Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengatan Cemburu 09.
Bubur ayam di atas meja bar itu sudah tidak lagi mengepulkan asap.
Keheningan di antara mereka terasa begitu pekat, hanya diinterupsi oleh denting sendok Novia yang beradu dengan mangkuk keramik.
Reyhan duduk di seberangnya. Cowok itu tidak menyentuh makanan sama sekali. Matanya fokus pada layar tablet, membaca entah apa dengan kening berkerut.
"Gue mau kita perjelas satu hal," suara Novia memecah kesunyian. Logatnya ketus, menutupi rasa sesak yang masih tersisa di dadanya sejak mendengar telepon Reyhan tadi.
Reyhan tidak menurunkan tabletnya. "Apa?"
"Di sekolah, kita nggak saling kenal. Jangan pernah ulangi aksi heroik lo kayak semalam. Gue nggak butuh dikasihani," bohong Novia. Faktanya, jika Reyhan tidak datang semalam, mungkin dia sudah kehilangan akal di gudang gelap itu.
Reyhan menurunkan tabletnya lambat-lambat. Tatapan matanya kembali sedingin es, menusuk langsung ke manik mata cokelat Novia.
"Lo pikir gue ke sana karena peduli?" tanya Reyhan dengan nada datar yang kejam. "Gue ke sana karena kalau lo mati di sekolah, nama baik keluarga gue yang bakal hancur. Paham?"
Kalimat itu telak menghantam ego Novia.
Sakit, tapi logis. Ini Reyhan. Cowok yang menikahinya hanya karena selembar kertas perjanjian hitam di atas putih milik keluarga mereka. Perempuan lembut di telepon tadi adalah bukti nyata bahwa hati Reyhan sudah terkunci untuk orang lain.
"Bagus kalau gitu," Novia berdiri, mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan suara decitan keras. "Gue berangkat duluan."
"Kita berangkat bareng. Mobil gue di bawah," potong Reyhan tegas.
"Nggak. Gue naik angkutan umum. Kita turun di tempat berbeda," balas Novia keras kepala, langsung melangkah keluar apartemen tanpa menoleh lagi.
**
SMA Pelita Bangsa selalu bising di jam tujuh pagi. Namun hari ini, atmosfernya terasa berbeda bagi Novia. Begitu dia melintasi koridor menuju kelasnya, bisik-bisik dari koridor kanan dan kiri langsung menyergap indra pendengarannya.
Bukan tentang dirinya yang disekap semalam—karena Reyhan tampaknya berhasil membungkam pihak sekolah—melainkan tentang sang ketua OSIS sekaligus pangeran sekolah.
"Eh, lo tahu nggak? Katanya Kak Reyhan bakal pergi bareng Laura akhir pekan ini."
"Serius? Mereka berdua emang cocok banget sih. Yang satu ketua OSIS, yang satu ketua klub debat. Sama-sama jenius."
"Iya, denger-denger Laura juga sering nemenin Kak Reyhan kalau lagi ada acara keluarga."
Langkah kaki Novia mendadak melambat. Akhir pekan ini.
Otaknya langsung memutar memori beberapa jam lalu di balkon apartemen.
Suara lembut Reyhan yang menjanjikan sebuah pertemuan. 'Aku usahakan datang akhir pekan ini, ya? Tunggu aku.'
Jadi, perempuan di telepon itu Laura? Siswi berprestasi tingkat nasional yang selalu menjadi kebanggaan sekolah?
Novia mengepalkan tangannya di dalam saku almamater.
Dadanya berdenyut aneh. Ada rasa panas yang menjalar, memicu rasa tidak nyaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Dia benci perasaan ini. Dia tidak boleh peduli. Reyhan bukan siapa-siapanya.
"Novia!"
Panggilan itu membuat Novia menoleh. Caca, sahabatnya, berlari kecil menghampirinya dengan wajah cemas. "Lo nggak apa-apa? Muka lo pucat banget. Oh iya, lo udah denger gosip tentang Reyhan sama Laura?"
Novia memaksakan sebuah senyuman tipis. "Gue nggak apa-apa. Dan... kenapa gue harus peduli sama urusan cowok arogan itu?"
"Ya iya sih, lo kan musuh bebuyutannya," Caca terkekeh, lalu merangkul pundak Novia. "Tapi jujur ya, kali ini gosipnya kayaknya beneran. Mereka berdua kelihatan klop banget akhir-akhir ini."
Novia hanya diam, membiarkan Caca menariknya berjalan menyusuri koridor menuju kelas. Namun, langkah mereka terhenti tepat di depan mading utama sekolah.
Di sana, di bawah naungan pohon peneduh dekat lapangan utama, dua orang sedang berdiri berdekatan.
Reyhan dan Laura.
Laura terlihat sangat anggun dengan rambut yang dikuncir kuda rapi, memegang beberapa map dokumen.
Sementara Reyhan berdiri tegak di depannya, mendengarkan perempuan itu berbicara dengan ekspresi yang jauh dari kata dingin.
Tidak ada tatapan tajam atau aura membunuh yang biasa Reyhan tunjukkan pada Novia.
Tiba-tiba, Laura maju selangkah. Jarak mereka mengikis habis.
Tangan lentik Laura terulur ke arah kerah kemeja Reyhan.
Dengan gerakan yang sangat natural, penuh perhatian, dan tanpa ragu, Laura membenarkan letak dasi Reyhan yang sedikit miring.
Reyhan tidak menjauh. Cowok itu tetap diam di tempatnya, membiarkan Laura menata dasinya dengan jarak yang begitu intim. Sudut bibir Reyhan bahkan tampak sedikit melunak.
Dari kejauhan, Novia menyaksikan seluruh pemandangan itu.
Detik itu juga, Novia merasakan sengatan aneh yang luar biasa tajam menghantam dadanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang diremas kuat di dalam sana hingga dia kesulitan bernapas.
Udara di sekitarnya mendadak terasa mencekik.
Itu adalah dasi yang sama yang dia lihat tergeletak di meja bar apartemen mereka tadi pagi. Dasi dari cowok yang secara hukum adalah suaminya.
Namun di sini, di bawah terik matahari sekolah, hak untuk menyentuh dasi itu sepenuhnya milik perempuan lain.
Dan fakta bahwa Reyhan membiarkannya tanpa penolakan, membuat Novia sadar akan posisinya yang sama sekali tidak berharga di hidup cowok itu.
......................
...****************...
Tbc,