NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Keanehan Yang Terjadi

"Apa kau sedang menyindirku, Lucas? Apa kau khawatir anak ini tidak akan tumbuh feminin karena memiliki ibu yang kasar sepertiku?"

Sarah mendengus kencang dan melayangkan pelototan setajam silet.

Tatapan itu seketika membuat nyali Lucas menciut. Pria itu tahu betul hukum domestik rumah tangga mereka: jika istrinya sudah merajuk, dia bisa dihukum didiamkan selama berhari-hari tanpa jatah makan malam.

"Bukan begitu, Sayang! Demi Tuhan, percayalah padaku. Kau tetap wanita yang paling cantik dan sempurna di mataku. Tolong, jangan marah padaku," ucap Lucas cepat, refleks berlutut di tepi ranjang dan mencoba meraih tangan Sarah.

"Sudahlah, Lucas. Lebih baik aku segera memandikan White saja daripada meladeni bualanmu," ucap Sarah ketus sambil menepis tangan suaminya. Lucas hanya bisa menghela napas pasrah melihat istrinya berjalan menjauh sembari menggendong White.

****

Sarah kini sudah berada di dalam kamar mandi kecil di lantai satu. Di dalam sebuah bak plastik khusus bayi, ia telah mencampur air dingin dan air mendidih, memastikan suhunya hangat-hangat kuku agar nyaman bagi kulit sensitif bayi baru lahir.

"Ayo Sayang, waktunya membersihkan tubuhmu," seru Sarah lembut, suaranya mendadak berubah manis seratus delapan puluh derajat saat berbicara pada bayinya.

Ia melepaskan lilitan kain sutra putih yang menempel di tubuh White, lalu menyangga kepala kecil itu dengan telapak tangannya secara perlahan.

Dengan penuh kehati-hatian, Sarah menurunkan tubuh mungil White ke dalam bak mandi.

Namun, fenomena aneh terjadi tepat pada detik pertama ketika permukaan kulit kaki bayi itu menyentuh air. Suhu air hangat di dalam bak mendadak turun drastis dalam sekejap mata. Air itu bergolak pelan, berubah wujud menjadi sedingin es yang menusuk kulit hingga memunculkan kabut tipis di permukaannya.

"Kenapa air hangat ini mendadak menjadi sedingin ini?" gumam Sarah dengan dahi berkerut dalam.

Ia mencelupkan jarinya, dan rasanya seperti air yang baru saja dicairkan dari balok es. Sangat tidak masuk akal bagi air hangat untuk membeku secepat itu di tengah cuaca musim panas Arcania yang terik.

Khawatir tubuh White yang masih rapuh menggigil kedinginan, Sarah buru-buru mengangkat kembali bayi perempuan itu dan membaringkannya di atas kasur. Dengan rasa penasaran bercampur kesal, ia membuang air dingin itu, lalu memasak air panas yang baru di dapur.

Setelah air hangat baru siap, Sarah kembali mencobanya untuk kedua kali. Dan kejadian supranatural itu terulang kembali dengan presisi yang mengerikan. Air hangat kembali menjadi sedingin es sesaat setelah bersentuhan dengan kulit White. Kali ini intensitas dinginnya terasa jauh lebih pekat, membuat ujung jari Sarah mendadak mati rasa.

"Apa aku sedang berhalusinasi parah? Kenapa air ini tetap berubah menjadi sedingin es?" Sarah mengernyit bingung.

Sementara itu, White yang berada di dalam dekapannya justru mengeluarkan suara tawa riang yang menggemaskan. Bayi itu menatap ekspresi kebingungan ibunya seolah-olah fenomena es ini adalah mainan yang menyenangkan.

Karena tingkat kesabarannya mulai menipis akibat kelelahan fisik, Sarah memutuskan untuk membatalkan ritual mandi White. Ia memilih untuk hanya menyeka tubuh mungil itu menggunakan selembar handuk kecil yang dibasahi air biasa.

Tepat pada momen itu, Lucas muncul di ambang pintu dengan wajah bersalah. "Sayang... kenapa kau malah hanya menyekanya dengan handuk? Mana bak mandinya?"

"Bagaimana mungkin aku bisa memandikannya di bak itu, Lucas?! Air hangat yang kumasak dengan susah payah mendadak berubah menjadi sedingin es kutub begitu menyentuh kulit White!" seru Sarah meluapkan rasa frustrasinya.

Lucas mengerutkan dahi, lalu sebuah tawa kecil lolos dari mulutnya. Pria itu menganggap ucapan istrinya hanyalah bualan konyol akibat sindrom ibu baru.

"Sayang, mungkin kau terlalu lelah dan kurang tidur. Mana mungkin air panas bisa berubah menjadi es dalam hitungan detik di musim panas seperti ini?"

