Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - ENAM BULAN MENGHILANG
Enam bulan berlalu sejak Celine Wang meninggalkan rumah keluarga Wu.
Selama waktu itu, Shanghai menyaksikan perubahan besar dalam kehidupan perempuan yang dahulu dikenal sebagai istri Alexander Wu. Namanya perlahan muncul di kalangan investor, analis keuangan, dan pemilik perusahaan yang sedang mencari mitra bisnis baru.
Namun, bagi orang-orang yang mengenalnya secara pribadi, Celine seolah menghilang.
Ia tidak lagi menghadiri acara sosial yang biasa didatangi keluarga kaya Shanghai. Nomor lamanya sudah tidak aktif. Apartemen yang dahulu ditempatinya telah dikosongkan, sementara akun media sosialnya berhenti diperbarui.
Bahkan Daniel Zhou, pengacara yang membantunya menyelidiki kematian ayahnya, hanya bisa menghubunginya melalui jalur komunikasi khusus.
Celine sengaja menghilang dari kehidupan lamanya.
Bukan karena ia menyerah, melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa seseorang sedang mengawasinya.
Dan selama ia masih menjadi sasaran, orang-orang yang membantunya akan selalu berada dalam bahaya.
Pukul delapan pagi, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung perkantoran di kawasan Pudong.
Seorang perempuan turun dengan mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu, kacamata hitam, dan rambut yang dipotong sebahu. Wajahnya terlihat lebih dewasa daripada enam bulan sebelumnya. Tidak ada lagi kesan lembut dan ragu-ragu yang dahulu membuat orang mudah meremehkannya.
Perempuan itu adalah Celine.
Selama enam bulan terakhir, ia menggunakan nama profesional yang berbeda untuk menangani sejumlah proyek konsultasi investasi. Ia tidak mengubah identitas hukumnya, tetapi membatasi informasi pribadi yang dapat diakses orang lain.
Dengan bantuan Adrian Shen, ia berhasil membangun jaringan profesional yang tidak bergantung pada nama keluarga Wu maupun Wang.
Pekerjaannya berkembang pesat. Ia membantu beberapa perusahaan menemukan penyimpangan keuangan, menyelamatkan investasi yang hampir merugi, dan memperoleh kepercayaan dari sejumlah investor besar.
Namun, keberhasilan itu bukan tujuan akhirnya.
Di dalam tasnya tersimpan sebuah salinan laporan yang telah ia cari selama berbulan-bulan: catatan transaksi 0917 yang menghubungkan Wang Group, Wu Group, dan Shengyuan Holdings.
Dokumen tersebut belum cukup untuk membuktikan siapa yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Akan tetapi, dokumen itu menunjukkan bahwa dana dalam jumlah besar telah dipindahkan melalui beberapa perusahaan perantara sebelum akhirnya masuk ke rekening yang terkait dengan Wu Group.
Yang lebih mengkhawatirkan, salah satu transaksi dilakukan menggunakan persetujuan digital atas nama William Wang setelah tanggal kematiannya tercatat dalam laporan awal.
Celine tidak tahu apakah itu kesalahan administrasi atau bukti pemalsuan yang disengaja.
Karena itulah ia membutuhkan dokumen asli.
Dan dokumen asli itu kemungkinan besar berada di tangan seseorang yang selama ini berusaha membungkamnya.
Di kantor Shen Capital, Adrian Shen berdiri di depan layar besar yang menampilkan struktur kepemilikan beberapa perusahaan.
Ketika Celine memasuki ruang rapat, ia langsung mematikan layar tersebut.
“Kau datang lebih awal,” katanya.
“Aku tidak ingin ada orang yang menunggu terlalu lama.”
Adrian memperhatikannya sesaat.
“Enam bulan lalu, kau datang ke kantorku dengan membawa ketakutan dan pertanyaan. Sekarang, separuh tim analis meminta pendapatmu sebelum mengambil keputusan.”
Celine meletakkan berkas di atas meja.
“Mereka membayar untuk analisis, bukan untuk mendengarkan kisah hidupku.”
Adrian tertawa kecil. “Kau benar-benar berubah.”
“Tidak. Aku hanya berhenti membiarkan orang lain menentukan nilai diriku.”
Senyum Adrian perlahan menghilang. Ia mengetahui bahwa perubahan Celine bukan sesuatu yang terjadi dengan mudah. Perempuan itu menghabiskan banyak malam tanpa tidur, berulang kali menerima ancaman, dan harus belajar membedakan orang yang benar-benar ingin membantu dari mereka yang hanya ingin memanfaatkan rasa sakitnya.
“Ada perkembangan mengenai Shen Yiran,” kata Adrian akhirnya.
