NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:204.8k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Selamat Tinggal Keluarga Suami

Mobil box yang membawa seluruh barang milik Arini melaju perlahan meninggalkan halaman rumah, disusul mobil yang ditumpangi perempuan itu. Galang hanya mampu berdiri mematung di depan pagar. Tatapannya terus mengikuti kendaraan tersebut hingga benar-benar lenyap di tikungan jalan.

Kini, rumah itu terasa begitu lengang. Seolah-olah bukan hanya Arini yang pergi, tetapi juga seluruh kehangatan yang selama ini diam-diam menghidupkan rumah tersebut.

Bu Sumarni berjalan mendekati putranya dengan wajah penuh tanda tanya. Sejak melihat tiga orang karyawan datang mengangkut barang-barang Arini, pikirannya dipenuhi berbagai dugaan.

"Lang," panggilnya pelan. "Emang istrimu kerja apa? Kok dia sampai punya karyawan segala?"

Galang masih menatap ke arah jalan kosong. Dengan suara datar ia menjawab, "Dia punya butik... sama toko baju muslim online, Bu."

Mata Bu Sumarni langsung membulat. "Hah? Kenapa kamu gak pernah bilang dari dulu kalau dia bukan cuma ibu rumah tangga?"

Galang mengembuskan napas panjang. "Kan ibu gak pernah nanya."

Jawaban itu membuat Bu Sumarni terdiam beberapa saat. Baru sekarang ia menyadari betapa sedikitnya ia mengenal menantunya sendiri. Selama ini ia hanya melihat Arini sebagai perempuan pendiam yang mengurus rumah, memasak, mencuci, dan melayani seluruh penghuni rumah tanpa pernah mengeluh. Ia tak pernah membayangkan perempuan itu ternyata memiliki usaha sendiri, bahkan mampu menggaji beberapa karyawan.

Rasa sesal mulai merayapi hatinya, tetapi bukan semata-mata karena telah memperlakukan Arini dengan buruk. Ia juga baru menyadari bahwa perempuan yang selama ini ingin ia singkirkan ternyata memiliki kehidupan dan penghasilan yang jauh lebih baik daripada yang ia kira.

"Sudah," katanya kemudian dengan nada tegas. "Sekarang kamu bujuk istrimu itu. Jangan sampai dia benar-benar minta cerai!"

Galang mengusap wajahnya yang mulai terasa penat. "Susah, Bu. Arini itu keras kepala. Kalau sudah mengambil keputusan, dia susah berubah."

"Pokoknya kamu harus bujuk. Jangan sampai dia lepas!"

Galang menoleh. Tatapannya dipenuhi kebingungan.

"Ibu ini gimana sih? Dulu ibu yang mati-matian maksa aku ninggalin Arini. Sekarang malah nyuruh aku mempertahankan dia?"

Bu Sumarni berdehem pelan sebelum menjawab.

"Dulu kan ibu gak tahu siapa dia."

Ucapan itu membuat Galang menggeleng pelan. Entah harus tertawa atau justru marah.

Di samping mereka, Vera ikut menyela dengan wajah cemas. "Iya, Mas. Pokoknya Mbak Arin harus balik lagi ke rumah ini. Jangan sampai kita kehilangan dia. Bisa hancur semuanya!"

Galang menatap adiknya dengan heran.

"Ribet banget jadi perempuan. Dulu kalian semua pengin nyingkirin dia. Sekarang waktu dia memilih pergi, malah kalian yang sibuk minta dia bertahan. Aneh."

Pak Hardi yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya angkat bicara.

"Menurut Bapak sih, memang sudah terlambat. Waktu Arini masih bertahan, gak ada satu pun dari kalian yang menghargai dia. Sekarang setelah dia memilih pergi, baru semua panik."

Belum sempat suasana mencair, Bu Sumarni langsung menoleh tajam ke arah suaminya.

"Sudahlah, Pak! Jangan ikut campur. Ini urusan kami."

"Tapi—"

"Bapak tinggal terima beres saja."

Nada suaranya dingin, bahkan terdengar ketus. Pak Hardi hanya menghela napas panjang. Ia memilih diam, meski dalam hati ia tahu satu hal.

