Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI TAMBAHAN: Temukan Dalang Peracunan.]
Di atas atap bangunan yang tidak jauh dari jalan itu, seorang pengawal Arkapura mengamati keduanya dari kejauhan, tubuhnya nyaris menyatu dengan bayangan genteng.
Ia menyentuh lambang kecil yang tersembunyi di balik pakaiannya.
"Paduka."
Suara Aryasatya terdengar pelan dari alat komunikasi sederhana itu. "Bicara."
"Pangeran Mukti terus mendampingi Putri Wening."
Hening sejenak di seberang sana.
"Kenapa?"
"Dia mengatakan pertunangan mereka belum dibatalkan."
Aryasatya menatap halaman dari balkon kediaman sementaranya, cincin di jarinya berputar pelan tanpa disadari.
"Begitu."
"Apakah kami harus mengawasi Pangeran Mukti juga?"
"Tidak perlu."
"Lalu?"
Aryasatya memutar cincin itu sekali lagi. "Awasi Putri Wening."
"Karena dia tunangan Pangeran Mukti?"
Aryasatya menatap langit yang mulai gelap, warna jingga di ufuk barat perlahan digantikan ungu tua.
"Bukan."
Ia terdiam sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Karena dia mungkin bukan orang yang sama dengan perempuan yang kukenal."
***
Malamnya, Rania duduk di depan meja kecil di kamarnya. Di hadapannya tergeletak secangkir air hangat, uapnya mengepul tipis dalam cahaya lilin.
Tidak ada latte.
Ia menatap cangkir itu dengan kecewa mendalam, seperti anak kecil yang dijanjikan permen tapi cuma dikasih air putih.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Berapa poin yang dibutuhkan untuk membeli latte?"
[Harga latte: 100 poin.]
Rania langsung duduk tegak. "Seratus?"
[Benar.]
"Saldo aku sembilan puluh tiga!"
[Benar.]
"Kurang tujuh!"
[Perhitungan Host tepat.]
Rania mengepalkan tangan, tekadnya membara. "Besok aku jualan lagi."
[Tantangan berdagang masih aktif.]
"Bagus."
[Terdapat satu pemberitahuan tambahan.]
"Apa lagi?" tanya Rania waspada.
[Ting!]
[Perubahan alur cerita terdeteksi.]
[Tokoh Raden Ji Aryasatya mulai menyelidiki identitas Host.]
Rania menatap kosong ke depan. Kemudian perlahan merebahkan kepalanya di atas meja, pipinya menempel pada kayu yang dingin.
"Latte tujuh poin lagi," gumamnya lemah. Ia mengangkat wajah sedikit. "Kenapa harus dibarengi ancaman kerajaan sih?!"
Di luar jendela, bayangan seseorang bergerak melintasi halaman, cepat dan senyap.
Rania segera duduk tegak. "Siapa?"
Tidak ada jawaban. Ia mendekati jendela dengan hati-hati, mengintip ke luar. Halaman sudah kosong, hanya tertinggal angin malam yang menggoyangkan dedaunan.
Di atas ambang jendela, tersangkut sehelai benang hitam dengan sulaman emas tipis. Rania mengambilnya, memeriksanya di bawah cahaya lilin.
[Ting!]
[Objek terdeteksi.]
[Benang pakaian kerajaan Arkapura.]
Rania menatap benang itu lama, wajahnya perlahan berubah serius, jauh dari ekspresi jenaka yang biasa ia tunjukkan.
"Dia mengawasiku sampai ke sini?"
***
Di tempat lain, Aryasatya berdiri di balkon kediaman sementara Arkapura, menatap kegelapan malam yang membentang di depannya. Pengawalnya berlutut di belakang, menunggu perintah.
"Paduka, kami menemukan sesuatu."
"Apa?"
"Pada malam Putri Wening pingsan, ada seorang pria asing yang terlihat keluar dari lorong belakang kediaman Wanunggalih."
Aryasatya memutar cincin di jarinya, gerakannya berhenti sesaat. "Pria asing?"
"Benar. Kami belum mengetahui identitasnya."
Aryasatya menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. "Cari pria itu."
"Dan Putri Wening?"
Aryasatya terdiam cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.
Kemudian berkata, "Jangan sentuh dia."
Pengawal itu mengangkat kepala, sedikit terkejut. "Paduka?"
Aryasatya menatap gelapnya halaman di bawah balkon, ke arah di mana bayangan pengawalnya tadi sempat terlihat berdiri di dekat jendela kamar Rania.
"Untuk sementara," katanya pelan, "cukup pastikan tidak ada orang lain yang menyentuhnya lebih dulu."
