NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Raka menemukan berkas itu di atas meja kerjanya di Adhitama Global, terselip di antara laporan evaluasi program sosial dan dokumen rapat direksi.

Sampulnya berwarna biru tua, dengan label kecil yang nyaris terlepas.

Evaluasi Internal — Program Bantuan Medis, Lima Tahun Sebelumnya.

Ia membuka halaman pertama sambil menghabiskan kopi yang dibelinya dalam perjalanan. Awalnya, ia mengira dokumen itu hanya berisi laporan anggaran dan daftar rumah sakit mitra.

Namun, semakin jauh ia membaca, semakin banyak catatan yang terasa tidak biasa.

Bukan karena ada angka yang mencurigakan, melainkan karena beberapa bagian administrasi tampak tidak lengkap. Ada formulir yang mencatat keputusan, tetapi tidak mencantumkan hasil tindak lanjut. Ada permohonan yang dinyatakan selesai tanpa bukti penerimaan dari pihak keluarga.

Dan di antara beberapa nomor referensi, ia menemukan kode yang belakangan terus muncul dalam pikirannya.

AP-17.

Raka berhenti membaca.

Ia mengambil ponsel, membuka percakapannya dengan Nadira, lalu membaca kembali pesan perempuan itu tentang arsip yayasan.

Jadi, kode yang dicari Nadira juga muncul dalam dokumen yang sekarang ada di tangannya.

Kebetulan?

Mungkin.

Tetapi Raka sudah cukup lama mengenal dunia bisnis keluarganya untuk memahami bahwa kebetulan tidak bisa dijadikan kesimpulan sebelum semua faktanya diperiksa.

Ia membalik halaman berikutnya.

Di sana tercantum ringkasan pengeluaran bantuan medis. Pembayaran untuk sejumlah pasien dilakukan langsung kepada rumah sakit, sementara pemberitahuan kepada keluarga menjadi tanggung jawab bagian administrasi program.

Tidak ada nama Ratih pada halaman itu.

Namun, terdapat satu catatan kecil di bawah tabel:

Sebagian dokumen pemberitahuan memerlukan pemeriksaan ulang karena tidak seluruh bukti korespondensi berhasil ditemukan.

Raka membaca kalimat itu dua kali.

Ia tidak tahu apakah AP-17 termasuk dalam kelompok dokumen tersebut. Ia juga tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas pemeriksaan ulang itu.

Yang ia tahu, Nadira sedang mencari jawaban yang mungkin tersembunyi di dalam berkas ini.

Dan ia tidak ingin menjadi orang yang membuat pencarian itu semakin sulit.

“Lo kelihatan seperti baru menemukan soal ujian yang jawabannya sengaja dihapus.”

Bima menjatuhkan diri ke kursi di sebelah Raka ketika latihan ASTRAL selesai.

Raka menutup laptop.

“Analogi lo semakin lama semakin buruk.”

“Tapi akurat.”

“Tidak.”

Bima melirik map yang tergeletak di meja.

“Dokumen perusahaan?”

“Evaluasi program yayasan.”

“Wah, calon pewaris sedang belajar menjadi orang kantoran.”

Raka menatapnya datar.

“Kalau lo tidak punya pekerjaan lain, gue bisa meminta pelatih menambah sesi latihan lo.”

“Baik, saya diam.”

Bima mengangkat kedua tangan, tetapi matanya masih tertuju pada map tersebut.

Setelah beberapa detik, ia kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih serius.

“Ada masalah?”

Raka mempertimbangkan jawabannya.

Ia tidak ingin menceritakan informasi pribadi Nadira tanpa izinnya. Namun, ia juga membutuhkan seseorang untuk membantunya berpikir jernih.

“Ada beberapa catatan administrasi lama yang belum lengkap,” katanya. “Aku sedang mencoba memahami apakah semuanya sudah ditindaklanjuti dengan benar.”

Bima mengangguk.

“Kalau begitu, jangan buru-buru menyimpulkan ada yang sengaja menyembunyikan sesuatu.”

Raka mengangkat alis.

“Sejak kapan lo jadi ahli audit?”

“Sejak gue melihat muka lo setiap kali membaca dokumen itu.”

Bima bersandar.

“Serius, Rak. Kalau ada masalah, cari faktanya dulu. Jangan sampai lo membuat keputusan hanya karena lo sudah punya dugaan.”

Raka terdiam sesaat.

Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi tepat.

Ia tidak boleh menganggap ketidaklengkapan dokumen sebagai bukti bahwa seseorang sengaja menghilangkannya.

