan juga pengen cari jodoh, ma. " mulut Welly merepet bicara tanpa jeda.
" Aku maafin. " ujar Santana menengahi perdebatan ibu dan anak yang tidak akan selesai kalau bukan dia yang menghentikan.
" Dih.. " wajah Welly jadi kesal.
*********
Bu Mi mengajak Welly pergi dengan alasan ikut membantu menata barang-barang yang akan dibagikan untuk anak panti. Barangnya kana bertambah dengan adanya barang yang dibawa Senjana, jadinya perlu ditata rapi lalu dibagikan kemudian.
Tujuannya sih ingin memberi waktu dua hati yang harus terpisah karena keadaan, bukan karena tidak lagi saling cinta. Masih ada kok, cinta keduanya jelas masih ada bahkan tidak pernah berkurang. Karena itu bu Mi merasa harus mengembalikan semuanya ke alur yang benar, agar keduanya kembali bahagia.
Apalagi saat bu Mi melihat sendiri kepribadian Santana yang tenang, dan dingin itu bisa berubah total saat bersama Senjana. Melihat versi Santana yang ini, hati bu Mi justru lebih tentram dan damai.
" Kok bisa jatuh sih? " tanya Senjana sembari mengobati luka-luka Santana.
" Ketendang monyet. " jawab Santana sekenanya. Malas mikir lebih tepatnya, ingin lebih menikmati waktu dimana dia bisa kembali sedekat ini dengan Senjanya.
Baru juga dekat seperti ini hatinya sudah berbunga-bunga. Mendengar suara Senjanya saat berbicara dengannya, melihat Senjanya membela dan mengobati lukanya, sedekat ini bahkan kedua bahu mereka saling menempel, membuat Santana melupakan semua kesakitan yang dialaminya selama 12 tahun, juga menyalurkan rindunya pada Senjanya.
" Mana ada monyet? Ih ngawur.. " centil yang sama, yang selalu menjadi obat segala nestapanya.
" Ada.. Pakai baju hitam. " Welly ya maksudnya. Cuma otak Senjana yang lagi ribut antara menjauh atau mendekat ini jadi nggak konek.
" Ada-ada aja kamu.. Nih dah selesai. " Senjana bangkit dan hendak pergi, tapi tangan Santana tiba-tiba menariknya hingga Senjana kembali duduk di tempatnya yang tadi. Bahkan sekarang sedikit lebih intim.
" Nggak boleh menghindar lagi!! " ujar Santana sangat serius.
Senjana menunduk, dia selalu takut kalau Santana sudah bicara serius. Entah ya, bawaannya jadi pengen nangis seolah Santana hendak memarahinya. Selalu begini, sejak dulu. Senjana saja sampai kaget karena ternyata alam bawah sadarnya masih mengingat semua interaksi dengan Santana.
" Aku minta maaf. Mungkin tidak akan menghapus semuanya, tapi aku minta maaf.. "
" Nggak, San.. Please.. jangan gini. " Senjana sudah mau kabur lagi, gegas Santana peluk erat. Bodo amat lah masih di luar ruangan.
" Aku tahu kamu pernah mengalami hal nggak menyenangkan karena putusnya kita tanpa kejelasan apapun ditambah akhirnya kamu tahu sendiri kenapa kita putus bukan dari mulut aku.. Aku tahu nggak seharusnya aku pergi tapi aku kalau nggak pergi saat itu aku ketakutan, Jana... "
Senjana tatap mata Santana yang menatapnya lembut, " Takut? "
Santana mengangguk, " Malam itu, pas aku antar kamu pulang kerja kelompok. Papa Anggoro sengaja nemuin aku pas aku mau pulang. Papa bersujud dan meminta maaf karena sudah menjadi alasan kedua orang tua aku meninggal. Saat itu aku marah, Jana. Sangat marah.. "
" Rasanya pengen terbalikin dunia buat lampiasin amarah aku. Tapi keesokan harinya, pas aku lihat kamu senyum karena dapat peringkat pertama, kemarahan aku mereda, Jana. Tapi nggak hilang... "
" Dari sana ketakutan aku muncul. Pertanyaan-pertanyaan itu mulai berisik di kepala. Apakah aku bisa cinta setulus dulu kalau kita tetep sama-sama? Apakah aku nggak akan nyakiti kamu baik sengaja maupun enggak? Dan masih banyak lagi yang akhirnya membuat aku mundur... "
Senjana sudah menangis dalam pelukan Santana. Dia tidak pernah tahu kalau Santananya juga semenderita itu selama ini. Senjana terlalu fokus pada penyebab dan rasa bersalahnya, tapi tidak fokus pada perasaan Santana.
Ternyata..
Selama ini...
Keduanya sama-sama menderita...