"Perhatian ini yang aku inginkan. Tapi ... kenapa rasanya asing?" ~Danira
...
Seperti biasa, Ezran pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Danira dan kedua anak mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu.
Namun ketika Ezran kembali, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pria yang biasanya sibuk, cuek, dan selalu punya alasan untuk menolak menghabiskan waktu bersama anak-anak, kini justru menjadi jauh lebih perhatian.
“Ma, Papa ... aneh,” ujar Arelio, anak pertama mereka.
Senara pun, ikut memperhatikan. “Iya, tumben nda malah-malah macam Papa tili Cindelela?”
Danira hanya terdiam. Ia juga merasakan perubahan itu.
Ezran mulai mengantar anak-anak, membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan hal-hal kecil tentang Danira yang selama ini tak pernah ia pedulikan.
Awalnya Danira bahagia. Namun semakin lama, perubahan itu justru membuatnya curiga.
Apa yang sebenarnya terjadi selama Ezran pergi Dan mengapa pria yang kembali ke rumah itu terasa begitu berbeda dari suami yang ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Panas
Malam harinya, Ezran pulang hanya untuk mengemas ulang kopernya. Pria itu baru saja dari kamar mandi dan sedang mengganti kemejanya dengan yang baru di dalam kamar utama. Tiba-tiba pintu terbuka, Danira melangkah masuk. Keberanian yang menumpuk selama berbulan-bulan akhirnya memuncak malam ini.
"Mas, kamu beneran mau pergi lagi? Sekarang?" suara Danira bergetar. "Minggu lalu kamu baru pulang dari luar kota. Sekarang kamu mau ke mana lagi? Apa kamu gak capek kerja terus? Keluarga kamu juga butuh kamu!"
Ezran tidak berhenti mengancingkan lengan kemejanya. "Jangan memancing masalah, Danira. Aku ada urusan bisnis mendadak."
"Mas! Setiap kali aku protes, kamu selalu mengatakan hal yang sama!" seru Danira. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku rasa pernikahan ini sudah hambar! Gak ada cinta, gak ada kehangatan! Anak-anak semakin besar, mereka butuh sosok ayahnya!"
Ezran menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan, menatap Danira dengan mata dingin yang tak menunjukkan emosi apa pun.
"Aku bekerja untuk keluarga kita," kata Ezran dengan suara pelan namun sarat akan intonasi merendahkan. "Jadi orang miskin itu gak enak, Danira. Kamu bisa hidup enak di rumah yang bagus ini, sekolah anak-anak bisa di tempat terbaik, gizi mereka tercukupi ... itu berkat siapa? Berkat aku. Hasil usahaku."
Ia melangkah mendekati Danira, menatap istrinya dari atas ke bawah.
"Kalau aku di rumah terus, siapa yang mau kerja? Kamu? Lulusan apa kamu? Cuma tamat SMA. Dapet kerjaan apa? Paling cuma jadi OB atau pelayan toko. Yang ada anak-anakku stunting kalau cuma ngandelin kamu."
Degh!
Rasanya seperti ada tamparan tak kasatmata yang mendarat tepat di wajah Danira. Air matanya menetes keras mendengarnya. Perkataan itu begitu tajam, menusuk tepat di bagian terlemah dalam hidupnya.
Danira terdiam dengan bibir gemetar. Dulu, ia adalah siswi berprestasi di sekolahnya. Namun ketika ayahnya sakit-sakitan, keuangan keluarga mereka hancur. Ayah Ezran, yang merupakan sahabat karib ayahnya, menawarkan perjodohan. Ezran setuju, dan Danira yang tak punya pilihan untuk melanjutkan kuliah akhirnya menerima pernikahan itu dengan harapan bisa membangun keluarga yang hangat.
Ternyata, status pendidikan dan latar belakang ekonominya justru dijadikan senjata oleh suaminya sendiri untuk mengerdilkan dirinya selama sepuluh tahun ini.
"Jika bukan untukku ... setidaknya untuk putra kita," bisik Danira dengan suara serak, terisak pelan. "Dia mau bertanding minggu depan. Itu sebuah pencapaian luar biasa buat Arelio ... dan kamu melewatkannya begitu saja?"
Ezran mengambil jasnya dari atas ranjang, lalu menarik pegangan koper roda dengan gerakan cepat. Ia menatap Danira tanpa rasa iba sedikit pun.
"Memangnya kalau aku tidak hadir, pertandingannya bakal dibatalkan? Kamu pikir aku ini presiden sampai semua acara harus nunggu aku?" Ezran mengibaskan tangannya dismissif. "Sudahlah, jangan berdrama. Aku harus ke bandara sekarang."
"Mas! Kamu gak sadar pernikahan kita ini hambar? Kamu gak sadar kalau anak-anak kekurangan peran kamu sebagai ayahnya? Kalau soal mencari uang, aku juga bisa! Tapi sumpah demi apapun, perilakumu menyakitiku dan anak-anakku!"
