Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Kita Bercerai Saja
"Kau gila, Dom! Apa-apaan semua ini?!" teriak Clara melempar berkas itu ke lantai hingga kertas-kertasnya berhamburan. "Kau ingin menceraikanku hanya karena foto-foto sampah ini?"
Dominic tetap berdiri mematung di ambang pintu, tangannya tenggelam di saku celana. Tatapannya sedingin es, tak ada sedikit pun riak emosi di sana.
"Foto sampah? Itu bukti kau tidur dengan pria lain saat aku sibuk membangun aset untuk kemewahanmu. Menggelikan!"
"Itu salahmu!" seru Clara sembari melangkah maju. Ia memukul dada Dominic dengan kepalan tangannya, wajahnya merah padam karena amarah yang bercampur rasa takut. "Kau selalu menduakanku dengan pekerjaan! Kau pikir aku ini apa? Patung di mansionmu? Kau tidak pernah ada, kau kaku, dan kau tidak pernah memuaskanku sebagai seorang istri! Aku butuh kasih sayang, Dominic, sesuatu yang tidak bisa kau berikan karena otakmu hanya berisi angka!"
Dominic tidak menghindar, ia membiarkan pukulan lemah itu mendarat di dadanya. Namun, saat Clara mencoba merangkul lehernya dengan isak tangis yang dibuat-buat, Dom langsung mencekal pergelangan tangan wanita itu dan menghempaskannya.
"Cukup, Clara. Berhenti lah berakting!" ucap Dominic dengan penuh penekanan. "Jangan gunakan kesibukanku sebagai alasan untuk perilaku menjijikkanmu. Kau menikmati setiap sen yang kuhasilkan, kau menggunakan namaku untuk memanjat karier modelmu, lalu kau membalasnya dengan membawa pria lain ke tempat tidur?"
"Dom, Sayang... aku khilaf. Aku melakukan itu karena aku kesepian. Aku masih mencintaimu," ucap Clara tiba-tiba melunak. Ia mencoba menggunakan rayuan manipulasinya, menatap Dom dengan mata berkaca-kaca. "Pikirkan image kita. Pikirkan apa kata media jika kita bercerai. Kita bisa memperbaiki ini, aku janji akan memutuskan hubungan dengan pria itu."
Dominic tersenyum kecut, sebuah tawa hambar yang membuat bulu kuduk Clara berdiri. "Kau pikir aku masih peduli pada image setelah melihatmu bermesraan dengan tikus itu? Aku sudah muak, Clara. Lima tahun aku memberimu panggung, sekarang tirainya harus ditutup."
"Dom, kumohon... jangan lakukan ini padaku," rintih Clara, berlutut di depan Dominic sembari memegang ujung kemejanya.
Dominic menarik napas panjang, menatap wanita yang pernah ia beri status terhormat itu dengan rasa jijik yang tak lagi bisa disembunyikan. "Karier, kemewahan, dan statusmu sebagai Nyonya Frederick... semuanya berakhir malam ini."
"Apa maksudmu?" tanya Clara gemetar.
"Ayo kita bercerai saja. Secara resmi dan tanpa drama yang lebih panjang. Jika kau tidak menandatanganinya sekarang, aku akan memastikan kau keluar dari sini tanpa membawa sepeser uang pun, bahkan baju yang kau pakai itu," ucap Dominic telak.
Kalimat itu terasa seperti bom yang meledak tepat di telinga Clara. Dunianya benar-benar hancur seketika. Seluruh rencana manipulasinya, kekuasaan yang ia bangun, dan kemewahan yang ia puja, runtuh hanya dalam satu kalimat pendek dari bibir Dominic.
Clara menatap lantai dengan pandangan kosong, menyadari bahwa kali ini, Dominic tidak sedang bermain-main. Singa itu benar-benar telah memangsanya.
"Tanda tangani sekarang. Jangan membuang waktuku lebih lama lagi," ucap Dominic datar, matanya melirik jam tangan mewahnya seolah keberadaan Clara di sana hanyalah hambatan jadwal yang mengganggu.
Clara tertawa getir, tawa yang terdengar nyaris gila. Matanya liar menatap sekeliling, mencari celah untuk membalikkan keadaan.