Bukan Arini yang akan menyesali kepergiannya.

Melainkan keluarga mereka, yang baru menyadari nilai seseorang justru ketika orang itu sudah benar-benar pergi.

"Pokoknya sekarang bagian kamu dulu yang bujuk, Lang. Kalau kamu gak berhasil, baru ibu yang turun tangan."

"Iya, Bu," jawab Galang lesu.

Bu Sumarni menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Harusnya tadi kamu cegah dia. Ini malah kamu biarkan dia pergi begitu saja. Padahal dia masih istrimu. Sedikit memaksa juga gak masalah. Tunjukkan dong taringmu sebagai suami!"

Galang langsung mendengus pelan. "Lah, Bu... aku juga maunya begitu."

"Lalu kenapa gak dilakukan?"

"Ibu lihat sendiri kan? Arini datang bawa pasukan. Tiga karyawannya badannya gede-gede. Belum lagi sopir. Mana aku berani macam-macam? Bisa-bisa aku yang babak belur."

Vera sampai menahan tawa mendengar alasan kakaknya. Bu Sumarni justru memutar bola matanya kesal. "Ah, kamu memang cemen, Lang. Masa sama istri sendiri takut?"

"Bukan takut, Bu," sanggah Galang. "Aku cuma tahu diri. Kalau tadi aku nekat narik Arini atau maksa dia masuk rumah, karyawan-karyawannya pasti langsung ngeroyok aku. Lagian sekarang zamannya beda. Sedikit-sedikit bisa direkam orang, terus viral. Bukannya Arini pulang, aku malah bisa masuk penjara."

Ucapan itu membuat Pak Hardi mengangguk pelan.

"Galang ada benarnya juga. Zaman sekarang gak bisa sembarangan."

"Ya sudah, sudah! Jangan pada berdebat!" potong Bu Sumarni dengan nada kesal.

Ia mendengus keras, lalu berbalik masuk ke dalam rumah. Langkahnya cepat, sementara wajahnya masih ditekuk, jelas menunjukkan bahwa kepergian Arini membuat suasana hatinya benar-benar berantakan.

Galang dan Vera saling berpandangan. Tak ada lagi yang mereka katakan. Kini, mereka merasakan rumah itu begitu sunyi setelah ditinggalkan oleh sosok yang selama ini justru paling sering mereka abaikan.

Mayang yang sejak tadi hanya terdiam akhirnya angkat bicara. Wajahnya tampak tidak senang mendengar percakapan keluarga itu.

"Jadi... sekarang kalian mau mempertahankan wanita itu?" tanyanya sambil bergantian menatap Galang, Bu Sumarni, Vera, dan Pak Hardi.

Vera tanpa ragu langsung menjawab.

"Ya iyalah. Kalau aku disuruh milih antara Mbak Arin sama Mbak Mayang, jelas aku pilih Mbak Arin."

Mayang mengernyit. "Lho? Bukannya dulu kamu sendiri yang memintaku jadi kakak iparmu?"

"Itu dulu."

"Sekarang beda?"

"Jelas beda. Dulu aku kira Mbak Arin gak ada apa-apanya. Ternyata dia yang selama ini banyak bantu rumah ini."

Ucapan Vera membuat wajah Mayang berubah masam.

Melihat situasi mulai memanas, Bu Sumarni yang sudah hendak masuk ke dalam rumah menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Mayang sambil berkata dengan nada santai, seolah apa yang akan diucapkannya adalah hal yang sangat wajar.

"Sudahlah, Mayang. Gak usah banyak protes. Kita cuma butuh Arini untuk membantu keuangan rumah ini."

Mayang terdiam.

"Urusan rumah tangga, kamu tetap jadi ratunya. Gak ada yang berubah."

Mayang menatap mertuanya, memastikan ia tidak salah dengar.

"Oh... jadi begitu ya, Bu?"

"Iya. Makanya gak usah cemburu!"

Mayang lalu mengalihkan pandangannya kepada Galang.

"Mas... benar yang dikatakan Ibu?"

Galang mendekat, lalu menggenggam tangan Mayang untuk menenangkannya.

"Iya, Sayang."

"Jadi... Mas masih memilih aku?"

