Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Tehmu."
Seraphina meletakkan teh pesanan suaminya diatas nakas. Kemudian, dia naik ke tempat tidur, menarik selimut lalu berusaha tidur dengan posisi menyamping membelakangi Kaivan.
"Sera... kamu sudah tidur?" tanya Kaivan beberapa saat kemudian.
"Belum," jawab Seraphina. Dia tetap pada posisinya.
"Maaf."
Satu kata itu sudah tak berarti lagi bagi Seraphina. Dia tak lagi marah seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia tak lagi menangis. Dia hanya diam.
"Seharusnya, aku tidak melupakan hari anniversary pernikahan kita. Aku memang pria yang tidak bisa diandalkan."
Kaivan tertawa kering. Dan , Seraphina tetap diam. Jiwanya sudah hampa. Dia sendiri tidak tahu sejak kapan perasaannya kepada Kaivan perlahan memudar.
"Malam ini... apa kamu menyiapkan acara makan malam lagi? Kalau begitu, ayo kita turun makan. Walaupun makanannya sudah dingin, tapi aku yakin rasanya masih nikmat."
Kaivan turun dari ranjang. Dia tampak bersemangat untuk turun ke bawah.
"Aku tidak memasak apa-apa."
Suara Seraphina membuat tangan Kaivan membeku di pintu. Pria itu pun menoleh ke arah tempat tidur.
Istrinya bergeming. Tak bergerak sedikitpun dari posisi berbaringnya.
"Seraphina... Kamu kenapa? Apa kamu sakit?"
Kaivan melangkah mendekati sang istri. Punggung tangannya ia tempelkan ke dahi wanita itu.
"Suhu tubuhmu normal. Apa jangan-jangan, kamu mengalami nyeri haid lagi?"
Tangan Kaivan kini berpindah ke perut Seraphina. Dia mengusap perut rata itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku baik-baik saja," kata Seraphina. Dia meraih telapak tangan Kaivan kemudian memindahkannya dari atas perutnya.
"Seraphina..."
"Aku mengantuk. Bolehkah aku istirahat sekarang?"
"Baiklah. Selamat tidur."
Kaivan mengecup dahi istrinya. Dia mengusap pipi halus Seraphina sambil berbisik pelan, "aku mencintaimu."
Sayangnya... Seraphina tahu jika semua itu palsu.
*******
"Selamat pagi, Seraphina!"
Suara ceria Kalani terdengar dari arah luar. Seperti biasa, kakak kandungnya itu akan datang ke rumahnya untuk sarapan bersama.
"Apa sarapan kita pagi ini?" tanya Kalani sambil menarik satu kursi dan duduk layaknya sang pemilik rumah.
Seraphina mengeluarkan roti tawar dari dalam kulkas. Dia meletakkan makanan itu diatas meja, tepat didepan Kalani.
"Hanya ini?" tanya Kalani. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Hanya ada itu. Kalau kamu mau, silakan dimakan. Kalau tidak, silakan pulang!" jawab Seraphina.
"Kamu tidak boleh mengusir Kakak kandungmu seperti itu, Sayang!"
Kaivan hadir sebagai penengah diantara keduanya. Namun, di mata Seraphina, Kaivan datang hanya untuk membela satu orang.
"Selamat pagi, Kaivan," sapa Kalani.
"Selamat pagi, Lani," balas Kaivan dengan senyuman penuh arti.
Dia ikut bergabung di meja makan. Duduk di kursi yang berada tepat di samping Kalani. Sementara, Seraphina memilih duduk di kursi yang bersebrangan dengan keduanya.
"Sayang, kamu tidak masak sarapan?" tanya Kaivan lembut pada istrinya.
"Tidak," jawab Seraphina singkat. Dia mengambil satu roti, mengolesinya dengan selai blueberry, lalu mulai memakannya sedikit demi sedikit meski tidak terlalu lapar.
"Kenapa? Bukannya, kamu tahu kalau Kalani wajib sarapan sebelum berangkat bekerja?"
Dahi Seraphina mengernyit. "Sejak kapan, menu sarapannya harus menjadi tanggung jawab ku?"
Kaivan menegang sementara Kalani menggeram kesal.
"Sera, apa kamu marah karena aku terus sarapan di rumah mu? Apa menurut mu aku ini merepotkan?"
"Bagus jika akhirnya kamu sadar diri."
"Seraphina!" Kaivan membentak istrinya. Yang dia pedulikan hanya perubahan ekspresi wajah Kalani dari yang awalnya tersenyum kini berubah jadi sedih.
"Kalani ini kakakmu. Apa pantas kamu berkata sekasar itu padanya, hah?"
