NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Umpan dan Jaring

Pukul empat pagi, terminal tiga Soekarno-Hatta masih setengah tidur.

Petugas kebersihan mendorong mesin pengepel di sepanjang lantai yang mengilat. Toko-toko masih tertutup rolling door. Hanya ada beberapa penumpang yang duduk di kursi-kursi ruang tunggu dengan mata setengah terpejam, dan dua laki-laki yang berjalan cepat ke gerbang keberangkatan dengan wajah yang sama-sama kurang tidur.

Ponsel Reza berdering ketika mereka melewati pemeriksaan keamanan.

Reza melihat layarnya. Lalu dia melirik Damar. "Nala."

Damar mengambil ponsel itu dari tangannya.

Dia tidak mengangkatnya. Dia menatap nama di layar itu sampai deringnya berhenti. Lalu, ketika mereka melewati tempat sampah stainless di dekat gerbang, dia menjatuhkan ponsel itu ke dalamnya.

"Mar!" Reza berhenti berjalan. "Itu HP-ku! Semua kontak klien ada di situ!"

"Nanti dibelikan yang baru."

"Bukan itu masalahnya..."

"Masalahnya," kata Damar tanpa berhenti berjalan, "aku tidak mau kamu bicara dengannya selama kita di Batam."

Reza menatap punggungnya. Lalu dia menatap tempat sampah itu. Lalu dia menyusul, menggerutu dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh gerbang.

Di pesawat, sebelum mode pesawat dinyalakan, ponsel Damar sendiri bergetar sekali.

Pesan suara. Dari Anala.

Dia memutarnya dengan volume paling kecil, ponsel menempel di telinganya.

"Saya hanya mengingatkan." Suara itu datar, sopan, seperti suara mesin penjawab telepon. "Rapat dengan Bea Cukai jam sepuluh, Pak."

Hanya itu. Empat detik.

Saya. Pak.

Damar menyimpan ponselnya di saku jas. Pesawat mulai bergerak.

***

Gudang di Batu Ampar berbau solar dan kardus basah.

Tagih menunggunya di kantor kecil di lantai dua, di depan layar-layar monitor CCTV yang menampilkan setiap sudut gudang dalam kotak-kotak hitam putih. Dia berdiri ketika Damar masuk. Bekas luka panjang di pipi kirinya terlihat lebih gelap di bawah lampu neon.

"Barangnya aman, Bos."

"Bea Cukai bilang kontainernya kosong dari barang larangan."

"Saya tukar dua hari sebelum kapal berangkat." Tagih menyodorkan sebuah map. "Isinya saya ganti barang elektronik biasa, lengkap dengan dokumen. Waktu mereka bongkar, nggak ada yang salah. Mereka minta maaf malah."

Damar membuka map itu. Daftar barang. Nomor kontainer. Tanda tangan petugas.

"Kenapa kamu tukar?"

"Firasat, Bos." Tagih mengangkat bahu. "Habis Bintan, saya nggak percaya siapa-siapa."

Damar menutup map itu. Dia menatap Tagih lama. Laki-laki itu menatap balik, lalu, seperti biasa, matanya turun ke lantai.

"Ada satu lagi, Bos." Tagih menurunkan suaranya. "Ada yang bilang lihat Bayang. Bayang sendiri. Minggu lalu, di sebuah restoran seafood di Nongsa. Orang tua, rambutnya putih, pakai batik. Duduk sendirian, makan kepiting, terus pergi naik mobil dengan pelat Singapura."

"Siapa yang lihat?"

"Pelayan restoran. Saudara salah satu anak buah saya."

Damar diam.

Dua tahun bekerja dengan Bayang, dan tidak ada yang pernah melihat wajahnya. Sekarang tiba-tiba seorang pelayan restoran di Nongsa melihat seorang laki-laki tua makan kepiting.

Terlalu mudah. Seperti umpan.

"Biarkan," katanya. "Kita tidak mengejar Bayang." Dia meletakkan map itu di meja. "Kita tunggu ikannya makan umpan."

Tagih mengangguk. Dia tidak bertanya umpan apa yang dimaksud.

***

Pertengkaran itu terjadi tiga hari kemudian, di halaman gudang, di depan lebih dari dua puluh orang.

Reza yang memulainya. Itu sudah mereka sepakati di kamar hotel malam sebelumnya, dengan dua gelas air mineral dan sebuah papan tulis kecil yang Reza beli di toko alat tulis.

"Alasannya harus masuk akal," kata Reza waktu itu, mengetuk-ngetuk spidol di papan. "Orang-orang di gudang nggak bakal percaya kita pecah gara-gara duit. Kita nggak pernah ribut soal duit."

"Jadi?"

"Jadi perempuan." Reza menulis satu kata di papan dan melingkarinya. "Semua orang di Batam udah dengar kamu bawa sekretaris ke Bintan dan pulang naik pesawat pribadi. Mereka bakal percaya."

Damar menatap lingkaran di papan itu lama.

"Jangan sebut namanya."

"Nggak akan." Reza menghapus papan itu dengan telapak tangannya. Lalu dia berhenti, dan menatap Damar dengan cara yang aneh. "Mar. Kamu sadar nggak? Ini pertama kalinya kamu takut namanya disebut orang."