Galang mengangguk. "Tentu. Kamu tetap satu-satunya perempuan yang Mas cintai."

"Lalu Arini?"

Galang terdiam sesaat sebelum menjawab dengan nada dingin. "Kalau Arini... yang Mas butuhkan cuma hartanya."

Kalimat itu membuat Pak Hardi menatap putranya dengan kecewa. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan yang keluar begitu saja dari mulut Galang. Baginya, bukan hanya cinta Arini yang telah diinjak-injak, tetapi juga harga diri seorang perempuan yang selama ini sudah mengabdikan hidupnya untuk keluarga mereka.

Pak Hardi hanya menggeleng pelan. Dalam hati ia yakin, jika suatu hari Arini mengetahui isi hati mereka yang sebenarnya, perempuan itu tak akan pernah sudi kembali menginjakkan kaki di rumah tersebut.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Sinta Dewi
waaaww , apakah kecurangan nya udah bertahun tahun , kalo iya berarti hasil dari korupsi itu udah bisa bikin 1 resto lg tuh , penyelewengan dana & jabatan ini emang dimana mana gak pandang tempat 🤭🤭
Sinta Dewi
itulah kehidupan , alam mengajarkan bagaimana hukum tabur tuai berlaku semua ada konsekuensinya , ada harga yg harus dibayar .... terima kasih othor yg baik 🙏
Cicih Sophiana
biar pun Galang dan kluarga nya jahat jg... tp semoga pak Hardi dan si Mayang dapat karma nya...
Maria Magdalena
semoga klrg Galang pada tobat dan memulai dari bawah menerima keadaan.
Cicih Sophiana
knp ketauan nya dgn pak Hardi bukan dgn yg lain...
Cicih Sophiana
bongkar jg bapak nya yg sering anu anu dgn si pelakor🫢😀😀
Cicih Sophiana
🤣🤣🤣🤣🤣 Galang dikira kamu rumah nya mau di wariskan ke kamu... idih berharap banget ya🤣🤣
Cicih Sophiana
Alhamdulillah akhir nya bebas dari kluarga benalu Rin...
Cicih Sophiana
ayo sekarang giliran si pelakor yg tenar... masa dia udah lama belum ketauan sih... tp lebih seru lg klo lagi gancet dgn bapak mertua nya...
Cicih Sophiana
itu menantu idaman ibu lebih parah lg... menantu biar tiri itu menatu luh... kok masih mau bapak peke padahal di luaran sana jg dia gunta ganti orang🫢😅😅😅
Cicih Sophiana
ayo thor sekarang si Mayang yg ketauan jual diti... biar kapok semua termasuk bapak tiri nya yg sering make si Mayang
Cicih Sophiana
kasian jg sih si Vera... semenjak di tinggal Arini gak punya uang... uang nya di pegang si pelakor satunya.. 😀
Cicih Sophiana
wah wah Vera udah ketagihan nih... knp si Mayang gak ketauan ketauan yah... mau nya sih si Mayang dulu yg ketauan jadi pe**k
Cicih Sophiana
ya ampun si Mayang pergi knp sekali sekali dia gak ikutin .. biar tau dia kemana ? masa tiap hari pergi gak ada yg curiga
Cicih Sophiana
semoga cepat beres semua ya Rin... bebas dari benalu
Cicih Sophiana
Galang gak datang krn surat panggilan nya gak dia terima yah...
Cicih Sophiana
ya semoga aja perceraian nya lancar ya Arin
Sinta Dewi
kenapa gak pulang ke jogja aja , kok pikiran nya sempit
Sinta Dewi: oalaaahh , jd aslinya gak punya apa apa toh , segitu sombongnya gimana kalo ditakdirkan jd sultan bisa kacau dunia per novelan 😄🤣
total 2 replies
Cicih Sophiana
Vera demi duit jual diri Galang... kamu jg kan begitu lg punya duit kamu selingkuh
Arin
La.... urusan kelangsungan hidup keluarga ibu..... mikir sendiri lah. Masa mantan menantu yang sudah disakiti suruh nanggung dan ikut mikir juga. Aneh memang Ibu Sumarni ini....
Arin: iya gak nyambung. Mungkin nyambungnya kedengkul🤭🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!