Sehari sebelum pernikahannya dengan Don Camorra, sang kakak kabur bersama kekasih gelapnya.
Otavio Martini tidak punya hati. Sejak kecil ia dibentuk menjadi mesin pembunuh, dan kini seluruh Sisilia gemetar bila namanya disebut. Pernikahan dengan putri sang konsiglier hanyalah kewajiban yang harus ia tuntaskan. Maka ketika pengantinnya menghilang, ia tahu persis siapa yang harus membayar: seluruh keluarga si pelarian.
Bianca, adik sang pengantin, hanya gadis buta berlidah tajam yang tak pernah menginginkan dunia mafia. Dengan pistol menempel di kepalanya dan nyawa ibunya dipertaruhkan, ia hanya punya satu pilihan: mengenakan gaun pengantin kakaknya dan menjadi istri pria yang bahkan tak sudi menatapnya lembut.
"Aku tidak bisa bersikap baik. Tapi kau milikku, Bianca, dan tak seorang pun boleh menyentuh milikku."
Sebuah pernikahan yang dimulai dengan ancaman. Seorang Don yang tak percaya cinta. Seorang istri pengganti yang menolak tunduk. Dan musuh-musuh yang bersembunyi di balik meja Dewan, di dalam rumah, bahkan di dalam keluarga sendiri.
Berapa lama sebuah hati yang katanya sudah mati sanggup bertahan, ketika satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya adalah gadis yang seharusnya tak pernah ada di altar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paula menezes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Selesai makan malam, Bianca dan Otavio naik ke kamar, sementara Ellen masuk ke kamarnya sendiri.
Otavio berganti pakaian, hanya memakai celana training tanpa kaus, lalu berbaring di ranjang. Bianca masuk kamar mandi dan memakai baby doll merah muda berenda.
Melihatnya, Otavio dipenuhi hasrat. Ia menarik napas dalam dan menyisir rambutnya dengan tangan. Bianca berbaring di sisinya, agak menjauh, karena canggung tidur di samping pria itu. Ia sempat berusaha membujuk Otavio agar tidak sekamar, tetapi Otavio menolak.
"Kamu pasti bercanda, Bianca. Baju apa itu? Begini aku susah berbaring di sampingmu."
Bianca memang biasa memakai baju tidur seperti itu dan tidak bermaksud menggoda. Ia malu sekali.
"Maaf, Otavio, aku akan ganti. Aku tidak begitu tahu seperti apa bajunya. Aku cuma tahu warnanya karena diberi tahu, lalu kuingat detailnya supaya ingat warnanya."
Ia hendak bangun, tetapi Otavio menahannya dan memeluknya, menariknya ke dalam dekapan. Wajah Bianca merah padam. Otavio membelai rambutnya. Bianca mencoba melepaskan diri, tetapi Otavio memeluknya makin erat sambil terus membelainya.
"Jangan berani-berani ganti baju itu. Kamu cantik sekali begini. Bianca, aku perlu bertanya sesuatu. Bagaimana kamu bisa jatuh dan jadi begini?"
"Aku tidak ingat apa-apa soal hari itu. Kepalaku terbentur, jadi ingatan hari kecelakaan itu hilang. Semua yang kutahu berasal dari cerita kakakku. Waktu itu kami hanya berdua di rumah. Aku di balkon, kakakku di ruang tamu. Dari jauh dia melihatku kehilangan keseimbangan lalu jatuh. Sesudah itu ingatan dan penglihatanku hilang. Aku cuma tidak mengerti kenapa aku bisa jatuh. Aku selalu hati-hati soal itu, dan pagar balkonnya tinggi."
"Kamu percaya versi kakakmu?"
"Percaya, Otavio. Kakakku memang tidak pernah sabar padaku, tapi aku yakin dia tidak mungkin mencelakaiku."
"Bianca, kakakmu meninggalkan kalian untuk mati. Dia tahu akibat perbuatannya. Jadi ya, dia sanggup mencelakai kalian."
"Otavio, sekejam apa pun kakakku padaku, aku tidak percaya dia pernah berbuat jahat padaku. Tapi... waktu itu Papa kelihatan tidak begitu percaya pada cerita Laura. Laura bersikeras semuanya terjadi persis begitu, jadi akhirnya Papa membiarkan masalah itu."
Otavio terdiam dan berpikir keras. Usianya belum terlalu tua, tetapi ia sudah banyak melihat dan mengalami berbagai hal. Sesuatu dalam dirinya mengatakan jatuhnya Bianca bukan kecelakaan.
"Begitu rupanya. Kamu tidak pernah ingin dioperasi?"
"Sebenarnya ingin. Tapi saat itu kemungkinan aku mati di meja operasi besar, jadi orang tuaku memutuskan tidak memaksakan operasinya. Sampai sekarang aku masih begini. Tapi sungguh, aku ingin sekali bisa melihat lagi."
"Kalau tergantung padaku, kamu akan melihat lagi, Bianca. Minggu ini juga kita cari spesialis dan lihat kemungkinannya. Kamu punya teman? Dulu sering keluar?"
"Terima kasih, Otavio. Orang tuaku selalu sangat menjagaku. Aku tidak boleh sering keluar dan tidak boleh punya banyak teman. Sebenarnya aku cuma punya satu sahabat waktu sekolah, namanya Alice. Dia tangguh dan selalu membelaku dari omongan jahat. Tapi setelah lulus sekolah, orang tuanya membawanya ke luar negeri untuk kuliah. Sejak itu aku tidak punya kontak dengan siapa pun. Aku selalu merasa aneh dengan cara orang tuaku menjagaku. Dengan kakakku mereka lain. Dia boleh keluar, boleh cari teman baru, sedangkan aku selalu terkurung di rumah, seperti dalam gelembung."
"Itu memang aneh. Bianca, aku perlu bertanya satu hal lagi, dan ada yang ingin kukatakan."
"Tanya saja."
"Sudah berapa lelaki yang pernah bersamamu?"
Otavio menanyakannya tanpa ingin mendengar jawabannya. Ia tak sanggup membayangkan lelaki lain pernah menyentuh Bianca. Bianca cepat-cepat melepaskan diri dari pelukannya dan duduk di ranjang, malu dan merah padam.
"Itu bukan urusanmu, Otavio."
"Katakan baik-baik, atau aku cari tahu dengan cara kasar. Aku punya banyak cara menyiksa untuk mengorek keterangan dari orang. Hanya saja aku tidak yakin kamu akan suka."
Otavio tidak akan benar-benar menyakitinya. Ia hanya ingin menakutinya supaya mengaku apa yang sebenarnya sudah ia duga. Bianca malu bukan main, tetapi takut Otavio sungguh melakukan sesuatu padanya.
"Aku... aku belum pernah bersama siapa pun. Bahkan aku belum pernah mencium siapa pun selain... kamu."
Otavio bangga sekali mengetahui dirinyalah yang pertama mendapat ciuman gadis kecilnya. Ia menariknya lagi ke dalam pelukan. Bianca berusaha melawan, tetapi Otavio memeluknya erat.
"Aku yang pertama dan akan jadi yang terakhir, Kecilku. Kalau ada yang berani menyentuhmu, aku bunuh tanpa ampun."
Bianca diam. Baginya semua ini baru dan mendadak. Mereka berpelukan beberapa saat, lalu tertidur bersama.