NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Srek srek.

Husen mengeluarkan beberapa lembaran kertas berstempel resmi dari dalam tas kerjanya.

Kertas itu bukanlah dokumen laporan aliran dana asli yang dia terima dari Antonius dua hari yang lalu.

Itu adalah dokumen palsu yang sengaja dicetak oleh Husen dengan tambahan beberapa rincian konyol yang menjebak.

Husen meletakkan dokumen itu di atas meja nakas tepat di sebelah laptopnya yang sengaja dibiarkan tertutup.

"Umpan sudah diletakkan dengan sangat sempurna di tempat yang mudah terlihat."

Husen bergumam pelan sambil tersenyum tipis ke arah pintu kamar hotelnya yang tertutup rapat.

Ting!

[Laporan Radar Sabotase Pasif]

[Mendeteksi keberadaan target Dimas Anggara di ujung lorong lantai empat]

[Target sedang bersiap memantau pergerakan Host keluar dari kamar]

Husen merapikan kerah kemejanya perlahan lalu melangkah keluar dari kamar bernomor empat nol dua tersebut.

Ceklek.

Di ujung lorong, Dimas berdiri mematung berpura-pura sedang menelepon seseorang sambil menatap Husen yang berjalan menjauh.

"Akhirnya guru sombong itu pergi juga meninggalkan sarangnya menuju ruang aula."

Dimas berbisik licik setelah memastikan sosok Husen benar-benar hilang di balik pintu lift besi di ujung sana.

Tap tap tap.

Dia berjalan cepat mengendap-endap mendekati kamar Husen dan mengeluarkan sebuah kartu akses master dari saku jasnya.

Tit.

Kunci pintu elektronik itu terbuka dengan sangat mudah karena Dimas sudah menyuap petugas kebersihan hotel tadi pagi.

Dimas melangkah masuk ke dalam kamar yang sepi itu dan langsung menggeledah area sekitar meja kerja.

Matanya membelalak lebar melihat sebuah dokumen tebal berstempel merah yang dibiarkan tergeletak begitu saja di sana.

"Bodoh sekali, Husen meninggalkan dokumen sepenting ini tanpa dimasukkan ke dalam brankas pengaman."

Dimas langsung mengambil ponselnya dan memotret setiap halaman dari dokumen tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar kegirangan.

Cekrek cekrek.

"Laporan keuangan fiktif dan rencana pembobolan soal olimpiade dari brankas panitia provinsi?"

"Ternyata Husen berniat mencuri soal ujian lomba hari ini menggunakan koneksi kotor orang dalam!"

Dimas membaca sekilas isi dokumen palsu itu dan tertawa tertahan karena merasa sudah memegang kelemahan paling fatal musuhnya.

Di waktu yang sama, suasana di dalam laboratorium sains provinsi terasa sangat dingin dan menegangkan.

Nisa sedang memasang kabel-kabel tembaga pada cangkang generator besi sesuai dengan instruksi mutlak dari modul cacat milik Dimas.

Kletek kletek.

Dimas melangkah masuk ke dalam laboratorium itu setelah sukses menjalankan misi pencuriannya di kamar Husen.

Wajah mata-mata utusan yayasan itu terlihat sangat berseri-seri penuh dengan aura kemenangan mutlak.

"Bagaimana perkembangan rakitan alatmu siang ini, Nisa?"

"Sepertinya kamu sangat fokus sampai lupa mengambil jatah waktu istirahat makan siang dari panitia."

Nisa menghela napas panjang dan meletakkan tang potongnya ke atas meja baja dengan raut wajah sedikit tertekan.

"Buku panduan modul dari Bapak ini benar-benar luar biasa rumit dan memusingkan kepala."

"Saya harus merangkai saluran cairan bertekanan ini persis seperti gambar agar hasilnya maksimal saat penilaian besok."

Dimas melirik ke arah rangkaian pipa kecil di dalam generator rakitan Nisa dan menganggukkan kepalanya sangat puas.

"Bagus sekali, kamu memang murid yang paling penurut dan jenius yang pernah Bapak temui seumur hidup."

"Teruskan pekerjaanmu, Bapak yakin juri besok akan sangat terkejut melihat hasil karyamu yang meledak... ah maksudnya meledak prestasinya."

Dimas segera menutup mulutnya karena hampir saja keceplosan membongkar niat buruknya sendiri saking senangnya.

Nisa hanya menunduk dan membetulkan letak kacamatanya untuk menyembunyikan tatapan jijik yang sangat kuat dari matanya.

"Pria pembohong ini benar-benar bodoh karena tidak sadar aku sudah memasang katup penetral tekanan tak kasat mata di dalam pipa ini."

Nisa membatin dengan sangat dingin dan kembali melanjutkan akting briliannya merakit bom gagal tersebut.

Sementara itu, gemuruh tepuk tangan penonton memecah kesunyian di aula utama gedung perlombaan debat.

Prok prok prok!

