NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Damian melangkah paling depan sambil memakai jaket. "Opa, Oma, Papa, Bunda... Damian berangkat dulu naik motor," pamitnya lalu menyalimi tangan Opa, Oma, Papa, dan Nadia.

"Hati-hati, Dam. Jangan ngebut," pesan Haris yang diangguki Damian sebelum melangkah ke luar.

Kenzo menyusul di belakangnya. Anak bungsu itu menyalimi Opa dan Oma, lalu berlari memeluk pinggang Nadia. "Bunda, Kenzo berangkat dulu ya sama Pak Adam."

"Iya, Sayang. Belajar yang rajin, ya," balas Nadia lembut sambil mengusap kepala Kenzo.

Jovan berdiri tak jauh dari sana. Tatapan Opa dan Oma yang terus mengawasinya membuat remaja itu merasa serba salah. Mau tak mau, Jovan melangkah mendekat lalu menyalimi Haris dan Ranti.

Setelah itu, Jovan berdiri di depan Nadia. Muka dan tubuhnya kelihatan kaku, tapi ia akhirnya mengulurkan tangan.

"Jovan berangkat dulu... Bunda," ucap Jovan pelan dan singkat.

Nadia langsung melotot kaget. Ia tak menyangka Jovan mau menyaliminya, apalagi memanggilnya Bunda walau terdengar terpaksa.

Arvin yang sedang memegang cangkir kopi di sudut ruangan ikut kaget. Ia paham betul seberapa keras kepala anaknya itu. Momen sederhana ini benar-benar di luar dugaan Arvin.

Nadia buru-buru menguasai diri. Ia menyambut uluran tangan Jovan dan tersenyum. "I-iya... hati-hati di jalan ya, Jovan."

Jovan langsung memalingkan wajah, tidak berani menatap mata Nadia. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan buru-buru menyusul Kenzo masuk ke mobil Pak Adam.

Mobil Pak Adam melaju meninggalkan pekarangan rumah. Haris tersenyum lega menatap kepergian cucu-cucunya.

"Senang Papa lihatnya. Jovan yang keras kepala saja sudah mau menyalimimu, Nadia," ujar Haris.

Nadia tersenyum canggung. "Iya, Pa..."

Ranti melirik jam tangannya, lalu menatap Arvin. "Kamu nggak berangkat ke kantor, Vin? Ini sudah jam delapan."

Arvin berdeham pelan, menaruh cangkir kopinya. "Berangkat, Ma. Ini Arvin pamit."

Arvin melangkah mendekati Nadia yang berdiri di dekat pintu. Di bawah tatapan lekat Ranti dan Haris, Arvin mengulurkan tangannya pada sang istri.

Nadia sempat ragu sejenak, namun demi menjaga sandiwara, ia meraih tangan Arvin dan mencium punggung tangannya dengan takzim.

Tepat saat Nadia hendak menegakkan tubuhnya, Arvin menahan pelan pundak wanita itu. Tanpa aba-aba, Arvin membungkuk dan mendaratkan ciuman hangat di kening Nadia.

Tubuh Nadia membeku seketika. MATAnya membelalak kaget, sementara dadanya berdebar hebat akibat sentuhan mendadak itu.

Arvin menarik tubuhnya kembali, menatap mata Nadia yang masih terpaku. "Saya berangkat kerja dulu ya, Sayang," pamit Arvin dengan suara lembut buatan.

"Hati-hati di jalan, Mas..." jawab Nadia pelan, berusaha keras menutupi rasa gugupnya.

Setelah mobil Arvin menghilang di balik gerbang, Ranti membalikkan badan dan menatap Nadia dengan senyum hangat.

"Nadia, mumpung Arvin sudah berangkat dan anak-anak sekolah, yuk ikut Mama sama Papa jalan-jalan. Kita keliling cari makan siang atau belanja sebentar," ajak Ranti antusias.

Haris ikut mengangguk setuju. "Iya, Nad. Mumpung Papa sama Mama lagi di sini, sekalian kita jalan santai."

Nadia merasa serba salah. Ia mengulas senyum terbaiknya, berusaha menolak sesopan mungkin.