Botol di Balik Lemari
Istana Wanunggalih terasa berbeda begitu Rania melewati gerbang utamanya.
Biasanya, koridor-koridor itu sepi dan tenang, hanya diisi langkah pelan para dayang yang lalu-lalang membawa nampan. Sore ini, suasananya jauh lebih tegang. Beberapa pengawal berdiri lebih rapat di setiap sudut. Wajah para dayang yang berpapasan dengannya terlihat waspada, seperti menahan sesuatu yang tidak boleh diucapkan sembarangan.
Rania berjalan cepat mengikuti prajurit yang mengantarnya, dengan Sari mengekor di belakang sambil menggenggam erat cangkir latte yang sudah setengah dingin.
"Putri, pelan-pelan," bisik Sari, khawatir melihat langkah Rania yang nyaris berlari.
"Nggak bisa pelan-pelan, Sari. Ini soal racun."
Mereka sampai di kamar Rania kamar dengan tirai lilac yang dulu terasa seperti mimpi indah di hari pertama, kini dipenuhi beberapa orang yang berdiri mengelilingi lemari kayu ukir di sudut ruangan.
Seorang pria tua berjubah cokelat sederhana, dengan kantung obat tergantung di pinggangnya, sedang memeriksa sebuah botol kecil berwarna gelap yang diletakkan di atas kain putih. Itu pasti tabib kerajaan.
Di sampingnya berdiri seorang wanita anggun berusia paruh baya, mengenakan gaun keemasan dengan mahkota kecil yang menandakan kedudukannya. Wajahnya tegang, matanya berkaca-kaca menahan sesuatu.
Rania menebak itu pasti Permaisuri. Ibu dari Wening yang asli.
Begitu melihat Rania masuk, wanita itu langsung bergerak cepat, memeluknya erat tanpa peringatan.
"Wening. Syukurlah kau baik-baik saja."
Rania membeku sejenak, tidak siap dengan pelukan mendadak dari seseorang yang secara teknis bukan ibunya, tapi tubuh yang ia tempati jelas mengenali sentuhan itu ada kehangatan aneh yang membuat dadanya sesak.
"...Saya baik-baik saja, Ibunda," jawabnya pelan, mencoba terdengar wajar meski kata "Ibunda" terasa asing di lidahnya.
Permaisuri melepaskan pelukannya, menatap wajah Rania lekat-lekat, seperti memastikan tidak ada yang berubah. Untungnya, wanita itu sepertinya belum menyadari ada yang berbeda dari sorot mata anaknya.
"Kenapa kau pergi ke pasar tanpa bilang-bilang? Ibu sangat khawatir."
"Saya cuma... butuh udara segar."
Belum sempat Permaisuri menjawab, tabib kerajaan berdeham pelan, memecah momen itu.
"Yang Mulia, Putri. Maaf mengganggu, tapi ini menyangkut keselamatan Putri."
Semua mata beralih ke botol kecil di atas kain putih itu.
Rania mendekat perlahan, jantungnya berdegup kencang. "Itu... botolnya?"
Tabib mengangguk. "Ditemukan salah satu dayang saat membersihkan bagian belakang lemari pakaian Putri, tersembunyi di celah kecil dekat lantai."
"Isinya apa?"
"Sisa racun. Jenis yang sama dengan yang mengalir di tubuh Putri saat pingsan beberapa hari lalu." Tabib itu mengangkat botol dengan hati-hati menggunakan kain, menghindari sentuhan langsung. "Racun ini jarang ditemukan di Wanunggalih. Bahan-bahannya berasal dari tumbuhan yang hanya tumbuh di wilayah pesisir tertentu."
Permaisuri menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya semakin pucat. "Berarti benar ada yang sengaja meracuni anakku."
"Kemungkinan besar, Yang Mulia."
Rania menatap botol kecil itu lama. Sesuatu yang gelap dan asing, namun entah kenapa terasa familiar seperti ia pernah melihat bentuk serupa, meski ia yakin seratus persen belum pernah menginjakkan kaki di dunia ini sebelum insiden kecelakaan motor itu.
"Kapan botol ini disembunyikan di sana?" tanya Rania, mencoba berpikir seperti detektif meski hatinya masih berdebar.
"Sulit dipastikan," jawab tabib. "Tapi berdasarkan debu di sekitarnya, kemungkinan sudah ada di sana sejak malam kejadian. Namun "
Tabib itu berhenti sejenak, ragu melanjutkan.
"Namun apa?" desak Rania.
"Posisi botol ini terlalu mudah ditemukan untuk sesuatu yang disembunyikan sejak lama. Debu di sekitarnya juga tidak setebal yang seharusnya jika memang sudah lima hari di sana tanpa disentuh."
