Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 30
Sisa-sisa embun darah Babi Hutan Berduri di atas rumput liar perlahan memudar terbilas kabut sore yang kian menebal. Shen Jue memimpin langkah menyusuri lereng berbatu di tebing barat Rawa Barat, membelakangi cekungan lumpur tempat bangkai monster raksasa itu tergeletak. Di belakangnya, Gongsun Zhi menggendong sepasang taring putih utuh yang terikat rapi di balik punggungnya, sementara Ruan Xi'er berjalan dengan langkah-langkah ringan di atas bentangan akar tua.
"Ada tiga ekor lalat yang mengikuti kita sejak dari kubangan tadi," bisik Shen Jue datar tanpa memutar kepalanya sedikit pun.
"Zhongli Chen?" tanya Xi'er seketika memperlambat tumpuan kakinya.
"Siapa lagi kalau bukan tuan muda klan besar yang tidak punya nyali untuk bertarung secara terbuka," sahut Gongsun Zhi dengan suara rendah yang sarat akan cemoohan. "Apa kita harus berbalik dan membereskan mereka sekarang?"
"Jangan," pungkasi Shen Jue tenang sambil merapikan lipatan kerudung linen abu-abunya. "Musuh yang mengintai di dalam gelap jauh lebih mudah dikendalikan jika mereka merasa posisinya tidak diketahui. Biarkan mereka terus membuntut."
Di balik rimbun semak pakis raksasa yang berjarak sekitar tujuh puluh meter di belakang kelompok Shen Jue, Zhongli Chen berdiri merapat di balik batang pohon cemara tua. Matanya yang sempit berkilat penuh amarah dan kejengkelan saat menyaksikan ketiganya berjalan santai seolah-olah sedang berwisata di tengah hutan berbahaya.
Di sampingnya, Gao Feng dan Mo Qi memegangi gagang senjata masing-masing dengan napas memburu yang ditahan.
"Tuan Muda," bisik Gao Feng perlahan dengan dahi dibasahi keringat dingin. "Bocah belati rongsok itu membawa Inti Roh dua puluh poin dan sepasang taring murni. Kalau kita serang mereka di lereng tebing terbuka ini, kita bisa merebut semuanya sebelum malam makin gelap."
Zhongli Chen menatap tajam ke arah Gongsun Zhi yang menggendong tombak beratnya tanpa cela, lalu beralih memandang pergerakan Xi'er yang teramat lincah di atas dahan.
"Jangan bodoh," gertak Zhongli Chen dengan nada menindas yang ditahan di tenggorokan. "Kau lihat sendiri bagaimana tombak kaku Gongsun Zhi menahan serudukan empat ratus katian tadi? Ditambah kecepatan gadis musang itu, kalau kita menyerang langsung dari depan, kita bisa kehilangan dua orang sebelum berhasil melumpuhkan mereka."
"Lalu apa rencana kita, Tuan Muda?" tanya Mo Qi penasaran.
Zhongli Chen merogoh sebuah botol porselen kecil berwarna hitam dari balik saku jubah bagian dalamnya. Bibirnya terangkat membentuk garis senyum culas yang teramat kejam.
"Kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk melukai mereka," pungkasi Zhongli Chen dingin. "Botol ini berisi *Darah Pemancing Roh*—cairan fermentasi dari jantung serigala buas yang bisa tercium dari jarak lima mil oleh kawanan Serigala Bayangan. Begitu malam tiba dan mereka membuat kamp di atas tebing, kita akan menyebarkan cairan ini di sekeliling kamp mereka."
Mo Qi tersenyum lebar, menangkap niat busuk di balik rencana tersebut. "Rencana yang luar biasa! Kawanan Serigala Bayangan selalu berburu dalam jumlah belasan saat malam. Mereka akan menguras habis stamina dan energi spiritual kelompok Shen Jue sepanjang malam!"
"Benar," sambung Zhongli Chen dengan binar mata serakah. "Saat mereka kelelahan dan terluka parah dihantam kawanan serigala, kita tinggal masuk dan mengambil Inti Roh, sepasang taring, serta belati berkarat milik bocah itu tanpa perlawanan berarti."
Sementara itu, di puncak Tebing Batu Hitam yang menjulang lima puluh meter di atas kawasan Rawa Barat, kelompok Shen Jue mulai membersihkan pelataran batu seluas sepuluh langkah. Tempat itu dikelilingi oleh dinding batu terjal di tiga sisinya, menyisakan satu-satunya celah masuk berupa jalan setapak sempit berdinding karang.