Bara berdiri di mimbar sebelah kanan dengan gaya postur tubuh yang sangat tenang dan elegan layaknya seorang ahli hukum.

Lawan debatnya kali ini adalah perwakilan dari SMA Taruna Bakti, salah satu sekolah unggulan papan atas milik Yayasan Arunika.

Topik yang sedang diperdebatkan siang ini adalah tentang Legalisasi Monopoli Pendidikan Swasta Berkualitas Tinggi oleh Konglomerat.

"Pendidikan adalah komoditas bisnis murni, dan pihak swasta berhak memonopoli kualitas jika masyarakat mampu membayar fasilitasnya."

Ketua tim Taruna Bakti berbicara dengan gaya retorika yang sangat halus namun terselip racun diskriminasi yang mematikan.

"Negara tidak perlu ikut campur membatasi hak orang kaya untuk mendapatkan pendidikan eksklusif yang jauh lebih baik dan terjamin."

Bara tersenyum miring mendengar argumen yang sangat egois dan mengagungkan kapitalisme secara terang-terangan tersebut.

Dia melirik sekilas ke arah Husen yang duduk di kursi penonton baris depan dengan tatapan sangat tenang bersilang dada.

Husen hanya memberikan anggukan kecil tanpa mengaktifkan telepati sama sekali karena dia percaya penuh pada kapasitas otak Bara sekarang.

Bara menarik mikrofonnya sedikit lebih dekat dan mulai membalas dengan suara bariton yang menggema keras menembus aula.

"Pendidikan bukanlah barang dagangan murahan yang bisa dimonopoli sesuka hati oleh segelintir konglomerat di negara ini."

"Konstitusi secara tegas menyatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah hak seluruh rakyat tanpa memandang isi dompet mereka."

Bara menunjuk ke arah ketua tim lawan dengan tangan kanannya yang kekar namun pergerakannya dijaga sangat sopan.

"Jika kalian memonopoli kualitas pendidikan hanya untuk kalangan atas, kalian sedang membangun sistem kasta gaya baru."

"Kalian tidak sedang mencetak generasi penerus bangsa yang peduli, kalian hanya sedang mencetak mesin pengeruk uang untuk kekayaan keluarga kalian sendiri."

Jleb!

Argumen balasan yang sangat tajam itu langsung membongkar topeng retorika halus pihak lawan tanpa ampun sedikit pun.

Ketua tim Taruna Bakti langsung terdiam membisu dan tidak bisa membalas satu patah kata pun karena skakmat telak tersebut.

Otaknya tidak mampu mencari celah untuk membela monopoli bisnis pendidikan saat dihadapkan pada nilai dasar konstitusi negara.

Dewan juri tingkat provinsi yang mendengarkan perdebatan itu saling menganggukkan kepala dengan raut wajah sangat takjub.

"Tim SMA Garuda Kelam kembali menunjukkan penguasaan materi tata negara yang sangat matang dan tidak mudah terpancing emosi."

"Kemenangan babak pertama ini secara mutlak jatuh ke tangan tim perwakilan SMA Garuda Kelam!"

Teng teng teng!

Sorak sorai para penonton netral langsung meledak hebat memenuhi seluruh penjuru ruangan aula yang megah itu.

Rico melompat kegirangan dari kursi pendampingnya dan memeluk punggung Bara dengan sangat erat dari arah belakang.

"Kita menang telak lagi Bos, omongan lu tadi bener-bener kayak silet tajam yang nyukur habis kesombongan mereka!"

Bara tertawa lepas dan membalas tepukan punggung temannya itu sambil menatap tajam ke arah mimbar lawan yang sedang tertunduk lesu.

Husen berdiri dari kursinya dan tersenyum sangat puas melihat dua skenario besar yang dia rancang berjalan beriringan tanpa cacat.

Ting!

[Pemberitahuan Sistem]

[Murid Bara berhasil memenangkan babak penyisihan Debat Provinsi dengan poin sempurna]

[Laporan Radar Sabotase Pasif: Target Dimas Anggara telah sukses mencuri umpan dokumen palsu di kamar Host]

[Persentase jebakan menjerat musuh utama meningkat menjadi 80%]

[Hadiah ekstra: 400 Poin Pengalaman didapatkan]

Husen merogoh saku kemejanya secara perlahan dan merasakan ujung flashdisk hitam kecil yang aman berada di sana.

Flashdisk itu berisi data bukti korupsi suap sebesar dua miliar rupiah yang asli antara Pak Surya dan panitia kementerian.

"Mainkan terus kartumu dengan penuh rasa percaya diri, Dimas."

"Karena saat kamu dan bosmu melempar kartu palsu itu ke meja interogasi dewan besok, aku sendiri yang akan menghancurkan seluruh mejamu tanpa sisa."

Husen berjalan santai keluar dari aula perlombaan untuk menyusul murid-muridnya menuju ruang istirahat kafetaria hotel.

Perangkap sudah tertutup rapat mengurung mangsa, dan kini tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menarik pelatuk hukuman mati.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!