Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4 - Tiga Hari untuk Pergi
Nadira pulang ke rumah keluarga Wijaya setelah sif malamnya selesai.
Rumah besar di kawasan Jakarta Selatan itu masih sama seperti biasa. Halaman rapi, lampu teras hangat, aroma soto ayam dari dapur belakang. Semua yang dulu membuatnya merasa aman kini terasa seperti barang pinjaman yang harus dikembalikan.
Begitu ia masuk, Mama Renata keluar dari ruang makan.
"Nadira, kamu pulang juga. Mama sudah panaskan soto. Kamu pasti belum makan, kan?"
Nadira melepas sepatu pelan.
"Ma, aku mau bicara."
Mama Renata berhenti. Senyumnya memudar.
"Ada apa? Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?"
Nadira ingin menjawab tidak, tapi tubuhnya memang terasa habis. Tiga hari terakhir ia tidur hanya beberapa jam. Operasi, ICU, gugatan, tatapan Laras, suara Kendra, lalu Arga yang akhirnya tahu dan tetap membuat dadanya sesak.
"Arga pulang, Ma."
Sendok yang dipegang Mama Renata jatuh ke lantai.
"Apa?"
Papa Surya yang sedang membaca koran di ruang tengah langsung berdiri. "Nadira, kamu bilang apa?"
Nadira menatap dua orang tua itu.
Empat tahun mereka hidup dengan rasa takut yang sama. Setiap ada kabar operasi di perbatasan, Mama Renata bisa tidak tidur semalaman. Papa Surya pura-pura kuat, tapi Nadira sering melihatnya duduk sendiri di musala kecil setelah salat Isya, berdoa terlalu lama.
Mereka pantas tahu.
"Arga hidup. Tiga malam lalu dia masuk IGD Cakra Medika. Luka tembak. Aku yang operasi."
Mama Renata menutup mulut. Air matanya jatuh tanpa suara.
Papa Surya mencengkeram sandaran kursi. "Anakku... dia selamat?"
"Operasi berhasil. Kondisinya stabil."
Mama Renata langsung memeluk Nadira. "Ya Allah, ya Allah. Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kamu pasti kaget sekali, Nak. Kamu yang operasi suamimu sendiri?"
Nadira membiarkan pelukan itu selama beberapa detik.
Pelukan Mama Renata selalu hangat. Itulah yang membuat semua ini lebih sulit.
"Ma."
"Iya?"
"Aku juga mau pamit."
Tubuh Mama Renata menegang.
Papa Surya menatapnya tajam. "Pamit ke mana?"
Nadira melepaskan diri dari pelukan Mama Renata. Ia mengambil map dari tas dan meletakkannya di meja ruang makan.
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai."
Mama Renata seperti kehilangan napas.
"Nadira..."
"Maaf, Ma."
"Kenapa?" Suara Mama Renata pecah. "Arga baru pulang. Dia selamat. Kalian bisa mulai lagi. Mama tahu dia salah, Mama tahu dia meninggalkan kamu terlalu lama, tapi..."
"Dia tidak pulang sendiri."
Ruangan langsung diam.
Papa Surya mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Nadira menatap map itu, bukan wajah mereka.
"Ada perempuan bernama Laras. Dia datang ke ICU dengan seorang anak. Anak itu memanggil Arga Papa."
Mama Renata mundur setengah langkah.
"Tidak mungkin."
"Aku juga ingin percaya begitu."
"Nadira, Arga memang pernah ditugaskan bersama Bayu. Bayu itu sahabatnya. Aku pernah dengar nama Laras, dia istri Bayu yang gugur. Tapi..."
"Aku tahu Mas Arga bilang Laras bukan istrinya dan Kendra bukan anaknya."
"Berarti memang bukan."
Nadira tersenyum lelah. "Mungkin. Tapi itu tidak menghapus empat tahun."
Papa Surya diam. Ia selalu lebih sedikit bicara daripada Mama Renata. Namun kali ini wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang dalam.
"Nak," katanya pelan, "Papa dan Mama juga bersalah padamu."
Nadira menggeleng. "Tidak. Papa dan Mama baik padaku."
"Kami membiarkan kamu menunggu."
Kalimat itu membuat mata Nadira panas.
Mama Renata kembali menangis. "Mama kira dengan kamu di rumah ini, kamu punya keluarga. Mama tidak pernah berpikir kamu merasa terikat."
"Aku memang punya keluarga di sini, Ma. Itu yang membuat aku bertahan."
"Kalau begitu jangan pergi."
Nadira menggigit bibir.
Inilah yang ia takutkan. Bukan Arga marah, bukan Laras menang, bukan proses pengadilan. Ia takut melihat Mama Renata menangis.
"Ma, aku harus pergi. Bukan karena aku membenci Mama. Aku cuma tidak bisa tinggal sebagai istri Arga lagi."
"Tapi rumah ini rumahmu."
"Dulu iya." Nadira menelan sesak. "Sekarang aku tidak tahu."
Mama Renata memegang tangannya. "Mama tidak peduli kamu cerai atau tidak. Kamu tetap anak Mama."
Nadira hampir runtuh.
Tapi ponselnya bergetar di tas. Ia melihat nama Pak Hari.
Pesannya singkat.
Bu Nadira, Pak Arga menyampaikan melalui saya bahwa Ibu diminta meninggalkan rumah keluarga Wijaya dalam tiga hari.
Nadira menatap layar itu beberapa detik, lalu tertawa kecil.
Mama Renata cemas. "Siapa?"
Nadira memberikan ponselnya.
Mama Renata membaca pesan itu. Wajahnya berubah merah.
"Arga Pratama Wijaya!"
Papa Surya mengambil ponsel dan membaca. Rahangnya mengeras.