Celine langsung mengangkat wajah.
“Apa yang kau temukan?”
“Shen Yuxin berhasil menemukan catatan perjalanan lama yang menunjukkan bahwa seseorang dengan nama berbeda meninggalkan Shanghai sekitar lima belas tahun lalu. Usianya cocok dengan Shen Yiran.”
“Apakah kita tahu ke mana dia pergi?”
“Belum. Catatannya berhenti di Hong Kong.”
Celine membuka buku catatan kecilnya dan menuliskan informasi tersebut.
“Bagaimana dengan ibunya Shen Yuxin? Mengapa namanya tidak pernah muncul dalam arsip keluarga?”
Adrian menatapnya dengan serius.
“Kau masih menerima pesan-pesan itu?”
“Kadang-kadang.”
“Pesan yang menyuruhmu mencurigai Yuxin?”
Celine mengangguk.
“Aku tidak akan menuduhnya tanpa bukti. Tetapi seseorang jelas ingin membuatku meragukannya.”
Adrian terdiam sesaat sebelum menyerahkan sebuah amplop.
“Ini ditemukan oleh tim hukum kami. Dokumen di dalamnya berasal dari arsip lama Shengyuan. Ada satu nama yang mungkin menarik perhatianmu.”
Celine membuka amplop itu.
Di antara lembaran laporan yang sudah menguning, ia menemukan nama Victor Wu pada sebuah dokumen pengalihan aset. Di bawahnya terdapat tanda tangan William Wang dan Shen Guowei.
Namun, tanda tangan William tampak berbeda dari tanda tangan pada dokumen lain yang dimiliki Celine.
Ia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
“Ini mungkin bukan tanda tangan ayahku.”
“Kami juga mencurigainya,” jawab Adrian. “Tetapi kami membutuhkan pemeriksaan ahli.”
Celine menutup amplop tersebut.
“Kalau tanda tangan itu dipalsukan, berarti seseorang berusaha mengalihkan aset tanpa persetujuan ayahku.”
“Dan jika itu benar, transaksi 0917 mungkin bukan sekadar masalah bisnis.”
Celine menatap jendela.
Enam bulan penyelidikan telah membawanya lebih dekat kepada kebenaran. Namun, semakin dekat ia melangkah, semakin besar pula bahaya yang mengikutinya.
Pada hari yang sama, Alexander Wu menerima laporan yang tidak pernah ia bayangkan akan dibacanya.
Sekretarisnya berdiri di depan meja kerja dengan wajah tegang.
“Kami tidak berhasil menemukan alamat tempat tinggal terbaru Nona Celine Wang.”
Alexander mengangkat kepala.
“Bagaimana mungkin?”
“Dia tidak menggunakan nomor telepon lamanya. Beberapa alamat yang tercatat sudah tidak berlaku. Dia juga tidak lagi menghadiri acara publik.”
Alexander menutup laporan di tangannya.
“Bagaimana dengan pekerjaannya?”
“Dia masih terlibat dalam beberapa proyek investasi melalui jaringan profesional yang terhubung dengan Shen Capital. Namun, informasi mengenai jadwal dan tempat tinggalnya sangat terbatas.”
Alexander terdiam lama.
Enam bulan lalu, ia mengira perceraian mereka hanyalah akhir dari hubungan yang sudah kehilangan makna. Ia percaya Celine akan kembali menjalani kehidupan sederhana seperti sebelumnya, sementara dirinya melanjutkan hidup bersama Evelyn.
Namun, kenyataan ternyata berbeda.
Celine tidak kembali.
Ia tidak menghubunginya, tidak meminta bantuan, dan tidak mencoba menarik perhatiannya.
Perempuan yang dahulu selalu menunggunya pulang kini bahkan tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui apakah ia baik-baik saja.
“Cari tahu apakah dia berada dalam bahaya,” ujar Alexander akhirnya.
Sekretarisnya tampak ragu.
“Apakah Anda ingin kami menghubunginya?”
Alexander menatap laporan itu.
“Tidak. Jangan mengganggunya. Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang mengancam keselamatannya.”
Setelah sekretarisnya pergi, Alexander membuka laci meja. Di sana masih tersimpan cincin pernikahan Celine yang dahulu tertinggal di rumah mereka.
Ia tidak tahu mengapa benda kecil itu masih disimpannya.
Mungkin karena selama enam bulan terakhir, untuk pertama kalinya, ia mulai memahami betapa banyak hal yang tidak pernah ia ketahui tentang perempuan yang pernah menjadi istrinya.
Sementara itu, Evelyn Zhao juga mendengar kabar bahwa Celine telah menghilang.
