Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidupku ( pov Felisa)
**
Hidupku dulu terasa sangat sempurna. Sedari kecil, sudah hidup di lingkungan yang kata orang sangat baik, tempat yang membuat kita lebih dekat dengan agama. Kalian bisa tebak kan, aku tinggal di tempat seperti apa?
"Neng, ayo wudhu dulu, kita shalat jamaah sama Abah dan yang lainnya!" ajak umi dari balik pintu saat itu.
Aku paling suka, saat umi datang ke kamar, lalu membelai rambutku. Terutama senyuman manis umi adalah hal terindah yang selalu mau aku lihat setiap saat.
"Ada Kak Ari sama A Adi juga?" tanyaku ceria jika memikirkan dua kakak lelaki itu yang berbeda Ibu dariku.
Kalian heran, kan? Aku juga saat itu tidak mengerti kenapa aku mempunyai dua orang Ibu, satunya aku panggil Umi yang katanya yang melahirkanku dan satunya dipanggil Ibu, yaitu Ibu dari Kak Ari sama A Adi. Tapi, aku hanya punya satu Abah. Aneh, kan?
Aku dan Kak Ari berbeda usia 5 tahun, sedang dengan A Adi berbeda usia 3 tahun.
"Kak Ari, A Adi, tunggu Feli!"
"Sini, bareng!" teriak Kak Ari yang selalu menjadi orang pertama menyambutku dengan pelukan. Sementara A Adi, hanya selalu tersenyum.
Mereka sama-sama baik, tapi aku lebih dekat dengan Kak Ari karena dia paling sering mengajak bermain. Sedang A Adi, lebih sering belajar sama Abah. Aku dan Kak Ari tidak terlalu suka belajar saat itu. Namanya juga anak kecil kan, yah.
"Kamu sudah 8 tahun, harus sudah hafal bacaan surat ini!"
"Jangan banyak main, harus banyak belajar di mesjid sama A Adi!"
"Tidak boleh begitu!"
"Tidak boleh seperti ini!"
"Perempuan harus pakai baju seperti ini!"
Kalimat-kalimat larangan yang sering aku dapat jika saat bertemu Abah sedari kecil. Awalnya, aku selalu menurut karena itu juga memang demi kebaikan. Tapi jujur, lama-kelamaan entah kenapa terasa sangat mengikat sampai aku merasa kehilangan waktu bermain saat masih kecil.
Waktu berlalu, aku sudah berusia 13 tahun saat itu, dimana umi sakit parah selama setahun lebih dan akhirnya pergi untuk selamanya. Hari itu benar-benar menjadi hari yang paling menyedihkan. Hidupku terasa berhenti saat itu. Saat aku masih berduka, tidak lebih dari sebulan, tiba-tiba Abah memperkenalkan seorang ibu baru lagi yang harus dipanggil bunda. Baru datang bersama dua orang anak yang perempuan. Satunya, seumuran denganku dan satunya lagi di bawahku 3 tahun yang katanya ini yang anak kandung Abah.
Mereka semua orang-orang baik, tidak ada drama jahat ibu tiri. Tapi aku yang masih berduka terasa terkhianati, memilih selalu sendiri dan makin terjebak ke dalam rasa sakit yang membuatku semakin jauh dari mereka semua. Apalagi saat aku menginjak SMA, Kak Ari ikut sekolah militer. Tinggallah, aku benar-benar sendiri di sini di rumah yang sekaligus tempat pesantren milik Abah.
Semakin dewasa aku mengerti, tentang sistem poligami yang dianut Abah. Aku tidak menyalahkan tentang keyakinan Abah ini, tapi setiap membayangkan rasa sakit umi saat Abah memilih menikah lagi waktu itu, rasanya masih kecewa.
Abah itu asli keturunan Sunda, sedang Umi seorang keturunan Cina. Umi yang rela meninggalkan budaya dan memilih mengikuti keyakinan Abah, harus rela dipoligami karena lama tidak mempunyai anak. Umi yang akhirnya bertahan karena agama yang dianut memang terasa sangat indah, bukan lagi semua tentang Abah.