"Maaf ya, Ma, Pa... bukannya Nadia nggak mau ikut," tutur Nadia lembut. "Tapi hari ini Nadia harus buka toko kue. Ada beberapa pesanan yang harus diselesaikan dan dikirim siang ini, jadi Nadia nggak bisa libur mendadak."

Ranti tepok jidat pelan, mendadak teringat sesuatu. "Oh, iya! Mama sampai lupa kalau kamu punya toko kue sendiri," sahut Ranti seraya terkekeh tipis.

Ranti lalu mengibaskan tangannya santai. "Ya sudah kalau begitu. Hari ini Mama sama Papa jalan berdua saja dulu. Tapi nanti kalau pesananmu lagi nggak terlalu menumpuk, luangkan waktu ya buat jalan-jalan sama Mama."

"Iya, Ma. Pasti," jawab Nadia lega, mengangguk.

Nadia berjalan menuju garasi untuk mengeluarkan sepeda motor matic miliknya. Suara mesin motor yang dinyalakan membuat Haris yang sedang berdiri di teras mengernyit heran.

Haris melangkah mendekat, memperhatikan motor tersebut dengan kening berkerut. "Lho, Nadia? Itu motor siapa? Papa pikir motornya Pak Adam."

Nadia mematikan mesin sejenak, lalu tersenyum ramah pada mertuanya. "Bukan, Pa. Ini motor punya Nadia kok. Sejak dulu sebelum menikah sama Mas Arvin, Nadia memang pakai motor ini buat bolak-balik ke toko."

Haris melotot kaget. "Kamu naik motor sendiri ke toko? Arvin nggak pernah belikan kamu mobil atau kasih sopir?"

"Nggak apa-apa, Pa. Nadia lebih terbiasa naik motor, lebih cepat dan nggak kena macet," jawab Nadia mencoba meluruskan.

Ranti yang baru keluar dari pintu depan mendengar percakapan itu. Wajahnya seketika berubah keruh, matanya menatap motor Nadia dengan tatapan tak percaya. Rasa kesal pada Arvin langsung membakar dadanya.

"Arvin ini benar-benar ya!" cetus Ranti dengan nada tinggi, tak mampu menahan kekesalannya. "Masa istrinya dibiarkan kepanasan naik motor, sedangkan dia enak-enakan naik mobil mewah? Menantu Mama kok malah ditelantarkan begini!"

"Ma, sudah... Nadia memang yang mau naik motor kok," sela Nadia lembut, berusaha meredakan emosi ibu mertuanya.

Ranti menghela napas berat, menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak bisa begitu, Nad. Nanti malam Mama harus tegur si Arvin itu. Kebangetan sekali dia sama istri sendiri!"

Nadia mengendarai motornya menembus jalanan kota hingga sampai di depan toko kuenya. Di sana, Rara dan Wulan sudah berdiri menunggu di dekat pintu roling door yang masih terkunci.

Nadia segera memarkirkan motor lalu menghampiri kedua karyawannya itu dengan rasa enak tidak enak.

"Pagi, Rara, Wulan. Maaf ya, sudah lama nunggunya?" sapa Nadia ramah sambil merogoh kunci dari dalam tasnya.

"Lumayan, Mbak Nadia. Kirain Mbak libur," sahut Rara terkekeh pelan.

"Iya, Mbak. Tadi mau nge WA takut Mbak masih di jalan," tambah Wulan tersenyum.

"Nggak libur, kok. Tadi ada urusan sebentar di rumah," balas Nadia seraya membuka gembok dan mengangkat pintu roling door.

Begitu pintu terbuka, mereka bertiga langsung masuk dan menyalakan lampu serta pendingin ruangan. Tanpa buang waktu, Nadia, Rara, dan Wulan beranjak ke dapur belakang, mengenakan celemek dan penutup kepala.

Hari ini jadwal mereka cukup padat. Ada pesanan kue dalam jumlah lumayan banyak yang sudah dipesan pelanggan sejak jauh-jauh hari dan harus diselesaikan sebelum siang. Merekapun mulai sibuk menakar bahan, mengocok adonan, hingga menyiapkan cetakan kue.