Seraphina diam. Dia malas menyanggah. Mau sekeras apapun dia bersuara, Kaivan tak akan pernah mendengarkan pembelaan darinya.
"Sekarang, minta maaf pada Kalani!" titah Kaivan.
"Kaivan..." Kalani mengusap pelan lengan Kaivan. Ia seolah sengaja mempertontonkan adegan mesra itu dihadapan Seraphina.
"... Seraphina tidak bersalah. Aku yang bersalah. Tidak seharusnya aku terus merepotkan kalian. Mulai besok, aku akan sarapan di rumah ku sendiri. Aku tidak akan sarapan di sini lagi."
"Apa kamu sudah puas, Seraphina?"
Nada suara Kaivan masih terdengar marah. "Padahal, hanya masalah sepele. Apa salahnya jika menambah seporsi sarapan lagi untuk Kakak kandungmu sendiri?"
"Mungkin, Seraphina lelah," celetuk Kalani. "Maklumlah. Walaupun pekerjaan rumah tidak selelah pekerjaan kantor, tapi tetap saja Seraphina sudah bekerja keras mengurus rumah dengan baik. Iya kan, Seraphina?"
Kalani memiringkan kepalanya. Tatapannya jelas mengejek, menantang. Namun, Seraphina tak semudah itu untuk terprovokasi.
"Jangan membela dia terus, Lani. Dia jadi keras kepala seperti ini karena kamu yang terlalu memanjakannya."
Kaivan mendengkus kasar. Dia mengambil satu roti lalu mengolesinya dengan selai cokelat. Kemudian, roti itu ia berikan kepada Kalani.
"Makan yang ini dulu, tidak apa-apa, kan?"
"Terima kasih, Kaivan."
Kalani tersenyum lebar.
"Besok, kamu mau sarapan apa?"
"Aku ingin sandwich dengan isian smoked beef."
"Seraphina, kamu dengar, kan?"
Seraphina lagi-lagi tak menjawab. Setelah rotinya habis, dia memilih untuk meninggalkan meja makan.
Perempuan itu masuk ke sebuah ruangan yang terletak disamping gudang. Ruangan kedap suara itu ia kunci rapat-rapat dari dalam.
Seraphina menyalakan dua buah televisi yang tergantung didalam ruangan. Dia duduk di kursi lalu mengambil headphone untuk mendengarkan suara dari video yang sedang dia lihat.
Sebuah video yang menampilkan suaminya bersama kakak kandungnya yang masih duduk di meja makan dengan posisi yang begitu dekat dan intim.
CCTV.
"Lani, apa kamu bahagia menikah dengan Arsenio?"
Kaivan memegang kedua tangan Kalani. Tatapannya lembut, penuh cinta.
"Kalau aku bilang tidak, kamu mau bagaimana?"
Kalani menjawab dengan suara sendu.
"Kenapa kamu tidak bahagia?"
Suara Kaivan terdengar begitu putus asa.
"Bukankah... Kamu sudah berjanji akan bahagia setelah menikah dengannya? Aku bahkan sudah mengorbankan diri demi kebahagiaanmu. Aku rela menikahi Seraphina, hanya demi memastikan agar dia tidak mengganggu hubungan mu dengan Arsenio."
"Kaivan, ternyata menikah dengan Arsenio tidak sebahagia yang aku bayangkan. Awalnya, semua memang terasa sempurna. Tapi, lama-kelamaan, Arsenio mulai memperlihatkan tabiat aslinya. Dia terlalu banyak mengatur. Dia terlalu membatasi ruang gerakku. Bahkan, aku dipaksa bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Padahal, impianku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga seperti Seraphina. Aku ingin menyambut suamiku setiap kali dia pulang bekerja. Aku ingin memasak untuknya. Aku ingin seluruh waktuku hanya untuk keluarga."
Kalani tersenyum. Kelicikannya perlahan mulai bekerja kembali.
Awalnya, Kaivan memang sangat mencintainya. Namun, karena Kalani lebih memilih Arsenio, maka dia memilih untuk menolak perasaan Kaivan.
Tapi, sekarang Kalani sudah bosan dengan Arsenio. Dia tidak suka dengan lelaki yang menyuruhnya untuk bekerja.
Dia ingin pria seperti Kaivan. Dia ingin pria yang memintanya hanya duduk manis di rumah tanpa perlu merasakan lelahnya mencari uang.
"Kaivan..." Kalani menyentuh wajah Kaivan. "... andai dulu aku menikah denganmu, apakah hidupku akan sebahagia Seraphina?"
Dan, Seraphina yang melihat semua itu hanya menatap datar. Perasaannya kepada Kaivan mungkin benar-benar sudah selesai.
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