"Anak itu baru sadar sudah berani mengusir istrinya?"
Nadira mengambil kembali ponselnya. "Tidak apa-apa. Aku memang mau pindah."
"Tidak apa-apa bagaimana?" Mama Renata marah di antara tangisnya. "Dia pikir rumah ini milik dia saja? Mama yang tinggal di sini. Papa yang bangun rumah ini. Kamu menantu Mama."
"Ma..."
"Tidak. Mama akan telepon dia sekarang."
Nadira menahan tangan Mama Renata.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau dipertahankan oleh orang tua Mas Arga. Kalau dia sendiri tidak menganggap aku, aku tidak mau memaksa."
Mama Renata terdiam.
Kalimat itu seperti menutup semua bantahan.
Nadira naik ke kamar setelah makan sedikit hanya supaya Mama Renata berhenti menangis. Kamar itu luas, rapi, dan terlalu sunyi. Selama empat tahun, ia tidur di sana sendiri. Di lemari, beberapa kemeja Arga yang dikirim dari laundry lama masih tergantung, seolah pemiliknya hanya pergi sebentar.
Nadira membuka koper.
Ia memasukkan baju kerja, beberapa kebaya, buku medis, foto bersama Mama Renata dan Papa Surya, lalu kotak kecil berisi gelang bayi dari panti asuhan. Gelang itu satu-satunya benda dari masa lalunya sebelum diadopsi.
Di laci paling bawah, ada buku nikah.
Ia mengambilnya.
Foto di buku itu membuatnya berhenti.
Arga di foto tampak kaku. Nadira tampak muda dan gugup. Mereka berdampingan seperti dua orang asing yang dipaksa masuk dalam satu bingkai.
Ternyata benar. Sejak awal mereka memang asing.
Pintu kamar diketuk.
"Nadira?"
Papa Surya berdiri di ambang pintu.
"Pa."
"Boleh Papa masuk?"
"Iya."
Papa Surya masuk dan duduk di kursi dekat jendela. Beberapa saat ia hanya melihat koper yang terbuka.
"Papa sudah telepon rumah sakit. Arga belum bisa banyak bicara. Mama kamu marah besar."
Nadira tersenyum tipis. "Mama memang begitu."
"Papa tidak akan melarang kamu cerai."
Nadira menatapnya.
Papa Surya melanjutkan, "Kalau Papa jadi kamu, mungkin Papa juga pergi. Tapi Papa minta satu hal. Jangan putus hubungan dengan kami."
Mata Nadira kembali panas.
"Aku tidak mau menyakiti Papa dan Mama."
"Yang menyakiti kami itu Arga, bukan kamu."
Nadira tertunduk.
Papa Surya berdiri, lalu meletakkan sebuah kunci di meja.
"Apartemen kecil di Kemang itu kosong. Dulu Papa beli untuk investasi. Kalau kamu tidak mau tinggal di sini, pakai apartemen itu. Jangan menolak. Anggap saja Papa meminjamkan pada anak sendiri."
"Pa, aku bisa tinggal di tempat Maya."
"Maya sahabatmu, tapi kamu tetap anak kami."
Nadira tidak bisa menjawab.
Papa Surya berjalan ke pintu, lalu berhenti.
"Arga akan menyesal."
Nadira tersenyum tanpa suara.
"Mungkin. Tapi penyesalan dia bukan tugasku."
Papa Surya menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
Malam itu, Nadira tidak tidur.
Ia mengemas hidup empat tahun ke dalam dua koper. Setiap benda punya cerita kecil. Mug dari Mama Renata. Selimut yang dibeli karena ia sering pulang dingin dari rumah sakit. Buku resep yang tidak pernah ia kuasai karena ia lebih pandai menjahit luka daripada memasak.
Menjelang subuh, ia turun membawa koper.
Mama Renata sudah menunggu di ruang tamu. Matanya bengkak, tapi tangannya membawa rantang.
"Soto. Untuk sarapan nanti."
Nadira menerima rantang itu dengan dada sesak.
"Terima kasih, Ma."
Mama Renata memeluknya lama.
"Kalau Arga datang minta maaf, jangan cepat luluh."
Nadira hampir tertawa.
"Mama tidak membela dia?"
"Tidak. Anak Mama harus belajar terbakar dulu."
Papa Surya mengantar sampai mobil Maya yang baru tiba di depan gerbang. Maya turun dengan rambut berantakan dan wajah siap perang.
"Tante, Om."
Mama Renata memegang tangan Maya. "Tolong jaga Nadira."
"Pasti, Tante. Saya malah mau culik dia dari dulu."
Nadira memasukkan koper ke bagasi. Sebelum masuk mobil, ia menoleh ke rumah itu.
Empat tahun hidupnya ada di sana.
Ia tidak pergi karena membenci rumah itu.
Ia pergi karena tidak mau menjadi bayangan di rumah siapa pun.
Maya menyalakan mobil. Saat gerbang tertutup di belakang mereka, ponsel Nadira menyala.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkat.
Suara Arga terdengar lemah, tapi tetap keras kepala.
"Kamu benar-benar pergi?"
Nadira menatap jalan yang basah oleh hujan subuh.
"Mas sendiri yang menyuruh."
"Nadira, kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Aku akan keluar dari rumah sakit dan menemuimu."
Nadira menutup mata.
"Silakan. Tapi mulai hari ini, Mas datang sebagai orang asing."
Ia memutus telepon.
Maya meliriknya. "Dia?"
"Iya."
"Bagus. Blokir."
Nadira memandang layar sebentar, lalu menekan tombol blokir.
Untuk pertama kalinya setelah tiga hari, ia bisa bernapas sedikit lebih lega.