Rania merasakan tengkuknya meremang.
Itu berarti seseorang baru saja meletakkannya kembali atau memindahkannya dalam waktu dekat ini. Mungkin semalam. Mungkin bahkan beberapa jam sebelum ia pulang dari pasar.
Bayangan sosok yang bergerak di halaman malam itu kembali muncul di kepalanya. Benang hitam bersulam emas yang tersangkut di ambang jendela.
Rania melirik ke arah jendela kamarnya sendiri, memastikan tirai lilac itu masih tertutup rapat seperti biasa.
"Wening?" Permaisuri memanggil pelan, menyadari putrinya melamun. "Kau baik-baik saja?"
Rania buru-buru tersenyum. "Saya baik, Ibunda. Cuma... kaget."
Tabib kembali bicara, kali ini menatap Permaisuri langsung. "Yang Mulia, saya sarankan Putri untuk sementara tidak keluar istana sendirian, sampai pelakunya ditemukan."
"Tentu saja," sahut Permaisuri cepat, menggenggam tangan Rania erat. "Wening, mulai sekarang kau harus selalu ditemani pengawal."
Rania ingin protes bayangan harus meninggalkan lapak cendolnya terasa lebih menyakitkan daripada ancaman racun itu sendiri tapi ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk berdebat soal kebebasan berjualan.
"Baik, Ibunda," jawabnya pelan, meski dalam hati sudah menyusun rencana bagaimana caranya tetap bisa kabur ke pasar besok pagi.
Setelah Permaisuri dan tabib keluar kamar untuk membahas langkah pengamanan lebih lanjut, Rania akhirnya duduk sendirian di tepi ranjangnya, Sari berdiri diam di sudut ruangan, masih memegang cangkir latte yang kini sudah benar-benar dingin.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Kalau racun ini baru dipindahkan atau diletakkan lagi semalam... berarti pelakunya masih ada di sekitar istana, kan?"
[Kemungkinan besar benar.]
"Atau," Rania melanjutkan, suaranya pelan, "pelakunya bisa masuk-keluar istana tanpa dicurigai."
[Analisis: kemungkinan tersebut juga valid.]
Rania menatap lemari kayu tempat botol itu ditemukan, lalu beralih ke jendela yang semalam sempat menampakkan bayangan misterius.
Ia teringat benang hitam bersulam emas yang masih tersimpan rapi di laci meja riasnya.
Benang dari pakaian kerajaan Arkapura.
Bisa jadi itu cuma kebetulan pengawal Aryasatya memang sedang mengawasinya, seperti yang sudah diketahuinya sejak sore tadi. Tapi bisa juga...
Rania menggeleng cepat, mencoba menepis pikiran itu.
"Sari."
"Iya, Putri?" Sari mendekat, wajahnya masih tegang.
"Kamu percaya nggak, kalau orang yang naruh racun itu justru orang yang paling dekat sama kita?"
Sari terdiam, matanya melebar. "Maksud Putri... orang dalam istana?"
Rania mengangguk pelan. "Soalnya kalau orang luar, gimana caranya masuk sampai ke balik lemari tanpa ketahuan satu pun pengawal atau dayang?"
Sari terlihat gelisah, meremas ujung kainnya sendiri. "Saya... tidak tahu, Putri. Tapi semua orang di sini sudah lama mengabdi. Rasanya sulit percaya salah satu dari mereka tega melakukan itu."
"Orang yang tega biasanya nggak keliatan tega, Sari," gumam Rania, matanya menerawang ke arah pintu kamar yang tertutup.
Malam itu, setelah Sari akhirnya pamit untuk beristirahat dan kamar kembali sunyi, Rania berbaring menatap langit-langit berhias lampu kristal yang dulu terasa begitu indah di hari pertama ia tiba.
Sekarang, cahaya kristal itu terasa seperti mata-mata kecil yang mengawasinya dari atas.
"Sistem," bisiknya pelan dalam gelap.
[Ya, Host.]
"Aku nggak cuma harus cari poin buat latte lagi, ya."
[Benar.]
"Aku harus cari siapa yang mau bunuh Wening."
[Misi baru terdeteksi.]
[MISI TAMBAHAN: Temukan Dalang Peracunan.]
[Hadiah: Tidak diketahui]
Rania menghela napas panjang, menutup matanya.
"Hadiahnya nggak diketahui pun nggak apa-apa," gumamnya lelah. "Yang penting aku nggak mati beneran di dunia orang."
Di luar jendela kamarnya, malam Wanunggalih terasa sunyi seperti biasa. Namun kali ini, entah kenapa, kesunyian itu terasa jauh lebih berbahaya dari yang pernah Rania sadari sebelumnya.