Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Pertama
Deru suara bel pintu penthouse bergema dua kali, memecah ketegangan yang pekat di dalam ruang tamu. Setiap detik yang berlalu serasa jarum jam yang berdetak di dekat bom waktu.
Naya berdiri kaku di samping meja makan, tangannya gemetar hebat saat merapikan taplak meja. Gaun pengantin yang menyesakkan sudah ia ganti dengan kemeja putih kasual dan celana bahan yang longgar—pakaian seadanya yang diambil dari koper. Namun, rasa sesak di dadanya sama sekali tidak berkurang.
"Ingat," bisik Raka setengah menggeram dari sampingnya. Suaranya serak dan rendah, sarat akan ancaman yang tersembunyi di balik ketenangan palsu.
"Apa ?" tanya Naya dengan cueknya
"Yang tadi aku bilang ?"
"Yang mana ? Bukannya dari tadi kamu ngomong panjang kali lebar, jadi yang mana ?" tanya Naya masih dengan nada cuek .
"NAYA !! Suara Raka yang meninggi
"Hustt... Jangan teriak -teriak bisa budeng nanti telingaku, lagi pula aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan ."ucap Naya dengan menutup kedua telinga dengan kedua tangannya, melihat itu Raka menarik nafasnya panjang.
Pria itu menyesuaikan letak kerah kemejanya di depan cermin lorong. "Satu kesalahan kecil, dan seluruh sandiwara ini hancur. Panggil aku Mas atau Sayang di depan Nenek. Jangan pernah berani memanggilku Pak atau Bos."
Naya melirik tajam, matanya menyipit penuh rasa geli bercampur geli yang menjijikkan. "Memanggil Anda 'Mas'? Saya rasa lidah saya bisa kelu seketika."
"Lakukan kalau kamu tidak mau seluruh keluargamu berada di dalam sel besok pagi," balas Raka dingin tanpa menoleh. Pria itu memutar gagang pintu utama dan membukanya lebar-lebar.
Seorang wanita tua bertubuh anggun melangkah masuk. Meskipun rambutnya sudah memutih sepenuhnya dan disanggul rapi, wajahnya memancarkan ketegasan khas keluarga penguasa.
Beliau mengenakan kebaya modern berwarna marun dengan selendang batik sutra yang tersampir elegan.
Di belakangnya, seorang pengawal pribadi membawa dua koper berukuran sedang.
Nenek Rahma, matanya yang teduh namun amat jeli langsung menyapu seluruh sudut ruangan penthouse sebelum akhirnya tertuju pada Raka.
"Raka, cucuku ..." Nenek Rahma tersenyum hangat. Suaranya yang serak-serak basah memancarkan wibawa.
Raka mendadak mengubah raut wajahnya. Garis-garis kaku di pipinya melunak seketika, matanya yang biasa memancarkan dinginnya es kini menyipit hangat. Ia membungkuk hormat, mencium tangan sang nenek, lalu memeluk wanita tua itu dengan kelembutan yang belum pernah Naya lihat sebelumnya. Naya sampai mengucek matanya sekilas, tak percaya bahwa pria arogan yang tadi pagi membentaknya bisa bertransformasi menjadi cucu penurut hanya dalam hitungan detik.
"Nenek... kenapa tidak memberi kabar dari kemarin? Raka bisa menyiapkan penyambutan di bandara," ucap Raka manis, suaranya dipenuhi nada perhatian yang begitu wajar.
"Penyambutan apa? Nenek hanya ingin melihat pengantin baru cucu Nenek yang paling keras kepala ini," Nenek Rahma mengibaskan tangannya pelan, lalu pandangannya mengunci sosok Naya yang berdiri canggung di dekat meja makan.
Naya menelan ludah. Jantungnya berdegup bagaikan genderang perang. Langkah kaki Nenek Rahma terdengar gemerlap saat mendatangi Naya.
"Ini ... Kania?" tanya Nenek Rahma lembut. Matanya yang tajam meneliti wajah Naya dari jarak dekat.
Naya buru-buru membungkuk dalam-dalam, mengambil tangan Nenek Rahma dan mencium punggung tangannya dengan penuh takzim. "S-selamat siang, Nenek. Saya ... Kania."
