Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.
Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.
Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.
Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.
Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Hari-hari berlalu lebih lambat dari yang Nadira kira. Walau rumah tetap dipenuhi tawa karena keluarganya, ada satu ketidakhadiran yang ia rasakan setiap hari.
Drilon.
Ia tak akan pernah mengakuinya keras-keras, tapi ia selalu mendapati dirinya memikirkan pria itu. Sambil menghabiskan waktu bersama keluarga, ia bertanya-tanya apakah Drilon sudah sempat tidur.
Saat makan siang ia membayangkan apakah Drilon makan dengan benar. Malam hari, sebelum tidur, ia memandangi sisi ranjang yang kosong dan bertanya-tanya apakah Drilon aman. Hana menyadari semuanya, tapi memilih tak berkomentar. Nadira harus menemukannya sendiri.
Selama hari-hari itu, Nadira memanfaatkan setiap saat bersama orang tuanya. Haryo bermain dengan Bintang di taman, Ratna membantu Hana di dapur.
Bimo berlarian di properti seolah sudah tinggal di sana sejak dulu, selalu berusaha membuat Bintang tersenyum.
Semuanya sempurna, tapi hari perpisahan pun tiba. Di bandara, pelukan berlangsung lebih lama dari yang diinginkan siapa pun.
"Jaga dirimu," kata Ratna.
"Pasti."
"Kalau ada apa-apa, telepon saja," kata Haryo.
"Aku akan telepon."
"Jangan lama-lama mengunjungi kami," kata Erlangga.
"Janji."
"Dan kalau Alya sudah lahir, kamu harus bertemu dengannya," kata Sinta.
Nadira tersenyum.
"Nggak akan kulewatkan demi apa pun."
Bimo memeluk kaki tantenya.
"Aku bakal kangen."
"Aku juga, Jagoanku."
"Cium Bintang untukku."
"Pasti."
"Jaga diri, ya," kata Haryo.
"Papa juga."
"Dan jaga mafioso itu," kata Dimas.
Nadira tersenyum tipis.
"Akan kucoba."
Setelah beberapa pelukan lagi, keluarga itu masuk ke area keberangkatan. Nadira tetap berdiri memandangi sampai mereka semua menghilang.
Hana meletakkan satu tangan dengan lembut di bahunya.
"Mereka akan kembali."
"Aku tahu."
"Sekarang ayo pulang."
Nadira hanya mengangguk. Perjalanan pulang berlangsung sunyi. Ketika mobil memasuki properti, ia menarik napas dalam.
Rumah terasa jauh lebih besar tanpa anak-anak. Ia masuk bersama Hana. Begitu melewati ruang tamu, keduanya berhenti bersamaan.
Di sofa, Besnik dan Intan duduk berdekatan.
Mereka berbisik-bisik, Besnik menggenggam lembut salah satu tangan Intan. Lalu ia mendekat dan mengecup Intan penuh sayang. Intan tersenyum dan membelai wajahnya.
Itu momen tenang dan penuh kasih. Keduanya mengangkat mata begitu sadar akan kedatangan mereka.
"Nadira..." kata Intan.
Besnik terkekeh pelan, agak canggung.
"Kalian sudah pulang."
Hana tersenyum.
"Anakku." Ia memeluk si bungsu, lega melihatnya telah kembali.
"Kami semua baik-baik saja," kata Besnik.
"Tak perlu merasa canggung," kata Hana.
Intan merona.
"Kami cuma..."
"Ibu sudah mengerti." Besnik tersenyum, dan Hana menambahkan, "Selamat datang kembali, Nak."
"Terima kasih," kata Besnik.
Tak ingin mengganggu momen mereka, Nadira berjalan menuju tangga. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Entah mengapa, hal pertama yang ia ingin lakukan adalah memeriksa kamar putrinya.
Ia membuka pintu perlahan. Bintang bermain tenang di pangkuan pengasuhnya. Begitu melihat ibunya, ia tersenyum lebar.
"Hai, Sayang." Ia mengecup dahi si kecil. "Dia anak baik?"
"Baik sekali, Bu," kata si pengasuh.
"Syukurlah."
Pengasuh itu tersenyum.
"Pak Drilon tadi sempat mampir."
Nadira langsung mengangkat pandangan.
"Dia sudah pulang?"
"Iya, dia masuk, mencium Nona Bintang, menemaninya beberapa menit..." Perempuan itu tersenyum. "Lalu bilang harus mandi dulu."
Nadira merasakan kelegaan yang bahkan tak sadar ia cari.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Ia menyerahkan Bintang kembali pada pengasuhnya.
"Aku mau bicara dengannya."
"Silakan."
Nadira keluar nyaris tergesa, menyusuri koridor menuju kamar Drilon. Pintunya hanya dirapatkan.
Ia masuk tanpa mengetuk. Kamar kosong. Terdengar suara pancuran dari kamar mandi. Di atas lemari, ia melihat pistol Drilon tergeletak rapi di samping sarungnya.
Ia memandangi benda itu, dan senyum nakal muncul di wajahnya. Ia mengambil pistol yang tak berisi, terpisah dari magasinnya, teringat betapa hati-hati Drilon selalu setiap kali pulang dari tugas.
Ia bersedekap dan menunggu. Beberapa detik kemudian pintu kamar mandi terbuka.
Drilon keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, sementara handuk lain melilit pinggangnya. Begitu mengangkat mata, ia langsung terhenti.
"Nadira?"
Ia mengacungkan pistol ke arah langit-langit, sekadar menarik perhatiannya.
"Jangan selangkah pun."
Drilon membelalak sesaat, lalu sadar pistol itu tanpa magasin. Senyum lolos dari bibirnya.
"Jadi begini cara istriku menyambut suaminya?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
Ia mengangkat tangan menyerah, masih tersenyum.
"Aku menyerah."
"Bagus." Ia memberi isyarat ke arah kamar. "Silakan geser ke sana."
"Boleh aku berpakaian dulu?"
"Tidak." Ia berusaha menjaga ekspresi serius. "Pertama kamu harus jelaskan kenapa kamu menghilang berhari-hari tanpa bisa bicara denganku sama sekali."
Drilon menarik napas dalam. Ia sadar percakapan ini akan panjang. Tanpa membantah, ia melangkah keluar dari kamar mandi, persis seperti yang diperintahkan Nadira.
Nadira menurunkan pistol, meletakkannya kembali di lemari, lalu bersedekap, menunggu penjelasan suaminya.