Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 19
Pintu kamar mandi terbuka, Rara melangkah keluar dari sana. Ia sudah berganti pakaian. Rambutnya terlihat masih basah, ia mengusapnya dengan handuk agar perlahan kering.
Saat akan berjalan ke kamar, ternyata kakaknya dan Rio ada di dapur. Mereka menyiapkan makan malam. Sore tadi Nadia tidak masak, sebagai gantinya ia sudah beli 3 porsi mie ayam diperjalanan pulang.
"Ra tumben jam segini baru mandi ?" Tanya Nadia.
Seketika pertanyaan itu menghentikan langkah Rara. Ia bingung harus jawab apa. Tidak mungkin kalau ia bilang tadi udah mau mandi tapi karena lihat Mas Rio, akhirnya nggak jadi mandi. Pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan dari mereka berdua.
Otaknya terus berpikir mencari jawaban. Sementara Rara hanya berdiri diam dan beberapa kali melirik Rio yang sibuk dimeja makan.
"Ra, Rara ?" kata Nadia suaranya sedikit keras. Ia menatap kearah Rara. Sontak itu membuat adiknya kaget.
"kenapa ra ?" tanya lagi Nadia.
"eeeh, tadinya mau mandi setengah jam yang lalu, tapi karena masih males jadi ditunda dulu dan mandinya bisa sekarang," jawab Rara canggung. Ia akhiri dengan senyuman yang tak meyakinkan.
"ooh gitu," jawab Nadia.
"kakak tadi pulang dari toko kue beli mie ayam. Masih ingat nggak kamu Mie Ayam Bu Tini yang dekat SD. Mama kan dulu favorit banget beli disana. Tadi kakak beli 3 porsi, ini satunya buat kamu," Jelas Nadia sambil memperlihatkan 1 plastik mie ayam ke arah Rara.
"aku nanti makannya dikamarku aja kak," jawab Rara.
"loh kenapa ? Biasanya juga bareng makannya disini," tanya Nadia.
"eeeehhh, aku mau suasana yang beda. Diatas aku bisa makan sambil melihat cahaya bulan dan bintang dilangit," Jawab Rara dengan canggung.
"nggak biasanya kamu seperti itu," kata Nadia.
Rara melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar. Tidak lama kemudian ia turun kembali menuju meja makan. Ia mengambil seporsi mie ayam yang masih hangat terbungkus plastik, mangkok, dan garpu. Sementara Nadia dan kakak iparnya sudah mulai menikmatinya.
"tumben ra makan diatas ?" tanya Rio. Seketika Rara menelan ludah dalam-dalam. Ia ingin langsung menjawabnya, namun ia tak mampu menatap kakak iparnya.
"hmmmm, mau suasana yang beda aja Mas Rio," jawab Rara sambil membalikkan badan. Ia bergegas menuju kamar.
Rara menghela napas dalam, saat pintu kamar ditutup. Ditangan kanannya ada mangkok yang berisi seplastik mie ayam dan garpu, sementara di tangan kirinya ia memegang segelas air putih. Lalu ia letakkan ke meja dibalkon kamar. Ia pun meracik mie ayamnya disana.
Rara ingin sekali segera memakannya. Namun, seketika ia merasa kenyang. Mungkin ini disebabkan oleh ingatannya tentang kejadian tadi sore di kamar mandi. Kejadian yang sebenarnya tidak sengaja itu kembali terbayang di kepalanya.
Rara menghela napas dan bersandar di kursi balkon kamar. Rasanya ia sudah sangat lelah. Ia mulai kehilangan energi, setelah terus berusaha menghapus rekaman kejadian yang ia lihat sebelumnya dan yang ia intip kemarin malam. Semakin berusaha ia menghilangkan ingatan, ingatan itu semakin bertambah sulit untuk dihapus. Rasanya tak ada harapan lagi.
Tok...tok..tok..
"masuk aja nggak dikunci," ujar Rara setelah ketukan cepat dipintu.
"ini Mas Rio, ra"
Mas Rio. Ucap didalam batin Rara.
Saat itu juga detak jantung Rara berdegup kencang. Kepanikan kini melanda dirinya.
"aku boleh masuk ra" kata Rio.
"sebentar mas," Ucap Rara panik. Ia bangkit berdiri. Ia memejamkan mata sejenak. Mencoba mengatur napasnya, setelah itu ia memberanikan diri membuka pintu.
"iya mas ada apa ?"tanya Rara. Ia memberanikan diri beradu pandang dengan kakak iparnya yang berdiri didepan pintu.
"gini ra, besok aku sama Nadia mau liburan, kira-kira 2 hari. Jadi kamu nggak diajak dulu nggak apa-apa ya ra," jelas Rio.
"nggak apa-apa mas," jawab Rara.
"baiklah kalau begitu. Besok rencana berangkat pukul 9 pagi. Semoga aja lancar. Ya sudah dilanjutin makannya. Mas juga mau balik, nemenin kakak kamu makan," kata Rio.
"iya mas," jawab Rara singkat. Ia menutup pintu kamar saat Rio sudah menapaki lantai tangga dan tak terlihat lagi dari kamarnya.
Dibalik pintu, Rara merasa lega. Ia berhasil melawan kepanikan dengan terus terlihat tenang. Kakak iparnya pun tak curiga kalau dirinya sedang mengalami trauma yang mendalam. Lalu ia kembali duduk dikursi balkon.
Semangkok mie ayam yang ada disamping Rara mulai dingin. Sementara ia masih bersandar ke kursi, menatap tebaran bintang yang berkilauan dan belum menyentuh garpu dimangkok.
"liburan 2 hari ya ? Jadi gue sendirian dirumah. Semoga aja dengan tinggal sendiri dirumah, walau cuma 2 hari, bisa melupakan semuanya," gumam Rara dengan memandang bintang dilangit.
Kini ada harapan besar dihatinya. Selama 2 hari Rara tidak akan bertemu, ngobrol atau berpapasan dengan Nadia dan kakak iparnya. Ia pun berharap bisa melupakan semua kejadian yang pernah ia lihat, sehingga perlahan ia bisa menghilangkan traumanya dan bisa bersikap tenang saat bertemu mereka berdua. Tak ada lagi takut menatap, takut berpapasan dan obrolan yang terlihat canggung.
Semoga setelah 2 hari berlalu, semuanya kembali normal. Rara menghela napas dan menyudahi memandang keindahan langit malam. Ia kini beralih makan mie ayam yang masih terasa hangat tapi tak sehangat saat ia membawanya ke kamar.