Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Syarat Gila Sang Kakek
Ruangan rapat di lantai teratas gedung Notaris Hendra & Partners terasa begitu luas, namun udaranya mendadak menghimpit. Aromatik kayu mahoni tua yang mendominasi ruangan beradu dengan atmosfer dingin yang terpancar dari seorang pria bersetelan jas charcoal gray yang berdiri di dekat jendela besar.
"Ini gila, Pak Hendra! Kakek pasti sudah tidak berpikiran jernih saat menyusun dokumen ini!"
Suara bariton Arvin Dirgantara bergema memantul pada dinding kaca. Pria bertubuh tinggi tegap itu berbalik kasar. Jemari tangannya yang kokoh mencengkeram tepi meja kayu di hadapannya, menatap tajam dokumen bersampul kulit di atas meja. Matanya yang tajam memancarkan kilatan amarah yang tertahan dengan sangat rapat.
Notaris senior bernama Hendra itu menghela napas halus. Dengan gerakan tenang yang terbiasa menghadapi konflik keluarga kaya, ia membetulkan letak kacamata minusnya.
"Tuan Arvin, harap tenang," ujar Pak Hendra seraya menunjukkan lembaran bertanda tangan segel lilin di bagian bawah. "Ini adalah kehendak sah dari almarhum Tuan Wijaya Dirgantara. Dokumen ini dibuat dua bulan sebelum beliau wafat dan memiliki kekuatan hukum yang tidak bisa diganggu gugat oleh pihak mana pun."
"Mengikat?" Arvin terkekeh sinis. Kekehannya pendek, hampa, dan penuh ketidakpercayaan. Ia menyisir rambut hitamnya yang tersisir rapi ke belakang menggunakan jemari tangan. "Kakek menaruh lima puluh satu persen saham utama Dirgantara Group atas nama wanita asing! Dan aku baru bisa mengambil alih posisi CEO secara penuh jika aku menikahi wanita itu dalam waktu tiga puluh hari?"
Arvin melangkah mendekati meja, menundukkan tubuhnya untuk mengintimidasi pria tua di depannya. "Apa Kakek sudah pikun di akhir hayatnya?"
"Tuan Wijaya sangat sadar saat menandatanganinya," potong Pak Hendra tegas namun sopan. "Dan ada satu klausul tambahan yang perlu Anda ingat. Jika dalam kurun waktu tiga puluh hari Anda menolak atau gagal memenuhi syarat pernikahan tersebut, maka seluruh hak kontrol atas saham utama akan dialihkan secara otomatis kepada sepupu Anda, Tuan Dion."
Rahang Arvin mengeras seketika hingga otot pipinya menegang. Dion? Pria parasit yang selama ini hanya tahu cara memeras anggaran perusahaan demi gaya hidup mewahnya?
Arvin tahu persis, jika Dion memegang kendali atas lima puluh satu persen saham tersebut, Dirgantara Group—kekaisaran bisnis yang dibangun kakeknya selama empat puluh tahun—akan hancur berkeping-keping dalam hitungan bulan. Tapi kenapa Kakek harus menyertakan syarat sekonyol ini? Kenapa harus menyerahkan takdir perusahaan pada seorang wanita asing?
Klek.
Tepat saat ketegangan di ruangan itu memuncak, engsel pintu kayu jati ruangan rapat terdengar berbunyi. Pintu terbuka perlahan.
Seorang wanita muda melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan kemeja katun putih polos yang digulung rapi hingga pergelangan tangan dan celana kain hitam sederhana. Tas selempang kulit berwarna cokelat yang sudah tampak mengelupas di beberapa sudut tergantung di bahunya. Rambut panjangnya diikat ekor kuda yang sedikit berantakan karena angin luar.
Wajahnya polos tanpa polesan make-up tebal—sangat kontras dengan wanita-wanita kalangan atas yang biasa mengelilingi Arvin. Namun, ada sesuatu pada tatapan mata wanita itu: sebuah ketegasan dan daya tahan yang tak biasa.
