Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28: Harimau yang kembali lebih cepat
Ruozi menaikkan sebelah alisnya, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meski tahu pria bertopeng di depannya telah berhasil mengecoh sang Dewa Perang. Ia justru tersenyum tipis, menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan pose menantang.
"Memancing harimau keluar dari sarangnya? Nyalimu boleh juga, Tuan Kipas," sahut Ruozi, matanya melirik tajam ke arah kipas lipat sang pria. "Tapi pebisnis yang pintar tidak akan membuang energi hanya untuk pamer kekuatan. Jadi, potong semua omong kosong ini. Bisnis apa yang ingin kau tawarkan sampai harus menyusup lewat atapku?"
Pria bertopeng itu terkekeh rendah, terhibur dengan ketenangan Ruozi. "Sederhana saja. Aku menginginkan hak distribusi eksklusif Pil Detoksifikasi Jiwa ini untuk jalur luar ibu kota. Jaringan bawah tanah Paviliun Anggrek Hitam milikku bisa membawa pil ini ke tangan para bangsawan di empat kekaisaran tetangga dalam waktu tiga hari. Keuntungan yang akan kau dapatkan bisa membangun sepuluh apotek sebesar ini."
"Tawaran yang menarik, tapi modal awal dari pasar gelap biasanya mencekik," ujar Ruozi licik. "Aku mau memberi hak edar itu, asal bahan baku langka yang kalian selundupkan dari luar wilayah harus dijual kepadaku dengan diskon lima puluh persen. Bagaimana?"
Feng terpaku sejenak di balik topengnya, lalu tertawa lepas. "Nona Ruozi, kau benar-benar singa betina yang haus uang. Menawar di bawah ancaman kultivasi ku..."
Brakkk!!!
Belum sempat Feng menyelesaikan kalimatnya, pintu kayu kokoh Apotek Ruozi Jaya Medika hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Hawa sedingin es langsung menyeruak masuk, menekan energi murni di dalam ruangan hingga empat pengawal Ruozi seketika berlutut dengan wajah pucat.
Jenderal Besar Long Tianxu berdiri di ambang pintu dengan jubah perang hitam yang berkibar, matanya memancarkan kilatan amarah yang sanggup membekukan darah. Sang Dewa Perang telah kembali jauh lebih cepat dari perkiraan, menyadari bahwa umpan di pinggiran kota hanyalah trik murahan untuk menjauhkannya dari Ruozi.
"Menggunakan namaku sebagai umpan jualan di siang hari, dan sekarang bersekongkol dengan tikus pasar gelap di malam hari?" suara Long Tianxu berat dan bergaung rendah, dipenuhi aura membunuh yang pekat.
Feng langsung melipat kipasnya dengan bunyi klek yang tajam, tubuhnya bergeser selangkah, bersiap menghadapi sang Jenderal. "Ah, sang Harimau Kekaisaran ternyata punya hidung yang tajam. Sayang sekali kau mengganggu obrolan bisnis kami."
Di tengah tekanan aura dua monster kultivasi itu, Ruozi justru menghela napas panjang. Ia berjalan santai ke tengah-tengah kedua pria itu, lalu menunjuk ke arah pintu depan yang sudah bolong.
"Jenderal Long, tolong turunkan tensi darah Anda sebelum seluruh toko saya runtuh," ketus Ruozi tanpa rasa takut, membuat Long Tianxu sedikit menyipitkan mata karena heran dengan ketebalan muka gadis ini.
Ruozi berbalik menatap mereka berdua bergantian. "Karena Jenderal Long sudah terlanjur basah ada di sini, mari kita buat kesepakatan tiga arah. Papan naga emas Anda hari ini menyelamatkan toko ini dari sabotase Perdana Menteri Li. Sebagai gantinya, dua puluh lima persen dari keuntungan bersih hari ini akan saya setor ke kas militer Anda setiap akhir bulan sebagai biaya 'perlindungan resmi'. Dan untukmu Feng, syarat diskon bahan bakuku tetap berlaku."
Long Tianxu terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, namun kilatan kemarahan di matanya perlahan mereda. Nama Perdana Menteri Li yang disebut Ruozi membuatnya sadar bahwa gadis sekurus triplek ini sedang memainkan bidak catur politik yang besar.
"Dua puluh mana persen bersih," ucap Long Tianxu dengan suara berat, menurunkan aura menekannya. "Tapi ingat ini, Gadis Licik. Jika aku mendapati obatmu ini membahayakan stabilitas atau mengandung racun, papan nama naga emasku akan langsung berubah menjadi surat perintah eksekusimu."
"Kesepakatan yang adil!" seru Ruozi puas.