Namun, ia juga tidak boleh mengabaikannya hanya karena dokumen itu berasal dari yayasan keluarganya.

“Aku tahu,” jawabnya.

Bima menepuk bahunya.

“Bagus. Sekarang berhenti memikirkan pekerjaan dan makan. Kalau lo pingsan sebelum pertandingan, gue tidak mau menjadi kapten pengganti.”

Raka tertawa kecil.

“Tenang. Posisi itu masih terlalu tinggi untuk lo.”

“Kurang ajar.”

Untuk sesaat, percakapan mereka kembali seperti biasa.

Namun, ketika Bima pergi, Raka membuka map itu sekali lagi.

Kode AP-17 masih tertera di halaman yang sama.

Dan kali ini, ia tidak bisa berhenti memikirkan Nadira.

Di kantor redaksi, Nadira sedang menatap dua lembar catatan yang baru dicetak ketika Keisha menghampirinya.

“Kamu sudah makan?”

Nadira tidak mengalihkan pandangan.

“Kenapa semua orang hari ini menanyakan hal yang sama?”

“Karena kamu terlihat seperti orang yang akan menjadikan dokumen sebagai makanan utama.”

Nadira tertawa singkat.

“Aku sudah makan.”

Keisha menarik kursi.

“Bagaimana perkembangan pencarianmu?”

Nadira menjelaskan temuan terbaru dari Yayasan Adhitama Peduli. Ia menceritakan bahwa dokumen AP-17 telah ditemukan, bahwa ibunya memang tercatat sebagai penerima bantuan medis, dan bahwa bukti pengiriman pemberitahuan kepada keluarga belum berhasil dipastikan.

Keisha mendengarkan dengan serius.

“Jadi, kamu sudah tahu bantuan itu benar-benar ada.”

“Ya. Tapi aku belum tahu siapa yang membayarnya atau kenapa suratnya tidak sampai.”

“Apakah kamu merasa ada seseorang yang sengaja menyembunyikan informasi?”

Nadira mengusap kening.

“Aku tidak tahu. Ada pesan anonim yang menyuruhku mencari tahu siapa yang memastikan keluargaku tidak menerima pemberitahuan. Tapi aku tidak bisa menjadikan pesan itu sebagai bukti.”

“Bagus. Jangan sampai orang asing mengendalikan arah penyelidikanmu.”

Nadira mengangguk.

Ia memang semakin curiga terhadap pengirim pesan tersebut. Orang itu mengetahui kode arsip, memahami proses korespondensi, dan tampaknya tahu bahwa beberapa dokumen tidak tersedia dalam laporan umum.

Namun, ia belum memiliki alasan untuk mempercayainya.

“Yang membuatku bingung,” lanjut Nadira, “adalah kenapa seseorang mau bersusah payah mengirimiku pesan seperti itu, tetapi tidak pernah memberikan bukti yang benar-benar bisa diperiksa.”

“Mungkin dia takut.”

“Atau mungkin dia ingin aku mencurigai orang tertentu.”

Keisha menunjuk Nadira.

“Nah. Itu yang harus kamu ingat.”

Nadira bersandar ke kursi.

Ia teringat Raka.

Laki-laki itu juga sedang memeriksa dokumen yayasan. Ia memiliki akses yang tidak dimiliki Nadira, tetapi sejauh ini tidak pernah menggunakan kedekatan mereka untuk menghalangi pertanyaannya.

Justru sebaliknya, Raka memberinya ruang untuk mencari jawaban sendiri.

Namun, Nadira tidak ingin menjadikan perasaan sebagai alasan untuk berhenti bersikap kritis.

“Aku akan tetap mengikuti bukti,” katanya akhirnya.

Keisha tersenyum.

“Itu baru Nadira yang kukenal.”

Sore harinya, Nadira mengunjungi ibunya.

Ratih sedang merapikan beberapa tanaman di teras ketika putrinya datang membawa buah dan makanan ringan.

“Kamu tidak perlu repot-repot membawa sebanyak ini,” kata Ratih.

“Kalau aku datang dengan tangan kosong, nanti Ibu bilang aku tidak pernah ingat keluarga.”

Ratih tertawa kecil.

Mereka masuk ke rumah, lalu duduk di ruang tengah.

Nadira menceritakan perkembangan arsip AP-17. Ia menjelaskan bahwa yayasan telah menemukan dokumen yang mengonfirmasi bantuan medis, tetapi belum menemukan bukti bahwa pemberitahuan kedua benar-benar dikirim.

Ratih mendengarkan tanpa menyela.

Ketika Nadira selesai, wajah ibunya terlihat lebih pucat daripada sebelumnya.

