NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Tak Berani Berkutik

Namun siapa sangka, suasana hangat tersebut tidak bertahan lama. Dimana Calista tidak tahan dengan tatapan penuh ejekan yang Raina perlihatkan kepadanya. Ia pun memulai pembicaraan yang jelas ingin membuat Raina seperti wanita murahan.

"Menarik." Suara Calista terdengar dari ujung meja. "Delapan tahun berlalu, dan sekarang Raina kembali ke mansion ini bersama dua anak."

Raina menatapnya datar, tetapi dalam hatinya ia berkata, “Bagus, lakukan seperti yang biasa kau lakukan dulu padaku. Namun, kali ini kau harus menanggung akibatnya berkali-kali lipat dari yang aku rasakan dulu.”

Calista tersenyum tipis. "Benar-benar sebuah kebetulan."

Kakek Edwin mengerutkan kening. "Calista."

"Aku hanya mengatakan fakta, Ayah."

Tatapan Calista beralih kepada Sean dan Shia. "Yang membuatku penasaran adalah..." Dia berhenti sejenak. "...siapa sebenarnya ayah dari kedua anak itu?"

Suasana meja langsung berubah. Raina tidak langsung menjawab, sebab ia sudah menebak kalau Calista pasti akan kembali membahas asal usul kedua anaknya seperti orang bodoh. Sean dan Shia saling pandang.

Sion perlahan meletakkan sendoknya. “Sudah cukup.”

Namun, Calista tetap melanjutkan. "Raina pergi selama delapan tahun, Sion. Dan bukankah selama masa pernikahan, kalian tidak pernah tidur bersama, bukan?" Tatapannya kembali kepada Raina. "Selama itu, dia tentu tidak mungkin hidup sendirian."

"Calista." Suara Kakek Edwin rendah.

Namun wanita itu tidak berhenti. "Aku hanya bertanya." Dia tersenyum sinis. "Atau jangan-jangan selama delapan tahun itu Raina sudah bersama banyak pria?"

Kakek Edwin membanting telapak tangannya ke meja. "Cukup!"

Sean dan Shia sontak menjadi ikut terkejut. Namun sebelum Kakek Edwin melanjutkan, Raina sudah mengangkat tangannya. "Tidak apa-apa, Kakek."

Dia kemudian menatap Calista, tatapannya tenang. "Aku tahu apa yang sedang kau lakukan."

Calista tersenyum. "Kalau begitu jawab saja pertanyaanku."

Raina tidak langsung menjawab. Dia justru melirik Sean dan Shia. Kedua anak itu terlihat mulai gelisah. Mereka belum sepenuhnya memahami tuduhan tersebut. Namun mereka memahami satu hal. Seseorang sedang mengatakan sesuatu yang buruk tentang ibu mereka.

Sean tiba-tiba berdiri. "Jangan bicara begitu tentang Mamah. ‘Kan sudah Sean bilang kalau Papah kami adalah Papah Sion. Nenek sudah pikun ‘yah?"

Semua mata tertuju kepadanya. Calista terdiam menahan kesal, karena dikatai pikun. Harus Calista akui bahwa kedua bocah itu sangat ahli dalam memancing emosi orang, terutama dirinya sendiri.

Shia ikut berdiri. "Mamah bukan orang jahat."

Calista tertawa kecil. "Aku tidak mengatakan ibumu jahat."

"Tapi Nenek bilang Mamah bersama banyak pria. Mamah bukan orang seperti itu, malah Nenek yang jahat seperti Nenek sihir… menyeramkan dan suka cari masalah."

Suara Sean terdengar polos. "Benar, tidak boleh begitu. Mengatai orang lain sama saja seperti mengatai diri sendiri."

Calista kehilangan senyumnya merasa terdesak hanya karena menghadapi dua bocah di depannya. Kedua bocah itu sungguh pintar sekali memutar kata, hingga berbalik menyerang pelakunya.

Shia memegang tangan Raina lebih erat. "Mamah cuma punya kami." Kemudian dia menunjuk Sion. "Dan Papah."

Ruangan kembali hening. Sion menatap kedua anaknya yang kini menatapnya meminta pembelaan. Sion akhirnya perlahan berdiri. Kursinya bergeser, suara gesekan itu terdengar jelas di seluruh ruang makan.

"Calista."

Satu kata, tanpa tambahan panggilan ibu sebagai ibu tirinya menjelaskan bahwa sampai kapan pun Sion tidak menerima wanita itu sebagai salah satu bagian keluarganya. Dan seketika hawa di sekitar Sion langsung berubah dingin serta mematikan.

"Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan tentang Raina." Sion menatap ibu tirinya. "Tapi jangan pernah menghina ibu dari anak-anakku di meja makan ini."

Calista mengepalkan tangan. "Aku hanya mempertanyakan—"

"Dan aku sudah memberikan jawabannya." Sion memotong. "Sean dan Shia adalah anakku."

Tidak ada keraguan dalam suaranya. Tidak ada ruang untuk perdebatan. "Mereka darah dagingku."

Tatapan Sion menyapu seluruh meja. "Dan Raina adalah ibu mereka.” Dia berhenti sejenak. "Siapa pun yang tidak bisa menghormati mereka bertiga..."