Saat itulah, ia melihat kilatan logam hitam di pinggang belakang Dominic yang tersingkap sedikit karena jasnya terbuka. Dengan gerakan nekat yang didorong oleh keputusasaan, Clara merampas pistol itu.
Klik!
Clara mengarahkan moncong senjata itu tepat ke keningnya sendiri dengan tangan gemetar hebat.
"Kau pikir kau bisa membuangku begitu saja?! Jika kau menceraikanku, aku akan mati di sini, di depan matamu! Kau ingin skandal? Ini akan jadi skandal terbesar yang menghancurkan keluarga Frederick!"
Dominic tidak bergerak. Ia bahkan tidak menunjukkan wajah terkejut atau takut. Ia justru bersandar pada meja kerja, menyilangkan kaki dengan santai.
"Silakan," sahut Dominic dingin. "Tarik pelatuknya kalau kau punya keberanian. Tapi biarkan aku menebak, kau terlalu mencintai kemewahan dunia ini untuk benar-benar pergi meninggalkannya, bukan?"
"Kau... kau tidak peduli jika aku mati?!" teriak Clara histeris. Air matanya merusak riasan mahal di wajahnya. "Aku istrimu, Dominic! Lima tahun! Apa kau sama sekali tidak punya hati?"
"Hati?" Dominic terkekeh sinis. "Hati yang mana? Hati yang kau bagi-bagikan pada setiap pria yang bisa memberimu kesenangan saat aku tidak ada? Kau pikir aku hanya tahu soal Damian?"
Clara tertegun, moncong pistol itu sedikit turun dari keningnya. "Apa... apa maksudmu?"
Dominic mengambil ponselnya, menggeser beberapa foto di layar lalu melemparkannya ke atas ranjang.
Foto-foto itu menunjukkan Clara sedang keluar dari hotel dengan seorang pengusaha properti bulan lalu, dan foto lainnya saat ia berada di sebuah klub malam di pelukan seorang fotografer ternama.
"Damian hanya salah satunya, Clara. Kau benar-benar wanita yang sangat sibuk, bukan?" ucap Dom dengan nada menghina. "Aku sudah tahu semuanya. Jadi, berhenti berakting sebagai korban yang terabaikan. Kau bukan kesepian, kau hanya serakah."
Clara membeku di tempat. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat ternyata sudah berada di genggaman Dominic sejak lama. Senjata di tangannya kini terasa sangat berat.
"Kau... kau mempermalukanku..." bisik Clara lemas.
"Kau yang mempermalukan dirimu sendiri," balas Dominic tanpa belas kasih. "Sekarang, letakkan mainan itu. Itu tidak ada pelurunya. Kau pikir aku sebodoh itu membiarkan wanita labil sepertimu mengambil senjata yang berisi?"
Clara menarik pelatuknya dengan frustrasi. Dan ternyata kosong.
Tidak ada peluru sama sekali.
Clara menjatuhkan pistol itu ke lantai marmer dengan bunyi denting yang memilukan, sama seperti harga dirinya yang kini hancur berkeping-keping.
Clara terjatuh lemas, bersimpuh di kaki Dominic. "Dom, maafkan aku... kumohon. Jangan ceraikan aku. Aku akan melakukan apa pun," rintihnya, mencoba memeluk kaki suaminya.
Dominic menarik kakinya menjauh dengan rasa jijik yang nyata. "Tanda tangani surat itu dan pergi dari apartemen ini dalam sepuluh menit. Jika tidak, aku akan memastikan semua kontrak modelmu dibatalkan besok pagi karena pelanggaran moral."
"Kau kejam, Dominic! Kau monster!" maki Clara di sela tangisnya.
"Aku hanya bercermin dari apa yang kau lakukan," sahut Dominic sembari melangkah menuju pintu. "Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku atau di hadapan Keyla."
Dominic meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun, menutup pintu masa depan Clara sebagai Nyonya Frederick untuk selamanya.
Clara meraung di tengah ruangan yang sunyi itu. Segala manipulasinya, kecantikannya, dan senjatanya tidak lagi berguna.
Clara benar-benar kehilangan segalanya hanya dalam satu malam yang ia kira akan menjadi malam kemenangannya.
"Argh! Brengsek kau Dom! Brengsek!" makinya.
pamanya Valery yg meninggal
Valery hanyalah korban keserakahan Clara