“Bu?”

Ratih meremas ujung saputangan di tangannya.

“Jadi, mereka menemukan suratnya.”

“Ya. Tapi belum ada jawaban tentang siapa yang membayar operasi Ibu.”

Ratih menunduk.

“Ibu sudah menduga suatu hari kamu akan menemukan ini.”

Nadira duduk lebih dekat.

“Kalau Ibu tahu sesuatu, aku ingin mendengarnya.”

Ratih menatap putrinya.

“Ada sesuatu yang perlu kamu pahami. Lima tahun lalu, Ibu memang diberi tahu bahwa biaya operasi dibantu oleh sebuah yayasan. Tapi Ibu tidak pernah diberi penjelasan lengkap mengenai siapa yang menyediakan dana itu.”

“Apakah Ibu pernah menerima surat dari yayasan?”

Ratih menggeleng perlahan.

“Tidak ada surat resmi yang Ibu ingat. Ibu hanya diberi tahu oleh pihak rumah sakit bahwa ada bantuan yang menutupi sebagian biaya.”

Nadira mencatat keterangan itu di buku kecilnya.

“Siapa yang memberi tahu Ibu?”

“Seorang petugas administrasi rumah sakit. Ibu tidak ingat namanya. Saat itu, Ibu masih dalam pemulihan dan terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya kembali bekerja.”

Nadira mengangguk.

Jawaban itu sesuai dengan kemungkinan yang telah ia pertimbangkan.

“Bu, apakah ada seseorang yang datang menemui Ibu saat itu?”

Ratih terdiam cukup lama.

“Ada.”

Nadira mengangkat kepala.

“Siapa?”

Ratih mengusap wajahnya.

“Ibu tidak yakin apakah orang itu datang atas nama yayasan atau atas nama pribadi. Yang Ibu ingat, dia mengatakan bahwa bantuan itu tidak perlu dipikirkan sebagai utang.”

Nadira merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

“Apakah Ibu mengenal orang itu?”

“Tidak dekat. Kami hanya berbicara sebentar.”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

Nadira menahan keinginan untuk segera mengajukan pertanyaan berikutnya.

Ia tidak ingin membuat ibunya merasa sedang diinterogasi.

“Apakah Ibu ingat namanya?”

Ratih menggeleng.

“Maaf, Dira. Ibu benar-benar tidak ingat. Tapi Ibu ingat satu hal.”

“Apa?”

“Dia mengatakan bahwa orang yang membayar bantuan itu tidak ingin keluarga kita merasa berutang budi.”

Nadira terdiam.

Kalimat tersebut tidak menjelaskan siapa yang membayar operasi ibunya. Namun, kalimat itu memberi petunjuk bahwa setidaknya ada seseorang yang terlibat langsung dalam penyampaian bantuan.

Seseorang yang mungkin mengetahui lebih banyak daripada yang tercatat dalam dokumen administrasi.

“Kenapa Ibu tidak pernah menceritakan ini sebelumnya?”

Ratih menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

“Karena Ibu sendiri tidak tahu banyak. Dan Ibu tidak ingin kamu merasa harus mencari orang itu untuk membalas sesuatu yang bahkan tidak kamu minta.”

Nadira menggenggam tangan ibunya.

“Aku tidak mencari orang itu untuk membalas budi, Bu. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Ratih mengangguk pelan.

“Ibu mengerti.”

Untuk pertama kalinya, Nadira merasa ibunya benar-benar bersedia membantunya mencari jawaban.

Belum semua rahasia terbuka, tetapi setidaknya mereka tidak lagi berdiri di sisi yang berlawanan.

Malam itu, Raka menerima panggilan dari ayahnya.

“Aku sudah memeriksa laporan evaluasi,” katanya setelah menyapa.

“Dan?”

“Ada catatan bahwa beberapa pemberitahuan kepada keluarga penerima bantuan tidak memiliki bukti pengiriman yang lengkap.”

Adrian terdiam.

“Dokumen lama memang tidak selalu tersimpan dengan baik.”

“Aku mengerti. Tapi apakah ada pemeriksaan internal setelah program selesai?”

“Ada evaluasi rutin.”

“Apakah evaluasi itu membahas masalah korespondensi?”

Adrian menarik napas.

“Aku perlu memeriksa dokumen yang lebih lama untuk menjawabnya.”

Raka tidak melewatkan jeda itu.

“Apakah Ayah tahu tentang kasus AP-17?”

Di seberang telepon, suasana mendadak hening.

“Dari mana kamu mengetahui kode itu?”