"Aku tidak sedang bercanda, Lucas! Aku sudah mengganti airnya dua kali berturut-turut! Bayi perempuan ini... dia seperti memiliki kekuatan sihir es di dalam tubuhnya!" balas Sarah tegas, menunjuk ke arah White yang kini kembali terlihat tenang di atas kasur.

Lucas melangkah mendekat, menggelengkan kepalanya. Pria itu berlutut di samping bak mandi plastik, lalu mencelupkan tangannya ke dalam air yang dimaksud oleh Sarah. Ia mengaduk-aduk air tersebut selama beberapa detik, lalu mendongak dengan tatapan datar.

"Airnya biasa saja, Sarah. Malah suhunya cenderung masih hangat dan sangat pas untuk memandikan bayi," ucap Lucas dengan nada teramat tenang. "Sepertinya psikologismu saja yang sedang terlalu sensitif karena amarah soal baju merah muda tadi."

Sarah tertegun. Ia segera berlutut di samping suaminya dan mencelupkan kembali telapak tangannya sendiri ke dalam bak mandi. Jantung Sarah seolah berhenti berdetak sesaat. Air di dalam bak itu kini terasa hangat-hangat kuku.

Tidak ada lagi jejak hawa dingin yang menusuk tulang atau kabut es seperti dua menit yang lalu.

"Tapi... demi Tuhan, tadi air ini benar-benar sedingin es, Lucas! Aku berani bersumpah aku tidak gila!"

Sarah tetap bersikeras pada pendiriannya, meski di dalam hati ia mulai meragukan kewarasan otaknya sendiri.

"Sudahlah, Sarah. Kau hanya perlu istirahat," jawab Lucas lembut, mencoba mengusap pundak istrinya untuk menenangkan.

Sementara itu, White yang berbaring di atas tempat tidur hanya menatap lurus ke arah Lucas dengan sepasang mata bulatnya yang jernih.

Sedetik kemudian, bayi perempuan itu memberikan seulas senyuman kecil yang teramat misterius—seolah ia secara sadar sengaja menyembunyikan sisa energi sihir es miliknya dari jangkauan deteksi sang ayah asuh.

Melihat suaminya tetap memperlakukan ucapannya seperti angin lalu, amarah Sarah kembali menyala. Ia langsung berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang di depan Lucas.

"Kurang tidur? Emosi tidak stabil? Jadi secara tidak langsung maksudmu aku sudah gila dan mulai mengarang cerita fantasi?!"

"Bukan begitu maksudku, Sayang. Hanya saja jika dipikirkan secara logika normal—"

"Logika konyolmu tidak berlaku di kamar ini, Lucas!" potong Sarah cepat.

"Aku yang memegangi tubuh bayi ini, aku yang mencelupkannya, dan aku yang merasakan kulit tanganku hampir membeku! Jika kau lebih memilih memercayai suhu air yang sekarang daripada kata-kata dari mulut istrimu sendiri, lebih baik kau angkat kaki dan keluar dari kamar ini sekarang juga!"

Lucas mengangkat kedua telapak tangannya ke udara, mengambil langkah mundur untuk meredakan amarah istrinya yang kian meluap.

"Oke, oke, maafkan aku. Mungkin tadi ada aliran udara dingin mendadak dari celah jendela luar atau sesuatu yang membuat kulitmu salah merasakan suhu air."

"Terserah apa katamu, Lucas!"

Sarah menepis kasar tangan Lucas yang mencoba menyentuh bahunya. Ia merasa harga diri dan kesaksiannya sama sekali tidak dihargai.

"Kau selalu saja sibuk mencari alasan masuk akal untuk menjelaskan hal aneh yang jelas-jelas berada di luar nalar. Ambil saja seluruh tumpukan pakaian berwarna merah muda sialan itu dan keluar dari pandanganku!"

Lucas hanya bisa menghela napas panjang yang sarat frustrasi. Ia melangkah mundur keluar dari kamar sebelum amarah Sarah benar-benar meledak dan menghancurkan seisi rumah kayu mereka.

Begitu pintu kayu tertutup rapat, Sarah kembali memutar tubuh menatap White. Bayi perempuan berambut putih itu kini terdiam membisu di atas kasur, menatap lurus ke langit-langit dengan mata yang berkilauan indah. Seolah ia sadar betul bahwa elemen magisnya baru saja memicu pertengkaran domestik kecil di antara kedua orang tua asuhnya.

Tak lama kemudian, pintu kamar kembali berderit terbuka perlahan. Menampilkan sosok Lucas yang berdiri di ambang pintu dengan wajah pias, tampak sudah merangkai rentetan kosakata baru untuk membujuk istrinya.

"Mau apa lagi kau kembali ke sini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!