Mendengar nama Kania keluar dari mulut Naya, Raka yang berdiri di samping Nenek Rahma sempat menahan napasnya micro-detik. Namun, ekspresinya tetap terkontrol dengan sempurna.
Nenek Rahma memegang kedua pipi Naya dengan jemarinya yang hangat. Ada kerutan halus di dahi wanita tua itu.
"Aneh ... di foto yang diberikan ibumu waktu itu, wajahmu kelihatan sedikit lebih tinggi dan bentuk alismu berbeda. Tapi di sini... matamu kelihatan jauh lebih jujur dan teduh."
Darah Naya mendadak berdesir hebat. Kepanikan menjalar hingga ke ujung jarinya. Ia melirik Raka yang berdiri tepat di belakang Nenek Rahma. Raka memberikan kode mata yang sangat tajam, sebuah perintah tak tertulis untuk segera menetralisir situasi.
"A-ah ... itu ..." Naya melempar senyum canggung yang berusaha dibuat semanis mungkin. "Mungkin karena efek riasan di foto itu agak tebal, Nek. Hari ini Kania cuma pakai riasan tipis. Dan... Kania agak kurusan karena kepikiran persiapan acara."
Sebelum Nenek Rahma sempat memproses jawaban itu lebih lanjut, Raka melangkah maju dengan sangat alami.
Tangan kirinya melingkar di pinggang Naya secara mendadak, menarik tubuh Naya merapat ke sisinya hingga pinggul mereka bersentuhan erat.
Naya hampir saja meloncat kaget dan menempeleng wajah Raka secara refleks jika ia tidak mengingat ancaman penjara untuk ayahnya. Senyum Naya seketika membeku. Sentuhan jemari Raka di pinggangnya terasa hangat namun mencengkeram kuat, menegaskan kendali pria itu atas situasi.
"Kania memang suka tidak pede kalau tidak pakai makeup tebal, Nek," seloroh Raka dengan terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat romantis di telinga orang luar. Raka menunduk sedikit, menatap Naya dengan pandangan mata yang begitu dalam dan penuh pendar kasih sayang palsu. "Padahal Raka sudah bilang berkali-kali ... mau pakai makeup atau tidak, dia tetap wanita paling cantik di mata Raka."
Ugh! Naya merasa ingin muntah saat itu juga. Sandiwara Raka benar-benar kelas atas. Akting pria ini teramat mulus hingga terasa mengerikan.
Naya menatap balik Raka dengan senyuman yang teramat dipaksakan, tangannya secara refleks mencubit pelan pinggang Raka di balik lipatan kemejanya sebagai balasan. "Mas Raka ini... selalu saja berlebihan kalau memuji."
Raka menahan ringisan tipis saat cubitan Naya mendarat di pinggangnya, namun senyum manis di wajah tampannya tidak pudar sedikit pun. Ia justru makin mempererat pelukannya di pinggang Naya.
"Mana ada berlebihan untuk istri sendiri, Sayang?"
Nenek Rahma terkekeh bahagia melihat interaksi mesra di hadapannya. Raut kecurigaan di wajahnya mencair sepenuhnya. "Aduhai... Nenek lega sekali melihat kalian semesra ini. Dulu waktu dijodohkan, Raka mengamuk tidak karuan. Katanya tidak mau menikah sebelum umur tiga puluh lima. Tapi lihat sekarang, menempel terus seperti perangko."
Naya hanya bisa tersenyum meringis, sementara badannya kaku seperti kayu di dalam dekapan Raka.
Makan siang pun berlangsung di bawah pengawasan ketat Nenek Rahma. Naya yang tidak sempat memasak akhirnya menyajikan makanan katering mewah yang dipesan Raka sebelumnya.
Di meja makan, drama romantisme palsu itu terus berlanjut. Raka mengambilkan lauk untuk Naya, dan Naya, dengan rasa dendam yang tersembunyi, menyuapkan potongan daging yang penuh lemak ke piring Raka, tahu betul dari dokumen kantor dulu bahwa Raka sangat membenci makanan berlemak tinggi.
Raka menatap potongan daging berlemak itu dengan kilatan amarah yang tersembunyi, namun di depan Nenek Rahma, ia memakannya tanpa henti seraya tersenyum manis. "Terima kasih, Istriku."
"Sama-sama, Suamiku tercinta," balas Naya dengan mata berbinar puas.