Raka menegakkan punggung.

“Kode tersebut muncul dalam indeks arsip yang sedang diperiksa yayasan.”

“Itu bukan jawaban atas pertanyaanku.”

“Aku melihatnya dalam laporan.”

Adrian tidak segera membalas.

Kemudian ia berkata, “Raka, ada banyak dokumen lama yang tidak bisa dipahami hanya dengan membaca satu halaman. Jangan menarik kesimpulan sebelum seluruh berkas diperiksa.”

“Aku tidak sedang menarik kesimpulan. Aku bertanya apakah Ayah mengetahui kasus itu.”

“Aku belum bisa memberikan jawaban yang pasti tanpa memeriksa arsip lengkap.”

Raka mengembuskan napas.

Itu bukan jawaban yang ia harapkan, tetapi ia tidak memiliki bukti untuk menuduh ayahnya berbohong.

“Baik. Kalau begitu, aku ingin pemeriksaan itu dilakukan secara menyeluruh.”

“Aku akan meminta tim yayasan menindaklanjutinya.”

Panggilan berakhir.

Raka duduk diam beberapa saat.

Ia mulai memahami bahwa persoalan AP-17 mungkin tidak sesederhana kesalahan administrasi.

Namun, ia juga tahu bahwa kecurigaan tidak akan membantunya menemukan kebenaran.

Ia harus memeriksa dokumen yang tersedia, meminta penjelasan dari pihak yang berwenang, dan memastikan tidak ada informasi yang sengaja diabaikan.

Terutama karena Nadira sedang menunggu jawaban yang sama.

Ketika Raka menghubungi Nadira malam itu, perempuan tersebut sedang duduk di tepi tempat tidurnya sambil membaca ulang catatan tentang percakapan dengan ibunya.

Raka: Kamu sudah di rumah?

Nadira: Sudah. Aku baru pulang dari rumah Ibu.

Raka: Bagaimana keadaan beliau?

Nadira: Baik. Kami bicara tentang operasi lima tahun lalu.

Raka menunggu beberapa saat sebelum mengetik lagi.

Raka: Apakah kamu mendapatkan informasi baru?

Nadira mempertimbangkan apakah ia harus menceritakan semuanya lewat pesan.

Akhirnya, ia memutuskan memberikan gambaran singkat.

Nadira: Ibu ingat pernah diberi tahu bahwa biaya operasi dibantu yayasan. Tapi ada seorang laki-laki yang datang dan mengatakan bahwa orang yang membayar bantuan itu tidak ingin keluarga kami merasa berutang budi.

Raka: Apakah ibumu mengenali laki-laki itu?

Nadira: Tidak. Beliau juga tidak ingat namanya.

Raka membaca pesan itu dengan serius.

Seseorang telah mendatangi Ratih secara langsung.

Namun, tanpa nama, tanggal, atau catatan kunjungan, informasi tersebut belum cukup untuk mengidentifikasi orang itu.

Raka: Aku akan mencari tahu apakah ada catatan pendampingan penerima bantuan yang masih tersimpan. Tentu melalui prosedur yang benar.

Nadira menatap layar.

Nadira: Terima kasih. Tapi jangan mengambil risiko untukku.

Raka: Aku tidak akan melakukannya. Aku hanya ingin memastikan semua informasi diperiksa dengan benar.

Nadira tersenyum tipis.

Nadira: Baiklah. Dan Raka?

Raka: Ya?

Nadira: Aku senang kamu tidak menganggap pertanyaanku sebagai tuduhan terhadap keluargamu.

Raka membaca kalimat itu dengan dada terasa hangat.

Raka: Aku tahu kamu sedang mencari kebenaran, bukan mencari seseorang untuk disalahkan.

Nadira meletakkan ponselnya di samping bantal.

Untuk malam itu, ia merasa cukup tenang.

Ia masih belum tahu siapa yang membayar operasi ibunya. Ia juga belum tahu mengapa pemberitahuan kepada keluarganya tidak pernah terkonfirmasi.

Namun, setidaknya kini ia memiliki petunjuk baru: seseorang pernah datang langsung kepada ibunya, dan orang itu sengaja tidak menyebutkan nama pihak yang memberikan bantuan.

Mungkin ia melakukannya untuk melindungi privasi seseorang.

Mungkin ada alasan lain.

Apa pun itu, jawabannya masih tersembunyi dalam arsip yang belum selesai diperiksa.

Dan Nadira mulai menyadari bahwa masa lalu keluarganya mungkin bersinggungan dengan masa lalu keluarga Adhitama jauh sebelum ia bertemu Raka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!