Damar tidak menjawab.

"Kamu pikir aku nggak lihat?" Reza berteriak, cukup keras sampai suaranya pecah di ujung. "Kamu pikir aku buta? Dua tahun, Mar! Dua tahun aku bilang sama kamu ada yang nggak beres sama perempuan itu! Dan kamu tetap..."

"Jaga mulutmu."

"Atau apa? Kamu mau pukul aku? Demi dia?"

Damar memukulnya.

Bukan pukulan sungguhan. Mereka sudah berlatih. Tapi dari jauh, di mata dua puluh laki-laki yang berhenti mengangkat kardus dan menatap dengan mulut terbuka, itu terlihat cukup nyata. Reza terhuyung, memegangi rahangnya, lalu menerjang balik. Mereka jatuh berguling di atas aspal yang panas. Seseorang berteriak. Dua orang mencoba memisahkan mereka.

Reza berdiri lebih dulu. Dia meludah ke tanah, tepat di sebelah sepatu Damar.

"Pecah kongsi," katanya. "Aku keluar. Bagianku aku ambil. Kontainer yang baru masuk itu punyaku. Siapa yang mau ikut aku, ikut. Yang mau tetap jadi anjingnya dia, silakan."

Tujuh orang mengikutinya keluar dari halaman gudang.

Damar berdiri di tengah halaman dengan bibir berdarah dan kemeja robek, menatap mereka pergi. Dia tidak mengejar. Di matanya, sengaja, dia membiarkan semua orang melihat kemarahan yang tidak dia rasakan.

Rahangnya sakit. Reza memukul lebih keras dari yang mereka sepakati.

***

Malam itu, di kantor lantai dua, dia duduk sendirian di depan layar-layar CCTV.

Kamera nomor tujuh. Sudut belakang gudang, dekat pintu darurat yang menghadap ke dermaga. Pukul sembilan lewat dua puluh.

Tagih berjalan ke sana. Sendirian. Sebelum itu, di kamera nomor empat, Damar melihatnya menyuruh dua anak buah yang biasa mengikutinya untuk pergi ke depan, ke pos jaga. Mereka pergi tanpa bertanya.

Di kamera nomor tujuh, Tagih berhenti di bawah lampu yang paling redup. Dia mengeluarkan ponselnya. Membuka penutup belakangnya dengan kuku ibu jari. Mengeluarkan kartu SIM. Memasukkan kartu SIM yang lain, yang dia ambil dari dompetnya.

Lalu dia menelepon seseorang. Tiga puluh detik. Mungkin kurang.

Lalu dia mengganti kartu SIM itu lagi, menyalakan rokok, dan berjalan kembali ke depan seperti tidak ada apa-apa.

Damar memutar ulang rekaman itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap langit-langit.

Oktober tahun lalu. Selang rem yang diiris tipis. Laki-laki pincang ini yang menemukannya, dan menolak membiarkan mereka naik ke mobil. Bintan, dua bulan lalu. Laki-laki pincang ini yang membawa Reza keluar dari api dengan sepeda motor curian, dan menyisir hutan selama dua hari untuk mencarinya.

Orang yang ingin dia mati tidak akan melakukan semua itu.

Atau akan melakukannya, kalau yang dia inginkan bukan kematian. Kalau yang dia inginkan sesuatu yang lain, yang lebih lama, yang membutuhkan Damar tetap hidup.

Damar menghapus tiga puluh detik itu dari server. Dia menyimpan salinannya di flashdisk kecil yang dia masukkan ke saku dalam jasnya.

Dia tidak akan mengatakan apa-apa. Belum.

***

Selama sembilan hari di Batam, dia memutar pesan suara empat detik itu setiap malam.

Saya hanya mengingatkan. Rapat dengan Bea Cukai jam sepuluh, Pak.

Dia tidak tahu kenapa. Dia sudah hafal setiap jeda di dalamnya, setiap tarikan napas kecil sebelum kata "Pak". Dia tahu persis di mana suara perempuan itu sedikit lebih rendah dari biasanya, seperti seseorang yang baru saja menangis atau baru saja bangun tidur.

Dia tidak membalasnya. Perempuan itu tidak mengirim apa-apa lagi.

***

Lima Desember, pukul sebelas malam, ponsel barunya berbunyi.

Bukan dari Anala. Dari salah satu dari tujuh orang yang ikut Reza.

"Pak. Pak, kami diserang. Di pinggir hutan dekat Lagoi. Ada mobil yang nunggu kami, mereka langsung tembak. Kami lari ke mana-mana. Pak Reza..."

Sambungan putus.

Damar membuka aplikasi pelacak. Titik merah milik Reza berkedip di layar, di pinggiran hutan di utara Bintan. Lalu berhenti berkedip.

Lalu hilang.

Damar memperbesar peta di sekitar titik terakhir itu. Hutan. Jalan tanah. Dan sebuah area kecil yang ditandai di peta dengan ikon kamera dan tulisan yang kecil sekali, yang hampir tidak bisa dia baca dengan mata yang sudah lelah malam itu.

Lokasi syuting.

Dia mengerutkan dahinya.

"Di sana ada kru film?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!