Saat itu, Umi harus menunggu 6 tahun sampai aku bisa terlahir ke dunia. Setelah itu, Umi tidak bisa mengandung lagi. Umi tetap selalu bertahan sampai tutup usianya.
Setelah lulus SMA, aku memilih meninggalkan tempat ini. Melepas semua jeratan ini. Memilih hidup bebas yang tidak penuh dengan aturan. Penuh konflik saat itu, sampai aku harus terusir dari tempat itu. Tidak mudah memang pergi ke tempat baru hanya bermodal tabungan seadanya. Banyak pekerjaan serabutan yang aku lakukan saat merantau ke kota saat itu. Hanya bermodal ijazah SMA, aku pergi dari tempat kecil jauh di Sukabumi sana ke Jakarta.
Sampai setahun kemudian, aku bertemu Merri yang seorang agen pencari bakat menawari menjadi seorang model. Saat itu, aku tidak langsung menerima. Banyak alasan yang harus dipertimbangkan, terutama syarat harus melepas hijab.
Kalian boleh bully keputusanku saat itu, karena akhirnya memilih lepas hijab demi sebuah pekerjaan. Yah, aku salah! Tapi, walau melepas hijab, bukan berarti aku melepas agamaku bukan? Tidak sama sekali! Keadaan yang memaksaku saat itu, yang harus melakukan seperti itu.
"Ayo, pulang!"
Berkali-kali, Kak Ari menyuruhku pulang. Hanya dia yang selalu mencari keberadaanku setelah sekolah militernya selesai, sayang dia harus mendapat tugas di pulau jauh sana, jadi jarang menghubungiku. Abah juga mencariku, tapi tetap dengan segala aturannya.
Aku dan Kak Ari, adalah dua orang yang sama-sama memilih jalan kehidupan yang jauh dari jalan yang dipilih Abah. Sementara, anak-anak Abah yang yang lain memilih mengabdi di pesantren, termasuk A Adi.
Aku sempat pulang beberapa kali, hanya untuk mengunjungi makam Umi dan mampir sebentar ke sana.
Tiba saat kehadiran Elvan yang disembunyikan dari semua keluarga, termasuk Kak Ari. Kehadiran Elvan, mungkin semakin menjadi kegagalan lagi bagi aku seorang anak Abah. Setelah itu, aku semakin menjauh dari mereka.
Salah satu alasan aku bersembunyi selama ini, memang karena keluarga ini dan pelacakan Kak Ari yang mulai curiga tentang Elvan. Tapi, ada satu hal lagi masalah besar yang membuat harus bersembunyi dan terpaksa memutus kontrak kerja di salah satu agensi di Paris. Semuanya proses ini tak ada yang mudah memang bagiku.
"Bisa kamu jelaskan ini sebenarnya ada apa?"
Aku tidak mampu menjawab pertanyaan Abah ini. Memilih menunduk, tak berani menatap sekitar yang sudah penuh dengan tatapan penghakiman. Aku sudah membayangkan dan mempersiapkan diri, dimana hari ini akan datang. Tapi, setelah menjalaninya rasanya tetap menegangkan dan menakutkan.
"Kalian bisa bicara, bukan?" tanya Abah lagi.
Situasi seperti ini terlalu sering aku hadapi. Sebuah penghakiman, tanpa mau tahu ada situasi apa yang terjadi sebelum kejadian ini terjadi. Orang-orang yang hanya mau tahu hasilnya yang salah seperti ini.
"Felisa jawab!" bentak Abah lagi untuk kesekian kalinya. Entah kenapa, kali ini tiba-tiba aku merasa berani untuk mengangkat wajah.
"Ini salah saya, maafkan saya, Abah!" Tiba-tiba Rafa sudah berjongkok di depan kaki Abah. "Saya juga sudah mengecewakan kepercayaan Abah waktu itu. Maafkan saya."
Tunggu? Maksudnya apa? Waktu itu? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Kapan? Untuk apa? Waktu kapan?
"Jadi, dosa besar yang maksud waktu ini? Meniduri wanita yang bukan mukhrim yang ternyata anak saya." Suara Abah terdengar melemah.
"Ayah, kenapa semua ini masih Ayah pedulikan? Bukannya, semua hal tentangku sudah bukan urusan Ayah lagi seperti yang Ayah bilang waktu itu?"