Feng terkekeh, tubuhnya perlahan mundur dan mulai melebur dengan bayangan malam di luar pintu yang hancur. "Senang berbisnis denganmu, Nona Muda. Besok malam, pasokan bahan baku pertamamu akan tiba di pintu belakang. Sampai jumpa, Jenderal." Dalam satu kedipan mata, Feng lenyap tanpa jejak.
Kini tinggal Long Tianxu yang berdiri menatap kusen pintunya yang kosong melompong.
Ruozi berkacak pinggang, menatap sang Jenderal dengan pandangan menuntut. "Nah, Jenderal Long yang terhormat, sebagai mitra bisnis baru yang mendapat dua puluh lima persen keuntungan... kurasa Anda berkewajiban mengganti rugi pintu toko saya yang hancur ini. Bagaimana saya bisa tidur tenang malam ini kalau pintunya bolong?"
Long Tianxu melirik pecahan kayu di bawah kakinya, lalu menatap wajah Ruozi. Sepanjang hidupnya memimpin ratusan ribu pasukan di medan perang, baru kali ini ada warga sipil tanpa energi murni yang berani memerasnya berulang kali dalam satu hari.
"Besok pagi, tukang kayu terbaik dari kediamanku akan memasang pintu baru yang berlapis besi hitam," kata Long Tianxu dingin sambil membalikkan badan. Sebelum melompat ke atas kuda hitamnya, ia berhenti sejenak. "Dan hati-hati, mata-mata Perdana Menteri Li sudah mulai mengawasi tempat ini. Jaga lehermu baik-baik, Ruozi."
Kuda hitam itu pun dipacu membelah kegelapan malam, meninggalkan Ruozi yang tersenyum lebar menatap gunung uang di atas konternya.
Ruozi tidak membuang waktu. Segera setelah derap langkah kuda Long Tianxu menghilang di kejauhan, ia langsung memerintahkan keempat pengawalnya untuk memindahkan seluruh tumpukan uang emas dan perak itu ke dalam brankas bawah tanah di ruang rahasia.
Dengan pintu depan yang kini menganga lebar tanpa pelindung, Ruozi memutuskan untuk berjaga semalaman di ruang tengah sambil terus mengawasi kuali obat yang mendidih, memanfaatkan waktu luang ini untuk meracik formula baru.
Di bawah temaram cahaya api tungku, otaknya yang dipenuhi pengetahuan medis modern mulai menyusun rencana cadangan guna menghadapi segala kemungkinan buruk yang dibawa oleh faksi Perdana Menteri Li.
Memasuki sepertiga malam terakhir, keheningan ibu kota tiba-tiba terusik oleh riuh rendah yang tidak biasa dari arah pemukiman mewah para pejabat kekaisaran.
Suara derap kereta kuda yang dipacu tergesa-gesa dan teriakan panik para pelayan terdengar bersahutan di sepanjang jalan-jalan utama yang sunyi. Dari balik celah dinding apoteknya, Ruozi bisa mendengar sayup-sayup keluhan dan erangan tertahan yang bergema dari rumah-rumah besar di sekitar pasar. Ramuan "pembersih racun tubuh" dosis tinggi yang mereka tenggak dengan serakah sejak siang hari kemarin kini telah mencapai puncak reaksi biologisnya di dalam sistem pencernaan mereka.
Gelombang dehidrasi dan mulas massal itu menjadi pertanda mutlak bahwa strategi pemasaran Ruozi telah bekerja dengan tingkat keberhasilan seratus persen. Efek pencahar agresif yang sengaja ia sembunyikan di balik label pil dewa itu kini tengah memaksa para pejabat korup bertubuh tambun untuk menghabiskan malam mereka di atas kloset tanpa bisa memejamkan mata barang sedetik pun.
Ruozi yang menyaksikan fenomena fajar itu dari balik konter hanya bisa tersenyum simpul seraya menata puluhan botol keramik biru berisi pil karbon aktif penahan diare yang baru saja selesai ia bulatkan.
Tepat saat fajar menyingsing dan embun pagi mulai luruh, sebuah gerobak kayu besar milik Kediaman Jenderal Besar Long Tianxu tiba di depan toko, membawa pintu jati baru berlapis besi hitam tebal beserta lima orang tukang kayu kekar.
Bersamaan dengan suara dentum palu yang mulai memasang engsel pintu baru tersebut, di ujung jalan pasar tampak beberapa kereta kencana mewah kembali datang mendekat dengan kecepatan tinggi.
Hari kedua Apotek Ruozi Jaya Medika resmi dimulai, tidak lagi dipenuhi oleh ambisi pamer kekayaan, melainkan oleh kepanikan masal para pejabat berwajah pucat seputih kain kafan yang datang demi menyelamatkan perut mereka.