"Maaf saya terlambat, Pak Hendra. Akses transportasi ke area ini sangat macet," ucap wanita itu dengan suara jernih yang tenang, meski napasnya sedikit memburu.
Arvin membalikkan badan secara penuh. Dari ujung sepatu hak rendah yang agak aus hingga puncak kepalanya, Arvin menilai wanita di depannya dengan tatapan yang sangat dingin dan merendahkan.
Jadi ini wanitanya? Dania Kirana?
Seketika, benak Arvin dipenuhi prasangka buruk. Pakaian sederhana dan penampilan polos wanita ini jelas hanya topeng yang dirancang rapi. Wanita ini pasti sudah mengumbar simpati palsu atau menghasut kakeknya sebelum meninggal demi mengeruk kekayaan keluarga Dirgantara.
"Mbak Dania, silakan duduk," sapa Pak Hendra ramah, berusaha memecahkan bongkahan es di dalam ruangan.
Dania menarik kursi kayu di seberang Arvin. Ia berusaha mengabaikan tatapan membunuh dari pria bersetelan jas mahal di hadapannya. Dania sendiri sebenarnya sangat kebingungan. Dua hari lalu, sebuah surat resmi dari kantor notaris ini mendadak menyambangi rumahnya, memintanya hadir untuk pembacaan wasiat mendiang Tuan Wijaya—seorang pria tua dermawan yang beberapa bulan lalu sempat menyewa jasa desain interior dari tempatnya bekerja.
"Baik, karena Mbak Dania sudah hadir, saya akan membacakan poin inti dari surat wasiat ini," ujar Pak Hendra seraya meratakan dokumen di tangannya. "Tuan Wijaya meninggalkan amanat bahwa Mbak Dania dan Tuan Arvin harus terikat dalam pernikahan resmi yang terdaftar secara hukum dalam kurun waktu maksimal tiga puluh hari."
Dania tersentak. Duduknya mendadak tegap. Matanya membelalak tak percaya. "Apa? Pernikahan?"
"Jangan berakting kaget di depanku," potong Arvin cepat. Suaranya memotong udara bagai bilah pisau yang tajam. "Berapa banyak uang yang sudah kamu peras dari kakekku sampai beliau memasukkan namamu ke dalam wasiat ini, Miss Dania Kirana?"
Dania menoleh cepat, menatap pria di hadapannya dengan dahi berkerut dalam. "Maaf? Jaga ucapan Anda. Saya bahkan baru tahu ada dokumen seperti ini sepuluh menit yang lalu!"
"Oh ya?" Arvin memajukan tubuhnya, menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja mahoni, mengikis jarak di antara mereka. Aura intimidasi terpancar begitu kuat dari tubuhnya. "Gadis biasa tanpa latar belakang yang jelas tiba-tiba mendapatkan hak atas saham perusahaan bernilai triliunan rupiah hanya dengan syarat menikah denganku? Kamu mau bilang ini semua cuma kebetulan murni?"
Dania menyandar ke sandaran kursi, membusungkan dada untuk menahan gejolak emosi di dadanya. Ia datang ke ruangan ini bukan untuk dihakimi atau dihina oleh pria sombong yang mengira seluruh isi bumi bisa dibeli dengan uangnya.
"Jika Anda merasa ini jebakan atau sangat keberatan dengan isi wasiat itu, silakan tolak sekarang," balas Dania dengan nada suara yang terkontrol namun sangat menohok. "Saya juga sama sekali tidak sudi menikah dengan pria asing yang tidak punya tata krama seperti Anda."
"Mbak Dania, Tuan Arvin, mohon tahan emosi Anda berdua," sela Pak Hendra cepat sebelum perdebatan verbal itu berubah menjadi kekacauan. Pak Hendra lalu mengalihkan pandangannya pada Dania dengan raut wajah serba salah. "Mbak Dania, almarhum Tuan Wijaya juga menyertakan klausul khusus yang ditujukan langsung untuk Anda. Jika pernikahan ini terlaksana, seluruh biaya perawatan rumah sakit adik Anda di ruang ICU akan ditanggung sepenuhnya oleh dana perwalian almarhum, ditambah bantuan dana tunai secara berkala untuk pemulihannya."