Tatapannya menjadi semakin dingin. "...tidak perlu duduk di meja ini."

Calista hanya bisa terdiam, jelas ia tidak bisa melawan Sion sama sekali. Leon dan Lea juga tidak berani bersuara sejak awal. Karena tidak hanya Sion yang akan mereka singgung, tetapi juga Kakek Edwin. Arlan menundukkan pandangan, sedikit merutuki perbuatan ibunya yang terlalu gegabah menyerang Raina.

“Calista, apa kau mengerti posisimu sekarang?” tanya Sion menegaskan.

“Ya.” Calista hanya menjawab singkat.

Sementara Raina hanya menatap Sion dalam diam. Ada sesuatu yang terasa asing di dadanya. Delapan tahun lalu, dia pernah duduk di meja yang sama. Sendirian… tidak ada seorang pun yang membela dan berdiri di sisinya. Namun sekarang? Dia hanya perlu duduk diam. Karena dua anak kecil di sampingnya sudah siap membelanya dengan cara mereka sendiri. Dan pria yang dahulu membuatnya merasa tidak berharga kini berdiri di hadapannya, melindungi namanya.

Raina menundukkan wajah. Diam-diam dia tersenyum. Mungkin masa lalu tidak bisa diubah. Mungkin luka delapan tahun itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Tetapi setidaknya... hari ini dia tidak sendirian. Dan untuk pertama kalinya, Raina menyadari bahwa rumah yang dahulu membuatnya merasa seperti orang asing... perlahan mulai terasa seperti tempat yang melindunginya.

Namun jauh di balik ketenangan malam itu, Calista mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia kalah dalam pertarungan pertama, tetapi belum menyerah. Karena bagi Calista, Raina bukan hanya ancaman. Sean dan Shia adalah ancaman yang jauh lebih besar. Dan selama ketiga orang itu masih berada di sisi Sion... rencananya belum selesai.

...****************...

Makan malam akhirnya berakhir. Raina tidak menunggu lebih lama. Begitu Sean dan Shia selesai menyantap makanan mereka, perempuan itu langsung menggenggam tangan kedua anak kembarnya dan membawa mereka menuju kamar yang telah disediakan untuk mereka di lantai dua Mansion utama.

“Ayo, kalian harus tidur. Besok pagi jangan mengeluh kalau susah bangun,” ujar Raina lembut.

“Aku belum ngantuk, Mah,” protes Sean sambil menguap lebar.

Shia terkikik. “Sean bohong. Dia tadi hampir tidur di meja makan.”

“Aku tidak tidur!”

“Kamu tidur.”

“Tidak!”

Raina hanya menggeleng geli dengan kelakuan kedua anaknya. Sesampainya di kamar, ia membantu keduanya berganti pakaian, lalu menyelimuti mereka. Kamar itu cukup luas untuk dua anak, dengan dua tempat tidur yang berdampingan dan lampu tidur berbentuk bulan di antara keduanya.

Raina duduk di tepi ranjang. “Selamat malam, Sayang.”

“Mamah juga tidur di sini?” tanya Shia dengan mata setengah terpejam.

“Tidak. Mamah masih punya sesuatu yang harus dilakukan.”

Sean mengerutkan kening. “Sama Papah?”

Raina terdiam sepersekian detik. “Tidak. Mamah harus menelpon Paman Ryland, sebelum dia marah pada kita karena belum menghubungi sejak kita tiba. Jadi, kalian berdua tidurlah.”

Bersambung….

1
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
Budhe Satryo
semoga nanti g bisa bngun adik kecilmu kalu Ndak dngn rayna 😄😄😄
Budhe Satryo
good rayna setidaknya ad kenang"an dr mantan suami
Budhe Satryo
barengan sekalinya keluar kandang kak author ini
Budhe Satryo
suka semua karya KK ni
Sri Yatun
sekarang kamu ada rasa cinta makanya sadar coba tanpa adanya cinta masa bodo mau sprti apa istri mu dulu sekarang liat dan baru sadar sakit kan apa LG di depan anak anak nya yg sudah seperti orang dewasa tau dan bisa membedakan keadilan dan tidak Adilan mau bagaimana menyikapi orang tua mu/ibu tirinya dan saudara tirimu Sion pasti bakal ada cemohan dri anak anak mu
InaraAp 09
Semangat lanjut up nya thor
InaraAp 09
jangan khawatir Raina, kini kau tidak sendirian
Dew666
💎
InaraAp 09
pemandangan yang indah😄
InaraAp 09
Keren Ryland😍
InaraAp 09
lebih baik emg kembali bersama🤭
InaraAp 09
cemburu sama adik ipar🤣🤣🤣
InaraAp 09
Cieee... mulai ada rasa nih Sion🤣
InaraAp 09
😄😄😄puas banget yah Rain
InaraAp 09
🤣🤣🤣ketagihan katanya...
Sri Yatun
apa adenya sama sama mafia....?
🇦 🇵 🇷 🇾👎
nk"😂
Fahmi Ardiansyah
pasti Sion sengaja Krn dia pasti mau menikahi nya LG demi anak kembarnya.
Fahmi Ardiansyah
Alhamdulillah dugaanku salah.aku kira dia musuh nya eeh ternyata adknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!