Pasti ada yang berpikir aneh, kenapa aku memanggil Abah itu Ayah? Aku memang suka pemberontakan, semakin panggilan yang kata Abah bilang tidak baik, semakin aku ingin memanggilnya seperti itu. Bukan tidak baik juga, tapi bukan adat kita katanya.
"Abah, boleh saya minta waktu berdua dengan Abah?" Rafa melirik ke arahku. "Kamu juga, tolong izinkan saya berbicara berdua dengan Abah."
Area taman di sini masih sama seperti dulu, tetap menenangkan. Area yang selalu menjadi favorit para santri di sini untuk bersantai. Beruntung, ini jam pengajian jadi tempat ini sepi.
"Basi kayaknya yah, kalau Kakak bilang welcome back home my sister," seru Kak Ari yang sudah merangkul, mengajak duduk di kursi panjang yang ada di sana.
"Kapan yah, terakhir kali tempat ini jadi rumah buat kita pulang, Kak?"
Membayangkan suasana hangat sebuah rumah dengan keluarga yang utuh, rasanya sudah lupa. Keluarga ini bukannya tidak utuh sih, tapi karena terlalu utuh jadinya over muatan.
"Sejak kita, masih satu jalan sama mereka." Terdengar kak Ari menghela napas berat. "Kenapa gak bilang? Kenapa gak cerita situasi kamu saat itu? Kenapa malah milih kucing-kucingan terus?"
Entah kenapa, aku malah tertawa. "Saat aku mutusin pergi dari rumah, jadi model, lepas hijab disitu, aku udah gagal jadi anak di mata Ayah. Terus, tiba-tiba aku dateng bawa kabar hamil di luar nikah, segagal apa lagi aku di matanya?"
"Ada Kakak. Kalau kamu gak bisa cerita sama Abah dan yang lainnya, ada Kakak yang bisa kamu ajak berbagi."
"Kakak udah sibuk sama kerjaan, aku gak mau nambah beban lagi." Aku merasakan usapan lembut di kepala. Jika seperti ini, aku seperti merasa kembali menjadi anak kecil. Padahal, aku sudah mempunyai anak kecil sekarang.
"Sesibuk apapun Kakak, pasti baka--"
"Udah!" Buru-buru aku menutup mulut kak Ari dengan tangan. "Semua udah terjadi. Aku udah ada di sini sekarang. Aku juga baik-baik aja."
Kembali, terdengar kak Ari menghela napas berat. Sesaat, kita berdua sama-sama terdiam saling meresapi segala hal yang sudah terjadi.
"Rencana kalian kedepannya apa? Mau nikah? Kalau mau lanjutin hubungan tidak jelas seperti kemarin, tapi masih tinggal satu rumah, tapi Kakaksendiri yang bakal pisahkan kalian dengan cara apapun!" ancam Kak Ari yang aku tahu bukan hanya bualan semata.
"Kalau ujung-ujungnya memang harus menikah, ya udah aku ikut aja."
"Kok, gitu? Ini kamu mau nikah, loh. Gak bisa ikut gitu-gitu saja." Netra kak Ari bergulir tak sabar. "Pokoknya kamu harus nikah, supaya anak kamu ada status yang jelas."
Aku mengangguk setengah tak yakin. "Dia di dalam sama Ayah juga lagi proses menuju izin menikah kayaknya."
"Lain kali kalau ada apa-apa, bilang Kakak yah, jangan kaya gini." Kak Ari memelukku erat, yang dibalas pelukan lagi olehku.
"Iya, Kak."
"Mama huwaa!"
Aku langsung melepaskan pelukan, saat mendengar suara teriakan plus tangisan. Elvan terlihat berlari yang dikejar Lila salah satu adik tiriku, sepertinya anak itu kabur dari gendongannya.
"Kenapa nangis?" Aku sudah berjongkok untuk menyamakan dengan tinggi Elvan. Mengusap pipi anak itu yang sudah penuh air mata.
"Mau pulang! Kenapa Mama sama papa ninggalin aku! Kenapa aku dikasih ke mereka!" Elvan melirik Lila kesal, jarinya menunjuk. "Sama dia!"