Bagi mata orang awam, area tersebut tampak seperti perangkap buntu yang berbahaya jika dikepung. Namun bagi Shen Jue, pelataran batu dengan satu alur masuk adalah benteng alami sempurna yang membatasi jumlah penyerang sekaligus mempermudah pertahanan.
Xi'er bergerak tangkas mengikatkan benang perak tipis berhias lonceng kecil di sepanjang celah masuk jalan setapak, menciptakan jaring peringatan dini yang peka terhadap getaran sekecil apa pun.
"Tempat ini cukup terisolasi," pungkasi Xi'er sambil mendarat enteng di samping susunan batu. "Tapi kalau kita dikepung di sini, kita tidak punya jalan melarikan diri ke belakang."
"Kita tidak perlu melarikan diri," sahut Gongsun Zhi sambil menduduki sebuah batu datar dan mengasah mata Tombak Besi Hitam-nya secara telaten. "Satu celah masuk berarti musuh tidak bisa mengepung kita dengan jumlah orang yang banyak. Cukup satu tombak di depan untuk menahan sepuluh orang."
Shen Jue berjongkok di dekat susunan kayu bakar, menyalakan api kecil menggunakan pemantik batu. Sinar keemasan dari kobaran api menyinari wajahnya yang tenang, membiaskan bayangan panjang di dinding tebing.
"Shen Jue," panggil Xi'er sambil mengintip dari tepi tebing. "Kubu Zhongli Chen berhenti di celah pohon pinus di bawah sana. Mereka seperti sedang menunggu sesuatu."
"Mereka sedang menunggu kegelapan," sahut Shen Jue santai sambil merogoh saku jubahnya dan melempar beberapa tangkai daun herbal pahit ke dalam kobaran api unggun.
Asap tipis beraroma menyengat seketika membumbung keluar, terbawa angin malam yang berhembus pelan ke arah lereng bawah.
Gongsun Zhi menghentikan gesekan batu asahnya, mendongak menatap Shen Jue dengan dahi bertaut heran. "Kau tahu apa yang akan mereka lakukan?"
"Orang-orang kaya dari klan besar selalu menggunakan taktik yang sama saat berburu di luar," pungkasi Shen Jue mendatar. "Mereka tidak akan mengambil risiko bertarung secara jujur. Jika tebakanku tidak salah, mereka akan memanfaatkan bau binatang buas untuk menggiring kawanan serigala ke kamp ini."
"Menggiring serigala?!" pekik Xi'er tertahan dengan mata membulat marah. "Mereka benar-benar busuk! Apa kita harus menyergap tempat persembunyian mereka sekarang?"
"Tidak perlu," pungkasi Shen Jue sambil menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin di balik remang pendar api. "Daun herbal pahit yang kubakar ini menyamarkan bau tubuh kita dan menetralkan cairan pemicu apa pun yang mereka tebar di celah tebing. Mereka pikir mereka sedang memancing serigala untuk memangsa kita. Padahal... mereka hanya sedang menyiapkan panggung latihan gratis untuk kita bertiga malam ini."
Xi'er dan Gongsun Zhi saling pandang sejenak, lalu tersenyum tipis menyadari betapa jauhnya analisis Shen Jue melampaui jebakan musuh. Rasa cemas yang tadinya membayangi batin mereka seketika luluh, berganti dengan kesiapan batin yang mantap.
Kegelapan malam sepenuhnya menggulung Hutan Roh. Udara dingin pegunungan merayap pekat, membawa bau amis kapur bercampur aroma serangga malam. Dari balik kerapatan pohon pinus di lereng bawah, sebuah lolongan panjang yang melengking mendadak memecah keheningan malam, disusul oleh puluhan pasang titik cahaya merah yang mulai menyala di antara kegelapan semak-semak.
Zhongli Chen yang berdiri di atas dahan pohon jauh di bawah sana tersenyum puas melihat kawanan Serigala Bayangan mulai bergerak naik menuju Tebing Batu Hitam usai mencium aroma cairan racikannya.
Di atas pelataran tebing, Shen Jue duduk bersila dengan tenang. Belati kecil berkaratnya terbaring diam di atas pangkuannya, memancarkan getaran hawa dingin yang teramat samar di balik pendar keemasan api unggun, siap menyambut kedatangan para tamu malam yang tak diundang.