Menjelang siang, aroma manis kue yang baru matang memenuhi seluruh sudut dapur. Semua pesanan yang dipesan jauh hari akhirnya selesai dikemas rapi. Beberapa pelanggan juga mulai berdatangan ke toko untuk membeli kue secara langsung, membuat Nadia dan karyawannya sibuk melayani di balik kasir.

Di tengah kesibukan itu, ponsel Nadia yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring. Nadia melirik layar, nama Mas Arvin tertera di sana.

Ia menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo, Mas?"

"Nadia, kamu bisa ke sekolah Jovan sekarang?" suara Arvin terdengar terburu-buru dan tertahan di seberang telepon. "Guru BK-nya baru saja telepon. Jovan buat masalah di sekolah."

Nadia mengernyit. "Lho, kenapa harus saya, Mas? Mas kan ayahnya, kenapa nggak Mas saja yang ke sana?"

"Saya nggak bisa, Nadia. Hari ini saya ada meeting penting sama klien besar dan sebentar lagi dimulai," desak Arvin dengan nada tidak mau dibantah.

"Tapi saya juga lagi sibuk di toko, Mas. Toko lagi ramai dan baru saja beres kirim pesanan," tolak Nadia halus.

"Tolonglah, Nadia," potong Arvin cepat, suaranya makin mendesak.

"Ini darurat. Kalau Papa sama Mama sampai tahu Jovan dipanggil ke BK, masalahnya bakal tambah panjang. Kamu yang bisa ke sana sekarang. Tolong wakili saya sebentar."

Nadia menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak mendengar nada panik sekaligus memohon dari suaminya itu.

"Ya sudah," putus Nadia akhirnya. "Saya ke sekolah Jovan sekarang."

1
Fitri Yah
alhamdulillah ... anak2 da care sama ibu sambung nya, tinggal pak arvin ni yg masih kaku kaya kanebo kering walau perhariannya sdh ada peningkatan si hehe
Sri Supriatin
Siiip ada perawatan khusus buat Nadia dr pd ibu Julid yg serakah 🙏🙏🙏🙏
merry
pengen arvin dgrinn rencananya mayang dan vanya,, syg x duit di porotin wlpun mm kndung klo baik gpp in mah jht🤭🤭🤭
Fitri Yah
mas arvin ... mode dingjn lg deh, gda manggil sayang2nya lg deh , kemaren wkt blm sadar nangis2 da sadar mode cuek lg deh tp masih kaku ke nadia nya
Sri Supriatin
Sedih banget thor n tks upnya lanjuuut 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
Ayunda
ini itu emak kandung emak angkat ap emak tiri kok segitunya sama Nadia
Sri Supriatin
eleuh2 aya emak kandung rada2 sugan🤭🤭
merry
arvin hrs tau klo mertua y mau porotin uangy lewat nadia,,, mulut manis tp hati busuk
Bunda HB
ada iya ibu biadan.kaya nya nadia bukan ank kandung ibu Maya.karena di perlakukan gk adil.
Sri Supriatin
Aduh airmataku g berhenti mengalir... Double upnya thor 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
merry
hilng ingatan gk tu nadia ya,,, 🤔🤔🤔biar nyesel tu laki 😆😆😆
utama: jangan kak, kasian anak2 meraka kalau Nadia hilang ingatan
total 1 replies
Fitri Yah
double up thor , kan kemaren tdk up
English Lesson
lanjut kak 👍👍
Sri Supriatin
Mampir Thor..seruuu😍😍😍
English Lesson
lanjut kak 💪
Chenyu Wang
bagus banget awal ngeliat judul nya kaget waw Duda anak 3 tapi pas baca keseluruhan ternyata crita nya bagus banget seru rugi kalo ga baca..
Bunda HB
jgn kasih sadar dulu thor.suami kaya alvin hrs ksih pelajaran dulu. buat ibu mayang, ibu yg pilih kasih zholim sama ank sndri dan untk adik nya juga org tdk tau bertrima kasih pengorbanan kakak nya.😭😭😭
wida nur
lanjutttyy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!