"Gak boleh tunjuk-tunjuk gitu, gak sopan, Sayang." Aku menurunkan jari Elvan. Mengusap lembut kepalanya. "Kita liburan dulu di sini, yah. Nanti kita pasti pulang."
"Gak mau!" Elvan malah berteriak kencang. "Mau pulang! Mau ketemu Cio! Mau main air!"
Elvan memang tipe anak yang tidak mudah akrab dengan lingkungan baru. Butuh waktu lumayan lama, sampai anak itu mulai merasa nyaman. Termasuk juga dengan orang baru, anak itu akan berubah rewel, cengeng, suka marah-marah jika berinteraksi dengan orang baru. Beda, jika anak itu sudah nyaman dengan orang itu, Elvan akan menjadi anak termanis yang malah seperti minta dibawa pulang.
"Elvan anak baik bukan?" Aku mengusap pipinya berulang, anak itu langsung mengangguk. "Anak baik harus gimana? Boleh gitu, marah-marah kaya gini sama Mama?"
Elvan dengan polosnya menggeleng. "Tapi, aku gak suka di sini. Aku mau pulang." Suara anak itu mulai bergetar lagi.
"Masa, anak ganteng Mama nangis?" Aku menyeka satu tetes air mata Elvan.
Anak itu buru-buru berbalik, terlihat dari belakang menghapus pipi kasar dengan tangan. Setelah itu, Elvan kembali berbalik dan menunjukan giginya yang ompong satu.
"Aku lelaki sejati gak nangis. Siapa yang nangis? Gak, tuh!" Tangan anak itu sudah bersedekap di dada.
"Jadi, mau liburan di sini dulu terus main dulu sama Tante Lila?"
Elvan terlihat mengernyit, melirik Lila penuh selidik. "Tapi, jangan lama-lama di sini?"
Aku mengangguk cepat, memberikan senyuman terbaik. "Ok ... aye kapten!"
"Ehemmmm ...."
Kak Ari terlihat berdehem berulang-ulang, entah ingin menunjukkan dia ada di sini atau ingin diperkenalkan juga ke Elvan sebagai Om.
"Hi!" Kak Ari menyapa Elvan dengan senyuman canggungnya. Terlihat ragu, tapi akhirnya ikut berjongkok di depan Elvan dan mengulurkan tangan. "Kenalkan, aku Om Ari yang paling tampan di sini."
Elvan melihat ke arahku yang langsung aku angguki. Meski masih terlihat ragu, membalas jabatan tangan kak Ari. "Aku Elvan, lelaki dewasa yang sejati."
Aku, Lila yang bahkan sedari tadi terdiam, serta kak Ari spontan tertawa mendengar ucapan perkenalan Elvan.
Setelah berbincang basa-basi cukup lama, akhirnya aku kembali menitipkan Elvan ke Lila yang terlihat sangat senang.
Aku tahu, setelah ini semuanya tidaklah mudah. Walaupun Abah dan semuanya tidak menyukai per-zinahan, tapi izin untuk menikah pasti tidak akan semudah itu.
Entah, apa yang akan terjadi. Semoga semuanya cepat selesai dan dipermudah.
"Kita harus tinggal di selama seminggu!"
Kalimat yang Rafa ucapkan saat kita baru saja duduk di depan rumah Abah. Tadi, Rafa mengirim pesan mengajak bertemu setelah urusan dia dan Abah selesai. Tapi, tidak seperti di tempat lain kita bebas bertemu berdua, di sini harus bertemu di depan rumah Abah dengan banyak orang mengawasi di sekitar.
"Susah gak syaratnya?" Aku tahu pasti ada hal yang harus Rafa lakukan untuk mendapatkan restu itu.
Rafa menggeleng. "Saya sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Jadi, saya yakin bisa."
Aku sedikit tenang, karena tadi sudah mengetahui jika Rafa dulu pernah menjadi santri selama tiga bulan di sini. Walaupun, aku masih belum tahu alasan dia dulu di sini untuk apa? Benar-benar ikut pesantren atau hal lain?
"Tunggu saya seminggu lagi untuk bawa kalian berdua pulang."
##