Dania membeku di tempatnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seruas jari.
Adiknya, Rehan.
Tagihan rumah sakit untuk operasi jantung adiknya sudah menumpuk ratusan juta rupiah. Pihak administrasi rumah sakit bahkan sudah memberikan tenggat waktu hingga akhir minggu ini sebelum memindahkan adiknya ke ruang perawatan biasa tanpa fasilitas penunjang kehidupan yang memadai. Dari mana kakek tua itu tahu soal kondisi adiknya yang sekarat?
Arvin memperhatikan perubahan raut wajah Dania yang mendadak pucat. Senyum sinis kembali terukir di sudut bibirnya. Penyakit keluarga? Alasan klasik cewek matre, batin Arvin tajam.
"Bagaimana, Mbak Dania?" tanya Pak Hendra hati-hati.
Dania mengepalkan kedua tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Harga dirinya menjerit keras, menuntutnya untuk berdiri dan melangkah keluar dari ruangan beracun ini sekarang juga. Namun bayangan wajah adiknya yang terbaring lemah dengan selang oksigen berkelebat di dalam pikirannya. Ini adalah satu-satunya pelampung keselamatan yang tersisa untuk menahan adiknya agar tetap bernapas.
Dania mendongak, mengangkat wajahnya perlahan. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Arvin yang kelam dan dingin.
"Saya terima syarat itu," kata Dania tegas, tanpa ada sedikit pun keraguan di suaranya.
Arvin menyeringai dingin. "Tentu saja kamu terima. Mana ada serigala yang menolak umpan daging segar?"
Pak Hendra menarik napas panjang, lalu merapikan lembaran kertas surat wasiat di atas meja. Keheningan yang membekukan kembali menguasai ruangan.
Arvin masih berdiri di tempatnya, menatap Dania dengan raut wajah yang keras bagai batu karang. Sementara Dania tetap duduk tegap, membalas tatapan itu dengan keberanian yang sama sekali tidak goyah.
"Baik," Pak Hendra memecahkan ketegangan seraya menatap kedua orang di depannya. "Karena Mbak Dania sudah menyetujui klausul dari almarhum Tuan Wijaya, maka syarat utama warisan ini resmi berjalan."
Arvin terkekeh dingin, suara kekehannya pendek dan sarat akan penghinaan. Ia kemudian menarik kursi di seberang Dania dan duduk kembali. Pria itu menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di atas meja mahoni, lalu menatap Dania dari jarak dekat.
"Jangan berpikir kamu bisa melangkah keluar dari ruangan ini dengan senyum kemenangan, Dania Kirana," desis Arvin tajam, suaranya pelan namun mengandung ancaman yang menekan. "Kamu mungkin berhasil memanfaatkan kebaikan kakekku, tapi kamu tidak akan pernah bisa membodohiku."
Dania menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ironi. Ia memajukan sedikit tubuhnya, menantang aura intimidasi sang CEO.
"Saya tidak butuh kemenangan dari Anda, Tuan Arvin," balas Dania dengan nada suara yang tenang dan tertata rapi. "Saya hanya butuh Anda menepati kewajiban Anda sesuai isi dokumen itu."
"Aku akan menepatinya," ujar Arvin seraya menyenggol berkas kosong di sampingnya. "Tapi pernikahan ini tidak akan berjalan sesuai kehendakmu. Kita tidak sedang membangun keluarga—kita sedang melakukan transaksi bisnis."
Arvin lalu menoleh pada notaris di sampingnya dengan nada memerintah yang mutlak.
"Pak Hendra, ambil kertas baru," kata Arvin dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Dania. "Sebelum kita bicara soal tanggal pendaftaran pernikahan, kita buat Perjanjian Pra-Nikah detik ini juga."
Dania mengepalkan jarinya di bawah meja, menerima tantangan itu tanpa rasa gentar sedikit pun. Perang di antara mereka resmi dimulai di meja ini.