Awalnya, ia merasa lega.
Selama berbulan-bulan, ia khawatir Celine akan menemukan bukti yang menghubungkannya dengan beberapa transaksi lama. Ia juga tidak menyukai kenyataan bahwa Alexander mulai mempertanyakan sejumlah kejadian dari masa lalu.
Namun, hilangnya Celine justru membuat Evelyn gelisah.
Orang yang tidak terlihat bukan berarti orang yang tidak berbahaya.
Ia menghubungi seseorang yang selama ini membantunya mendapatkan informasi.
“Apakah kau sudah menemukan tempat persembunyiannya?” tanyanya.
“Belum. Dia sengaja memutus banyak jalur komunikasi.”
“Kalau begitu, cari orang-orang yang pernah bekerja dengannya.”
“Sudah kami coba. Tidak ada yang bersedia bicara.”
Evelyn menggenggam ponselnya lebih erat.
“Jangan biarkan dia menemukan dokumen asli transaksi 0917.”
Suara di seberang mendadak berubah dingin.
“Kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri, Nona Zhao.”
Evelyn membeku.
“Apa maksudmu?”
“Orang yang menyuruh kami mengawasi Celine sudah mulai kehilangan kesabaran. Jika dokumen itu muncul, bukan hanya keluarga Wu yang akan terseret.”
Panggilan terputus.
Evelyn berdiri diam di tengah ruang tamunya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dirinya mungkin bukan satu-satunya orang yang memainkan permainan berbahaya ini.
Bisa jadi, selama ini ia hanya menjalankan rencana seseorang yang jauh lebih berkuasa.
Malam itu, Celine berada di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota. Tempat itu bukan alamat yang terdaftar atas namanya dan hanya diketahui oleh dua orang yang benar-benar ia percaya.
Di atas meja terdapat foto ayahnya, surat peninggalan ibunya, serta salinan laporan transaksi 0917.
Ia mengambil surat ibunya dan membaca kalimat yang telah dihafalnya selama berbulan-bulan.
Jangan percaya kepada siapa pun hanya karena mereka mengaku ingin melindungimu. Kebenaran tidak selalu datang dari orang yang kau cintai.
Celine memejamkan mata.
Ia masih merindukan ayahnya. Ia masih menyimpan luka akibat pengkhianatan Alexander. Namun, ia tidak lagi ingin menghabiskan hidupnya dengan bertanya mengapa orang-orang yang dicintainya gagal melindunginya.
Ia akan mencari jawabannya sendiri.
Tiba-tiba, ponselnya menyala.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Enam bulan sudah cukup. Jika kau ingin mengetahui siapa yang memalsukan tanda tangan ayahmu, datanglah ke dermaga lama pukul sebelas malam besok. Bawa foto Shen Yiran. Datang sendirian.”
Celine membaca pesan itu dua kali.
Lalu, sebuah foto menyusul.
Foto tersebut memperlihatkan seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di depan sebuah toko kecil di Hong Kong. Wajahnya sedikit berbeda dari foto lama Shen Yiran, tetapi bentuk matanya sangat mirip.
Di bawah foto itu tertulis:
Shen Yiran masih hidup. Dan dia mengetahui siapa yang membunuh William Wang.
Celine menatap gambar tersebut tanpa berkedip.
Selama enam bulan, ia berusaha menghilang agar bisa bertahan hidup.
Kini, orang yang dicarinya mungkin akhirnya muncul.
Namun, ia tahu pesan itu bisa menjadi jebakan.
Ia segera mengirimkan salinan foto kepada Daniel dan Adrian melalui jalur aman, tanpa memberi tahu mereka bahwa ia mungkin akan pergi ke dermaga.
Celine kemudian berdiri, menatap pantulan dirinya di jendela.
Perempuan yang pernah meninggalkan rumah Wu dengan hati hancur sudah tidak ada lagi.
Yang berdiri di hadapannya sekarang adalah seseorang yang telah belajar bertahan, menyelidiki, dan menghadapi ketakutannya sendiri.
“Besok malam,” bisiknya, “aku akan mencari tahu siapa yang bersembunyi di balik semua kebohongan ini.”
Ia mematikan lampu.
Di luar, Shanghai tetap bersinar seperti biasa.
Namun, jauh dari keramaian kota, seseorang sedang menunggu kedatangan Celine.
Dan orang itu mengetahui sesuatu yang bahkan Alexander Wu belum berani ungkapkan.
Bahwa enam bulan menghilangnya Celine bukanlah akhir dari permainan.
Itu hanyalah awal dari kehancuran sebuah rahasia yang telah dijaga selama lima belas tahun.