Ezran tak peduli, ia melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Danira yang bersandar pada daun pintu, menangis sesenggukan. Hatinya hancur berkeping-keping.
"Mama?"
Danira tercekat. Ia buru-buru menghapus air matanya dan menoleh. Arelio berdiri di dekat ambang pintu lorong. Anak itu telah menyaksikan segalanya. Pertengkaran, kata-kata kasar Ezran, dan tangisan ibunya.
"Lio ...," Danira berlutut, langsung memeluk putranya erat-erat. "Maafkan Mama, Sayang ... Maaf ...,"
Arelio mengusap punggung ibunya dengan tangan kecilnya. "Sudah, Ma. Enggak apa-apa. Aku enggak apa-apa Papa gak hadir. Mama gak usah menangis lagi."
Anak sembilan tahun itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlalu manis untuk menyembunyikan rasa sakitnya sendiri. Danira memejamkan mata erat-erat. "Maafkan Mama, Lio. Maaf Mama gagal memilihkan ayah yang baik untukmu dan adikmu," bisiknya dalam hati.
"Sudah yuk, tidur," ajak Danira lembut. Ia merangkul Arelio keluar menuju kamar. Namun, langkah mereka terhenti di lorong depan kamar mandi.
Di sana, Senara berdiri dengan piyama bagian bawah yang basah Kuyup. Bocah berambut ikal itu menatap ibunya dengan matanya yang bulat dan polos.
"Mama ... ngompol dili ini. Nda cengaja ... coalnya nda bica tahan," ucapnya pelan dengan jari telunjuk saling bertaut.
Danira tertegun sejenak, lalu mendesah pelan. Antara lelah, sedih, dan dorongan keibuan yang tak pernah padam, ia akhirnya mengulas senyum tipis. "Gak apa-apa, Sayang. Yuk, kita ganti celana dulu."
.
.
.
.
Pagi harinya, Danira terbangun dengan kepala yang berat dan mata sembap. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi.
"Astaga! Kesiangan!" jerit Danira panik. Ia menyanggul asal rambutnya yang berantakan dan berlari cepat ke arah dapur. Ia lupa memasang alarm karena ketiduran di kamar Senara setelah membersihkan bekas ngompol semalam.
Arelio harus berangkat sekolah pukul sembilan untuk ujian latihan, dan ia belum menyiapkan apa pun. Dengan terburu-buru, Danira menyalakan kompor, mengocok telur, dan menyiapkan dua lembar roti tawar.
"LIOOO! BANGUN, SAYANG! SUDAH SIANG!" teriak Danira dari dapur dengan napas terengah-engah.
"Aku udah siap dari tadi, Ma," celetuk sebuah suara dari balik meja makan.
Danira menoleh dan hampir menjatuhkan sodet kayu yang dipegangnya. Arelio sudah duduk rapi di meja makan. Pakaian seragam putih-merahnya sangat rapi, rambutnya tersisir licin dengan minyak rambut anak-anak, dan tas sekolahnya sudah bertengger di samping kursi.
Danira menepuk jidatnya sendiri. Ia lupa bahwa putra sulungnya sangat disiplin dan mandiri, sifat yang dibentuk karena terbiasa tidak dimanjakan oleh ayahnya.
"Maaf, ya, Nak ... Mama benar-benar kesiangan," ucap Danira merasa bersalah.
"Iya, gak apa-apa. Biar aku bantu siapkan piring," jawab Arelio santai sambil berdiri.
"Tolong bikinkan susu buat Adik, ya. Susunya yang bubuk cokelat di rak—"
Ting! Tong!
Suara bel rumah berbunyi nyaring, menginterupsi kalimat Danira.
Danira dan Arelio saling pandang. Pagi-pagi begini? Siapa yang datang? Kurir paket tidak mungkin datang jam tujuh kurang. Kurir bahan makanan juga biasanya baru datang pukul delapan.
"Biar aku buka, Ma," ucap Arelio riang, berlari kecil menuju pintu depan.
Arelio meraih gagang pintu kayu yang tebal itu, memutarnya perlahan, dan menariknya ke dalam. Namun, begitu pintu terbuka, senyuman riang di wajah Arelio mendadak luntur.
Sesosok pria berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan kemeja kasual warna biru terang yang rapi, koper kecilnya tergeletak di samping kakinya. Dan yang paling mengejutkan, pria itu tersenyum hangat. Sebuah senyuman lebar yang memperlihatkan deretan gigi rapinya, dengan mata yang berbinar teduh, sebuah ekspresi yang belum pernah Arelio lihat seumur hidupnya dari pria itu.
"Papa?" lirih Arelio kebingungan.
tabok aja dia Dani...
kau yang murahan bedebah..
walaupun Aku gak suka Kamu...
tapi Aku setuju Kamu menantang Emak durjana itu
aku bantuin dech 😂😂😂
trs kenapa abis koma kok km lembut sama danira Ezran..apa abis kepentok stir mobil kah atau gimana?
kasiannya ae si evran,gak dapat kasih sayang dr salah satunya..baik emak atapun bapaknya.